Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bajalan ba nan tuo
Balatia ba nakhodo
Bakato ba nan pandai
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Padi PDF Print E-mail
Written by Dr. H. K. Suheimi   
Monday, 27 August 2007

ImageBak ilmu padi kian berisi kian runduk, selalu merendah diri  tidak sombong. Merunduk pelambang tidak angkuh dan tidak sombong.  Merunduk  agar  orang  mudah memetiknya dan  tidak  terluka  oleh daunnya. Kalau sudah berisi dan sudah masak ia ingin di petik dan  ingin  di tuai. Lalu dia merunduk dan merendah agar  orang  mudah memanennya  agar orang mudah memetik hasilnya.
 

Merunduk  berarti  padi  rela  untuk  di petik. Padi rela untuk  di  sabit.  Semakin  berilmu  seseorang  semakin merunduk dia semakin  ingin  ia  agar  ilmunya  itu di petik dan di sebar luaskan. Ilmu  akan  bertambah  kalau dia di berikan. Dan untuk memudahkan orang lain memetik dan  menimbanya  dia  merunduk, menandakan dia suka di petik  dan  dia  suka di timba.
 
Ketika saya belajar ilmu konseling. Satu hal yang  diajarkan  dan  sangat berkesan ialah. Kalau kita berbicara  dengan  konseli  atau  dengan orang lain rundukkanlah sedikit badan  kearah  orang  tersebut. Dengan merundukkan badan kearah orang lain melambangkan
kita suka akan kedatangannya dan kita bersedia untuk  menolongnya  "What can I do for you" Adakah sesuatu yang bisa ku perbuat untuk  mu,  aku ingin membantumu.
Merundukkan badan  sedikit  perlambang  kita  ada respek dan kita ada perhatian pada orang  lain.  Dengan  adanya perhatian itu, maka orang yang datang merasa di perhatikan
dan  di  pedulikan,  dan orang lain itu merasa  dekat  dan  akrab  dengan kita. Maka curahan perasaan dan emosi serta curahan perkataan akan mengalir dengan lancar. Keakraban akan terjalin, terasa  kesediaan kita untuk diminta dan kesediaan kita untuk di timba.
 
Merunduk  berarti kita mendekat, mendekat berarti  dekat  di  mata dan dekat di hati. Mata adalah pelita hati, dari mata  turun  kehati. Maka "kontak mata harus selalu di pertahankan", kata guru saya  ketika memberikan pelajaran konseling. Dari mana  datangnya  lintah, dari sawah turun kekali. Dari mana datangnya cinta,  dari  mata jatuh ke hati. Merunduk dan bertatapan mata akan  melahirkan  rasa cinta dan menimbulkan rasa ingin menolong. Orang yang lebih,  orang yang tinggi dia akan merunduk untuk dapat meringankan beban  dan derita orang lain. Bak ilmu padi kian berisi kian runduk.
 
"Sekali-kali  jangan  kau tarik atau  kau  busungkan  dadamu  ketika  berhadapan dengan orang lain. Jangan  tinggikan  kepalamu  dan suaramu" Kata guru saya. Karena dengan menarik badan, berarti  kita menjauh, dengan membusungkan dada terkesan menyombong.  Maka  kalau kita menjauh berarti tak mau di dekati, orang lainpun  akan  menjauh  dan  akhirnya  kita tak bisa dekat  dengan  orang  lain,  komunikasipun  akan tersendat-sendat. Menarik badan berarti  kita  menjauh  dan menciptaan jurang pemisah dengan orang  lain,  nanti  kitapun kan terpisah dan tersisih dari pergaulan hidup.
 
Tak  jarang kita lihat, apabila seseorang mulai  berpangkat,  maka  semakin tinggi pangkatnya, semakin berubah gayanya,  semakin  banyak tanda-tanda kebesarannya, semakin busung dadanya,  semakin  besar  hidungnya  dan  semakin congak  kepalanya.  Berat  baginya  merunduk dan berat baginya mendekat, serta sulit di dekati. Harus  orang lain yang tunduk padanya, harus orang lain yang hormat  dan  harus  orang lain yang menyapanya "Tabik tuan..". Yang  berkepentingan kan bukan aku, yang berkepentingan kan dia.
 
"Harum  baumu  si bunga tanjung", kata sebuah  lagu.  "Harum  semerbak diwaktu pagi. Tinggi pangkatmu bagai dianjung.  Ingatlah  ingat jatuh ke bumi"  Memang semakin tinggi kita dianjung, semakin sakit jatuh  ke  bumi. Saat-saat jatuh tidak kan lama, sebagaimana jabatan yang di  pegangpun tak akan lama. Kalau ketika diatas tak terbiasa  merunduk,  maka betapa sulit nanti kalau sudah jadi orang  biasa  juga  payah merunduk. Betapa pedihnya, kalau kita tiba orang  berjalan.
Kita datang orangpun pergi dan melengah.  Pangkat  adalah amanah, jabatan adalah kepercayaan  yang  di  limpahkan.  Semakin  tinggi pangkat seseorang dan  semakin  besar
jabatan yang di pikul, semakin besar tanggung jawab seseorang dan  semakin  dekat dia pada Tuhan. Orang yang bersyukur adalah  orang  yang  menjalankan amanah. Di pundaknya terpikul beban dan  peker­jaan yang berat untuk menolong dan meringan beban serta  penderitaan,  orang-orang kecil bawahannya. Semakin berat beban yang  di  pikul seharusnyalah semakin runduk si pemikul. Jangan sampai yang  diatas memijak dan memeras yang di bawah. "Hati-hati yang diatas"  kata  sebuah pepatah. "Yang dibawah koknyo menghimpit". Ya,  adat  kita mengatakan yang akan menghimpit kita itu bukan orang diatas. 
Jatuh  dan terhimpitnya seseorang di sebabkan oleh hal-hal  kecil  atau  oleh  orang-orang yang di bawahnya.  Yang  diatas  biasanya  adalah  payung.  Payung berfungsi memayungi dan  melindungi  yang  bernaung  di  bawahnya. Biar dia kena hujan  atau  terbakar  oleh
teriknya matahari, asal orang dibawahnya terlindung.
Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman Suci_Nya dalam al-Qur'an surat Al-Mu'minun  ayat 88:      "Katakanlah  olehmu "Siapakah yang menguasai segala  sesuatu  dengan  penuh  kekuasan_Nya? Yang melindungi dan tidak  ada  yang  dilindungi (dari azab_Nya) jika kamu tahu".
 
 
Padang  penghujung Agustus 1995

Trackback(0)
Comments (1)add comment

melati malam said:

salam..suka benar apa yang tertulis..
yang menghijau akhir jadi keemasan...berharga...
itu lah yang ku lakukan di rantauan...
anak timur anak jelapang padi..asal anak kedah malaysia...
ku amati sawah terindah ...malu nya padi menunduk bukan lalang yang semakin lama ia meninggi ..bongkak...

merendah diri ..seandai sesat di jalan ..tak malu merendah diri pasti dapat bantuan...

salam mesra
melati malam...
ku rendah diriku serendahnya...terutama pada mu Illahi...
nullnull
 
report abuse
vote down
vote up
August 27, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Monday, 27 August 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 1 guest and 5 members online
Generated in 1.49165 Seconds