Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Dilema PDF Print E-mail
Written by Muhammad DAfiq Saib, St. Lembang Alam   
Wednesday, 29 August 2007

ImageJam 09.00 pagi. Santi terlambat lagi pagi ini. Sebenarnya nggak enak, tapi ya bagaimana lagi. Santi berjalan  tergesa-gesa menuju ruangan kerjanya. ‘Ah sialan,’ bisiknya dalam hati. Kebetulan Budiman sedang di sana, di kantornya, sedang berbicara dengan Yanti temannya satu ruangan. Mungkinkah sedang membicarakan dirinya? Entahlah.

“Selamat pagi, pak. Maaf saya terlambat lagi nih,” Santi menyapa salah tingkah.

“Selamat pagi. Kenapa? Anakmu sakit lagi ya?” pak Budiman bertanya.

“Iya pak. Benar. Aduh saya pusing deh. Mana dia kalau sakit kolokan benar. Apa-apa maunya sama saya. Maaf pak, ….aduh ,…… mmmh…… meetingnya tadi…saya  nggak bisa hadir tuh.”

“Ya sudah, nggak apa-apa, Yanti tadi hadir menggantikan kamu. Kamu bisa diskusikan dengan dia untuk menyiapkan laporannya. Baiklah, silahkan diteruskan”. Budiman lalu kembali ke ruangannya.

“Tadi dia ngomel-ngomel nggak Yan?” Santi jadi penasaran sendiri.

“Ah enggak. Dia sih biasa-biasa saja. Begitu jam delapan kurang seperempat kamu belum kelihatan dia langsung nyuruh aku ngambil alih. Untung aku sempat mendengar waktu kalian mendiskusikannya minggu kemarin. Jadi ya lumayanlah, sukses. Calon buyernya kelihatan cukup puas dengan informasi kita. Jadi bagaimana nih? Kamu mau menulis laporannya? Data-datanya serta catatan rapat tadi semua ada di sini”.

“Gampanglah, atau …..sini,….biar aku baca dulu. Cepat benar selesai meetingnya. Jam berapa sih kalian selesai?”

“ 45 menit. Kita hanya membicarakan point-point pentingnya saja”.

Seterusnya kedua wanita itu kemudian terlihat asik menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Jam 10.15, pak Budiman  masuk lagi untuk mengingatkan  agar masalah pembayaran dibuat sejelas mungkin dalam rencana perjanjian kerja. Tiba-tiba telepon di meja Santi berdering. Rupanya dari rumah.

“Ya hallo. Ya…… kenapa lagi sayang?…… Mh? ……anto minta aja sama mbak Tutik……..Mh?……. Ya nanti mama pulang…………Ya nggak bisa, mama kan lagi kerja sayang………Ya nanti mama beliin ya……..Udah ya. Daag sayang……Ya…….Ya nanti mama beliin. Udah ya…….habis makan Anto tiduran ya…………udah ya, daag.”

Budiman memperhatikan dengan kening sedikit berkerut.

“Sakit apa sih anak kamu?”

“Ah nggak tahu pak. Badannya panas dan tadi malam muntah-muntah. Kayaknya kecapekan dari Puncak kemarin.”

“Nggak kamu bawa ke dokter?”

“Nanti sore aja pak.”

“Terus, barusan kenapa?”

“Ah biasa, kolokan. Minta dibuatin mi. Dan harus sama mama. Huh sebel. Anak saya kalau lagi sakit memang selalu begitu.”

“Santi. Begini saja. Kalau dia masih panas, sebaiknya kamu antar ke dokter sekarang saja. Jangan ambil resiko dengan penyakit anak.”

“Ya nggak enak juga dong saya pak. Biarlah nanti saja pak. Saya sudah janjian dengan suami saya akan membawanya ke dokter jam lima sore nanti.”
 
“Saya serius. Pergilah urus anak kamu sekarang. Pekerjaan itu bisa kita selesaikan nanti,” ujar Budiman. Dia lalu segera kembali lagi ke ruangannya.

“Sudah disuruh gitu kamu pergi saja San, kan kasihan anak kamu,” Yanti memberi semangat.

“Ah jangan-jangan kalian mau ada acara berdua nih, nyuruh aku pulang,” Santi  masih mencoba berkelakar. Telepon berdering lagi.

“Ya hallo……. Ya kenapa Tut?……..Hah?………..Muntahnya banyak?………Semua keluar lagi? Ya ampuun………..Ya………Coba pegang badannya panas nggak………Hah……..Panas banget?…..Kamu bisa mengompresnya nggak?……..Gini, kamu ambil air dan batu es dari kulkas, kamu rendam handuk kecil, diperes sedikit abis itu kamu taruh di kening Anto……Ya, dia lagi tiduran kan?……. Ya ya…….Ya deh…….ya ibuk segera pulang …….ya…..” Yanti menutup telepon dan memutar nomor lain menghubungi suaminya.

“Huh, ………ya Allaaah,……ya…….Halloo…….tolong pak Bambang,…….. ini siapa sih?…….saya istrinya. …….Lagi rapat?……..Nggak boleh diganggu?……..Tolong bilangin dari saya, Santi istrinya, penting………Ya…….bilangin …..ah sialan  dia tarok……..Hah….ya mas…….Anto muntah-muntah lagi………heh?……saya masih di kantor………ya-ya saya mau pulang….. kita harus bawa ke rumah sakit sekarang saja……….iya…… ya saya langsung pulang nih……..nggak-nggak….nggak usah,…..ntar kelamaan, mas langsung pulang aja…….ya….yaa.”  Klik.

 

*****



Santi buru-buru pulang. Kepalanya pusing dan mumet. Tadinya mau minta tolong Salman, office boy yang bisa nyetir mau dimintai tolong menyetirkan mobil pulang, tapi ah, nggak enak sama pak Budiman. Dia itu terlalu baik, tapi bagaimanapun tetap harus jaga-jaga juga. Di pertigaan Raden Saleh Santi kaget waktu mobilnya hampir menabrak bajaj. Untung masih sempat banting stir, namun tak urung bamper depan nyenggol truk yang lagi parkir.

 “Uh…. sialan……. Ya Allah……kok ada-ada saja”. Santi berhenti dan meminggirkan mobil. Bumper mobilnya penyok tapi untung truknya tidak apa-apa. Tak urung sopir truknya ngomel-ngomel.

“Ya deh pak, saya minta maaf. Mobil bapak nggak apa-apa kan?”

“Belajar mobil jangan di jalan raya neng. Tuh mobil saya jadi lecet.”

“Bukan pak, itu cat mobil saya yang nempel disana. Sekali lagi saya mohon maaf deh.”

Orang mulai merubung. Santi tak henti-hentinya berdoa dalam hati.

 “Ya Allah……ya Allah….ya Allah……ya Allah”.

“Maaf pak saya harus buru-buru nih. Saya minta maaf telah menyenggol mobil bapak.”

Sopir truk itu akhirnya kasihan juga barangkali.

“Ya sudahlah neng. Lain kali hati-hati!”

“Ya pak. Terima kasih pak. Maaf, saya permisi.”

Sepanjang jalan pulang tak terasa air mata Santi menetes. Waktu dia sampai di rumah,  Bambang suaminya  sudah duluan ada di rumah. Wajahnya kelihatan tegang.

“Kok lama amat sih? Kamu kenapa?”

“Nantilah mas saya ceritakan. Ayo kita segera ke rumah sakit saja. Mana Anto?…Antooo…..nih mama pulang……..”.

Santi masuk ke kamar Anto diikuti Bambang. Anto tertidur atau seperti orang tidur namun matanya terbuka separo. Badannya panas. Mungkin lebih 39 derajat. Santi langsung mau mengangkatnya tapi Bambang mencegahnya.

“Biar saya yang mengangkatnya. Kamu gantiin bajunya saja.”

Santi setengah berlari mengambil baju ganti Anto dan buru-buru menukarnya. Anto mengigau dengan suara lemah.

“Gua nggak mau sama mbak Tutik…….gua nggak mau sama mbak Tutik…….Anto mau sama mama…..Anto mau sama mama……”

“Anto….ini mama sayang……Antoo…….yok kita ke dokter ya?!”.  Badan Anto sangat lemas.

“Tut…….Tutik….. ayo buruan. Kamu ikut ke rumah sakit dan bilang bik Supi kita segera berangkat.”.

Anto segera dilarikan kerumah sakit Mitra. Dokter jaga cepat sekali mendiagnosa.

“Anak ini kelihatannya demam berdarah dan sebaiknya langsung di rawat inap.” kata dokter.

“Ha? Harus dirawat inap? Apa nggak bisa dikasih obat dan berobat jalan saja dok?” Santi bertanya seperti orang bodoh.

“Santi, nggak. Nggak usah nawar-nawar. Kalau dia harus dirawat inap, ya dirawat inap. Baik dokter, saya akan selesaikan urusan administrasinya. Apa bisa langsung  masuk kamar sekarang dok?” tanya Bambang.

“Saya rasa bisa, pak. Sebaiknya bapak menanyakan dan mendaftarkan di bagian penerimaan di depan.”

Anto akhirnya ditempatkan di kamar 212. Dia menjerit-jerit waktu dipasangi infus. Santi ikut-ikutan menangis, Tuti si baby sitter juga tersenguk-senguk. Bambang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Anto memang anak istimewa di rumah.

Santi ingat harus menelepon pak Budiman. Dia pikir ya sudahlah, sekalian saja dia minta izin mengambil cuti untuk menjaga Anto di rumah sakit

“Hallo…hallo Tira, Santi nih,  tolong sambungin ke bapak dong, say…….Ya dia harus diopname nih………kata dokter sih demam berdarah……..ya  ok thanks ya……..”

“Hallo pak. ………Saya di rumah sakit……Pak,  ini… anak saya ternyata harus diopname.  Aduuh, saya ngambil cuti aja deh pak, boleh nggak pak…….rumah sakit Mitra…… kamar 212…..Ya mungkin dua atau tiga hari ini………kata dokter demam berdarah……… masih panas dan sekarang dipasang infus…….sekarang sih sudah diam, tadi waktu dipasangin infus treak-treak……..ya ya…….ya terima kasih pak………ya terima kasih.”

     *****



Anto sudah enam hari diopname. Alhamdulillah dia sudah sembuh dan sudah boleh pulang. Santi lega rasanya. Sejak Anto masuk rumah sakit hari Senin yang lalu Santi selalu menjaganya bersama-sama Tuti, baby sitter itu. Santi hanya pulang sebentar-sebentar setiap hari. Bambang juga ikut berjaga-jaga di rumah sakit sore harinya sejak pulang dari kantor sampai jam sebelas setiap malam.
                   
Senin berikutnya Santi mulai masuk kerja lagi. Bisa agak tenang sekarang. Anto sudah semakin baik dan sudah bisa ditinggal. Laporan tempohari sudah diselesaikan Yanti,  Kadang-kadang dia merasa tidak enak karena sudah beberapa kali tidak bisa menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulainya. Tapi sedemikian jauh selalu saja tidak ada masalah baik dengan Budiman sang boss maupun Yanti rekan sekerjanya. Mereka ini sangat baik-baik sekali.

“Ah sudahlah,  memang nggak usah di pikirin, disyukurin aja,” kata Santi dalam hati.

Bambang menelepon mengingatkan Santi untuk mengundang Budiman dan keluarganya serta Yanti dan suaminya untuk makan siang  Minggu depan. Sebenarnya Santi agak sungkan mau mengundang Budiman. Entah kenapa. Atau mungkin karena dia boss itu. Mula-mula Santi mengajak Yanti.

“Eh, kamu ada acara nggak Yan  siang-siang minggu depan?”

“Nggak tahu. Nggak juga sih kayaknya. Kenapa memang?”

“Mas Bambang menyuruh mengundang kalian dan keluarga pak Budiman santai-santai dan makan siang di rumah. Bisa nggak Yan?”

“Dalam rangka syukuran Anto sudah sembuh?”

“Ya boleh juga sih dibilang begitu. Tapi nggak ada siapa-siapa. Cuma kita-kita aja. Bisa dong Yan ya?”

“Aku sih OK saja, tapi nggak tahu misuaku ada acara nggak ya?”

“Biasanya acaranya apa sih?”

“Biasanya sih dia tiap Minggu tennis sama teman-teman sekantornya dan selalu sampai siang sekali. Itu dunianya bang Ilham, dan hampir tidak bisa diganggu gugat. Pulang-pulang biasanya sudah jam dua belas. Langsung terkapar. Tapi coba deh ntar aku tanya dulu.”

“Kamu tanyain ya? Tapi mudah-mudahan bisa ya? Aku mau nanya boss tapi nggak enak juga nih. Dia mau nggak ya?”

“Lho, kenapa memang? Tanyain aja. Aku rasa kalau dia ada waktu, dia pasti mau.”

Tengah mereka ngerumpi, tiba-tiba pak Budiman masuk ruangan itu. Dia langsung bertanya.

“Bagaimana kabarnya Anto? Sudah sembuh betul?”

“Sudah pak. Sudah mulai bandel lagi malahan.”

“Berapa hari di rumah sakit?”

“Hampir seminggu. Dari hari Senin siang itu, keluar Sabtu kemarin.”

“Nggak protes kamu tinggal kerja?”

“Wah, bapak nyindir nih. He he he. Nggak tuh pak.”

“Bukan, setelah dikeloni mamanya seminggu kan biasanya jadi keenakan dan nggak mau lagi ditinggal. Nggak begitu?”

“Ya alhamdulillah pak dia nggak apa-apa. Tadi pagi malah dia yang ngingatin. Mama ayo jangan bolos terus dong. He he he.”

“Ya syukurlah. Untuk info kamu proyek dengan PT Sinar tempohari jadi. Mereka setuju dengan penawaran kita. Tolong kalian siapkan surat perjanjiannya.“

“Syukurlah pak. Walau saya  malu, tidak ikut apa-apa dalam mengerjakannya.”

“Nggak apa-apa, kita bekerja kan dalam satu team.”

“Baik deh pak nanti biar saya siapkan perjanjian kerjanya. Tapi pak, ngomong-ngomong saya ada yang mau disampaikan nih.”

“Oh ya? Ada apa?”

“Bapak hari Minggu bisa datang nggak pak  kalau saya undang  makan siang di rumah saya?”

“Oh ya? Dalam rangka apa nih?”

“Nggak dalam rangka apa-apa sih. Suami saya mengajak santai-santai dan makan siang di rumah. Kalau bapak dan ibu bisa datang. Saya juga mengundang Yanti dan suaminya.”

“Kalau dengan ibu, ya berarti saya harus tanya ibu dulu. Nanti deh saya kasih tahu. Tapi apa ini dalam rangka syukurannya Anto sudah sembuh?”

“Anggap aja begitu pak, tapi benar lho yang kami undang hanya bapak sekeluarga dan Yanti sekeluarga saja.”

“Sekeluarga? Jadi anak-anak saya boleh saya bawa?”

“Boleh dong pak. Ajak dong Alif dan Bayu.”

“Iya deh nanti saya tanya istri saya dulu.”


                   

*****



Ternyata hari Minggu semua bisa hadir. Pak Budiman dengan istri  dan anak-anaknya serta Yanti dan suaminya bang Ilham. Hari itu mereka dijamu keluarga Bambang di rumahnya yang luas, indah dan asri. Sesudah shalat, yang atas permintaan pak Budiman dilakukan berjamaah dan makan siang bersama, mereka benar-benar bersantai-santai di taman belakang rumah yang juga luas dan rindang di bawah pepohonan. Anto jadi bintang, berlarian kesana kemari diikuti Alif dan Bayu dipekarangan yang luas itu, tentu saja dibawah pengawasan Tutik yang terpaksa harus ikut lari kesana kemari. Sementara anak-anak asyik bermain, mereka terlibat dalam omong-omong santai yang akhirnya berubah menjadi serius.

“Anto benar-benar sudah gesit kembali. Nggak kelihatan seperti habis sakit,” kata ibu Sri istri pak Budiman.

“Bandel sekali mbak. Sok ngatur, semua orang diperintah. Kalau ngomong dengan Tutik pakai gua – lu . Kita nggak tahu dia belajar darimana. Tadinya dengan kita juga pakai gua – lu. Saya marahin malahan protes. Papa nggak boleh marah-marah dong, punya anak baru satu kok dimarahin.” Bambang bercerita tentang Anto.

“Dibilangin baik-baik baru ngerti. Anto belajar dimana sih gua – lu - gua – lu? Dia bilang dari bang Rinto. Bang Rinto kalau ngomong dengan Tutik kan gua – lu. Jadi deh.” Santi ikut menambahkan.

“Iya jadinya lucu. Kalau ngomong  sama kita tetap pakai Anto, tapi kalau sama Tutik dan Rinto pakai gua – lu terus. Ha.ha.ha”.

“Cuman yang ngerinya kadang-kadang ngomong joroknya. Ya ampuun…….sampai saya marahin si Rinto…. Awas kalau kedengaran lagi Anto ngomong jorok pasti kamu yang ngajarin. Kalian harus jaga dong  omongannya, saya bilang ke mereka,” tambah Santi.

“Ya gitulah mbak, anak nggak diawasi orang tua seratus persen.”

“Wah mas Bambang kayaknya arah pembicaraan bakal ke sana lagi nih. Nyuruh saya berhenti kerja. Nggak lah ya mas. He he he.”

“Saya sih nggak nyuruh kamu berhenti tapi ya mbok lebih memperhatikan anak gitu lho.”

”Mas, kemarin Anto sakit saya sampai cuti, sampai nginap di rumah sakit apa bukan memperhatikan anak?” tanpa mereka sadari Bambang dan Santi sudah saling beradu kata.

“Iya iya. Iya deh.” Bambang berusaha mengalah.

“Ngomong-ngomong pengalaman ibu Budiman sampai bisa jadi ibu rumah tangga saja itu bagaimana caranya? Kan tadinya buka praktek saya dengar. Gimana mengisi waktunya itu mbak?” Bambang mengalihkan pembicaraan.

“Gimana ya? Saya justru dipaksa keadaan kok.”

“Di haruskan pak Budiman gitu? Agar hanya jadi ibu rumah tangga saja?”

“Ah, saya sih tidak pernah mengharuskan. Bilang aja buk gimana ceritanya” kata Budiman.

“Tadinya saya begitu selesai PTT memang tidak berniat jadi pegawai negeri. Saya bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Pekerjaan di rumah sakit swasta itu terlalu menyita waktu. Dalam seminggu dua kali dapat giliran jaga malam. Saya jadi tidak bersemangat apalagi waktu itu Alif masih bayi. Saya minta berhenti dan setelah itu buka praktek sore sendiri. Rupanya juga tidak mudah. Yang namanya praktek dokter umum pasiennya kaya tentara berbaris. He he he.”

“Berarti banyak dong” tanya Santi.

“Kayak tentara berbaris, satu dua, satu dua kadang-kadang banyakan satunya.. ha ha ha.”

Yang lain juga ikut tertawa mendengar banyolan ibu Sri Budiman.

“Akhirnya saya bilang, udah deh pak, saya capek biar saya nggak usah praktek.. Sampai satu hari ada iklan lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan. Saya ikut test dan berhasil diterima. Nggak taunya untuk ditempatkan di Balikpapan. Ya saya langsung mundur. Mana mungkin saya pergi. Akhirnya saya di rumah saja.  Mengurus rumah . Saya seperti baru sadar bahwa di rumah banyak juga yang dapat saya lakukan. Disamping setelah itu saya hamil Bayu. Saya aktif di kegiatan-kegiatan  PKK dan pengajian ibu-ibu di lingkungan. Mereka tahu bahwa saya dokter. Kadang-kadang  ada saja tetangga yang minta berobat, ya saya layani tapi saya niatkan untuk amal dan tidak pernah saya tarik bayaran. Tiap hari biasanya suka ada saja yang ingin berobat. Nggak banyak dan ya tidak menyita waktu. Biasanya saya layani mereka sambil ngobrol-ngobrol tentang masalah kesehatan, masalah keluarga sehat dan sebagainya. Jadi lebih santai tidak seperti hubungan dokter dan pasien yang formil  yang orientasinya bisnis. Pokoknya santai saja. Orang mereka tetangga-tetangga saya sendiri kok.”

“Dan mbak langsung ngasih obat?” tanya Bambang.

“Tidak,  biasanya saya kasih resep biar mereka ambil obatnya di apotik.” 
 
“Seandainya nanti pasiennya di rumah tambah banyak bagaimana? Apa mbak akhirnya resmi buka praktek lagi atau tetap tidak akan menarik bayaran?” tanya  Ilham.

“Rasanya nggak mungkin tambah banyak. Saya tidak memasang plang dokter. Yang tahu saya dokter paling tetangga-tetangga dekat. Yang berani datang paling yang pada kenal. Jadi saya nggak yakin akan kebanjiran pasien karena itu saya tetap niat biar buat amal saja.”

“Seandainya izin prakteknya habis apa diperpanjang lagi? Kan tetap harus ada izin praktek dong untuk mengobati orang.” Yanti ikut-ikutan bertanya.

“Saya malahan belum mikirin tuh. Ya nggak tahu. Kalau memang perlu meski untuk kegiatan sosial begitu ya saya urus nanti. Dan mengurusnya nggak susah kok.”

“Kegiatan sosial PKK itu contohnya apa saja  buk?” Yanti bertanya.

“Apa saja, mengumpulkan dana dan sembako untuk dibagikan kepada masyarakat tidak mampu, mengunjungi rumah yatim piatu, rumah jompo. Pada dasarnya setiap kegiatan itu bisa dibagi dua. Mengumpulkan dana, biasanya ini yang lebih menyita waktu dan kedua membagikannya yang biasanya lebih mudah. Pencarian dana itu bisa kemana-mana. Mungkin sekali waktu saya akan datang ke kantornya pak Bambang.”

“Boleh mbak, boleh, kapan saja. Saya senang juga mendengar kegiatan seperti ini.”

“Disamping itu saya juga aktif di pengajian ibu-ibu di lingkungan saya.. Tadinya saya pikir ya sekedar pengisi waktu begitu. Lama-lama kok ya saya merasakan banyak hal yang menarik juga. Banyak hal yang selama ini kita tidak tahu setelah diterangkan ustad-ustadnya, dibacakan ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, ya jadi bahan pikiran juga. Mula-mula kagetan. Cenderung menolak untuk hal-hal yang menurut kita kurang cocok dan terlalu keras begitu. Lama-lama timbul juga dalam hati saya, saya ini mencari apa sih sebenarnya? Mencari informasi? Belajar? Iseng? Ikut-ikutan? Kita diajak mengaji pemahaman suatu ayat  al Quran. Kepada kita dibacakan ayatnya, dijelaskan maknanya, dibacakan hadisnya, bila perlu kita baca sendiri hadis-hadis atau ayat-ayat tersebut. Lalu saya nanya lagi ke diri saya. Saya ini maunya apa sih dalam beragama. Atau apa saya tidak yakin dengan agama ini. Ya begitulah, lama-lama saya merasa banyak hal yang harus saya rubah. Banyak hal yang harus diamalkan, dicoba mengerjakan. Mula-mula berat, ragu-ragu. Tapi saya bilang saya harus coba. Saya harus yakin ini perintah agama dan saya harus laksanakan. Harus saya mulai sekarang atau saya tidak akan pernah berhasil. Alhamdulillah, pelan-pelan bisa juga walau masih sangat banyak mungkin yang belum mampu saya lakukan.”

“Saya terkagum-kagum mendengarkannya nih mbak. Mas Budiman sangat mendukung dalam hal ini saya rasa, benar nggak mas?” tanya Bambang.

“Saya kadang-kadang bahkan belajar dari dia. Dia cerita, pak nih ada ayat ini tentang shalat, pak ni ada ayat ini tentang zakat, pak ni ada ayat ini tentang menyantuni anak yatim. Dan kita baca bersama-sama. Kita diskusikan. Sering-sering saya undang lagi ustadnya ke rumah untuk mengajari kita. Ya alhamdulillah, kami sama-sama belajar, sama-sama berusaha untuk berubah, pelan-pelan. Satu hal yang saya rasakan manfaatnya, rasanya saya belajar jadi orang yang lebih penyabar, yang mencoba memahami keterbatasan kita sebagai manusia dalam banyak hal.” Budiman menambahi komentar

“Bukan main. Nggak nyangka saya dapat cerita pengalaman spiritual istimewa ini. Terus bagaimana?” Bambang kelihatan makin tertarik.

“Terus ya kami berusaha merubah hal-hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Mas Budiman sekarang selalu shalat berjamaah ke mesjid. Mulai melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan mesjid. Selama ini? Paling kalau pas bulan puasa ikut tarawihan. Itupun biasanya hari-hari terakhir sudah malas. Sekarang kami mengerti arti shalat di awal waktu. Sudah tidak sungkan-sungkan  kalau harus shalat meski sedang di manapun. Kalau dia tidak shalat ke mesjid, dia mencoba jadi imam shalat berjamaah dengan saya di rumah. Mulai dari bacaan yang masih patah-patah, sekarang sudah banyak hafalan ayat-ayatnya, sudah makin baik bacaannya. Alhamdulillah.”

“Wah kapan saya bisa begitu ya?” Bambang bertanya sendiri.

“Beliau ini sebenarnya banyak kepinginnya pak, buk. Dan banyak ngaturnya. Belum apa-apa sudah nguliahin saya harus berhenti kerja, mengurus anak di rumah, karena katanya pernah dengar khutbah jum’at menceritakan peran wanita seharusnya sebagai ibu rumah tangga. Ya saya jelas ogah, nggak mau.” Santi nimbrung bicara.

“Percuma dong ITB, Teknik Industri ya nggak San. Capek-capek kuliah terus hanya mau kerja di dapur ya rasanya rugi amat kan.” Yanti menimpali.

“Memang sih, saya sendiri juga dulu berfikir begitu. Makanya saya bilang saya mengalami suatu proses yang panjang sampai seperti saya sekarang. Dan sementara, mudah-mudahan seterusnya, saya menikmati kehidupan saya seperti ini. Dan alhamdulillah suami tidak keberatan dan malahan mendukung.” Sri menambahkan.

“Kegiatan PKK tadi setidaknya kan tidak setiap saat buk? Atau apa memang ada jadwalnya begitu yang diikuti secara ketat? Kalau iya kan jadi sama saja dengan bekerja di kantor?” tanya Yanti lebih jauh.

“Ada jadwal, tapi ya tidak harus seperti kerja di kantor. Dan kita kan banyak. Seandainya hari ini saya berhalangan masih ada beberapa ibu-ibu lain yang bisa menjalankannya. Semua tergantung pada cara mendisiplin diri kita masing-masing. Buat saya misalnya, setiap minggunya  dua hari adalah hari kegiatan PKK. Biasanya dari jam sembilan pagi sampai jam dua atau tiga siang. Pengajian ibu-ibu dengan dua ustad yang berbeda, biasanya dilakukan dari rumah ke rumah dua kali juga seminggu. Hari Jum’at saya ikut lagi majelis ta’lim di mesjid di lingkungan saya. Rata-rata setiap pengajian itu ya untuk sekitar tiga jam. Tambah acara sosial lain entah diskusi mengenai kesehatan paling-paling satu dua jam dan yang terakhir ini tidak tiap hari. Artinya saya masih punya banyak waktu di rumah untuk rumah tangga. Waktu di rumah tidak mesti untuk nongkrong di dapur.  Saya punya banyak waktu untuk membaca apa saja.”

“Maaf, sebenarnya kalau menurut pendapat ibu pribadi bagaimana sih seharusnya kita wanita ini? Apa memang harus jadi nyonya rumah tangga saja, tidak boleh bekerja mencari nafkah, padahal mungkin banyak juga keuntungan rumah tangga secara keseluruhan dari hasil yang kita peroleh. Apa perlu nggak sih kita sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya untuk jadi penghuni dapur? Apa memang ada larangan bagi wanita untuk berkarya, kalau dilihat dengan kacamata agama? Mungkin ibu pernah mendengarkan dari pengajian-pengajian yang ibu kunjungi,” Yanti makin bersemangat bertanya.

“Wah ini pertanyaan-pertanyaan berat, saya khawatir saya tidak mampu menjawabnya semua. Tapi baiklah. Saya harus mulai dari mana nih? Saya hanya bisa mengambil contoh diri saya sendiri yang sudah barang tentu bukan contoh yang ideal. Pertanyaan yang terakhir tadi, ada tidaknya larangan bagi seorang wanita untuk bekerja, pernah saya tanyakan kebeberapa ustad.  Jawabannya semua sama, tidak ada. Menurut saya ini menarik sekali. Menurut ustad-ustad itu tidak ada  ayat al Quran atau hadis yang mengatakan melarang wanita untuk bekerja mencari nafkah. Saya tentu saja sangat senang mendengarnya. Namun, katanya kita harus melihat dari segala sisi. Apakah wanita itu bisa bekerja sambil mengemban tugas kewanitaannya. Kongkritnya begini. Kodrat wanita itu adalah menjadi ibu yang melahirkan anak dan yang menyusukan anak. Ini tidak mungkin diwakilkan kepada pria. Untuk melahirkan, wanita diberi dispensasi biasanya di kantor-kantor dengan cuti untuk melahirkan, biasanya tiga bulan. Setelah bayinya berumur dua bulan, dengan asumsi dia mulai cuti sebulan sebelum melahirkan, dia sudah harus masuk kerja lagi, meninggalkan bayinya di rumah yang biasanya diberi minum susu pengganti atau susu sapi. Menurut pendapat saya, kita sudah menyalahi kodrat kewanitaan kita dan berlaku tidak adil kepada bayi kita yang seharusnya masih kita susui. Tuhan memberinya rezeki melalui tubuh kita tapi kita mengabaikan amanah itu dengan alasan untuk  mencari nafkah. Disini kita harus jujur, apakah benar nafkah kita kurang dengan tidak bekerja. Hal ini yang saya rasakan waktu saya bekerja di rumah sakit swasta dan meninggalkan bayi saya Alif di rumah. Saya dihantui perasaan berdosa kepada diri saya sendiri dan kepada bayi saya. Akhirnya saya tidak tahan dan saya putuskan untuk berhenti bekerja. Waktu itu gaji yang saya terima sebenarnya cukup lumayan, selalu kita menyebutnya begitu. Saya ajak diri saya untuk lebih jujur, apakah penghasilan suami saya tidak cukup untuk menghidupi keluarga kami? Saya tidak mau bohong. Penghasilan mas Budiman lebih dari cukup. Jadi akhirnya saya dapatkan jawaban itu untuk diri saya dan saya putuskan biarlah saya di rumah. Apakah saya menyesal sudah bersekolah tinggi? Jelas tidak. Ilmu ini tetap dapat saya manfaatkan, dan tidak mesti untuk mendapatkan uang. Lalu apakah saya harus jadi ratu dapur saja? Terus terang saya tidak terlalu pintar di dapur. Lebih terus terang lagi, maaf pak, mas Budiman jauh lebih pintar dari saya memasak. Dan dia hobi memasak. Jadi  keberadaan saya di rumah bukan melulu untuk di dapur. Itu jelas keliru. Anak-anak seusia Alif dan Bayu sangat memerlukan kehadiran saya di rumah. Saya melakukan apa saja dengan mereka, bermain, membacakan cerita, melukis, ya barangkali jadi guru TK lah. Sekali lagi ini hanya suatu contoh yang tentu tidak ideal untuk semua orang.”

“Wah saya jelas tersinggung nih, he he he.” Kata Santi.

“Kalau begitu saya minta maaf, jelas bukan maksud saya untuk menyinggung siapa-siapa he.. he he.” Sri jadi agak jengah.

“Ah, enggak kok buk …he he he”.

“Tapi Santi, saya senang kalau kamu tersinggung. Karena apa yang diceritakan mbak Sri itu tidak dibuat-buat dan contoh nyata. Sekarang terpulang kepada kita masing-masing, apakah kita mau jujur dengan diri kita sendiri atau tidak. Saya sampai pernah bilang lho mas, maaf, biar deh saya bayar gaji kamu sebanyak yang kamu dapat di kantor asal kamu mau tinggal di rumah mengawasi Anto.”

“Wah mas Bambang dapat angin deh dan langsung semangat.”

“Maaf saja. Benar lho. Akhirnya, untuk sebagian wanita saya melihat mereka seolah-olah lari dari kenyataan dan tanggung jawab tanpa alasan yang bisa dipertanggung jawabkan.”

“Waduh, kata-kata mas Bambang makin berat dan makin tidak jelas nih. Maksudnya apa mas?”

“OK lah. Kalau kamu mau fair. Kamu bekerja mencari apa? Saya bukan sombong. Saya sanggup membiayai rumah tangga ini. Untuk mengejar karir? Atau hanya karena sayang kamu seorang insinyur ITB harus nongkrong di rumah? Akhirnya memang itu kan? Ego kan? Dan kamu sedang mempertaruhkan masa kanak-kanak Anto.”

“Mas, jangan cuma saya yang disalahkan. Saya tetap memberi perhatian pada Anto kan? Kita tetap memberikan perhatian kan? Apa mas juga tidak bertanggung jawab untuk pendidikannya di rumah? Apa selalu harus saya yang dijadikan sasaran kalau terjadi apa-apa dengan Anto. Sejauh yang saya sanggup saya juga bertanggung jawab kok.”

“Wah nggak enak nih kita bertengkar di depan tamu. Sudahlah. Menurut saya apa yang disampaikan mbak Sri tadi bisa kita renungkan. Tentu saja kita bisa menyesuaikan dengan kondisi kita masing-masing. Saya hanya mengajak kamu berfikir jernih.” Bambang mencoba mengalah.

“Maaf buk. Tadi ibu bilang ada beberapa sisi yang harus diperhatikan. Yang pertama tadi kodrat kewanitaan. Yang saya tangkap, sejauh tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaan, kita kaum wanita masih bisa atau boleh saja bekerja. Apa benar begitu? Saya tertarik dengan ini karena kami tidak punya momongan. Jadi menurut apa yang ibu katakan tadi  tidak ada halangan bagi saya untuk bekerja. Apa benar begitu?” Tanya Yanti selanjutnya.

“Menurut saya begitu. Namun ada lagi persaratan tambahan, ini sisi yang lain dilihat dari kacamata agama. Harus ada izin suami. Maaf lho Santi, saya bukan memenangkan mas Bambang. Ini yang saya dengar di pengajian. Suami yang bijaksana tentu juga tidak akan asal larang. Untuk kasus Yanti, yang belum punya anak, mungkin mas Ilham bisa lebih mudah memberi izin, saya kurang tahu.”

“Bagaimana kalau ternyata dengan bekerja kemungkinan untuk mendapatkan anak jadi semakin sulit. Setiap hamil muda keguguran terus. Kata dokter rahimnya lemah dan seharusnya banyak beristirahat. Tapi orangnya wanita berkarya yang tidak mau mengalah dan akhirnya tidak punya anak terus meski sudah lima tahun berumah tangga? Ah, saya jadi membuka rahasia dapur sendiri nih.” jelas Ilham.

“Ya, saya memang punya masalah demikian. Sudah tiga kali keguguran. Biasanya saat hamil dua atau tiga bulan. Fisik saya biasa-biasa saja. Saat hamil itu, karena saya sehat-sehat saja, saya pikir tidak ada alasan saya berhenti bekerja sekarang, biarlah nanti kalau sudah punya momongan baru saya berhenti. Tapi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dia gugur. Tentang rahim lemah baru sesudah keguguran yang ketiga kalinya dokter memberi tahu. Terus terang saja saya memang lagi berfikir mau berhenti bekerja karena saya sangat ingin punya anak.” lanjut Yanti.

“Kalau begitu ini kasus baru lagi dalam pengamatan saya.” jawab Sri.

“Wah, ngomong-ngomong sudah terlalu siang ini. Kok jadi ramai begini diskusi kita? Apa sebaiknya kita akhiri sampai disini dulu dan kapan-kapan disambung lagi” Budiman mengusulkan.

“Kok mesti buru-buru mas. Saya sangat tertarik sekali dengan bahasan-bahasan ini. Dan apa yang disampaikan ibu Budiman tadi bagi saya benar-benar menggugah. Ya… mudah-mudahan suatu saat istri saya tercinta mau berubah.”

“Jangan mas, nanti kalau saya berubah, mas malah nggak suka lagi sama saya he he he.”

“Seandainya kamu berubah jadi lebih baik, saya pasti semakin cinta sama kamu.”

“Mas Bambang, it takes time. Orang perlu waktu untuk berubah. Maaf Santi, saya menilai dengan kacamata pribadi yang mungkin saja salah”  Sri mencoba menengahi.

“Nggak apa-apa kok buk. Sejujurnya saya akan pikirkan apa yang ibu contohkan. Tapi ya itu tadi saya perlu waktu. Mas Bambang jangan keburu senang dulu he he he.”

“Baiklah, saya pikir kita akhiri dulu nih obrolan-obrolan kita. Mas Bambang, Santi terima kasih banyak atas makan enak siang ini. Mungkin kapan-kapan kami undang pula makan siang di tempat kami. Sudah waktunya pamit.” Budiman mohon diri.

“Kami yang mengucapkan terima kasih sama bapak Budiman dan keluarga, bapak Ilham dan ibu Yanti. Sangat menyenangkan sekali kesempatan siang ini. Kalau kami diundang dengan sangat senang hati kami akan datang.”

“Terima kasih lho pak, buk. Terima kasih bang Ilham, Yanti. Kami senang sekali,” Santi menambahkan basa basi.

*****
 
Tentang penulis

Nama / gelar                  :    Muhammad Dafiq Saib / Sutan Lembang Alam
Tempat / tanggal lahir    :     Bukit Tinggi / 21 Agustus 1951
Pendidikan                     :    Sarjana Teknik Geologi ITB
Pekerjaan                       :    Staf Ahli Geologi Total Indonesie
Hobi                                :     Antara lain menulis cerita

Trackback(0)
Comments (1)add comment

winny_cantik said:

smilies/smiley.gif Makdang, cerita yang cukup menyentil para wanita yang ingin berjuang juga dalam hidup... untuk menjadi seseorang...
 
report abuse
vote down
vote up
March 04, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 16 guests and 12 members online
Generated in 5.29988 Seconds