|
Tangan saya hanya dua, itupun tidak sekuat dulu lagi. Kalau dulu beban berat bisa diangkatnya, kerna otot-ototnya kuat dan kekar. Tapi kini tangan itu sudah sering sakit dan pegal-pegal.
Lebih-lebih jari-jarinya, serimg kesemutan dan kadang-kadang serasa tebal. Akibatnya kekuatan dan kemampuannya tidak seperti dulu lagi. Dulu semua pekerjaan dikerjakan sendiri, semua beban dipikul sendiri, rasanya apa saja mau dikerjakan, tapi pekerjaan itu pula yang tidak ada. Tapi kini pekerjaan sangat banyak, sampai bertumpuk-tumpuk, sayang tangan cuma dua dan itupun tidak sekuat dan selincah dulu lagi. Terasa tangan ini mulai lemah, diri inipun tidak begitu PERKASA, pemikiranpun tidak setajam dulu, tapi beBan makin bertambah, pekerjaanpun makin menumpuk.
Satu kali saya di wajibkan membuat transparan untuk sebuah ceramah. Biasanya ini di kerjakan sendiri, tapi karena pekerjaan lain menuntut pula, maka saya minta bantuan mahasiswa untuk membuatkannya, saya meminjam tangan orang lain karena tangan saya cuma dua dan tak mungkin bisa mengerjakan pekerjaan yang bermacam-macam. Ternyata hasilnya sangat bagus. Tulisan masiswa itu jauh lebih bagus dari tulisan saya, dan mahasiswa itu lebih cepat menyelesaikan pekerjaan itu katimbang saya. Ketika itu saya sadar, ternyata walaupun tidak saya yang mengerjakannya, namun hasilnya jauh lebih baik dari pada jika saya yang mengerjakannya.
Menyadari kekurangan ita dan tidak sanggup megerjakan sesuatu, lantas minta tolong pada orang lain, ternyata hasilnya jauh lebih baik daripada apa yang di inginkan. Dan si mahasiswa itu sendiri dengan gembira bekerja, karena dia merasa bangga dan sekaligus dapat kepercayaan saya. Dia ngomong pada temannya "Saya dapat tugas dari dosen, saya dapat tugas dari atasan". Seperti waktu dulu saya dimintai tolong oleh pimpinan, maka saya bangga karena dapat kepercayaan dari pimpinan, lalu mati-matian saya menyelesaikan pekerjaan.
Ternyata pekerjaan itu banyak yang dapat di selesaikan dan di rampungkan jika kita mengerahkan tenaga orang lain. Seni mengerahkan tenaga atau tangan orang lain sebagai perpanjangan tangan kita, tampaknya memberikan hasil yang memuaskan. Memang kita hanya mempunyai dua tangan dan dua kaki, kemampuan kita terbatas, demikian juga dengan fikiran kita. Untuk semua kelemahan kita itu, kita kita perlu dan butuh uluran tangan orang lain. Cuma minta tolong jauh berbeda dengan memberi perintah. Karena pada satu hari saya memberi perintah kepada sekretaris di kantor, saya kira esok perintah saya itu telah selesai di kerjakan, ternyata waktu di tanya, jamgankan di kerjakan, dilihatnya sajapun belum, saya kesal, tapi dia memberikan alasan-alasan yang ber bagai-bagai.
Tapi jika dengan nada minta tolong dan minta bantuan saya menyuruhnya, atau dengan sedikit memberi penghargaan dan pujian padanya, maka pekerjaan itu cepat selesainya.
Agaknya suksesnya seorang pimpinan atau manager terletak dalam seninya minta pertolongan orang lain. Manager itu ialah orang yang dapat memanfaatkan tangan orang lain untuk mencapai tujuannya. Tujuannya tercapai, walaupun bukan dia yang mengerjakan, dia pinjam tangan orang lain dan dimanfaatkannya kepandaian orang lain. Agaknya ini adalah satu seni dalam menyuruh dan memerintah orang.
Sering saya minta tolong dan sering saya minta bantuan, karena saya sadar bahwa tangan saya cuma dua dan saya ini sangat lemah tak ada artinya apa-apa tanpa bantuan orang lain.
Begitu pula agama mengajarkan kepada kita, kalau mau minta pertolongan pada Allah, pujilah Allah itu terlebih dahulu, sanjunglah Dia, kemudian sampaikan bahwa kita lemah, daif, serba kekurangan dan serba mohon perlindungan. Terakhir barulah sampaikan permohonan dan permintaan itu. Insya Allah Tuhan akan kabulkan. Jangan menyombong, jangan meninggikan diri, jangan membesarkan badan dan jangan menepuk dada, jangan pongah. Tuhan sungguh-sungguh tidak senang pada orang-orang yang sombong dan pongah.
Trackback(0)
|