Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Dek ribuik rabahlah padi
Dicupak Datuak Tumangguang
Hiduik kok tak babudi
Duduak tagak kamari cangguang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tanganku Hanya Dua PDF Print E-mail
Written by Dr. H. K. Suheimi   
Tuesday, 04 September 2007

Image Tangan saya hanya dua, itupun tidak sekuat dulu lagi.  Kalau dulu  beban berat bisa diangkatnya, kerna otot-ototnya  kuat  dan kekar.  Tapi kini tangan itu sudah sering sakit dan  pegal-pegal.

Lebih-lebih  jari-jarinya,  serimg  kesemutan  dan  kadang-kadang  serasa  tebal. Akibatnya kekuatan dan kemampuannya tidak  seperti  dulu  lagi. Dulu semua pekerjaan dikerjakan sendiri, semua  beban  dipikul sendiri, rasanya apa saja mau dikerjakan, tapi  pekerjaan  itu  pula  yang  tidak ada.
Tapi kini pekerjaan sangat banyak, sampai  bertumpuk-tumpuk,  sayang tangan cuma dua dan itupun tidak sekuat dan selincah  dulu  lagi.  Terasa  tangan ini mulai lemah, diri inipun  tidak  begitu  PERKASA,  pemikiranpun tidak setajam dulu, tapi beBan makin  ber­tambah, pekerjaanpun makin menumpuk.

  Satu  kali saya di wajibkan membuat transparan untuk  sebuah  ceramah. Biasanya ini di kerjakan sendiri, tapi karena  pekerjaan  lain menuntut pula, maka saya minta bantuan mahasiswa untuk  membuatkannya,  saya meminjam tangan orang lain karena  tangan  saya  cuma  dua  dan tak mungkin bisa mengerjakan  pekerjaan  yang  bermacam-macam. Ternyata hasilnya sangat bagus. Tulisan masiswa  itu  jauh lebih bagus dari tulisan saya,  dan mahasiswa itu lebih cepat  menyelesaikan  pekerjaan  itu  katimbang saya.  Ketika  itu  saya  sadar,  ternyata walaupun tidak saya yang  mengerjakannya,  namun  hasilnya jauh lebih baik dari pada jika saya yang mengerjakannya.

  Menyadari kekurangan ita dan tidak sanggup megerjakan sesua­tu,  lantas minta tolong pada orang lain, ternyata hasilnya jauh  lebih  baik daripada apa yang di inginkan. Dan si  mahasiswa  itu  sendiri  dengan  gembira bekerja, karena dia  merasa  bangga  dan  sekaligus  dapat kepercayaan saya. Dia  ngomong  pada  temannya  "Saya  dapat  tugas dari dosen, saya dapat  tugas  dari  atasan". Seperti waktu dulu saya dimintai tolong oleh pimpinan, maka  saya  bangga  karena dapat kepercayaan dari pimpinan, lalu  mati-matian saya menyelesaikan pekerjaan.

  Ternyata  pekerjaan itu banyak yang dapat di selesaikan  dan  di  rampungkan  jika  kita mengerahkan tenaga  orang  lain.  Seni  mengerahkan  tenaga atau tangan orang lain  sebagai  perpanjangan  tangan  kita, tampaknya memberikan hasil yang  memuaskan.  Memang kita  hanya  mempunyai dua tangan dan dua  kaki,  kemampuan  kita  terbatas, demikian juga dengan fikiran kita. Untuk semua  kelemahan  kita  itu, kita  kita perlu dan butuh  uluran  tangan  orang  lain.  Cuma  minta tolong jauh berbeda dengan  memberi    perintah.
Karena pada satu hari saya memberi perintah kepada sekretaris  di  kantor, saya kira esok perintah saya itu telah selesai di  kerjakan,  ternyata waktu di tanya, jamgankan di   kerjakan,  dilihatnya sajapun belum, saya kesal, tapi dia memberikan alasan-alasan yang
ber bagai-bagai.

  Tapi  jika dengan nada minta tolong dan minta  bantuan  saya  menyuruhnya,  atau dengan sedikit memberi penghargaan dan  pujian  padanya, maka pekerjaan itu cepat selesainya.

  Agaknya  suksesnya  seorang pimpinan atau  manager  terletak  dalam  seninya  minta pertolongan orang lain. Manager  itu  ialah  orang  yang dapat memanfaatkan tangan orang lain  untuk  mencapai tujuannya. Tujuannya tercapai, walaupun bukan dia yang  mengerja­kan, dia pinjam tangan orang lain dan dimanfaatkannya  kepandaian  orang  lain.  Agaknya  ini adalah satu seni  dalam  menyuruh  dan memerintah orang.

  Sering  saya  minta tolong dan sering  saya  minta  bantuan,  karena saya sadar bahwa tangan saya cuma dua dan saya ini  sangat  lemah tak ada artinya apa-apa tanpa bantuan orang lain.

  Begitu  pula agama mengajarkan kepada kita, kalau mau  minta  pertolongan  pada Allah, pujilah Allah itu terlebih dahulu,  sanjunglah  Dia,  kemudian sampaikan bahwa kita lemah,  daif,  serba  kekurangan dan serba mohon perlindungan. Terakhir barulah sampai­kan  permohonan dan permintaan itu. Insya Allah Tuhan akan  kabulkan.  Jangan menyombong, jangan meninggikan diri,  jangan  membesarkan badan dan jangan menepuk dada, jangan pongah. Tuhan  sungguh-sungguh  tidak  senang pada orang-orang yang sombong  dan pongah. 

Trackback(0)
Comments (1)add comment

melati malam said:

salam..tulisan Dr. H. K. Suheimi pasti melati baca...ia penoh nasihat..dan banyak kebenaran...

kerana kita insan biasa sukar benar untok menjadi insan yang merendah diri..seandai tiada ada yang sudi memuji...
kerna itu lah jua maka ada insan yang sering menyatakan dia bijak pandai....demi untok memuaskan hati sendiri...
melati tak sempurna masih merangkak mencari yang ketenangan jiwa....

salam mesra..
 
report abuse
vote down
vote up
September 03, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 2 guests and 5 members online
Generated in 1.07729 Seconds