|
Page 2 of 20 cubadak ambiak kagulai, Talatak ditangah padang. Apo nan titah dipegawai, Ditiliek dalam undang-undang.
Artinya :
Cempedak ambil untuk gulai, Terletak ditengah padang. Apa yang dikatakan oleh pegawai, Dilihat dalam undang-undang.
Tafsir sampiran : Cubadak ambiek kagulai,talatak ditangah padang. Satu pohon nangka yang tumbuh ditengah padang, diambil buahnya untuk digulai. Gulai nangka atau gulai cubadak, yang biasanya dicampu dengan daging, adalah termasuk “gulai adat” orang Minang. Makanan yang biasanya selalu ada pada setiap acara jamuan makan, disamping rendang, gulai daun singkong dan sambal lado. Keistimewaan dari gulai ini, bila tidak habis sekali makan, dapat dipanaskan sampai berkali-kali, dan semakin lama, rasanya semakin enak.
Tafsir isi pantun : Apo nan titah dipegawai, ditiliek dalam undang-undang. Isi dari pantun ini sangat dalam artinya, merupakan ketentuan dasar yang harus diikuti oleh para pejabat, penguasa atau pemerentah dalam mengemban tugasnya. Dalam pantun ini para penguasa itu disebut dengan “pegawai”, yang bias berarti semua yang tersangkut sebagai pengambil kebijakan dalam mengendalikan negara ini. Apa yang titah dipegawai, maksud apa yang akan diperintahkan, apa yang akan dikerjakan, diprogramkan atau dilakukan oleh penguasa, pada semua tingkat mulai dari Ketua RT sampai Presiden. Diliek dalam undang-undang, artinya itu semua hendaklah sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Seperti diketahui undang-undang ditetapkan bersama oleh wakil rakyat, apabila pemerentah menjalankan undang-undang itu, berarti mereka telah mengemban amanat rakyat. dan negara ini akan aman dan makmur. Ini adalah merupakan aturan demokrasi sebagai lawan dari dictator. Kalaulah apa yang terkandung dalam isi pantun ini dilaksanakan dari dulu dalam mengelola negara tercinta ini, tentunya keadaan kita akan jauh lebih baik dari sekarang.
|