Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat PDF Print E-mail
Written by Dr. Darwis SN St.Sati   
Wednesday, 12 September 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
 

Manembak tibo dihulu,
Kanai anggang tabang duo.
Apo nan cupak dipangulu,
Mananti kato nan saiyo.


Artinya :

Menembak tiba dihulu,
Terkena anggang terbang dua.
Apa yang aturan bagi penghulu,
Menanti kata nan seiya (sepakat).

Tafsir sampiran :
    Manembak tibo dihulu,kanai anggang tabang duo.  Sampiran ini diambil dari cerita orang pergi menembak burung. Pergi kegunung untuk menembak burung berjalan memudiki sebuah sungai. Sesampai dibagian hulu sungai, dimana diperkirakan banyak burung, mereka berhenti untuk mengamati burung yang lewat. Kemudian terlihat diudara dua ekor burung enggang (burung rajawali) yang sedang beriringan. Burung itu ditembak dan satu diantaranya kena.

Tafsir isi pantun :
    Apo nan cupak dipangulu, mananti kato nan  saiyo.  Secara harfiah cupak itu berarti takaran yang biasanya dipergunakan untuk menakar beras. Dizaman dulu cupak itu terbuat dari potongan bambu, sekarang diganti dengan liter. Cupak ukuran besar dinamakan sukek, biasa digunakan untuk menakar padi (gabah). Dalam pantun ini cupak itu berarti aturan atau kebijakan, yang sebenarnya juga identik dengan takaran.
    Yang dimaksud dengan penghulu dalam pantun ini identik dengan “pegawai” yang disebut dalam pantun terdahulu. Bedanya adalah bahwa penghulu itu adalah pimpinan  adat, bukan kepala pemerentahan. Penghulu itu tidak digaji seperti pegawai, biasanya ada syarat tertentu yang dapat jadi penghulu, fungsinya adalah sebagai kepala suku atau kepala kaum. Pantun ini menjelaskan bahwa keputusan atau kebijakan yang akan diambil oleh penghulu, hendaklah menantikan kata sepakat terelebih dahulu, jadi dasarnya adalah kesepakatan bersama.
    Ini merupakan bukti lagi bagaimana dasar-dasar demokrasi itu telah ditanamkan dalam adat Minangkabau semenjak dahulu kala. Bagaimana mufakat atau musawarah itu sangat penting dalam memutuskan suatu kepentingan bersama, juga terlihat dari petuah Minang lainnya yang berbunyi: “Bulek air dipembuluh, bulek kata di mufakat”.



 
Next >




Generated in 9.86655 Seconds