|
Page 6 of 20 alah bauriah bak sipasin, Kok bakiak alah bajajak. Walau batuka putaran musin. Sandi adaik ijan dianjak.
Artinya :
Sudah berukir bak sipasin, Kalau bakiak alah bajajak. Walau bertukar putaran musim, Sendi adat jangan dipindahkan.
Tafsir sampiran : Alah bauriah bak sipasin, kok bakiak alah bajajak Sipasin adalah nama binatang kecil, lebih besar sedikit dari kepinding, berkaki banyak, biasa berdiam dan berjalan diatas pasir yang halus. Bekas jalannya dipasir atau ditanah halus itu terlihat sebagai garis yang dalam pantun ini disebut “baurieh”. Berlain dengan bakiak yang pada bekas jalan yang ditempuhnya terlihat jejak kaki seperti jejak binatang lainnya.
Tafsir isi pantun : Walau batuka buatan musim, sandi adaik jangan dianjak. Ini lagi satu peringatan adat yang dilantunkan dalam bentuk pantun dan intinya sama dengan pantun yang barusan dibahas sebelum ini. Walau bagaimanapun kita tak akan dapat menyetop perobahan zaman, namun adat Minangkabau , bukanlah pula sesuatu yang kaku atau mandul, tidak dapat mengikuti perobahan zaman, asalkan masih menurut alur dan patut, sesuai dengan pepatah adat berikut ini : Lapuak-lapuak dikajangi, Usang-usang dibaharui, Adaik dipakai baru, Kain dipakai usang. Jadi kalau ada diantara aturan adat yang sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan kemajuan zaman, bias diperbaharui sesuai dengan alur dan patut yang berlaku saat itu. Sesuai dengan pepatah diatas: Kalau lapuk dikajangi, kalau usang dibaharui. Adat iotu berbeda dengan kain, kalau kain dipakai terus, dia akan semakin usang, sampai akhirnya tak bisa dipakai lagi. Tapi kalau adat terus dipakai, maka dia akan semakin baru, tidak semakin tak berguna. Jadi walau bagaimanapun perobahan zaman, adat Minang itu tidak akan habis, malah akan semakin baru. Akan tetapi pantun diatas memperingatkan : “sandi adaik jangan dianjak”, artinya yang berupa adaik sabana adaik , harus dapat selalu dipertahankan, terutama sekali adaik yang basandi syarak. Jadi kalau kita renungkan, pada hakekatnya yang dikatakan sandi adat itu adalah “syarak”. Kalau perobahan atau pembaharuan itu berlawanan denmgan kaidah agama Islam, itu tidak boleh. Kebebasan untuk menyesuaikan diri itu ada batas-batasnya, bukan bebas lepas sama sekali, sehingga tak terkendali, dan seperti tak ada aturan lagi yang akan diikuti. Semoga para pemuka masyarakat Minang, ninik mamak, alim ulama, cadiek pandai dan sebagainya akan mengindahkan peringatan dalam pantun ini. Sebab gejala yang memasyarakat sekarang ini, sudah sangat mengkhawatirkan . Pornografi, kekerasan, narkoba, perjudian, pencurian, perkelahian bahkan pembunuhan sadis, sudah semakin marajalela . Kato pangulu manyalasai, Mandareh kato dubalang, Adaik kok kurang ta-kuasai, Dunia jadi mangapalang.
Artinya : Kata penghulu menyelesaikan, Menghardik kata dubalang. Kalau adat kurang dikuasai, Dunia jadi kepalang tanggung.
Tafsir sampiran : Kato pangulu manyalasai, mandareh kato dubalang. Pangulu disini adalah kepala suku atau Datuk kepala kaum. Apa yang dikatakan atau yang diperintahkan oleh seorang penghulu haruslah menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah baru. Ini termasuk keputusan penghulu untuk kemenakannya, dan juga keputusan kerapatan penghulu (ninik mamak) dalam satu wilayah adat untuk masyarakat sekitarnya. Hal ini dimungkinkan dalam masyarakat Minangkabau karena suatu keputusan itu terlebih dahulu telah dimusyawarahkan secara demokrasi. Kedududkan dubalang pada masyarakat Minang identik dengan polisi atau tentara dipemerentahan. Dubalang ini mengamankan pelaksanaan dari keputusan penghulu tersebut diatas. Untuk itu dia bertindak tegas dengan disiplin tinggi dan keras (mandareh).
Tafsir isi pantun : Adaik kok kurang ta-kuasai, dunia jadi mangapalang. Hal ini merupakan keadaan zaman dulu, yang sekarang ini tidak terlalu dominan lagi. Sadat itu memang harus dikuasai, dimengerti dan dilaksanakan. Diantara ninik mamak kepala kaum biasanya ada yang menonjol dalam hal ini disbanding dengan yang lainnya. Dia lebih tahu tentang adat, hafal tentang kata-kata adat, tingkah lakunya sehari-hari beradat, tahu dihereng dengan gendeng, cepat menangkap pembicaraan orang lain dan langsung membalasnya dengan kata yang tepat dan meyakinkan. Dalam rapat-rapat adat, biasanya penmghulu yang demikian akan banyak diminta pendapatnya dan dituakan selangkah. Kalau adat kurang dikuasai, banyak yang tidak tahu, maka menurut pantun ini: hidup akan serba kepalang.Dalam rapat-rapat adat, jarang diajak bicara, apalagi dimintai pendapatnya; dalam pergaulan sehari-hari sering disihkan , sehingga hidupnya jadi kepalang tanggung. Dari itu maka dizaman dulu ada semacam kursus atau latihan adat, terutama untuk anak-anak muda , yang biasanya diadakan dirumah seseorang, atau di surau, atau di balairung bagi desa yang mempunyainya.. Sekarang ini tak ada lagi pelajaran adat itu, ceramah-ceramah adatpun jarang diadakan . Dan sebagian dari Datuk kepala kaum, malah ada yang tidak mengetahui aturan-aturan adat, apa lagi kata-kata pasambahan , sudah jarang yang menguasainya.
|