Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bajalan ba nan tuo
Balatia ba nakhodo
Bakato ba nan pandai
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Kado untuk Suamiku PDF Print E-mail
Written by Rahima Rahim   
Monday, 01 October 2007

ImageAssalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh.

Kupersembahkan kado sederhana ini untukmu suamiku tercinta.
Tiada kata yang pantas keucapkan dari lidahku yang  mungil ini, selain "Terimakasih atas segala apa yang kau berikan padaku, semoga Allah memberikan rahmat dan  ridhaNya selalu kepadamu, dengan segenap ragaku,  sepanjang jantungku masih berdetak, maka aku tetap "Mencintaimu", melalui kehangatan tanganmu, aku  merasakan hangatnya cintamu".

Air mataku selalu berlinang bila mengingat dirimu yang  telah bersusah payah mencari  nafkah lahir dan bathin  untuk menghidupi kami. Terkadang dirimu sendiri tidak  kau pikirkan, rapikah dandanan bajumu, tersisirkah  rambutmu, terpakaikah dasimu, mengkilatkah sepatumu,  atau bahkan kau lupa akan isi perutmu sendiri, sudah  sarapan pagikah, sudah makan siangkah, semua tidak kau  pikirkan kalau tidak kuingatkan padamu, karena  pikiranmu cuma satu, mencari nafkah.
Selama perkawinan kita dirimu cukup tergantung akan  perhatianku pada makan, minum, dan pakaianmu. Sampaipun  hampir semua bajumu akulah yang memilihkan  warnanya. Kau benar-benar seorang suami yang manja, dan  aku menyukai kemanjaanmu itu.

Wajah dan tubuhmu yang dulu kekar, mulai memudar,  keriput mulai merambat diwajahmu, rambutpun mulai  memutih, mata semakin sayu, dan dengan tetesan  keringat selalu  membasahi sekujur tubuhmu.
Namunpun begitu, bagiku dirimu adalah tetap suamiku yang  tertampan dan termuda , karena akupun jua semakin  melangkah tua. Hatimu selalu ikhlas, tanpa sedikitpun  rasa mengeluh dan lelah kau perlihatkan  padaku. Sementara aku tidak sepantasnya selalu  mengeluh  atas kesulitan RT, membersihkan rumah, mengurus  anak-anak,  mengantarkannya sekolah, memasak, mencuci,  menggosok. Tidak sepantasnya aku selalu saja menuntut  minta ini, minta itu, beli ini beli itu, antarkan ini,  antarkan itu, padahal, seharusnya semua itu mampu aku  kerjakan sendiri, karena aku harus menyadari, waktu sangat berharga bagimu, semenit itu bisa jadi uang  untuk menafkahi kami, dan juga dirimu butuh istirahat.

Aku selalu ingat, betapa Rasulullah pernah mendapatkan  teguran karena hanya sekedar mencari keridhaan  istrinya, mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah  Ta'ala, padahal, perintah Allah harusnya jauh lebih  kau perhatikan ketimbang permintaanku. Juga aku selalu  ingat, betapa Allah menyuruh Rasulullah, disaat para  istrinya menginginkan kehidupan duniawi lebih lagi,  apa yang harus dijawab Rasulullah atas perintah Allah  tersebut ?"  
Katakanlah wahai Muhammad (pada istri-istri kamu), jika kamu menginginkan kehidupan duniawi  beserta perhiasannya, maka marilah sini akan  kuberikan kesenangan duniawi itu, dan kuceraikan kamu  dengan perceraian yang baik-baik".(Al Ahzab 28)

Dari firman Allah diatas, aku bisa merenungkan, betapa  seharusnya seorang istri, jangan terlalu banyak  menuntut kepada suami. Ridha dan ikhlas dengan apapun  pemberian suami, apapun keputusan suami, karena itulah  realita kehidupan. Allah ta'ala berfirman:" lelaki (para suami) itu pemimpin atas perempuan (para istri), dengan  kelebihan yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada  sebahagian mereka (suami) atas sebahagian yang  lain (istri), dan dengan kelebihan para suami  memberikan nafkah bagi para istri dari harta mereka,  maka para istri-istri yang shalihah adalah mereka yang  taat pada Allah dan menjaga  dirinya. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan  nusyuz(membangkang, melawan), hendaklah kamu beri  nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka ditempat  tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu), pukullah  mereka.tetapi jika mereka mentaatimu, janganlah kamu  mencari-cari alasan untuk menyusahkannya, sungguh  Allah maha tinggi, lagi maha besar (Annisa 34).

Wahai suamiku, tidak sepantasnyalah seorang suami  takut pada istrinya seperti kebanyakan suami zaman  sekarang (tidak semua lelaki), dan ketakutan suami pada  sang istri, jarang kita temukan dari zaman para Nabi  dan para sahabat, andaikanpun ada, langsung dapat  teguran dari Allah Subhanahu Wata'ala. Suatu yang  aneh, bila kita melihat para suami takut pada sang  istri, apakah memang kiamat dah dekat, atau bumi sudah
kebalik ? Allahu'alam.

Siapasih perempuan didunia ini, yang tidak  menginginkan gemerlap keajaiban duniawi, kesenangan  berbaju cantik, berpakaian indah, perhiasan dengan  hiasan emas permata, bahkan berlian sekalipun, tinggal  dirumah mewah dengan perabotan serba canggih ,
mutakhir dan lengkap.Hampir semua perempuan didunia  ini menginginkan hal itu.Hanya sayang sekali, pada  hakikatnya kesederhanaan dan menghemat itu sering  terlupakan. Kehidupan zuhud, sederhana dan menghemat  disaat kita mampu sudah sulit ditemukan lagi, karena  gemerlap kemewahan telah menghiasi dan menyelimuti  dunia fatamorgana, penuh fantasi ini.

Pepatah mengatakan:"Al Iqtishaadu asaasunnajaahi,  Kesederhanaan, (hemat), itu adalah sumber dari keberhasilan seseorang". Hemat bukan berarti pelit,  karena Allah paling tidak suka pada orang yang sombong  lagi pelit. Sudahlah sombong dan pelit, orang pelit  pada umumnya sifatnya egois, mementingkan diri  sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang  lain, sudahlah egois, malah menyuruh orang agar egois  dan berbuat bakhil pula dan berusaha menyembunyikan  kekayaan, atau karunia yang diberikan Allah  padanya (Annisa 36-37).  (agar tidak ada orang yang meminta belas kasihan  kepadanya, dan  termasuk disini mereka yang selalu saja  mencari-cari alasan agar tidak bersedeqah,   seakan-akan  kebutuhan rumah yang selalu bertambah-tambah, dan  kebutuhan selalu kurang, padahal kalau kita ingat  firman Allah, manusia disuruh bersedeqah dalam keadaan
lapang dan sempit, sebab disanalah keberkahan hidup  itu adanya, bisa jadi dengan sedeqah kita yang sedikit  itulah yang justru mempermudahkan rezeki kita).

Suamiku, aku tau, betapa banyaknya para lelaki yang  hancur karena ulah perempuan, tetapi sebanyak itu pula  para lelaki yang maju karena ada perempuan baik mendampinginya. Ingat kita cerita Napoleon Bonaparte  yang katanya super pintar, salah satu penyebab  hancurnya juga karena perempuan, ingat kita kehancuran  Mesir kuno, dengan cerita cleopatranya, tetapi kita  tak juga pernah lupa akan perannya Siti Khadijah dengan segala dukungan, moril, harta dan sayang serta  cintanya pada Rasulullah sampai Rasulullah maju, dan  berhasil menjadi pemimpin yang paling berhasil didunia  sampai zaman kini. Siti Aisyah yang pintar lagi manja,  sampai meneruskan perjuangan Rasulullah dengan hadits-hadits melalui beliau.

Kita tak pernah lupa dalam sebuah kata : "Perempuan itu  adalah tiang Negara, bila baik perempuan dinegara itu,  maka baiklah negerinya, bila buruk perempuan ditempat  itu, maka buruklah lokasi tersebut. Begitulah betapa  pentingnya peran seorang perempuan yang berhati mulia,  berkata santun, cerdas, dan memiliki sense of crisis  yang cukup tinggi atas kehidupan manusia lainnya,  tidak merasakan dunia ini hanyalah miliknya sendiri,  dan hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri,  tidak akan pernah tenang dan tentram hatinya kecuali  segalanya ia miliki sendiri. Karena ia kurang sadar,  dan merasa dunia ini hanya selebar daun talas, ia  seperti katak dibawah tempurung yang hanya tau dirinya
saja. Betapa para sahabiah hidup dalam lingkungan yang  luas, hidup mereka bebas, tetapi terikat. Bebas  menyalurkan ilmu-ilmu mereka, bebas bekerja membantu  mencari nafkah suami, namun terikat dan terbatas   sesuai dengan naluri kewanitaannya.Para sahabiah,
banyak yang berjualan kepasar, jadi penjahit, daiah, dan sebagainya.

Suamiku, dengan ayunan langkahmu meninggalkan tapaksuci rumah kita, aku selalu mendo'akan agar  dirimu sehat dan selamat didalam perjalanan. Aku selalu  berusaha menahan diri agar tidak menuntutmu  sepulang   kerja nantik belikan atau bawakan ini dan itu,  walaupun itu kau tawarkan pada diriku. Yang aku  inginkan adalah keselamatanmu, karena keselamatanmu  jauh lebih berharga dari harta melimpah. Aku tak ingin membiasakan diriku menjadi tangan yang selalu di  bawah, selalu meminta, pendidikan itu justru kumulai  dari rumah kita, agar kelak anak-anak kitapun tumbuh  menjadi orang baik-baik, orang yang selalu memikirkan  nasib orang lain, dan tak membiasakan diri untuk
menerima saja, tetapi selalu memberi.

Aku tak ingin diriku dan anak-anak kita terbiasa akan  kebiasaan tangan dibawah itu, karena Allah  berfirman : "Mereka tidak selalu meminta seolah-olah  pengemis, sehingga akibat mereka menahan diri untuk  tidak meminta, banyak orang yang menduga mereka itu adalah orang yang kaya, karena memelihara diri mereka", bahkan mereka selalu berusaha tangan diatas, karena  "Tangan diatas, jauh lebih baik dari tangan dibawah,  memberi, jauh lebih pantas, ketimbang selalu  menerima", pendidikan semacam ini, harus kita mulai  dari diri dan keluarga kita sendiri wahai  suamiku. Meskipun dengan alasan atau sandaran aku meminta pada suamiku sendiri, meskipun anak-anak  meminta pada orang tuanya sendiri, tetapi tetap juga,  yang namanya meminta itu kurang baik, dan pendidikan  itu justru dimulai dari keluarga. Tangggung jawab  suami pada istri dan anak-anaknya tidak perlu pula  harus diminta, ia datang dengan sendirinya sesuai  dengan kesanggupan suami.

Suamiku, aku cukup bangga dan bahagia mendapatkan  suami seperti dirimu yang baik, shalih, penyayang,  perhatian, penyabar, tanggung jawab, dan memperlakukan  istri dengan baik, karena aku sadar, dan akupun  memilihmu juga  karena agamamu, karena dirimu juga
memilih aku karena agamaku, sebagaimana sabda Rasulullah

"Dinikahi perempuan dengan empat perkara, karena  kecantikannya, kekayaannya, keturunannya, agamanya,  maka pilihlah karena agamanya, niscaya dirimu akan beruntung", Akupun menerima lamaranmu karena aku takut  akan ancaman dalam sebuah hadits Rasulullah : "Apabila  datang lelaki shalih meminang seorang perempuan untuk  menjadikannya sebagai istri, kemudian ditolak oleh  perempuan itu, maka tunggulah fitnah (cobaan) yang  besar akan datang menimpanya".
Aku tau, dirimu melakukan semua kebaikan-kebaikan itu  atas dasar menjalankan perintah illahi dengan  firmanNya "Dan pergaulilah istri-istrimu dengan  pergaulan yang baik".

Segala perbuatan baik, pasti balasannya juga baik,  (Hal Jazaaulihsaan, illaalihsaan), tetapi tak jarang  pula justru kita menemukan sebaliknya. Apapun kebaikan  yang kita berikan selalu salah dan tak berarti dimata  orang yang kita baik padanya, tak heran, bahkan kita mendapatkan balasan buruk darinya, karena memang  begitulah dunia ini, seperti cerita keledai dengan  ayah serta anaknya, dinaiki salah, tak dinaiki salah,  diangkat salah, tak digendong salah menurut pandangan  orang lain, dan bisa jadi kita menemukan balasan kebaikan itu dari orang lain, bukan dari orang yang  kita telah berbuat baik dan berkorban untuknya, karena  bagaimanapun janji Allah pasti benar adanya.

Mungkin kebaikan yang kita lakukan pada si a, tidak  kita terima balasan darinya, tetapi kita menerimanya  dari si B. Karena itulah Allah dan RasulNya selalu  mengingatkan kita akan berbuat, bertindak, dan berlaku  sesederhana mungkin, pertengahan, tidak berlebihan.
Dan jangan pernah mendzalimi siapapun didunia ini,  karena perbuatan yang paling dibenci oleh Allah Ta'ala  dan rasulNya adalah mendzalimi sesama, menghina dan  mencaci maki sesama, sejelek-jelek perkataan adalah  perkataan cacian, hinaan dan makian, karena bisa jadi  orang yang kita hina, kita ejek dan kita hina jauh  lebih baik dari yang menghina, dan mengejek. (Lihat  Q.S Al Hujurat 11).

Mari kita jauhi dari berbuat dzalim, apalagi  mendzalimi orang yang telah berbuat baik untuk  kita. Betapa banyaknya firman Allah akan hal ini,  dzalim pada manusia, maka   penyelesaiannya haruslah  pada manusia yang kita dzalimi, kalau tidak  tergantunglah segala amalan dan hisab kita diakhirat  kelak, terkatung-katung nasib kita kelak, sebelum semua terselesaikan, baik itu kesalahan, ataupun  hutang kita.
Apapun sikap, perbuatan yang kita lakukan hendaknya  berada dalam posisi pertengahan, karena Allah juga  berfirman : "Dan kami jadikan kamu ummat pertengahan,  agar menjadi saksi kelak atas ummat lainnya"dan lagi.

Masing-masing perkara itu sebaiknya adalah  pertengahan, tidak terlalu berlebihan". Agar tidak  terjadi penyesalan dibelakang hari. Mari kita serahkan  semua perkara pada Allah Ta'ala, karena Dialah maha  Khaliq, maha bijaksana, maha adil, dan maha  mengetahui.Dari Atsar dan sebahagian ulama telah  mengatakan ini menjadi sebuah hadits : "Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, bisa jadi ia menjadi  musuh kamu suatu saat kelak, dan benciilah musuhmu  sedang-sedang saja, bisa jadi musuhmu itu menjadi  menjadi kekasihmu suatu saat kelak.Hal inipun sesuai  dengan firman Allah. "Balaslah perbuatan jahat dengan
perbuatan baik, bisa jadi orang yang dulunya ada  diantara kita permusuhan, suatu saat ia menjadi teman yang sangat baik(kekasih). "Waliyun Hamim" (Teman yang  sangat dekat, dalam bahasa Arab, Hamim itu kekasih),   berbeda dengan sahabat, aqrabat.

Wassalamu'alaikum.

Biaro, Bukittinggi, 24 September  2007.
Rahima.

 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Monday, 01 October 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 5 members online
Generated in 3.98378 Seconds