Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Balabiah ancak ancak
Bakurang sio sio
Diagak mangko diagiah
Dibaliak mangko dibalah
Bayang bayang sapanjang badan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Mimpi PDF Print E-mail
Written by Nukman Luthfie   
Tuesday, 24 August 2004
Article Index
Mimpi
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

Mimpi (11) : Mimpi Wira Usaha

Pertaruhan paling berat adalah ketika saya memutuskan  100% menjadi pengusaha. Meski sudah bertahun-tahun latihan mengasah intrapreneuership ketika menjadi eksekutif profesional dengan mengembangkan unit-unit bisnis dan anak perusahaan, masih ada rasa gamang ketika harus mandiri 100% dan memulai lagi dari nol.

Banyak kasus menunjukkan: berhasil menjadi intrapreneur bukan jaminan sukses menjadi entepreneur. Judiono Tosin dan Johannes Kotjo yang perkasa sebagai ekekutif puncak Salim Group, begitu keluar dan membangun bisnis sendiri, nama dan bisnisnya tenggelam. Ketika kredit bank murah meriah dan gampang didapat pada tahun 1995-an, banyak top eksekutif konglomerat, termasuk di Astra Group, keluar dan berbisnis sendiri. Namun dalam perjalanannya, banyak yang nasibnya lebih buruk ketimbang sebagai eksekutif.

Kalau mereka yang jauh lebih hebat saja bisa gagal, maka saya pun amat sangat menyadari kemungkinan buruk itu. Apalagi  dunia bisnis sekarang sudah jauh berubah. Kredit bank semakin sulit didapat. Pada awal tahun 1990-an, pengusaha bisa meraih pinjmanan 3x aset yang dimiliki.
Sekarang, rata-rata hanya 80% aset.  Analisa kredit bank pun makin rumit dan hati-hati. Bisa saja nyogok. Kalau pun dapat, harus memiliki agunan tetap 100% gara-gara bank trauma dengan kegagalan masa lalu. Hal ini menyulitkan pengusaha kecil menengah yang modalnya pas-pasan untuk berkembang pesat. Jika di masa lalu perkembangan pesat perusahaan dapat didongkak dengan kredit bank, kini hampir sepenuhnya mengandalkan modal sendiri dan kemampuan memupuk laba. Setelah sukses dalam tiga tahun, baru bank mau melirik. Bank saat ini memang bukan mesin pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha. Uang nasabah lebih banyak disimpan di Bank Indonesia dalam bentuk SBI. Padahal selain perbankan, masih banyak hal lain yang bisa mengerdilkan dunia usaha, termasuk perizinan dan pajak.

Tapi ya sudahlah. Itulah tantangannya. Sambil bismillah, pada momen yang tepat, saya ayunkan langkah dengan penuh perhitungan. Keluarga, misalnya, sudah saya siapkan tabungan untuk setahun penuh dengan asumsi saya tidak gajian setahun. Sambil mengurusi legalitas perusahaan dan mencari kantor yang tepat pun saya sudah mulai melakukan kontak bisnis ke sana ke mari. Selama belum ada kantor resmi, "kantor" pertama saya adalah Sturbucks di Citos dan Coffe Bean di Plasa Senayan. Tiap pagi saya minum kopi di sana sambil membuat rencana bisnis perusahaan, membuat proposal atau informal meeting dengan calon pelanggan. Itu sebabnya, sebelum kantor selesai dibangun saya sudah mendapat proyek pertama. Sementara itu risiko bisnis saya minimalkan dengan sejauh mungkin menekan biaya tanpa harus mengorbankan image perusahaan. Kebetulan ada teman punya sepetak ruang nganggur di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang langsung saja ditawarkan begitu tahu saya butuh kantor kecil.

Mimpi sebagai wirausaha telah ditancapkan. Langkah sudah diayun. Banyak hal dan tantangan baru dihadapi. Kepusingan menghadapi cash flow.
Jantung berdetak kencang ketika tagihan macet sementara gaji karyawan tidak boleh terlambat. Gatal-gatal kepala karena gagal tender. Itulah nikmatnya mimpi baru kali ini. Mimpi yang mempertaruhkan banyak hal:
harta, kredibilitas dan masa depan.

Tak terasa, Maret lalu tepat setahun saya menjadi wirausaha tulen. Rapor akhir Desember masih merah alias merugi secara akuntansi. Tapi itu wajar dan sudah masuk dalam perhitungan. Yang penting, tahun pertama sudah mampu membangun mesin pertumbuhan untuk tahun kedua. Portfolio usaha sudah lumayan. Jaringan bisnis makin bagus. Perusahaan yangs semula cuma saya sendiri, kini sudah memiliki 15 karyawan. Mimpi yang ini benar-benar menggairahkan dan penuh tantangan.

Bersambung..

Nukman Luthfie

Diposting pada Mailing List UGM
Disadur oleh : Dewis Natra




Last Updated ( Wednesday, 08 September 2004 )
 
< Prev   Next >




Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 8 guests and 4 members online
Generated in 5.00418 Seconds