Mimpi PDF Print E-mail
Written by Nukman Luthfie   
Monday, 23 August 2004
Article Index
Mimpi
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

Mimpi (13) : Mimpi Wirausaha Bermodal Cekak

Tiga tahun lalu web designer saya mengundurkan diri dan menyatakan ingin mandiri. Dua bulan kemudian dia datang lagi dengan proposal dan rencana bisnis. "Saya hanya punya dua server, tim yang bisa membuat 'pabrik' web, dan komitmen dari pelanggan di Belanda" katanya.

Bisa nggak saya dimodali untuk koneksi internet kecepatan tinggi, tambahan server  dan sedikit kebutuhan lain?" Melihat rencana bisnisnya masuk akal dan kejujurannya selama ini, meski saya awalnya masih ragu dengan kemampuan manajerial dan kewirausahaanya, saya penuhi keinginannya dengan menyetor modal. Saya menjadi investor pasif. Kini usahanya lumayan berkembang dan bisa dilihat di www.thinknolimits.com
<http://www.thinknolimits.com/> .

Modal adalah masalah klasik dalam dunia usaha. Dalam dunia kapitalis, modal akan mengalir ke tempat-tempat terpercaya dan memberi nilai balik tinggi. Yang dipercaya adalah mereka yang telah memiliki nama dan diakui, sehingga namanya saja bisa dijadikan garansi kredit, yang dikenal sebagai personal guarantee. Jadi kalau baru mulai mencicipi dunia usaha, jangan bermimpi untuk mudah mendapat modal.

Beruntunglah mereka yang memiliki orang tua dengan harta berlimpah dan semangat wirausaha yang tinggi. Orang tua tipe ini bagaimanapun juga merupakan lahan subur bagi pertumbuhan bibit wirausaha anak. Tidak usah terlalu heran jika melihat anak seorang usahawan sukses bisa memiliki begitu banyak perusahaan besar, mampu meraih gelar MBA bergengsi dari luar negeri, memimpin berbagai organisasi sosial dan hobi. Sudah sekolahnya pintar, hebat berorganisasi, anak orang kaya dan top lagi.
Lengkap. Bibit, bebet, bobotnya dapat nilai tinggi. Sukses bisnis seolah sudah dihamparkan di setiap langkahnya.

Sayang, faktanya sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki orang tua yang kurang mampu. Jangankan memberi modal finansial anaknya, untuk kehidupan sehari-hari saja kebanyakan masih kurang. Mampu meluluskan anakknya sampai sarjana saja sudah hebat. Namun bukan berarti mereka yang punya orang tua seperti ini tak beruntung. Kapan-kapan akan saya kisahkan bagaimana anak-anak jenis ini mendapat bekal ilmu ketangguhan dan kesabaran menghadapi masalah, kemiskian dan penderitaan di atas rata-rata yang bagus untuk dunia usaha.

Bagi seorang wirausahawan, modal bukan lagi penghalang, apapun latar belakangnya. Wirausahawan wajib memiliki kemampuang mengelola dan memberdayakan berbagai resource, termasuk modal. Jika membutuhkan modal, ia akan mencari berbagai jalan untuk mendapatkannya. Tidak ada istilah "kepentok modal" lagi bagi usahawan ulet. Yang dilakukan mantan web designer saya di atas adalah salah satu cerdik.

Saya punya rekan yang terjun ke dunia usaha dengan cara tradisional. Ia langsung saja bikin perusahaan sendiri meski modalnya hanya beberapa juta rupiah. Ia cari mitra yang punya komitmen memberikan proyek jangka panjang. Ia cari kantor yang murah meriah, menjaga biaya bulanan tidak lebih dari Rp 5 juta/bulan. Ia merangkap semua jabatan: karena di kantor ya hanya dia seorang. Begitu mendapat proyek, bukti kontraknya dipakai untuk mencari pinjaman jangka pendek dan ia kontak rekan-rekannya untuk menggarap bersama-sama.

Mau cara lain? Inilah yang dipakai oleh wirausahan licin: cari orang-orang yang kepepet butuh uang dengan menjual tanahnya, tekan harga semurah mungkin (misalnya X), kasih uang muka sekecil mungkin, minta sertifikatnya, lalu agunkan ke bank dengan nilai kredit yang jauh lebih besar dari harga beli (misalnya 3X). Begitu kredit turun, lunasi pembayaran jual beli tanahnya. Sang wirausahawan tiba-tiba punya uang tunai 2X untuk modal bisnisnya.

Masih banyak cara lain mengatasi keterbatasan modal. Masing-masing cara memiliki plus minusnya sendiri-sendiri. Saya lebih suka dengan cara yang aman. Jauh sebelum saya jadi wirausahawan, saya sudah membiasakan diri tidak menabung banyak di bank. Sebagian uang saya pertaruhkan sebagai setoran modal di beberapa perusahaan yang dikelola dan dibangun oleh orang-orang yang saya percaya. Dari hasil penjualan saham di salah satu perusahaan, saya bisa memodali perusahaan yang saya kelola sendiri sekarang ini. Kini saya berusaha memupuk modal dari kemampuan perusahaan meraih laba. Begitu seterusnya.

Tentu saja berbagai pola pendanaan akan terus perlu digali dan dikaji, termasuk bank, private placement, serta bagi hasil proyek untuk ekspansi usaha dan berbagi risiko bisnis.

Bersambung.

Note:
Semoga bisa menjawab pertanyaan ini:

-----Original Message-----
From: jauringkang tabah
Sent: Wednesday, March 31, 2004 6:13 PM
Subject: Re: [teknik-nuklir] Mimpi Wira Usaha

Mas, salam kenal.....

Saya punya banyak mimpi. Kira-kira gimana ya cara menjawab pernyataan "Terbentur modal uang/gak punya modal" ? Sedang saya ingin memiliki usaha tersebut 100%.

Makasih ya mas...

Nukman Luthfie

Diposting pada Mailing List UGM
Disadur oleh : Dewis Natra



Last Updated ( Wednesday, 08 September 2004 )
 
< Prev   Next >




Generated in 9.57281 Seconds