Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Mimpi PDF Print E-mail
Written by Nukman Luthfie   
Tuesday, 24 August 2004
Article Index
Mimpi
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

Mimpi (03) : Mimpi Yang Terbunuh

Ada beberapa yang menanyakan, mengapa ia tak pernah berani bermimpi meski dulu ketika masih kuliah mimpinya bejibun? Bahkan ada yang terasa ekstrim bertanya mengapa ia tak punya mimpi.

Ada pula yang secara guyon mengatakan: saya malas mimpi atau saya tidak pernah mimpi karena tidak pernah tidur.

Saya yakin, semua orang sebenarnya punya mimpi. Saya pun semula tak tahu kalau apa yang saya tekadkan selama ini saya golongkan mimpi. Definisi mimpi baru saya kenal ketika mendapat kesempatan menjadi eksekutif puncak perusahaan dan terjun ke dunia usaha, yang setiap tahun harus membuat visi dan misi. Susahnya luar biasa membuat visi dan misi perusahaan. Visi yang ditetapkan Astra International bahwa pada tahun 2006 harus "To be one of the best managed corporation in Asia Pasific with the emphasis on building competence through human resources development, solid financial structure, customer satisfaction and efficiency" dan "To be a socially responsible corporation and being environmentally friendly"  lahir dari pergulatan yang panjang, melelahkan dan melibatkan banyak pakar. Itulah mimpi Astra dua tahun ke depan.

Saya baru sadar bahwa metode yang sama bisa diterapkan dalam lingkungan personal, diri kita sendiri, baru beberapa waktu lalu. Kemudian dikipasi oleh tulisan pakde Broto, bahwa mimpi bila didayagunakan akan membawa berkah dan oleh Masfuk yang mengatakan bahwa hanya mereka yang berani bermimpilah yang sukses. Ternyata setelah saya renungkan, mimpi saya banyak. Bahkan orang lain pun ternyata memiliki mimpi yang banyak pula. Dari email-email japri yang masuk, banyak yang menceritakan mimpi-mimpi mereka. Ada yang ingin jadi pengusaha sukses setelah cukup lama jadi profesional. Ada yang ingin jadi cerpenis dan novelis. Ada pula yang mengutarakan mimpi-mimpi lain yang terlupakan karene tergerus oleh rutinitas kerja.

Tetapi mengapa ada yang merasa malas dan tak mampu bermimpi lagi? Mimpi, sepengatahuan saya, memang bisa terbunuh. Pembunuh utama mimpi adalah kegagalan dan kelelahan kita mewujudkan mimpi. Kalau mimpi kita ketinggian, terlalu kompleks, njlimet, tanpa melihat diri kita sendiri dan lingkungan pendukungnya, maka kita akan termehek-mehek mengejarnya. Bukan manis yang diraih, justru pahit yang didapat. Begitu mimpi kita gagal kira raih, tak mudah membangun mimpi lagi.

Oleh karena itu, saya membiasakan diri membuat mimpi-mimpi kecil. Yakin, sesuatu pencapaian yang sangat kita idam-idamkan, yang kita yakini bisa kita raih dengan usaha, ketekunan dan kecerdikan di atas rata-rata. Yang pernah saya sebutkan misalnya ""Survive di Jakarta dan menyekolahkan adik2 dan membantu ekonomi orang tua", dapat dilanjutkan (atau bisa juga diparalelkan) dengan mimpi lain "Memiliki sorga dunia berupa rumah mungil dengan halaman luas di Jabotebek di mana kita bisa berlabuh, menyalurkan hobi berkebun dan melihat binatang piara", atau "Menghajikan Orang tua dan Mertua".  Mimpi-mimpi kecil itu ternyata melahirkan mimpi-mimpi baru. Gara-gara saya mimpi punya rumah mungil di tanah yang lapang, saya bekerja di atas rata-rata sehingga memicu munculnya mimpi-mimpi bisnis dan manajemen. Beberapa tahun lalu setelah rumah kecil berhalaman luas terwujud, berpuluh-puluh mimpi-mimpi kecil yang sifatnya personal dan bisnis pun semakin liar bermunculan.

Pembunuh mimpi kedua yang terbesar adalah lingkungan yang beku. Institusi pemerintah, yang bergerak lamban (atau malah mundur), adalah pembunuh ideal mimpi. Kenaikan karir yang lambat karena harus mengikuti prosedur baku, intrik yang berkepanjangan antar kelompok, pekerjaaan yang itu-itu saja sepanjang tahun, mendominasi suasana kerja di lingkungan institusi pemerintah adalah pembunuh sejati mimpi. Saya banyak menyaksikan teman-teman yang dulu bergairah, begitu menjadi pegawai negeri berubah menjadi orang yang dingin dan tidak punya semangat tarung meraih "value" yang lebih tinggi. Memang ada beberapa teman pegawai negeri yang masih mampu menjaga mimpinya, tapi itu manusia langka.

Terjebak dalam perusahaan yang tidak mampu memaksimalkan kemampuan kita juga sebuah lingkungan yang buruk untuk membangun mimpi. Begitu juga terlalu lama terkungkung dalam satu perusahaan swasta dengan pekerjaan yang sama dan gaji yang tidak naik-naik, ataupun kalau naik paling tinggi sama dengan nilai inflasi, juga lahan pembantaian mimpi. Sayang sekali, institusi pendidikan, yang seharusnya melahirkan banyak pemimpi-pemimpi kecil, diisi oleh pendidik-pendidik yang justru sebagian besar tidak bernyali mimpi.

Bagaimana lolos dari serangan pembunuh mimpi? Tunggu episode berikutnya.

Catatan :
Ada yang tanya kenapa saya bisa nulis terus. Apa tidak mengganggu pekerjaan? Alhamdulillah, saya dikaruniai kemewahan untuk bisa menulis "di mana" saja kapan saja saat ini. Dalam perjalanan rumah-kantor yang memakan waktu satu jam bisa membuka laptop, menulis, sambil mendengarkan lagu kesayangan. Di jam kerja pun, kalau mau, saya bisa menulis. Pada jam kerja, saya bisa saja keluar kantor dan nongkrong di StarBucks Café sambil nulis. Tidak ada yang melarang. Bahkan, saking hormatnya saya dengan client, mitra bisnis dan lain-lain, saya selalu usahakan datang 30 menit sebelum waktu meeting. Sambil menunggu mereka, saya buka laptop atau corat-corat kertas atau PDA. Inilah salah satu kemewahan dari buah mimpi-mimpi kecil. Atau di tengah malam buta, ketika mata tak juga terpejam, saya bisa membuka laptop menulis sesuatu, sambil sesekali memandangi wajah teduh istri yang terbuai bunga tidur: mimpi dalam arti sesungguhnya.

bersambung

Diposting pada Mailing List UGM
Disadur oleh : Dewis Natra



Last Updated ( Wednesday, 08 September 2004 )
 
< Prev   Next >




Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 4 guests and 2 members online
Generated in 5.03450 Seconds