|
Page 4 of 13
Mimpi (04) : Lolos Dari Sergapan Pembunuh Mimpi
Pembunuh nomor wahid. Trauma Kegagalan.
Gagal menggapai mimpi menyakitkan bagi banyak orang, meski akal sehat mengatakan bahwa sukses mewujudkan harus dilewati melalui proses panjang, termasuk menelan beberapa kegagalan.
Saya sangat suka dengan istilah pakde Broto yang saya kutip secara bebas dan panjang seperti ini: "Tidak ada langkah tunggal menuju sukses. Yang pasti, jutaan langkah harus diayun menuju ke sana. Jutaan langkah yang seringkali tidak terduga, yang tak terbayangkan sebelumnya, karena munculnya hadangan di depan yang luput dari perhitungkan awal."
Kadang langkah begitu mudah dan nyaman karena kita sudah siap jauh-jauh hari dengan perhitungan matang. Tapi tak jarang, tiba-tiba faktor X muncul dan mengganggu skenario dan menjungkalkan mimpi kita. Pada tahun 1997, banyak perusahaan tumbang karena faktor X berupa badai ekonomi, sehingga banyak tagihan macet di tengah jalan, proyek ditunda, atau dihentikan di tengah jalan. Akibatnya, cash-flow perusahaan kacau balau. Apa boleh buat, PHK dan tenggelamnya perusahaan menghiasi lembaran sejarah bisnis Indonesia.
Kisah pernah gagal dalam mewujudkan mimpi adalah hal biasa. Saya yang baru pertama kali mulai bisnis pada tahun 1995, langsung menelan pil pahit berupa tutupnya perusahaan meski belum berumur setahun. Padahal, ketika mengawalinya, semangat saya luar biasa tinggi. Pahit memang. Baru langkah pertama saja sudah tertebas. Saya bahkan sempat mutung sebentar.
Membangun karir pun sama saja. Jika kita mendapat tempat kerja yang tepat, atasan yang suportif, manajemen yang bagus, kita akan tumbuh pesat. Pada praktiknya, sorga seperti itu amat langka. Yang sering temui adalah selalu ada tantangan meningkatkan karir, seperti manajemen yang dirasa kurang memihak karyawan, praktik like and dislike, pembatasan ras tertentu untuk mendapat hak istimewa (training ke luar negeri, menembus level manager, dll). Situasi itu kadangkala membuat penebur mimpi karir merasa menembus tembok. Mutung. Akhirnya gagal.
Kegagalan yang beruntun, dari mimpi satu ke mimpi lain, dapat menurunkan mental. Saya termasuk yang pernah menjadi korbannya. Baru melangkah, mendapat pukulan telak: perusahaan bangkrut hanya dalam setahun. Untuk berani melangkah lagi sebagai wirausahawan butuh waktu tiga tahun. Bodoh sekali. Itu pun masih kena pukulan telak lagi. Di saat saya sudah berjaya, salah satu perusahaan yang saya bangun dan menjadi salah cash-cow karena mampu membagi deviden setiap dengan "sopan" meminta saya menjual seluruh saham saya. Belum cukup pukulan tadi, tonjokan lain datang: sebuah perusahaan lain yang saya dirikan sekarat. Itu masih ditambahi gigitan-gigitan keras lainnya: kalah tender miliaran rupiah hanya gara-gara salah membuat surat penawaran, kontrak bisnis yang nyaris batal karena masalah legalitas, tagihan macet, serta berbagai macam gigitan lain dalam mengelola usaha.
Atau dengarlah kata salah satu rekan yang mengirim email japri: .
Apa boleh buat, tidak ada rumus mudah melawan pembunuh mimpi ini kecuali kemampuan bangkit dari kegagalan. Orang sukses bukanlah mereka yang terus-menerus memetik sukses, tetapi mereka yang mampu bangkit dari kegagalan. Perbedaan mereka yang mampu mewujudkan mimpi dengan yang tidak bukan pada deretan prestasi yang diraih, tapi pada kemampuan membunuh rasa frustrasi menghadapi kegagalan dengan ganas dan cendekia.
Caranya? Kita bisa memotivasi diri sendiri. Tatkala sekali-sekali gagal, ajak diri sendiri berdiskusi dengan tema: Tidak ada jalan mulus menuju singgasana. Dalam bahasa halus Gede Prama: Banggalah dengan Kekalahan karena kekalahan akan mengantar ke kemenangan. Atau pakai bahasa lugas pakde Broro: Ikhlaskan saja kekalahan itu. Kekalahan membuat kita mengkritisi langkah yang pernah kita ambil dan membuka jalan lain untuk meraih mimpi.
Tapi tak mudah berdiskusi dengan diri sendiri dikala mental kita sedang runtuh. Hanya orang-orang istimewa yang masuk pada tahap itu. Karena saya belum masuk tahap canggih itu, saya motivasi diri sendiri dengan membaca kisah-kisah sukses orang lain, yang pernah kere tapi berhasil. Saya baca berulang-ulang tulisan-tulisan manajemen dan motivasi. Kalau masih kurang, saya diskusi dengan sesama wirausahawan. Berdiskusi dengan orang yang memiliki minat yang sama amat sangat membantu usaha bangkit. Tak jarang saya "ngadu" ke pebisnis yang lebih berhasil.
Trauma Kegagalan? Hajar bleh. Sikat abis. Ganyang. Gempur. Injak-injak. Bakar. Buang ke laut. Titik.
Bersambung...
Tanya jawab :
-----Original Message----- From: Sent: Tuesday, March 02, 2004 8:32 PM To: nukman Subject: Mimpi Besar dan Mimpi Kecil
Impianku sekarang adalah bisa lepas jadi karyawan dan memiliki usaha sendiri yang bisa menghidupi keluarga dan sekitarnya. Aku coba mulai tahun kemarin. Uang tabunganku aku belikan 1 kijang dan 1 soluna, terus aku titip rental ke perusahaan rental mobil. Tapi ternyata perusahaan rental itu tidak bisa melakukan komitmen dengan disiplin. Gemes juga ngeliatnya. Pembayaran sering telat. Kalau saja aku yang punya perusahaan itu dan bisa mengontrol managementnya seperti yang aku inginkan .........
Ada pengalaman nggak buat referensiku mengembangkan bisnis ini ? Thanks !
NL : Kebetulan saya punya salah satu kenalan yang mengelola rental seperti ini. Saya akan cek dulu. Moga2 perusahaannya bisa menjadi alternatif menitipkan mobilmu. Sebenarnya, kalau punya link bisa saja langsung disewakan langsung ke kantor2 dengan kontrak bulanan atau tahunan. Ada perusahaan yang mau menyewa langsung dari perorangan tanpa badan hukum. Itu langkah jangka pendek jika hanya dengan dua mobil. Ada rekan2 yang bisa bantu menjawab ?
Nukman Luthfie
Bersambung
Diposting pada Mailing List UGM Disadur oleh : Dewis Natra
|