Mimpi PDF Print E-mail
Written by Nukman Luthfie   
Monday, 23 August 2004
Article Index
Mimpi
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13

Mimpi (09) : Pembunuh Mimpi Kaum Hawa

". bagi perempuan lebih banyak lagi yang bisa menjadi pembunuh mimpi. Harus menjadi ibu yang selalu mendampingi anak2, harus selalu berada disamping suami, tidak boleh terlalu " jauh" levelnya dengan sang belahan jiwa dsb..dsb.

Mungkin ada yang bilang, buatlah mimpi yang bisa direalisasi tanpa harus banyak keluar rumah, yang bisa tetap selalu ada disamping anak2 dan suami, yang tidak menentang kodrat dst..dst.. Tapi kan jadi harus membatasi mimpi.  Ah.kadang dunia terasa kurang adil bagi kaum perempuan.."

Itulah email dari seorang wanita yang melayang ke laptop saya Jum'at lalu. Saya tercenung beberapa saat membaca email tersebut. Saya memahami email tersebut. Pada hari yang sama saya membaca email yang mengulas cerpen Maesa Ayu Djenar, wanita ayu yang kini menjadi ikon penulis (sastra?), dengan karya-karya cerpen luar biasanya seperti "Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)". Djenar menghebohkan dunia cerpen Indonesia ketika menulis cerpen "Menyusu Ayah" yang menceritakan gadis kecil yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya dengan dinikmati laki-laki tapi ingin menikmati laki-laki dengan menyusu penis ayahnya.

Kaum Hawa, apa boleh buat, memang harus menghadapi fakta ini: Kehidupan yang didominasi oleh kaum Adam. Tak ada yang perlu dibantah soal fakta ini. Yang jelas, dampak dominasi ini adalah memasung mimpi banyak wanita. Wanita yang bekerja di dunia yang dianggap "keras dan hanya dunia laki-laki" (misalnya teknisi, ahli mekanik, dan lain-lain) sulit
mencapai posisi puncak. Dominasi laki-laki akan menghadang wanita yang bermimpi jadi teknisi andal -yang boleh belepotan oli-dan menggesernya ke posisi manajemen (yang barangkali tidak ia sukai). Suami yang "rendah diri" (termasuk saya) akan "secara tidak sadar" akan menghambat  mimpi istri dengan alasan-alasan cengeng sehingga karir istri pas-pasan.

Namun, dalam dunia yang generalisasinya seperti itu, selalu ada pengecualian. Selalu saja ada wanita yang mampu menjadi hebat di karir dan bisnis namun harmonis dengan suami dan mewujudkan keluarga yang harmonis. Saya sempat mendapat rezeki dimentori langsung oleh dua srikandi bisnis dan manajemen Indonesia: Rini MS Suwandi dan Doris Herlambang sekitar enam bulan. Begitu mundur dari Direktur Utama dan Direktur Keuangan Astra Internasional pada tahun 2001,  kapal pertama yang dimasuki Rini dan Doris adalah Agrakom - Detikcom, di mana saya sempat menjadi direktur. Rini menjadi Komisaris yang super aktif, masuk kantor tiga kali seminggu, melakukan diskusi dan memberi arah kepada direksi.

Bukan hanya ilmu dan pengalaman manajemen yang saya dapat. Lebih dari itu, saya melihat fakta wanita yang hebat di dua dunia yang dianggap bertentangan: bisnis dan keluarga. Doris adalah wanita yang benar-benar "ibu-ibu". Penampilannya teramat sederhana, jauh dari kesan eksekutif puncak. Bahkan ketika saya melihatnya datang ke acara bisnis besar di hotel berbintang lima, sang pakar financial engineering ini nyaris tidak dianggap. Ia seperti manusia aneh di tengah mereka yang berdandan glamour. Setahu saya, mantan direktur keuangan Astra ini menjalani hidup wajar sebagai ibu dan istri. Karir dan pencapaian Doris melesat jauh di atas suaminnya, namun keluarganya harmonis. Rini, yang kini jadi Menperindag, yang menikah dengan teman kuliahnya, tampaknya akur-akur saja.

Sayang saya belum tahu ilmu lolos dari jebakan pembunuh mimpi kaum hawa ini. Persoalan utamanya, saya sendiri masih dihinggapi oleh penyakit dominasi laki-laki dan dalam proses meruntuhkan dominasi itu secara pribadi.

Atau ada yang bisa membantu?
Bagaimana para wanita?

Nukman Luthfie

Bersambung

Diposting pada Mailing List UGM
Disadur oleh : Dewis Natra



Last Updated ( Wednesday, 08 September 2004 )
 
< Prev   Next >




Generated in 7.71023 Seconds