|
Suatu ceritra yang menggelitik dan jadi bahan renungan adalah sewaktu saya mendengar Radio Classy dengan judul Jangkrik dan uang logam. Ceritra ini di olah oleh Yanti, dia rajin, sebulan yang lalu kebetulan melahirkan di Rs Bunda. Dan saya minta izin untuk ini disampaikan pada pembaca saya, semoga ada hikmah dan manfaatnya, selamat menikmati. Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota, Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu, Kedua orang itupun kemudian berjalan-jalan , tapi tiba-tiba orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar, Apakah kamu mendengar suara yang kudengar ?"
Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang, Memangnya apa yang kau dengar?" "Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya" Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau, Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainyapun ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan seperti ini?, Nah ... sekarang apakah kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik ?" Lalu orang kota itupun menjawab "Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini sekarang". Tanpa berdebat panjang... orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat, kemudian ia memetik beberapa daun, dan memang di atas daun itulah terdapat seekor jangkrik yang sedang bernyanyi keras sekali. Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengar kan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, "Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami". Mendengar hal itu , si orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu,, Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan membuktikannya padamu !" Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantungnya, dan kedua orang itu kembali berjalan-jalan. Sambil berjalan , Orang desa itu berkata , "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Tidak. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan." Untuk itu ingin saya petikkan sebuah firman suci Nya dalam Al Qur'an. Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya". Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4:46) Padang 2 oktober 2007
Trackback(0)
|