Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Aku dan sekelilingku PDF Print E-mail
Written by Rahima Rahim   
Tuesday, 23 October 2007

ImageAssalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh

Sewaktu kecil, aku masih sangat ingat sekali akan  kata-kata almarhum ayahku: ” Jangan   pernah ada setetes darahpun mengalir ditubuh kalian berasal dari harta  yang haram”. Kata-kata itu terpatri pada seluruh kesembilan anak-anak ayahku, sampai dewasa.

Kakakku seorang bidan, tinggal di Jakarta, dengan  kepahitan hidup yang membiayai  anaknya dua orang  seorang diri, begitu banyak tawaran dari para pasangan  muda-mudi, untuk menggugurkan anak mereka yang berasal  dari hasil hubungan gelap mereka.
Kakakku yang  pengetahuan agamanya memang kurang begitu dalam, ia   hanya tau shalat, puasa, dan pengetahuan agama secara  umum saja, sehingga hal-hal mendetail, ia tidak mengetahuinya, maka ia bertanya padaku akan hukum  aborsi tersebut. Maka aku   jelaskanlah  sejelas-jelasnya.

Aku katakan pada kakakku, kalau kakak ikut membantu  orang yang menggugurkan anak mereka tersebut, maka  kakakpun ikut berdosa. Orang yang berdosa bukan hanya  peminum khamar saja, yang menyediakannyapun ikut  berdosa.Tentu kakakku itu sangat ketakutan, biarlah  miskin harta didunia ini katanya, asal jangan tersiksa  pula kita diakhirat sana hanya karena ini. Tawaran uang  yang begitu banyak, bisa saja mebuat ia menjadi orang  kaya di Jakarta itu, tetapi kakak saya masih saja  hidupnya pas-pasan, sebab terkadang beliau hanya  benar-benar membantu orang yang melahirkan, dan  dibayar murah, kadang hutang, dan banyaknya banyak  yang tidak bisa bayar, tetapi kakakku mengikhlaskan  saja, karena yang datangpun menengah kebawah. Bukan  ngak ada yang kaya datang, para artispun banyak datang  kepadanya.

Ada lagi kakak perempuanku yang lain lagi, ia bekerja  di Inhutani Pekanbaru, jabatannya sebagai Bendahara  proyek, betapa banyaknya para pegawai yang mencoba menyumpalnya dengan iming-iming uang, agar diberikan  proyek yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang, tetapi kakakku menolaknya, padahal  kalau dihitung-hitung, kehidupannya cukup pas-pasan  juga, suaminya ketika itu hanyalah seorang ustadz dan  guru   honorer (tetapi sejak thn 2000 dah PNS), kalau  dipikir-pikir, tawaran yang menggiurkan itu, bisa aja
diterimanya, hanya saja, kata-kata ayah kami itulah  yang selalu dikenangnya. : ” Jangan pernah ada setetes  darah yang mengalir ketubuh anak-anakku dari harta  yang haram”.

Ketika kakakku mendapat lotre yang jumlahnya lumayan  juga, dia Cuma iseng-iseng, eh..ternyata dapat undian.  Ia tau, kalau uang semacam itu haram, maka ia tidak mau belikan makanan, karena takut menjadi darah daging  katanya, tetapi ia belikan baju, dan barang  lainnya. Kemudian ia tanya padaku akan hukumnya, sambil  mengatakan: ” Ma..kan uangnya bukan untuk menjadi darah  daging, tapi buat dipakai, jadi ngak papakan?”. Lantas
aku jawab simple saja. Baju yang kakak pakai dari uang  haram untuk mencari makanan yang halal gimana yah kak?
Itu sama saja dengan rumah yang dari luarnya kelihatan  kotor berbau, ngak sedap  dipandang mata yang melihat,  meski didalam rumahnya bagai istana, bersih menyejukkan. Kakak mau pilih mana, bersih luar dalam  atau kotor luar dalam, atau bersih dan kotor bercampur baur, atau sepotong bersih, setengahnya lagi kotor ?  Lain lagi kakakku yang tinggal di Padang. Suaminya  seorang pegawai Kehutanan, yang dulunya bawahan dari ayahku, jadi terpatri juga sikap ayahku pada dirinya,  karena belasan tahun menjadi   bawahan ayahku. Ayahku,  meski memiliki jabatan kepala proyek kantor kehutanan  masa itu, namun hidup kami pas-pasan, ini semua karena  beliau ngak mau korupsi, padahal uang puluhan juta  selalu berada di lemarinya, tetapi itu adalah uang  negara. Sepesenpun beliau ngak pernah mau mengambil,  kalau bukan haknya. Jadi, wajarlah kehidupan kami    pas-pasan, sampai ibuku ikut membantu finansial ayah  kami, dengan berjualan kue  pertamanya, yang dijajakan  di sekitar kedai-kedai, sapai kesekolah-sekolah, yang   terkadang pernah merasakan iri orang lain, karena  dagangannya laros, enak rasanya, membuat iri pedagang  tetap yang punya kedai, sehingga ibuku terpaksa diusur  petugas keamanan dari olisi, agar jangan berdagang kue  disekitar itu. Betapa sedih dan hancurnya hati ibuku.  Namun beliau tak pernah kenal lelah, letih dan  pesimis.
Ia jualan kue ditempat lain. Dikit demi dikit,  akhirnya mulai dari jualan kue, sampai jualan nasi,  bahkan punya kedai nasi disuatu tempat yang  terkenal.Dimana karir ayahku juga semakin menanjak,  selalu bertugas dilapangan(kehutan tentunya),  kehidupan mulai meningkat.Dari sanalah ayah dan ibuku  mulai membeli tanah, rumah, toko, dllnya.

Satu yang selalu diharapkan ibuku: ”Janganlah  anak-anakku seperti aku yang mencari uang, dengan  tangannya, dengan jualan kue, kerjanya luar biasa  capek, tetapi untungnya ngak seberapa, kecuali harus  penuh dengan kesabaran, aku menginginkan anak-anakku sekolah yang tinggi, sehingga mereka kelak besar jadi  sarjana, dan bekerja dengan otaknya”.

Tapi memang dasar keturunan orang Minang, yang katanya  jiwa mereka ada bisnisnya, ternyata tanpa disadari,  aku dan anak-anakku yang masih kecilpun telah memiliki  jiwa dagang itu. Meski suamiku seorang yang bekerja  dikedutaan, lumayan penghasilannya, akupun seorang  pegawai negeri, yang gajikupun lumayan juga, tetapi  ada rasa dan jiwa ingin berbisnis sudah ada sejak aku  menikah. Mulanya sih, Cuma iseng-iseng ketimbang timbangan kosong saja, lumayankan bawa barang dagangan  kain bordir dari Sumbar ke Mesir. Alhamdulillah, sampai  di Mesir, karena kami dagangnya ngak ambil untung  banyak, tapi lumayan buat pengganti/ menutupi tiket  berdua, dagangan cepat habis, bahkan masih kurang yang  kami bawa.

Bermula dari kehidupan sama-sama mahasiswa, yang mana  kedua-duanya ngak ada gaji, kami cukupkan hidup dengan  bea siswa yang apa adanya, dan bahkan suamiku pernah menerima jahitan, beliau menjahitkan baju  teman-temanku yang wanita, juga teman-temannya pria,  habis bagaimana lagi, darimana kami dapat uang,  bagaimana kami makan. Aku juga pernah ikutan bikin kue  donat, kue risol, menyulam, bahkan ketika aku hamil,  aku sendiri yang membuat sarung tangan untuk bayiku  yang akan lahir, membuat baju dingin dari benang yang  dikait, suamiku menjahitkan bajunya, dan sedikit  dikasih bordiran biar indah.Kondisi ini berjalan sampai anak pertama lahir. Setelah berapa bulan anak  lahir, beliau diterima kerja dikedutaan, kehidupan  mulai membaik. Meskipun begitu, jiwa interpreniur itu,  ngak bisa hilang dalam kehidupanku. Aku selalu berbisnis macam-macam saja, setiap pulang ke  Indonesia, bawa barang dagangan ciri khas Mesir,
ketika pulang ke Kairo, bawa dangangan barang ciri  khas Indonesia.sampaipun kini, aku di Indonesia, suami   di Kairo, aku meminta pada suamiku agar mengirimkan  barang-barang dari Mesir, untuk kutawarkan ke pedagang  grosiran di Aur Kuning, Pasar atas/bawah.

Entahlah, bukan aku tak puas dengan apa yang kudapat,  gajiku saja dah cukup, tetapi ada dijiwaku  yaitu: ”Jangan pernah buang-buang waktu, selagi apa yang bisa  dikerjakan hari ini, jangan tunggu hari besok, selagi  ada peluang, jangan disia-siakan, jangan pernah bermalasan, dan hanya menerima dari pasangan kita  saja, bekerja keras, dan tau mana pekerjaan yang  sia-sia dan buang waktu, tak hasilkan apa-apa, selain  keletihan saja, bahkan tak jarang kerja yang merugikan  tenaga, pikiran, bahkan uang, mana anak-anak  dan  keluarga terlantar. Walaupun dengan anak empat orang  yang masih kecil-kecil, tanpa  membantu, aku masih bisa bekerja lebih, karena aku tak suka diam, dan  bermalasan. Dan  ternyata, sikap ini, berpengaruh pada anak-anakku.

Bagi yang tinggal disekitarku, pasti akan heran,  melihat kegesitan, tak pernah diam akan jiwa dan sikap  anak-anakku. Jiwa bisnis dihati merekapun ada, tanpa  disuruh-suruh. Datang dengan sendirinya, mereka dah  mulai pula memancing ikan, hasil pancingan dijual,
mereka dah bisa buat toge, dari kacang ijo, meski  hasilnya dijual kemamanya, buat kue donat, dijual  kesiapa yang ngak buat, mereka beli mainan, dari pasar  grosir, dijual keteman-temannya, hitungan mereka  sangat cepat, akibat biasa jualan keteman-temannya
itu.

Sekarang mereka minta dibuatkan kolam ikan, dan  kandang ayam, mereka kumpulkan uang tabungan dari  jajanan sendiri, untuk beli ayam dan betina katanya.
Saya bilang, belum ada uang untuk buat kandang ayam  dan kolam ikan, sebab kebutuhan untuk rumah kita masih sangat banyak, lagian kita mo akan ke Kairo lagi, jadi  buat apa dibuat sekarang?. Anak-anakku tetap  bersikeras, mereka gali tanah pagi-pagi(mana mereka  berdua puasa lagi), mereka melihat bagaimana cara  membuat bangunan, dikasih batu bata dan semen, jadilah  kolam ikan walau Cuma sedalam satu meter, panjang  setengah meter, tapi kolam itu benar-benar jadi. 
Mereka buat sendiri kandang ayam, dengan mengumpulkan  kayu-kayu bekas, dipaku, dan dikasih atap seng bekas  dari sisa bangunan rumah.

Saya pulang kerja ngak bisa bilang apa-apa lagi. Itulah  anak-anak kemauan mereka cukup keras untuk cari uang  itu. Entah untuk apa uang itu, hanya kesenangan saja,  minimal, mereka suka beli dengan pakai uang sendiri,  beli sepeda, beli mainan, beli alat-alat tulis, bahkan  beli buahan yang mereka suka(karena anak-anakku doyan  buah sampai   berkilo-kilo dimakan sehari, nggak heran,  dua kilo jeruk, dalam hitungan menit habis, ludes, akupun belum sempat mencicipinya, buah itu dah habis),  akhirnya mereka beli buah tambahan dari uang mereka  sendiri. Itulah anak-anakku yang masih berumur 8-10 thn.  Belum lagi remaja, apalagi dewasa. Aku tidak bisa  melarang mereka untuk giat cari  uang.  Aku Cuma  kasihan saja, anak masih sekecil itu, seharusnya  pikiran kesekolah,  belajar saja, karena toh, kebutuhan  mereka selalu dipenuhi ortu mereka, tidak ada yang kurang, tetapi aku juga tak bisa melarang kesenangan  mereka suka bekerja itu, sejak mereka masih berumur   3-4 tahun sudah kelihatan suka bekerja dan  lincahnya. Syukur   Alhamdulillah mereka jarang sakit,  meski bekerja keras semacam itu, yang aku takutkan
hanya satu, mereka kecapean dan sakit. Mudah-mudahan  Allah melindungi mereka.

Wassalamu'alaikum. Biaro, 15 Oktober 2007.Rahima.

 

Trackback(0)
Comments (1)add comment

ismuddin said:

Setelah membaca tulisanmu, aku seperti diingatkan, aku coba rangkai beberapa kata MESIR, PEKANBARU, INHUTANI, BIARO... oh koq ada hubungannya dgn IYUS,
ini Pasti kamu deh,.. Aku Abangmu, Ismuddin yg dulu sekolah di Yogya, lama sekali kita tak bertemu sudah 26 Thn, waktu di Sinatar dulu
emailku : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
 
report abuse
vote down
vote up
October 23, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Tuesday, 23 October 2007 )
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 6 guests and 7 members online
Generated in 1.97189 Seconds