|
1. ARTICLES MAAFKAN BILA SAYA MENGELUH
Hari ini di sebuah bus aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap akupun sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu Namun ketika dia lewat, dia tersenyum. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh Aku masih punya dua kaki. dunia ini milikku!
Aku berhenti untuk membeli bunga lili Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa Ketika aku pergi, dia berkata, "Terimakasih. Engkau sudah begitu baik. Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta." Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku. Lalu, sementara berjalan, aku melihat seorang anak dengan bola mata biru Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya Aku berhenti sejenak, lalu berkata, "Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?" Dia memandang ke depan tanpa bersuara lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau Dengan dua mata untuk memandang matahari terbenam Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh…............................ Sumber : Milis Air Putih 2. PERSONAL DEVELOPMENT TIPS DO YOU ON THE RIGHT TRACK ? Apa arti sebuah reuni bagi anda ? Sekedar pertemuan kangen-2an dengan rekan lama, atau menunjukkan kepada teman lama bagaimana perkembangan diri anda sekarang, atau mengagumi bagaimana hebatnya perkembangan teman lama anda, atau mungkin juga kesempatan untuk mencari networking bisnis dengan sesama alumni yang lain. Kira-2 itulah keadaan yang terjadi dalam reuni kampus saya minggu yang lalu di Pasar Festival Kuningan, Jakarta. Reuni yang kecil namun cukup ‘luar biasa’, karena tentunya tidak mudah mengumpulkan seratusan alumni di Jakarta, sementara kampusnya sendiri terletak di kota lain yang berjarak sekitar 1.000 km dari Jakarta. Ketika mengingat kembali ke masa kuliah, belajar dan tumbuh di level yang sama, di kampus yang sama, dengan dosen yang sama, namun sekian tahun kemudian ada yang sudah menduduki posisi puncak sebuah perusahaan, ada yang sudah menjadi orang terkenal, ada yang biasa-2 saja, bahkan ada yang baru saja pindah kerja. Apa yang menyebabkan perbedaan karir itu terjadi ? Ada kecenderungan orang untuk bekerja sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. “Karena saya lulusan akuntansi, cari kerjanya ya pasti di bidang keuangan toh” adalah ucapan yang sering diucapkan orang saat memilih karirnya. Lho, apa yang aneh, bukankah semestinya memang seperti itu ? Jika bidang tersebut memang anda sukai, teruskan. Yang menjadi persoalan adalah, tidak semua orang yang lulus dari jurusan akuntansi misalnya, berbakat dan menyukai bidang akuntansi. Banyak dari mereka yang dulunya masuk ke jurusan tertentu lebih karena ikut-2an teman, atau karena waktu itu belum punya bayangan tentang karir di masa depan. Nah, setelah lulus, mereka merasa ‘terikat kontrak’ dengan ilmu yang dipelajari di bidang tersebut, sehingga ‘harus’ bekerja di bidang tersebut. Dan sebagian besar orang enggan untuk berpindah ke bidang lain yang mungkin lebih sesuai dengan bakat dan kemampuannya karena berpikir “Rugi donk, saya kan sudah capek-capek kuliah bidang hukum. Kalo sekarang saya pindah karir ke marketing berarti siasia saja kuliah empat tahun saya”. Benarkah anda rugi jika berpindah karir ke bidang yang lain dari yang anda pelajari ? Jika kita asumsikan bahwa usia pensiun adalah 55 tahun dan usia lulus kuliah adalah 22 tahun, berarti masa produktif kerja kita adalah 33 tahun. Dengan mengutip pernyataan diatas bahwa kita rugi 4 tahun kuliah jika berpindah jalur, sebenarnya kita rugi lebih besar jika tetap berada di jalur yang sama, karena selama 33 tahun harus bekerja di bidang yang tidak kita sukai. Tapi banyak orang yang tidak sadar akan hal ini, dan terus bekerja sekian lama di bidang tersebut. Kalaupun di tengah karir mereka berpindah perusahaan, mereka akan tetap di bidang yang sama. Hal lain yang nampak antara mereka yang berada di jalur karir yang tepat dengan yang di jalur yang salah adalah cara mereka berbicara tentang karir mereka. Orang yang sukses akan banyak bicara yang positif tentang pekerjaan mereka, tentang karir mereka dan bagaimana perjuangan mereka untuk mencapai posisi tersebut. Orang yang biasa-2 saja dan berada di jalur yang salah akan banyak mengkritik tentang perusahaannya, tentang betapa pelitnya perusahaan mereka, boss yang sok tahu, dsb. ORANG YANG BEKERJA DI JALUR YANG TEPAT AKAN BEKERJA DENGAN TENAGA, HATI DAN JIWA, SEDANG MEREKA YANG BEKERJA DI JALUR YANG SALAH AKAN BEKERJA DENGAN TENAGA, KRITIK DAN KETERPAKSAAN. Orang-orang sukses adalah mereka yang telah memilih jalur yang tepat dalam karirnya. Mungkin pada awalnya mereka berpindah-2 karir dan mencoba-2 mana yang pas. Begitu mereka menemukannya, mereka akan fokus di bidang tersebut. Mereka menyukai pekerjaan mereka sebagai hobi, bukan karena suatu keterpaksaan. Karena hobi, maka mereka melakukan karir mereka dengan sepenuh hati dan menikmati kerjanya, dan pikiran mereka selalu dipenuhi dengan inspirasi-2 yang positif, yang terus menerus mendorong mereka untuk menuju ke puncak. Apa jadinya jika mereka berada di jalur yang salah, misalnya Bill Gates menjadi seorang penyanyi, George Soros menjadi seorang arsitek, atau Mariah Carey menjadi seorang akuntan ? Akankah mereka sesukses sekarang ini ? Mungkin mereka akan survive, tapi sulit membayangkan ketiga orang tersebut bisa sesukses di bidangnya masing-2 seperti sekarang. Bagaimana dengan anda hari ini, sudah berapa tahunkah dari 33 tahun produktif yang telah anda lewati ? Bagaimana anda mau menjalani sisa tahun tersebut, dengan suatu pekerjaan yang menantang dan menyenangkan, atau dengan sungut-2 dan keterpaksaan ? Berpindah jalur karir ke tempat yang anda sukai hanyalah suatu pilihan. Lakukan pilihan tersebut bila hidup anda selanjutnya akan lebih bernilai. Sukses untuk anda ! Sonny V. Sutedjo - Moderator - 3. MOTIVATIONAL QUOTES Purpose = Why Goal = What Action = How - Jack Canfield - Small thinking attracts small results Great thinking attracts great results - Mark Victor Hansen - Life is not to be endured, but to be enjoyed - Hubert Humphrey - First we build our habit and then our habit build us - Stephen Covey - Some people are so afraid to die that they never begin to live – Henry VanDyke - There is a secret message in every problems. If you can find it, you can solve it - Sonny V. Sutedjo - When you close the door of your mind to negative thoughts, the door of opportunity opens to you - Napoleon Hill - People who are unable to motivate themselves must be content with mediocrity, no matter how impressive their other talents – Andrew Carnegie - You must have long term goals to keep you from being frustrated by short term failures – Charles C. Noble -
4. From Members to Members BAJU-BAJU YANG MENIPU eorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. "Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut. "Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat. "Kami akan menunggu," jawab sang Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya. "Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap. Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah kan seperti kuburan." "Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard." Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard." Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS. Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.
Sumber : Unknown (tidak diketahui) Kiriman dari member Sumadi Jakarta Sumber Milis The Acesia |
1. Maafkan Bila Saya Mengeluh Ditulis oleh ~tanty~ pada Kamis, 01 November 2007 Artikel ini adalah terjemahan sebuah lagu dengan judul 'Forgive Me When I Whine' yang dinyanyikan oleh Zain Bhikka asal Afrika Selatan. Saya rasa sebaiknya kita mencantumkan sumber asli dari artikel yang kita tulis atau terjemahkan. |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |