|
1. a R T I C L E S DENGAN ADVERSITY QUOTIENT TAK ADA ALASAN UNTUK MENYERAH ! Hamil Tiga Bulan, Ibu Muda Gantung Diri. Dugaan penyebab kenekadan wanita muda itu karena kesulitan ekonomi yang membelenggunya. Tak cuma Ni Wayan Diah, begitu namanya, yang melakukan aksi nekad. Belakangan, makin banyak berita yang mengabarkan, pria dan wanita dari seluruh golongan usia memilih untuk mengakhiri hidup karena tak tahan terhadap berbagai tekanan.
Tak hanya di Bali. Di beberapa daerah di Indonesia, masalah ini merebak. Beberapa siswa SD juga dikabarkan melakukan aksi serupa karena malu sekolah akibat orangtua tak bisa membayar SPP. Hidup pada zaman yang serba mudah dan canggih ternyata memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Beberapa di antara kita malah tak sanggup menyelesaikannya dan memilih jalan pintas : bunuh diri. Hidup seakan tak punya harapan. Dalam dunia yang sama, sebagian orang sangat mudah menyerah. Sebagian lagi, sebaliknya, mirip perjuangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma saat mengawinkan medali emas dalam Olimpiade Barcelona; melelahkan namun sampai juga ke puncak. Kehidupan ini ibarat pohon. Makin tinggi, makin kencang angina meniupnya. Sama halnya persoalan hidup. Berada dalam sekolah kehidupan, sama halnya ketika kita harus menyelesaikan jenjang pendidikan satu per satu, mulai TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Tiap naik kelas atau tingkat, kita wajib menyelesaikan ujian dengan baik. Nilai standar kelulusan minimal 4 harus berhasil kita lewati. Jika tidak, kita tak akan pernah naik tingkat. Demikian halnya hidup. Namun, apa yang telah membedakan kita ? Mengapa ada orang yang mudah menyerah dan sebagian lagi tidak ? Pendidikan kita yang lebih mementingkan intelligent quotient (IQ) perlahan mulai tergeser. Sebagian kalangan pendidikan mulai merasakan pentingnya mengembangkan emotional quotient (EQ) yang sampai sekarang masih dijadikan tolok ukur kemampuan berempati dengan orang lain. Pemikiran Daniel Goleman itu pun kini ditambah lagi dengan pentingnya mempertinggi spiritual quotient (SQ). Namun rupanya, itu belum cukup. Masih ada yang ketinggalan, Adversity Quotient (AQ). Kecerdasan yang dipopulerkan Paul G. Stoltz, Ph.D ini penting saat hidup serasa tak indah lagi. AQ mengukur kemampuan kita dalam mengatasi kesulitan. Hidup tentu tak akan pernah lepas dari masalah dan karena masalah itulah kita menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup. Dalam kesulitan, selalu ada kesempatan, begitu kata orang. Saat bergelut dengan masalah, sesungguhnya kita sedang menyempurnakan hidup. Kadang, sesuatu yang tak nyaman dalam kehidupan ini, sesungguhnya merupakan penyempurnaan sisi spiritual bagi diri kita. Contohnya, pengalaman Anand Khrisna saat ia sekarat karena kanker darah. Sayang, tak semua orang menyadarinya. Perjuangan Andrie Wongso, pria yang tak lulus SD namun berhasil dengan pabrik kata-kata mutiaranya, Harvest, bisa kita jadikan contoh. Ketika bertemu beberapa waktu silam, ia berkata, "Jika lebih baik itu bisa, baik saja tak cukup." Ia membuktikannya. Tak ada alasan untuk menyerah. Musuh yang paling berbahaya sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Siapa orang pertama yang mengatakan kita tidak pintar ? Siapa pula yang pertama berkata, kita tak bisa berhasil ? Diri kita sendiri. Kita bahkan tidak mempercayai diri kita bahwa kecerdasan yang kita miliki lebih dari apa yang ada sekarang. Kemampuan otak yang kita gunakan seperti fenomena gunung es. Hanya puncaknya yang kelihatan. Sesedikit itulah kemampuan yang baru kita manfaatkan. Menjadi anak zaman sekarang sebenarnya lebih banyak yang harus dipelajari. Selain bertumpuknya kurikulum yang harus dikejar, anak didik sudah selayaknya mendapat pelajaran mengenal hidup sejak dini. Tekanan atas berbagai persoalan yang mereka rasakan harus bisa mereka kenali sebagai suatu respons. Mengajarkan kepada mereka dalam bahasa yang paling sederhana, tentu memberi pengertian agar mereka tak mudah putus asa. Ibarat terhalang tembok tinggi padahal mereka harus berada di seberangnya, anak-anak harus diajari mencari jalan keluar. Jangan bertindak bodoh dengan membenturkan diri ke tembok yang keras karena itu sangat menyakitkan. Ajak mereka berpikir, kita bisa melompati tembok itu dengan bantuan sebuah tangga. Tak berhasil ? Hmm…pasti ada seutas tali untuk memanjat. Tak ada juga ? Kita harus yakin, ada jalan lain untuk memutar; bukannya berkutat di depan tembok yang keras. Kiriman dari member : Ratna Hidayati Sumber : Koran Tokoh tanggal 15 Mei 2005. 2. M O T I V A T I O N A L Q U O T E S Don't argue for other people's weaknesses. Don't argue for you Don't your own. When you make a mistake, admit it, correct it, and learn from it--immediately - Stephen Covey – - Goals help focus you on areas in both your personal andprofessional life that are important and meaningful, rather than being guided by what other people want you to be, do, or accomplish - Chaterine Pulsifer – - What you get by achieving your goals is not as important as what you become by achieving your goals - Zig Ziglar – - Our greatest glory is not in never failing, but in rising up everytime we fail - Ralph Waldo Emerson - Many people dream of success. To me, success can only be achieved through repeated failure and introspection - Soichiro Honda - There is something good in all seeming failures. You are not to see that now. Time will reveal it. Be patient - Sri Swami Nivananda - Get excited and enthusiastic about you own dream. This excitement is like a forest fire - you can smell it, taste it, and see it from a mile away - Dennis Waitley – - Nothing great was ever achieved without enthusiasm - Ralph Waldo Emerson - 3. F R O M M E M B E R S T O M E M B E R S MEWUJUDKAN IMPIAN Pada suatu saat hiduplah seorang anak laki-laki bernama Monty. Ayahnya adalah seorang pelatih kuda miskin yang kerjanya melatih kuda-kuda di tiap peternakan, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,dari satu peternakan dari peternakan yang lain.singkat crita sang anak sering pindah-pindah sekolah karena mengikuti pekerjaan sang ayah. Kisah ini dimulai pada saat Monty menginjak masa SMU. Dia mendapat tugas dari gurunya untuk membuat suatu karangan mengenai apa yang dia inginkan. Akhirnya pada malam harinya dia berpikir dan mengerjakan karangan itu, dimana ke 7 halaman karangan itu begitu terperinci mengenai peternakan kuda, karena sang ayah adalah seorang pelatih kuda sehingga membuat Monty saat terobsesi sekali mempunya impian berupa peternakan kuda seluas 200hektar dan terdapat rumah seluas 4000m2 ditengah2 peternakan kuda tersebut,semua track lintasan kuda, arena bertanding, kandang kuda, serta rumahnya digambar dengan jelas dan dengan detail tanpa terlewatkan satu hal kecil pun. Akhirnya karangan itu dikumpul pada hari esoknya,2hari kemudian semua karangan dikembalikan oleh sang guru kepada murid. Namun Monty melihat karangan tersebut dengan kecewa karena karangan tersebuat mendapat nilai F serta terdapat tulisan oleh gurunya "Mohon Bertemu saya setelah kelas ". Hanya Monty seorang yang mendapat nilai F pada saat itu. Ketika bertemu dengan gurunya Monty langsung protes dengan nilai tersebut. Tapi malah sang guru yang balik menyalahkan Monty. Gurunya berkata,” Semua yang kaubuat itu adalah impian yang tidak masuk akal, semuanya terlalu besar buat anak seukuran engkau. Engkau hanyalah seorang anak dari pelatih kuda miskin, mana mungkin bisa mewujudkan itu semua. Itu memerlukan biaya yang sangat besar sekali, kamu tidak punya latar belakang apapun, bahkan engkau sekarang tidak menyiapkan sedikitpun untuk membangun ini, mana mungkin ini semua bisa terjadi. Kamu saya berikan waktu untuk memperbaiki karangan ini. Apabila kamu membuat sesuatu yang lebih masuk akal, nilaimu akan saya ubah". Akhirnya Monty pulang dan berpikir, apakah dia harus merubah semua karangannya. Dia bertanya kepada sang ayah, dan sang ayah dengan bijak hanya berkata, "Monty, ini semua terserah kepadamu. Karena ini semua menyangkut masa depanmu, jadi hanya engkau sendirilah yang bisa menentukan hidupmu". Satu minggu telah berlalu, dan akhirnya Monty mengumpulkan karangan tersebut tanpa merubah sedikit pun. Monty kecil hanya menulis, "Guru engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku akan tetap menyimpan impian ini " Puluhan tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang Monty yang telah dewasa bercerita kepada grupnya, “Saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut. Kini lihatlah sekeliling kalian. Kalian berada di lahan peternakan kuda saya seluas 200 hektar. Saya masih menyimpan karangan dulu tersebut bahkan membingkainya dan tetap bertulisan huruf F untuk nilainya. Dua musim panas yang lalu bahkan guru yang memberi nilai F tersebut datang kepada Monty bersama 30 orang anak kecil lainnya untuk melihat peternakan kuda Monty. Pada saat pulang, sang guru berkata kepada Monty, "Monty, sekarang saya bisa katakan kepada anda pada saat saya menjadi guru anda, saya telah menjadi orang yang mencuri banyak impian dari anak-anak seperti anda, tetapi anda sungguh luar biasa untuk terus mempertahankan impian tersebut ……………………………………….." Catatan : Apakah anda akan menjadi seperti Monty atau menjadi seperti seorang guru yang terus menerus akan mencuri IMPIAN orang2 terdekat anda bahkan orang2 yang anda cintai ? Rintangan pasti tetap akan ada bagi orang2 yang mempunyai impian dan berusaha untuk mewujudkannya. Cerita Monty ini mungkin sedikit banyak akan memberi masukan kepada anda mengenai pentingnya IMPIAN dalam kehidupan. Jangan takut untuk terus mencoba apabila impian anda masih belum terwujud. Berjuang terus untuk masa depan anda yang lebih baik ! "Jangan takut untuk bermimpi besar, karena apabila anda ingin besar maka anda harus bermimpi besar, serta jangan lihat diri anda sekarang seperti apa tapi lihatlah diri anda nanti anda akan jadi seperti apa " "The Future Belong To Those Who Believe The Beauty Of The Dreams" Kiriman dari member Ricky Universitas Bina Nusantara Jakarta CARA MENGGUNAKAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai www.godsdirectcontact.or.id Pertama-tama, kita harus mengenali hakekat dari kemarahan dan kebencian yang timbul agar bisa mengatasi sifat demikian. Kemarahan dan kebencian hanyalah suatu cara untuk tujuan perlindungan. Adakalanya Anda merasa terancam oleh pendapat orang lain, gaya hidup ataupun tingkah laku mereka. Hal-hal seperti itu bisa saja mengusik sifat keakuan, harga diri, tubuh, atau pikiran Anda, sehingga timbullah kemarahan dan rasa benci dalam diri Anda. Kebencian (hatred) adalah suatu kata yang terlalu keras. Saya tidak begitu suka menggunakannya, karena sebenarnya apa yang terjadi adalah rasa sebal (resent), bukan benar-benar benci. Kebencian lebih dalam maknanya. Sering kita merasa sebal pada orang lain apabila kita menghadapi ancaman terhadap kenyamanan kita. Sehingga, jangan terlalu menyalahkan diri Anda bila Anda menjadi marah. Cukup dengan menyelidiki darimana sumber kemarahan itu muncul dan apakah Anda berada di sisi yang benar atau sisi yang salah. Adakalanya Anda berhak menunjukkan sedikit sifat kemarahan guna melindungi diri Anda. Pertanyaannya bukanlah menghentikan sifat marah, tapi mengenali kapan Anda mesti menunjukkan sedikit kemarahan dan kapan tidak perlu menunjukkannya. Kendalikan sifat tersebut dan gunakanlah secara bijaksana untuk kepentingan Anda, bukan menghapusnya sama sekali. Saya mempunyai cerita pendek tentang seekor ular. Itu adalah ular yang amat besar dan sadis. Ular itu tinggal di suatu lobang pohon, dan dia suka sekali memakan ayam dan menggigit orang sehingga orang-orang di desa tersebut merasa takut pada ular itu. Suatu hari, seorang yogi agung melewati tempat tersebut, kemudian duduk di dekat pohon itu dan bermeditasi. Ular itu merasakan perubahan dalam dirinya dan kedamaian yang luar biasa. Kemudian ular itu bertanya pada sang yogi, bagaimana dapat meredam sifat sadisnya, sifat-sifat jahatnya, dan bagaimana agar bisa menjadi seekor ular yang baik hati. Sang yogi mengajarkannya lima ayat : jangan menyakiti orang, harus makan vegetarian, jangan berbohong, jangan melakukan ini dan itu, jangan berjudi....., yah bagaimanapun ular itu tidak tahu sama sekali tentang judi. Jadi, hal yang paling penting untuk diketahuinya adalah jangan menyakiti orang lain. Ular itu berkata, "Mulai hari ini, aku akan berlatih meditasi, makan vegetarian, aku tidak akan memakan ayam lagi, dan juga aku tidak akan menggigit orang lagi!" Hingga suatu hari, sang yogi harus pergi beberapa hari. Dia berpesan pada ular itu, untuk tetap tinggal di rumah, berlatih meditasi, dan tunggu dia pulang. Kebetulan, anak-anak desa lewat dan melihat ular tersebut sekarang duduk dengan amat tenang dalam meditasi dan samadhi, sehingga mereka merasa tidak takut lagi padanya. Mereka ingin membalas dendam karena sebelumnya mereka amat takut padanya. Lalu, mereka mengambil batu dan melemparkannya. Ular itu tidak melakukan apapun. Gurunya tidak mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh marah, tapi jangan menyakiti orang lain. Maksudnya jangan menunjukkan sifat kekejaman sama sekali. Ahimsa berarti tanpa kekerasan. Sehingga ular itu tetap diam dan coba untuk bermeditasi lagi, namun anak-anak itu menendangnya, menarik ekornya, dan menggulungnya dalam bentuk lingkaran. Ular itu menjadi pusing. Kemudian mereka melemparkannya ke dahan pohon serta memukulnya, dan melakukan segala kekerasan kepadanya. Seluruh badannya biru legam, hitam dan biru; dan ular itu berbaring dalam keadaan sekarat. Sang yogi pulang dan bertanya, "Apa yang terjadi padamu ?" Ular itu menjawab, "Ini gara-gara lima ayat tersebut – tanpa kekejaman." Sang yogi amat kaget, "Apa, tanpa kekejaman?" Ular itu kemudian menjelaskan lebih lanjut, "Guru mengajariku untuk tidak boleh kejam, jadi kemarin anak-anak ke sini, menarik ekorku, dan menyambit batu padaku. Aku tidak bereaksi sama sekali, jadi mereka meneruskan permainannya. Sekarang aku sekarat!" Gurunya berkata, "Kamu benar-benar bodoh. Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh mendesis. Kamu boleh mendesis untuk menghalau orang." Itulah bedanya antara memiliki Kebijaksanaan dengan tidak memiliki Kebijaksanaan. Bila kita tidak memiliki Kebijaksanaan, belum tercerahkan, kita akan dikendalikan oleh emosi kita sendiri. Bila kita memiliki Kebijaksanaan dan pencerahan, kita dapat menggunakan emosi tersebut guna menyesuaikan dengan situasi dan kepentingan kita. Bukanlah berarti bahwa kita harus menghilangkan sama sekali emosi kita, kita hanya perlu mengenali bagaimana menggunakan emosi tersebut. Ini seperti halnya sepucuk pistol yang berada di tangan orang baik. Dia dapat menembak di tempat yang dikehendakinya, dia tidak akan menembak sembarangan dan membunuh orang seenaknya. Nah, jika Anda ingin memiliki daya-pengendali dan Kebijaksanaan ini, Anda harus memiliki pencerahan. Dan cara untuk mencapai pencerahan adalah melalui Guru yang berpengalaman. Sama seperti halnya apabila Anda ingin belajar bahasa Inggris. Anda harus menemui seorang guru bahasa Inggris yang berpengalaman, hanya itu yang perlu dilakukan. Gunakan kebijakan dan emosi anda pada saat dan tempat yang tepat. Kiriman dari member Hermit Asosiasi Maha Guru Chiang Hai Jakarta HOPE When hope is few Disappointment grows and grew When life is getting tough You could say "I had enough" But why should stop ? If you could reach on top Faith is what you had and need Hope is what you spread as seed Here's a reminder Do not surrender When life tasted bitter or plain Then build up hope, smile again When life goes downslope You need nothing more but hope There'll always be a hope, so true In GOD we trust, now stop the rue Kiriman dari member Y O D I The Acesia Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |