|
Perkenalkan, nama saya Ing.
*** REUNI eks Devisi Banteng baru ditutup beberapa saat lalu. Kini semua peserta reuni diberi kesempatan untuk bersalaman dan beramah-tamah. Tentunya juga dengan petinggi dan mantan petinggi yang hadir.
Bertemu dengan teman lama merupakan pelipur dahaga kerinduan yang menyesak di dadaku. Secara pribadi, aku memiliki keterikatan emosional dengan Devisi Banteng, salah satu devisi yang sangat kuat di zaman pergerakan kemerdekaan. Sebagai insan yang besar di masa Perang Kemerdekaan, bergabung dalam sebuah devisi kemiliteran, mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan merupakan keharusan, sekaligus kebanggaan. Puncak kebanggaan itu kurasakan ketika negeri ini terbebas dari segala bentuk penjajahan oleh pihak asing. Aku mengenakan seragam yang kami gunakan dalam perjuangan masa lalu. Dengan emblem-emblem, lambang-lambang, dan lencana-lencana yang menempel, yang melahirkan kebanggaan tersendiri. Tanda pangkat – pangkat terakhirku kopral – yang mulai terlihat lusuh dimakan usia tapi sangat membanggakan bagiku, menempel dengan gagah di pangkal lenganku. Aku dan teman-teman berbaris rapi, membentuk banjar satu, menyalami para petinggi yang hadir. Tiba giliranku. Aku menatap Kolonel Ismael Lengah, mantan komandan kami dulu. Kemudian dengan gerakan patah-patah khas tentara, aku mengangkat tangan di depan kening. Kolonel Ismael Lengah membalas dengan gerakan yang patah-patah juga. Kemudian tanganku terulur untuk menyalaminya. Beliau menyambut tanganku dengan hangat, menarik bahuku sehingga kami berada dalam satu pelukan. Sebuah garis melengkung terbentuk dari bibirnya memperlihatkan ketulusan dan kebanggaan beliau pada anak buah, atau tepatnya mantan anak buahnya. Kolonel Ismael Lengah menepuk-nepuk punggungku, layaknya beliau menepuk-nepuk punggung anak kandungnya. Gerakan patah-patah kontan hilang, berganti dengan kehangatan dan senyuman. Aku bangga sekali mendapat perlakuan seperti itu. Apalagi dari bekas seorang komandan. Bayangkan, seorang kopral sepertiku mendapat sambutan hangat dari seorang kolonel, layaknya sambutan seorang bapak yang menyayangi anak-anaknya. Mungkin waktu zaman perjuangan dulu hal itu tidak pernah terjadi. Kemudian berturut-turut, dengan perlakuan nyaris sama, aku menyalami petinggi-petinggi lainnya. Terus terang aku tidak mengenal mereka satu persatu. Paling-paling aku tahu namanya saja seperti Letkol Ahmad Husein, Kolonel Dahlan Djambek, dan lain-lain. Namun sambutan dari mereka sungguh luar biasa. Penuh kehangatan, penuh kekeluargaan, dan aku merasakan bahwa mereka tidak membedakan kami dari segi kepangkatan. Akan tetapi mereka memandangku dari sisi lain, sisi sebagai sesama manusia. Lebih lima ratus orang yang dulu tergabung dalam Devisi Banteng menghadiri reuni ini. Mulai dari pangkat terendah sampai mantan komandan, Bapak Ismail Lengah. Datang dari berbagai pelosok negeri ini. Ada dari Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, dan daerah-daerah lain. Tidak ketinggalan dari berbagai daerah dan kota di Sumatera Tengah yang bertindak sebagai tuan rumah. “Lapor Kopral Denai!” sebuah suara dan tepukan di pundak mengejutkanku. Aku alihkan pandangan pada suara itu. “Bachtiar!” seruku sambil mengulurkan tangan. Ia menyambut tanganku dan menarikku dalam pelukannya. Kami tertawa bahagia. Bachtiar merupakan teman akrabku – bahkan paling akrab – sewaktu masa perjuangan dulu. Kami berada dalam satu regu, sehingga kami mempunyai banyak waktu bersama. Usiaku dan Backtiar terpaut lima tahun. Dia lebih tua dariku. Walaupun begitu, tidak menjadi halangan bagi kami untuk akrab. Bahkan dulu di medan pertempuran kami bahu membahu. Pernah suatu saat dia terluka karena tembakan dari pihak musuh. Aku membantunya dengan sekuat tenaga. Menyelamatkannya sehingga kami keluar dari medan pertempuran. Dan dia selalu mengingatkan aku bahwa kejadian itu tidak pernah lepas dari ingatannya. “Lama sekali kita tidak berjumpa,” kataku sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Kalau tidak salah terakhir itu ketika beberapa bulan sebelum Devisi Banteng diciutkan menjadi satu brigade.” “Yah, kalau aku tidak salah sekitar bulan Oktober 1949,” sambung Bachtiar. “Aku mengajukan pindah ke Semarang,” lanjutnya. “Langkahmu tepat,” ujarku padanya. “Kau mengajukan pindah ke devisi lain, sehingga tidak dipensiun-mudakan.” “Kamu sendiri bagaimana, Denai?” tanya Bachtiar. “Aku pensiun muda ketika Devisi Banteng diciutkan,” kataku menjelaskan. “Kemudian aku pulang ke kampung halaman kita. Bukittinggi. Menikah dan mengelola sebuah lapau.” Selain karena satu regu, aku dan Bachtiar berasal dari kota yang sama, Bukittinggi. Bahkan nagari kami bersebelahan. Hanya dipisahkan oleh sebuah sungai kecil yang memanjang, berhulu dari salah satu gunung yang memagari nagari. Tidak mengherankan kalau kami sangat akrab. Sayang keakraban itu terputus. Semenjak Devisi Banteng diciutkan, aku kehilangan kontak dengan Bachtiar. Ternyata Semarang yang menjadi pelabuhan hidupnya. Tetap mengabdi sebagai seorang tentara. “Setelah acara ini aku harap kau mau mampir ke Bukittinggi,” ajakku pada Bachtiar. “Tidakkah kau rindu pada kota kelahiranmu?” “Aku memang telah merencanakan itu,” katanya. “Aku sengaja mengambil cuti untuk menghadiri acara ini, sekaligus menengok kampung halamanku walaupun tidak ada lagi sanak famili yang tinggal di kampung.” “Kau bisa berkunjung dan menginap di rumahku.” *** Cukup panggil saya Ing. *** TELAH dua hari Bachtiar menginap di rumahku. Fatima (istriku) dan mertuaku menyambutnya dengan ramah. Mereka menganggap Bachtiar sebagai sanak famili. Apalagi Bachtiar masih sesuku denganku. Kloplah semuanya. Dua hari diisi dengan berbagai cerita. Banyak kenangan yang kembali kami bentangkan. Suka-duka selama perjuangan kemerdekaan, pahit-tawar-manis selama menjadi tentara, dan pengalaman masing-masing setelah berpisah. Bachtiar yang memang pandai bercerita, seolah-olah memutarkan kembali semua kenangan masa lalu. “Tiba saatnya harus kembali,” ujar Bachtiar pagi itu ketika aku mengantarnya ke stasiun kereta Api. “Siang ini aku harus berada di Padang. Sore nanti ada kapal yang berangkat dari Teluk Bayur menuju Jakarta.” “Sebenarnya aku ingin menahanmu lebih lama lagi,” kataku sambil menatap matanya. “Aku mengerti. Sayang masa cutiku tidak lama,” katanya memberi alasan. “Selamat tinggal konco arekku.” Bachtiar berpamitan dan menyalami seluruh keluargaku yang ikut mengantarnya ke stasiun. Kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari stasiun. Sekitar dua atau tiga ratus meter. “Semoga kau cepat memperoleh keturunan, Fatima,” kata Bachtiar sambil menyalami istriku. “Biar temanku itu betah di rumah,” lanjutnya sambil tersenyum. Bachtiar menyalamiku untuk terakhir kalinya. Dia menarik bahuku, sehingga kami berada dalam satu pelukan. Aku tepuk-tepuk punggungnya. Sebaliknya Bachtiar juga menepuk-nepuk punggungku. Tepukan perpisahan. “Denai, mungkin pilihan jalan hiduplah yang memaksa kita berpisah hari ini. Walaupun begitu, kau tetap sahabat terbaikku,” katanya dengan suara serak. “Kau pun tetap menjadi sahabat terbaikku,” kataku juga dengan suara yang serak. Cukup lama aku dan Bachtiar berpelukan. Dan semuanya harus berakhir ketika kereta api yang akan memisahkan aku dan sahabatku itu memasuki stasiun. Suara mendenyit akibat pergesekan dua logam menyayat pendengarku. Menyadarkan bahwa waktunya telah datang. Bachtiar melepaskan pelukannya. Disandang ransel hijau-lorengnya. Dengan sigap dilangkahkannya kaki menuju pintu kereta yang telah berhenti. “Assalamualaikum,” katanya mengucapkan salam untuk terakhir kalinya. “Waalaikumsalam,“ jawabku lemah. Terdengar pluit yang menandakan kereta api siap berangkat. Perlahan-lahan besi besar itu mulai bergerak. Perlahan, sedikit demi sedikit menambah kecepatan. Deru suaranya seakan menyayat-nyayat perasaanku. Semakin menjauh, dan akhirnya hilang dari pandanganku. *** Tidak perlu kau tahu nama lengkap saya, cukup Ing.. *** REUNI eks Devisi Banteng beberapa waktu lalu ternyata bukan hanya sekedar temu-kangen. Ada beberapa keputusan yang dirumuskan secara tertulis untuk perbaikan nasib veteran eks Devisi Banteng khususnya, perbaikan sistem kepemimpinan nasional dan TNI-AD, serta nasib bangsa Indonesia pada umumnya. Keputusan-keputusan itu disosialisasikan pada semua pihak, termasuk kepada pemerintah dan masyarakat Sumatera Tengah. Menindaklanjuti hasil reuni, Letkol Ahmad Husein, ketua reuni, mengambil beberapa langkah strategis. Salah satunya membentuk Dewan Banteng dan menyosialisasikannya pada masyarakat Sumatera Tengah. Kerja keras Letkol Ahmad Husein tidak sia-sia. Terbukti masyarakat Sumatera Tengah memberi dukungan yang sangat besar dengan terbentuknya Dewan Banteng ini. Singkat ceritanya, semenjak terbentuknya Dewan Banteng, Sumatera Tengah bergerak. Bahu membahu membangun nagari. Baik itu yang bersifat fisik maupun non-fisik. Hanya dalam beberapa bulan, Sumatera Tengah berubah. Drastis. Mungkin menjadi provinsi yang paling pesat perkembangannya. Perkembangan ini melahirkan pro-kontra di kalangan elit pusat. Ada yang mendukung, dan tidak sedikit juga yang menolak. Apalagi keadaan politik yang kacau. Pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kancah politik saling berebut sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti. Mereka kelihatannya berusaha untuk mendahulukan kepentingan masing-masing. Berbagai intriks dan strategi dijalankan. Berbagai peristiwa mewarnai dunia politik negeri ini. Sebuah berita yang sangat mengejutkan disiarkan oleh RRI siang ini. Aku yang sedang santai di lapau, sangat kaget mendengar berita itu. Penyiar menyebutnya Peristiwa Tjikini. Ada percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Semenjak Peristiwa Tjikini itu, keadaan semakin memanas. Berbagai prasangka dan saling curiga menyeruak di kalangan elit. Tidak ada lagi kepercayaan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Keadaan makin memanas. Semua serba kacau. Aku tidak dapat menceritakan dengan detail. Saking banyaknya informasi yang kadang di satu informasi sangat bertolak belakang dengan informasi lain. Ah, makin kacau keadaan negeriku. Perang saudara itu akhirnya meletus juga. Berawal dari maklumat yang diumumkan oleh Letkol Ahmad Husein yang diberi nama Piagam Perjuangan Menyelamatkan Bangsa. Pada akhirnya terbentuklah pemerintahan tandingan yang diberi nama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Piagam ini ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat dengan pemberian label pemberontak dan harus ditumpas. Singkat cerita pemerintah pusat menyiapkan operasi penumpasan gerakan yang dimotori oleh Letkol Ahmad Husein yang mendapat dukungan penuh dari beberapa tokoh elit nasional, pemerintahan daerah, dan masyarakat Sumatera Tengah. Masih terekam dengan jelas di benakku, pada tanggal 20 Februari 1958, Padang dan beberapa kota lain di Sumatera Tengah dihujani bom oleh pesawat udara AURI. Korban mulai berjatuhan. Setelah serangan udara, pada bulan Maret diikuti dengan serangan darat. Konflik bersenjata pun meletus. Aku akhirnya merasa terpanggil untuk kembali ke dunia militer. Secara sadar aku menggabungkan diri dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Kembali ke medan juang, kembali ke medan gerilya. Serangan yang dilancarkan oleh pusat ke daerah tidak tanggung-tanggung dan tanpa pandang bulu. Beribu pasukan dikerahkan. Seperti badai bah, pasukan itu merengsek mulai dari kota-kota sampai ke desa-desa. Masyarakat menjadi sangat takut dan panik. Banyak yang menggungsi ke pedalaman, ke hutan-hutan, dan ke tempat-tempat yang dirasa aman. Tidak terasa waktu setahun telah dilewati. Perang saudara ini masih berkecamuk. Tentara PRRI yang tidak memiliki persenjataan semakin terdesak ke dalam hutan. Kabar tentang bantuan senjata dari CIA tidak pernah sampai ke tangan pejuang PRRI. Sedangkan tentara pusat memiliki persenjataan yang lengkap. Senjata-senajata yang didatangkan dari Rusia, sangat ampuh untuk meredam perjuangan tentara PRRI. Siang itu, di awal Desember 1959, aku lupa waktu persisnya. Tentara pusat bersenjata lengkap mengadakan pembersihan di nagariku. Mereka memasuki nagari dengan senjata terhunus. Mengumpulkan masyarakat untuk menanyakan keberadaan pasukan PRRI. Aku yang sedang menyamar menjadi masyarakat biasa untuk memata-matai gerakan tentara pusat ikut dikumpulkan di tanah lapang. Bersama istri dan mertua serta penduduk lainnya yang tidak mengungsi. Betapa kagetnya aku melihat seseorang yang sangat kukenal berada di pihak lawan. Bachtiar, aku membatin. “Kami hanya mencari informasi tentang pemberontak itu,” kata komandan pasukan itu dengan lantang. “Kalian harus memberikan informasi yang jelas.” Semua penduduk diam. Telah ada kesepakatan di kalangan masyarakat untuk tetap tutup mulut. Apa pun yang terjadi. “Dimana markas pemberontak-pemberontak itu?” Semua tetap diam. Komandan pasukan itu menjadi berang. Ia mulai membentak sambil menghunuskan senjatanya. Anak buahnya ikut mendorong-dorong penduduk dengan moncong senapannya. Kulihat Bachtiar berjalan ke arahku. Tiba-tiba ia berkata dengan kasar. “Komandan! Melihat posturnya, ia bukan orang biasa,” ujarnya mengarahkan senapannya ke kepalaku. “Sepertinya dia tahu informasi yang kita butuhkan.” Kontan aku kaget. Aku tidak menyangka Bachtiar akan memperlakukanku seperti itu. “Benar kamu tahu tentang pemberontak itu hah?” tanya komandannya padaku. Aku diam. Tetap diam. Moncong senjata itu semakin mendekati kepalaku. “Mengaku sajalah!” bentak Bachtiar. Aku tetap diam. Komandan itu hilang kesabaran. Sebuah gerakan kilat, telapak tangannya membentur wajahku. Plak.... Meninggalkan jejak memerah dan panas. Aku tetap diam. Sekali lagi, kini ujung sepatunya yang keras menghantam tulang keringku. Aku hanya meringis. “Bawa dia ke markas!” perintah komandan. “Bubarkan yang lain!” “Komandan, perempuan itu istrinya,” kata Bachtiar menunjuk Fatima. “Sekalian bawa saja istrinya biar dia mengaku.” “Keparat,” bentakku, muak menyaksikan wajah Bachtiar. “Jangan coba sentuh istriku!” “Oh, rupanya kau masih bisa bersuara. Bagus! Bawa dia ke markas!” Beberapa teman Bachtiar menyeretku kasar. Kucoba melawan. Tapi tamparan dan tinju bersarang di tubuhku. Bahkan sebuah tendangan dari Bachtiar, sahabatku itu, mendarat telak di dadaku. Membuatku limbung. Masih sempat kulihat Bachtiar mendekati Fatima dan menariknya kasar. Hanya itu yang kuketahui. Semenjak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Fatima, istriku tercinta. *** Apalah arti sebuah nama kata si penulis Hamlet. Bagi saya nama itu memilik sejarah tersendiri. Ing, itu nama saya. *** “Begitulah ceritanya, Ing,” ujar lelaki itu dengan bola mata memerah dan berkaca- kaca. “Aku disekap sampai perang saudara itu berakhir. Berbagai siksaan mereka timpakan hanya untuk memperoleh keterangan kedudukan pasukan tentara revolusioner.” Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu menghembuskannya perlahan. Coba untuk meredakan tekanan yang ia rasakan. Mata lelaki tua itu berkilat, berkaca bening rapuh yang suatu saat siap luruh. “Siksaan paling berat dan menyedihkan ketika Bachtiar, sahabat karibku itu, ikut menyiksaku. Makian dan cercaan keluar dari mulutnya. Pernah dengan bangga ia berkata, ‘kau memang pintar mencari istri. Dia benar-benar binal di tempat tidur. Aku sangat suka.’ Kata-katanya ini sangat menohok jantungku...” Akhirnya kaca-kaca di matanya lelaki itu luruh membentuk buliran menggelinding, menyusuri lekukan pipinya yang berkerut. Terdengar isakan dari bibirnya yang bergetar. Kembali ditariknya nafas dalam, mencari kekuatan lebih untuk melanjutkan ceritanya. “Setelah perang berakhir, aku kembali ke kampung,” lanjutnya. “Hatiku semakin hancur ketika gundukan tanah merah menyimpan jasad istriku yang kutemui. Engkau baru berusia dua minggu waktu itu, masih sangat merah.” “Ini anak istrimu. Kami belum memberinya nama. Semoga kamu mau memberikan nama padanya,” begitulah mertuaku memberi penjelasan waktu itu. Anak istriku? Aku bertanya-tanya dalam hati. “Setahun lebih aku berada dalam tawanan tentara pusat. Setahun lebih pula aku tidak berhubungan dengan istriku. Apakah istriku menikah lagi?” tanyaku heran. “Mereka kejam. Mereka perkosa Fatima,” lanjut mertuaku dengan mata berkaca-kaca. “Siapa mereka itu?” tanyaku. “Tentara-tentara itu.” Jelaslah sudah, ternyata oknum tentara-tentara itu yang menyebabkan istriku hamil. Walaupun hatiku hancur, tapi demi istri yang sangat aku cintai, kuberikan nama buatmu. “Puing?” “Ya, Puing, nama yang kupilihkan untukmu, sesuai dengan keadaan hatiku,” lelaki itu menghempaskan nafasnya dalam-dalam. “Kutelan kesedihan ini. Kubesarkan kamu sambil tetap kututupi rahasia ini. Kini saatnya kamu mengetahui. Aku merasa umurku tak lama lagi.” Saya menangis tersedu mendengar cerita lelaki tua yang telah membesarkan dan mengasuh saya. Lelaki yang saya yakin adalah bapak kandung sendiri. Akan tetapi kenyataannya, bukan beliau bapak kandung saya. “Lalu siapa ayah kandung saya, Pak?” tanya saya putus asa. “Aku tidak tahu,” lelaki itu kembali menghempaskan nafasnya. Suaranya semakin merendah. “Setiap kuperhatikan wajahmu, dari hari ke hari, semakin jelas terlukis wajah sahabatku di sana, wajah Bachtiar, Ing,” katanya sambil menyerahkan sebuah foto. Terlihat gambar dua orang lelaki muda yang berangkulan. Salah satunya Bapak Denai, dan lelaki satu lagi, astaga, wajahnya memang mirip dengan wajahku. *** Puing nama saya. Cukup panggil Ing. Saya lahir di tengah kehancuran negeri ini. Hari ini hati saya pun menjadi puing yang berserakan, dihempas oleh badai pengakuan Bapak Denai, orang tua yang sangat menyayangi saya. *** Keterangan : · Dimuat di Majalah Sastra Horison, Mei 2007
Trackback(0)
|