|
Maksiatlah yang menyebabkan dunia ini porak poranda. Maksiatlah yang mengundang kemurkaan Tuhan, Maksiatlah yang mengundang gempa. Maksiatlah yang mendatangkan Tsunami. Maksiatlah yang menjadi pangkal bala hancurnya sisi-sisi baik kehidupan. Dari dulu orang berusaha melenyapkankan maksiat. Beberapa peraturan dan perda di lahirkan untuk melenyapkan maksiat, namun maksiat itu tetap saja terjadi.
Pada suatu hari seorang bijak didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat, Ia meminta nasehat kepada Penasihat Bijak agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Setelah merenung sejenak , Penasihat Bijakpun berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan , aku tidak keberatan kau berbuat dosa." Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Lelaki pelaku Maksiat balik bertanya , "Apa saja syarat-syarat itu, ya Sang Bijak?" "Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki dari Tuhan," ucap Penasihat Bijak. Lelaki pelaku Maksiat mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana? , Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Tuhan?" "Benar," jawab Penasihat Bijak dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?" "Baiklah, "Kemudian apa syarat yang kedua?," jawab Lelaki pelaku Maksiat tampak menyerah. "Kalau kau bermaksiat kepada Tuhan, janganlah kau tinggal di bumi-Nya," kata Penasihat Bijak lebih tegas lagi. Syarat kedua membuat Lelaki pelaku Maksiat lebih kaget lagi. "Apa? , Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Tuhan?" "Benar wahai hamba Tuhan YME , Karena itu , pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Penasihat Bijak. "Kau benar Sang Bijak, Lalu apa syarat ketiga?" ucap Lelaki itu kemudian. "Kalau kau masih bermaksiat kepada Tuhan YME, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya." Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Sang Bijak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Tuhan tidak melihat kita?" "Bagus! Kalau kau yakin Tuhan selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?" tanya sang bijak kepada Lelaki pelaku Maksiat yang masih tampak bingung dan terkesima. "Baiklah, ya Sang Bijak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?" "Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh. “Ah… itu tidak mungkin… bukankah kematian itu rahasia Tuhan , dan kita tidak pernah tahu kapan itu terjadi”. Tanya pria itu. karena itulah , bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Tuhan?" Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Sang Penasihat Bijak untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu. "Yang terakhir, bila malaikat Penjaga Neraka hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!" Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya,, Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup....cukup ya Sang Bijak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan eristighfar dan bertaubat kepada Tuhan." Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman suci_Nya dalam Al-Qur'an Iblis menjawab:"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan merreka semuanya, (QS. 38:82) Iblis berkata:"Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. 15:39) kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka, (QS. 38:83) Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (QS. 38:85) |
1. ewhah tu pituah rang ranchak. Ditulis oleh mades pada Senin, 17 Desember 2007 yha iyha lah ... tapi biar bagaimanapun kita tdk bisa menghindary yg namanyha maksiat,sukur bisa mengurangi. | 2. radio cimbuak Ditulis oleh bunglanang pada Kamis, 20 Desember 2007 udah ada winamp gakk bisa dengar harus bagaimana dong... |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |