Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Gunuang biaso timbunan kabuik
Lurah biaso timbunan aia
Lakuak biaso timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo
Nan putiah tahan sasah
Disasah bahabih asa
Dikikih bahabih basi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Stempel Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Suryadi   
Rabu, 26 Desember 2007
ImageUmumnya orang Minangkabau – bukan Minang kerbau seperti acap kali ditulis dalam koran Soenting Melajoe pimpinan Mahyuddin Dt. St. Maharadja – mengenal nama datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang. Mereka termasuk founding father orang Minang. Nama keduanya disebut-sebut dalam berbagai wacana kebudayaan Minangkabau – dalam Tambo, dalam cerita rakyat, dalam pidato adat dan pasambahan, dalam kaba, dan mungkin juga dalam mimpi para datuak kita.

Konon jejaknya juga dapat dilacak dalam material culture Minangkbau: ada Batu Batikam di Batusangkar, sebagai ‘bukti arkeologis’ percanggahan ideologis yang amat prinsipil antara kedua mamak muyang orang Minang itu: yang satu hendak menegakkan sistem otokratis (ketek babingkah tanah, gadang balingkuang aua [Laras Koto Piliang]), yang lain hendak menerapkan sistem demokratis (titiak dari ateh, bosek dari bumi [Laras Bodi Caniago]). Kata pakar pernaskahan Minangkabau dari Universitas Andalas, Dra. Zuriati M.Hum, kepada saya, tongkat kedua datuak kita itu ditemukan di Solok. Tongkat itu sudah berdaun. Ondeh! Sedangkan almarhum Anas Navis dalam salah satu artikelnya di www.ranah-minang.com menulis bahwa kuburan kedua datuak kita itu yang juga ditemukan di Solok. Wallahualam! Ini kaba orang yang saya kaba(r)kan, dusta orang saya tak serta.
Lepas dari bukti-bukti setengah mengawang di atas tentang Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, dalam tulisan ini saya membicarakan ‘bukti’ yang lain yang jarang dibicarakan orang Minang. Bukti itu adalah stempel kedua datuak-muyang kita itu.
Stempel? Jadi, kedua datuak kita itu pandai menulis? Pandai membaca? Kalau mamak muyangnya tidak pandai tulis-baca, tentu anak cucunya pandai maota saja. Cerita yang kita dengar selama ini mengatakan bahwa Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang memang pintar: pandai mambaco dalam raik, pandai manyurek manilantang.

Image
 Stempel Datuak Katumanggungan (a) dan Stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang (b).
(Sumber: Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii)
(Konon) kedua stempel yang gambarnya disajikan di sini adalah stempel (cap) Datuak Katumanggungan dan stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Bentuknya serupa tapi tak sama, seolah mencerminakan ideologi politik keduanya yang sarantak balain dagam. Sumber stempel a dan b adalah naskah Tambo Minangkabau yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, di bawah kode Cod. Or. 1745, halaman ii dan iii. Kemungkinan naskah ini sudah pernah diresek oleh Edwar Djamaris dan M. Yusuf, dua orang pakar pernaskahan Minangkabau. Kolofonnya mengatakan bahwa Tambo ini disalin oleh Bagindo Tanalam [(Su)tan Alam?] Sikutare [Si Kutar?] pada tahun 1824 (Di Pariaman, misalnya, nama Sikutar biasa didengar, sebagai peminangan dari nama Mukhtar; juga kata Ahmad yang menjadi [Si] Amaik; Sahrul yang menjadi [Si] Arun, dll.) Tak disebutkan dimana tempat penyalinan naskah ini (Lihat Wieringa 1998:103). Menurutnya, Tambo ini dimulai dengan cerita tentang nenek moyang orang Minang, Sri Maharaja Diraja, yaitu keturunan Iskandar Zulkarnain, dilanjutkan kemudian dengan kisah tentang kedua originators Minangkabau: Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. “On pp. ii-iii the seals of these two rulers are to be found” (Ibid.) Abstrak naskah ini juga dapat dilihat dalam Iskandar (1995: 14); Haji Wan Ali Wan Mamat (1885: 20); dan Juynboll (1899: 245-46). Semula naskah ini adalah koleksi Akademi Delft. Akademi ini ditutup pada tahun 1864, dan koleksi naskah Nusantara yang ada disana dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Leiden.
Inskripsi stempel a (Aksara Arab-Melayu/Jawi) adalah sebagai berikut: “Inilah cap Datuk Katemanggungan nan banama Maharaja Diraja.” Di atas dan di bawah stempel terdapat anotasi (keterangan): “Matlab Datuk Katemanggungan jua adanya nan bergelar Sultan Paduka Besar; adapun Datuk Katemanggungan itu ialah nan tuah pada Laras Kota Piliang adanya. Inilah cap besar kepada segala anak cucu Datuk Katemanggungan pada tiap2 lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis, ombak nan be[r]debur.”
Inskripsi stempel b, yang juga ditulis dalam aksara Jawi, adalah sebagai berikut: “Inilah Cap Datuk Parpatih Sebatang nan bernama Si Manang Sutan”. Di atas dan di bawah cap terdapat anotasi: “Matlab Datuk Perpatih Sebatang jua adanya nan bernama Si Manang Sutan adanya. Adapun Datuk Perpatih Sebatang itu ialah nan tuah di dalam Laras Bodi Caniago jua adanya. Inilah cap besar kepada segala anak cucu Datuk Perpatih Sebatang pada lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur jua adanya.” (Lihat juga Wieringa 1998: 104; Gallop 2002: part 1, vol. II, 133).
Teks inskripsi kedua stempel itu, beserta anotasinya, menarik untuk dibahas lebih lanjut. Mudah-mudahan para pakar pernaskahan Minangkabau akan tertarik menelitinya. Saya hanya pandai manatiangkan ide-ide dan persoalan. Misalnya, ada kata matlab yang cukup arkhais. Ternyata juga nama yang disebut adalah “Datuak Perpatih Sebatang”, tanpa kata nan yang umum dikenal oleh orang Minang. Inskripsi stempel itu juga menyebutkan nama lain Datuak Katumanggungan, yaitu Maharaja Diraja ([tak] sama dengan Sri Maharaja Diraja?), dan juga ada gelarnya yang lain, yaitu Sultan Paduka Besar. Sedangkan nama lain Datuk Parpatih Nan Sabatang adalah Si Manang Sutan. Jadi, yang satu punya nama dan gelar lebih banyak daripada yang lain. Boleh jadi ini merefleksikan gradasi otoritas keduanya? Yang jelas dalam wacana budaya Minangkabau memang disebutkan bahwa Datuak Katumanggungan lebih tua daripada Datuak Parpatiah nan Sabatang.
Akan tetapi, yang paling menarik adalah keterangan “Inilah cap besar kepada segala anak cucu [datuak nan berdua itu] pada lu[h]ak dan laras pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur…”. Interpretasi saya yang daif: redaksi stempel ini tidak diubah-ubah dan sudah turun temurun digunakan dari generasi ke generasi. Stempelnya sendiri (fisiknya) mungkin sudah berkali-kali diganti (stempel pastilah tidak begitu dapat tahan lama). Kata “cap besar” juga mengindikasikan bahwa stempel ini pernah memiliki otoritas dan wibawa yang tinggi, baik di luhak (laras yang tiga) dan rantau yang membentang sampai ke “laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur”.
Seperti telah disebut di atas, Tambo tempat stempel ini ditemukan ditulis tahun 1824. Dengan demikian, umurnya baru kurang lebih 183 tahun. Jadi, kurang logis bahwa stempel ini adalah stempel yang asli yang pernah dipakai oleh datuak kita nan berdua itu. Masa hidup Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Sabatang pastilah berasal dari periode yang jauh lebih lama daripada tarikh itu, setidaknya ketika Gunung Merapi sudah sedikit lebih besar dari telur itik. Timbul pertanyaan lain: bagaimana otoritas stempel itu di masa lalu? Apakah stempel itu dipegang oleh satu otoritas saja atau boleh dipegang oleh beberapa otoritas di Minankabau? Kenapa hanya Or. 1745 saja yang punya stempel itu? Apakah ini dapat membantu kita menelusuri kira-kira dimana Cod.Or. 1745 ditulis atau disalin? Silakan para pakar filologi Minangkabau lebih lanjut memikirkannya.
Ada banyak hal seputar stempel ini yang bisa didiskusikan, namun tidak mungkin dilakukan dalam artikel yang pendek ini. Yang jelas, Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang tetap penuh misteri. Dunia ilmiah belum dapat memberikan lebih banyak bukti yang meyakinkan mengenai banyak hal seputar sejarah hidup kedua originators sukubangsa Minangkabau itu.***
Suryadi, kandidat doktor di CNWS Leiden University, Belanda

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 1 Juli 2007

http://www.kotasolok.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1727

 

Komentar
1. Input Tambahan
Ditulis oleh muallif pada Rabu, 26 Desember 2007
Saya tertarik dengan pembahasan saudara DR. Suryadi (maaf, apakah beliau orang minang asli, atau Jawa, karena nama yang kejawa-jawaan) Namun di sini saya mohon satu penyelidikan lagi dari pakar-pakar sejarah adat Minangkabau, berhubungan dengan kerturunan Tuanku Abd Rahman, yang Di-Pertuan Negeri Sembilan (Malaysia) pertama. Menurut kisah dari mulut ke mulut yang saya terima, beliau memang benar berasal dari Batusangkar, dan ayahandanya adalah Syaikh Ibrahim al-Khalidi, yang bermakam di Masjid Raya, Kumpulan, Pasaman. Dahulunya, Syaikh ini adalah seorang Yang Dipertuan Minangkabau, kemudian meninggalkan takhta kerajaan karena hendak menumpukan perhatian ke alam tashauf, sehingga beliau menjadi ulama shufi terkenal yang disegani pada masanya. Anaknya Abdul Rahman yang ketika itu masih belia ditinggalkan di batu Sangkar. Ketika pihak negeri Sembilan hendak mencari seorang bakal raja ke Minangkabau, orang tua di Batusangkar menunjukkan seorang pemuda yang sedang menggembala kerbau di tengah sawah. Utusan tadi membawa anak muda tersebut (Abd Rahman) kemudian dinobatkan menjadi Yang Di-Pertuan Besar negeri Sembilan. Saya masih belum dapat mengkonfirmasikan cerita ini. Jika ada pihak yang tahu, nama ayahanda Abdul Rahman itu sebenarnya, harap dijawab. Di Malaysia, beliau dikenal dengan Tuanku Abdul Rahman bin Tuanku Muhammad. Terima Kasih atas tanggapan pembaca.
2. MINANG DAN NEGERI SEMBILAN
Ditulis oleh bunglanang pada Kamis, 27 Desember 2007
Ya .. Keturunan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan berasal dari Tanah Minang Tetapi Bukan Seperti yang Saudara Muallif dengar itu .kerana sebelum datang British sudah ada keturunan itu yang dijumpuit oleh satu puak dari sini. Ada juga penentangan dan perbalahan sesama sendiri sehingga menumpahkan darah membawa kepada kematian. Memang Tuanku Abd. Rahman Bin Tuanku bukan yang dijemput dari tanah Minang.Sila ke Seri Menanti Negeri Sembilan Dan Pasir Besar untuk bertanyakan hal sejarah . Bahasa juga sudah berbeza dari bahasa asal Minang kerana dicampur aduk ke bahasa melayu . Untuk lebih lanjut mendapat keterangan sila Datang ke Seri Menanti lawati Muzium disana. Terima Kasih
3. ADA PERPATIH DAN NEGERI SEMBILAN.
Ditulis oleh bunglanang pada Kamis, 27 Desember 2007
Agakmasih ramai lagi yang masih tidak faham akan adat perpatih yang berasal dari Minangkabau yang digunapakai di Negeri Sembilan . Juga sebahagian dari Negeri Melaka juga mengamalkan ada perpatih ini yang diterajui oleh Datuk Nanaing . Bahasa mereka juga sama dengan yang digunakan di Negeri Sembilan. Bagi yang tidak faham adat perpatih menganggap kuasa perempuan yang memerintah, tetapi seperti yang kita semua tahu orang lelaki adalah pemimpin dalam semua hal adat dan pusako. Akan tetapi ada perpatih yang di mulai oleh AlMarhum Datuk Perpatih dari Minangkabau itu mengambil kira hak wanita . Kerana wanita itu ada kelemahan dan perlu juga teruskan hidup jika dicerai suami ada juga persiapan kehidupannya dimasa hadapan. Hebat Datuk Perpatih tu mempunyai Vision bukan hanya puluhan tahun malah ribuan tahun yang dia sendiri sudah gambarkan apa akan terjadi terhadap wanita kerana kelakuan orang lelaki. Kalau sudah faham dan meneliti adat Perpatih ini Anda akan menerima dan mengakui akan kebenaranya. Begitulah serba sedikit serba ringkas ..... KALAU DILAPIEK SABOSAR KUKU, KALAU DIBONTANG SABOSAR ALAM, KOK HILANG DICHAGHI,KOK HANYUIT DIPINTEH, KOK TONGGOLAM DISOLAM, DATANG BIA LAH NAMPAK MUKO, KOK POIE BIALAH NAMPAK BELAKANG, JAUH DIHIMBAU DOKEK DIGAMIT, SAUNTAI SALAM SOJAMBAK KATO, DOGUP BICARO MONGHISIK RASO, MAAF DEN PINTO KALAU SALAH BAKATO.
4. Mantap
Ditulis oleh dennie pada Kamis, 27 Desember 2007
Ternyata memang urang minang alah santiang dari zaman dulu. kok buliah ambo batanyo ba kok Tambo Minangkabau tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda ?
5. itu karano bulando nan bakuaso wakatu tu
Ditulis oleh de alfiand pada Jumat, 28 Desember 2007
Tentang dokumen bersejarah terdapat di negeri belanda, itu tidak lepas dari kondisi Indonesia yang waktu itu dijajah belanda. Tidak hanya dokumen dari ranah minang yang terdapat di Belanda, tetapi banyak sekali artefak budaya nusantara terdapat di museum-museum dan universitas di belanda.

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Rabu, 02 Januari 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 8 dari 50 (8 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Febian - AVSEQ08

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Admin ( 2 ) Admin 2
 Anggota ( 32 ) Anggota 32
 Tamu ( 27 ) Tamu 27
  Total  61
 Angoota ( 7,166 ) Angoota  7,166


Statistik
Agg Baru  nurhilhid...
Hari Ini 20
Minggu Ini 102
Bulan Ini 417
Tahun ini 3,045
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 27 pengunjung dan 34 anggota yang online
User Terbaru

antoni_056

Terdaftar pada
2008-07-04 14:28:59

Pengunjung: 3469073