Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nan indah iyolah baso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Managerialship (4) : Matrix M & E PDF Print E-mail
Written by S. Brotosumarto   
Tuesday, 24 August 2004
Kemarin :
Organisasi Gemblong, sudah bukan lagi organisasi entrepreneural. Ini sudah menjadi organisasi managerial. Sebab, entrepreneural by definition hanya sebatas initiating atau merintis. 
 

Sesi ini lebih untuk yang condong ke profesi xpreneur atau yang terpaksa kesitu karena tidak mendapatkan pekerjaan formal.


Organisasi2 kecil sampai menengah bisa dikelola menjadi 4 kombinasi matrix M & E
1.      Organisasi M dikelola dengan cara M
2.      Organisasi E dikelola dengan cara E
3.      Organisasi M dikelola dengan cara E
4.      Organisasi E dikelola dengan cara M
 
1. Organisasi M dikelola dengan cara M
Ini cocok untuk birokrasi dan organisasi2 nir laba. Jika organisasi laba, maka yang terjadi adalah kemandegan. Perusahaan ini berjalan ajeg dan stabil tetapi menjadi kerdil. Sulit berkembang. Bisnis2 kecil umumnya seperti ini. Bisnis2 itu bukan lagi usaha wiraswasta karena E bermakna memulai/merintis. Status wiraswasta sebatas pada penghasilan dan kepemilkan yang empunya
 
2.  Organisasi E dikelola dengan cara E
Organisasi ini akan labil karena tidak memiliki sifat M yang stabil. Selalu mencoba bisnis ini, itu, inu, tak kunjung habis2nya. Belum lagi selesai sudah mulai, mulai, dan mulai lagi seterusnya. Ini adalah fenomena2 yang sering dialami E muda atau yang mengawali karirnya. Ia merangkap jabatan tanpa menyadari apakah ia bersifat E atau M. Usahanya gonta ganti. Jikapun berjalan akan tidak stabil. Terkadang bagus terkadang kurang bagus. E punya sifat men-coba2, experimental, dan cepat merespon peluang2 yang diluar bidangnya sehingga mentelantarkan yang ada ditangan. Pada dasarnya E kurang tahan dengan rutinitas yang menjadi kekuatan M.
 
3.  Organisasi M dikelola lengkap dengan E
Organisasi M sudah berjalan dengan mantap, menghasilkan laba dan stabil. Ini muncul dalam wujud divisi Riset & Development (RND) yang mengembangkan produk2 yang ada. Atau punya departemen Business Development. Terkadang dilakukan pemisahan yang tegas antara kepemilikan dengan manajemen. Ini bentuk  umum dipakai dan cukup efektip.
 
Terkadang E memberi kesempatan kepada M untuk melakukan tindakan2 entrepreneural yaitu mengembangkan. Ini yang disebut Intrapreneur atau E dalam perusahaan. Saya mendapatkan kesempatan ini ketika perusahaan yang saya kelola stabil. Saya mengembangkan dari Thermal Insulation Engineering ke Coating tetapi kurang berhasil karena terlantar dengan tugas2 M. Karakter saya lebih kuat sebagai M daripada E. Perusahaan ini sukses mengembangkan dari bisnis inti menjadi punya divisi perdagangan, yaitu stockist bahan2 teknik Thermal Insulation. Sayang, kontribusinya terlalu kecil.
 
4.  Organisasi E dikelola dengan cara M
Ini banyak terjadi pada kasus2 eksekutip yang alih profesi menjadi wiraswasta. Entah karena pensiun, di PHK atau karena kemauannya sendiri. Eksekutip2 yang mungkin sukses dikarirnya banyak yang tidak menyadari bahwa E punya sifat yang bisa bertolak belakang. Setelah bekerja bertahun dengan suday2 yang disediakan perusahaannya eksekutip2 ini kedodoran ketika harus menggalang suday dari nol. Ia yang piawai sebagai M, sulit untuk gesit bekerja grambyangan penuh ketidak pastian. Yang sangat berbeda dengan dunianya dulu, yang serba teratur dan mapan.
 
Ketika terjadi petaka 98, banyak kawan2 saya yang diPHK dengan pesangon cukup bagus. Mereka coba berwiraswasta tetapi hasilnya bisa ditebak. Ambyar karena miskinnya karakter E. Bagaimana mungkin seorang mantan QC Engineer, atau Geolog yang se-umu2 tak pernah bicara tentang duit tiba2 harus mencari suday ?
 
Saya sendiri menyadari kelemahan saya sebagai E walau saya cukup sukses sebagai Top Eksekutip Internasional. Saya memilih bekerjasama dengan E dan menempatkan diri saya sebagai Copreneur. Penting untuk tidak hanya memahami apa yang bisa kita kerjakan saja tetapi apa yang TIDAK bisa kita kerjakan. Dengan kombinasi E & M saya tinggal menuai padi, bukan karena kemampuan saya tetapi justru ketidak mampuan saya mendorong mencari the right man behind the gun.
 
Perbedaan E dengan M yang sangat mencolok adalah caranya bereaksi.
 
Sikap M : Ready - Aim - Fire (Siap - bidik - tembak)
Sikap E terbalik : Ready - Fire - Aim ! (Siap - tembak - bidik)
 
E sangat responsive dengan 'peluang'. Dengan gesit ia menyambar peluang. Sesudah itu baru mereka kelabakan manggalang suday untuk menangkap peluang. Menghimpun suday dari nol adalah salah satu kelebihan E. Sedangkan M sebaliknya, mereka harus dibekali suday dulu dan kemudian membidik sasaran, baru menembak.
 
Ibaratnya E itu tentara. Kalau ketemu orang mencurigakan, langsung ditempilingi baru ditanya kamu maling bukan. Sedangkan M itu polisi, tanya dulu (bidik) baru bertindak (tembak). M lebih sistimatis, analitis, dan terukur. Karena mayoritas dari kita adalah M, E menjadi makluk 'aneh'.

Suplemen Managerialship [4]
Lembar ini adalah sisipan seri Managerialship untuk definisi2 tambahan, keterangan2, kelengkapan2, dll yang cukup dibaca sekali lantas di delete.
 
Sumber daya = suday
Suday atau resources buanyak sekali, tetapi yang terpokok adalah M-lima, yaitu Manpower, Machine, Material, Method, dan Money. Manpower adalah SDM, Machine mulai dari perkakas2 tangan, mesin2, pabrik2, sampai kilang2. Material adalah mulai dari bahan mentah, setengah jadi sampai barang2 siap pakai. Method adalah sistim, mulai dari sistim akuntansi, QA/QC, sistim pemasaran, sop (standard operating procedure), aturan perburuhan, perpajaan expor impor, dll. Termasuk keahlian, kecakapan, kepakaran, dll. Money, mulai uang gajian, modal kerja, kas, utang, piutang, surat2 berharga, lc, dll.
 
Diluar itu masih banyak, semisal merek, property, good will, sekuritas, koneksi, dll, dll.
 
Pembatasan
Artikel ini semula untuk manajemen menengah keatas tetapi saya rubah menjadi manajemen menengah kebawah karena mayoritas pembaca pada usia 25-35. Jika bicara eksekutip puncak, jadinya mbalah jauh panggang dari api. Walau bisa diterapkan pada manajemen apapun, artikel ini untuk organisasi komersial. Skala adalah organisasi menengah dan perlu penyesuaian2 untuk organisasi2 besar & komplek.
 
Ini bermanfaat bagi mereka yang berada dalam jajaran M, Entrepreneur, Copreneur, dan Intrapreneur skala menengah kebawah. Mereka yang memilih Xpreneur bisa menyimak untuk mencari karakter2 M serta kesalahan2 umum yang dilakukan E. Banyak usaha2 yang harusnya organisasi manajerial dijalankan dengan gaya entrepreneural. Ada juga usaha berjalan lumayan bagus tetapi mandeg, jalan ditempat dan kurang berkembang karena miskinnya sifat E.
 
Pilihan2 Karir
1. Sebagai pakar, ahli, teknisi, profesional, sebangsa dosen, dokter, notaris, pengacara, dll, dilingkungan perusahaan.
2. Sebagai Self-made-man. Bisnis sendiri dengan konsep non manajerial tetapi berbasis skill atau profesional. Sebangsa praktek dokter, pengacara, notaris, bengkel reparasi.
3. Karir Manajemen, dari Manajer Fungsional sampai ke top Eksekutip.
4. Sebagai Xpreneur : pilihan2/kesempatan2 sebagai E, Intrapreneur, Copreneur, dan Investor.
5. Kombinasi2. Self-made plus E atau M. M plus nyambi2. E merangkap sebagai M. Dll.
6. Dll.

Sejauh ini telah kita inventariskan karakter2 yang diperlukan sebagai M
1. Mampu memimimpin
2. Pintar dalam arti memiliki ability yang dibutuhkan.
3. Kepastian (definitness), Keteraturan (order), dan Kesinambungan (continuity)
4. Mengerjakan dengan baik dan benar (do things right) sesuai target atau ketentuan.
 
Daftar itu masih panjang. Satu persatu kita bahas.
 
Definisi2
Definisi2 LME banyak, mulai dari yang sederhana sampai ke yang high profile. Leadership secara sederhana bisa didefinisikan sebagai ada pengikutnya. Jika begitu, sopirpun bisa disebut pemimpin karena punya anak buah satu, si kenek. Tentu kadar kepemimpinannya tidak sama dengan Hitler, misalnya. Makanya, nanti akan ada definisi2 high profile.
 
Begitu juga dengan E. Definisi sederhana kita adalah 'merintis' plus menghadapi ketidak pastian plus resiko. Ketika perusahaan sudah berjalan bagus, maka resiko menurun. Begitu juga dengan ketidak pastian dan perintisan. Dengan begitu organisasi ini sudah tidak bisa lagi disebut entrepreneural. Ini adalah organisasi manajerial.
 
Toko2 klontong sekitar kita, warung2, tukang2 sate, SPBU, warnet2, wartel2 dll, yang sudah mapan bukan lagi organisasi E.


Pertanyaan
NL: Pakde, apakah E dan M itu sifat yang terpisah? Bagaimana kalau E sekaligus berfungsi sebagai M dalam sebuah perusahaan? Dalam keseharian - terutama usaha kecil menengah atau usaha yang baru dirintis - sang entrepreneur juga menjabat sebagai direksi dan mengelola perusahaan.

Nukman Luthfie

Jawaban :
Menjawab pertanyaan bung Nukman, apakah bisa jabatan E & M dirangkap. Bisa saja, mengapa tidak. Yang penting bung harus pandai menempatkan diri, perusahaan tsb dalam fase apa. Jika sudah melewati fase E maka bung harus mengenakan baju zirah M untuk menstabilkan dan memapankan. Ketika sudah mapan, bung kenakan lagi baju zirah E. Untuk itu bung harus pandai membedakan mana sifat2 E, mana M. Nanti, pada waktunya kita inventarisir perbedaan2 itu. Sekarang sedang berlangsung

Pertanyaan :
Pakde Broto, Matur nuwun inputnya.
Dalam tahap awal ini saya saya menerapkan fase E. Saya terus menerus mempertajam sisi E (meski kemampuan di M juga kuat) - harus jugling ke sana kemari untuk mencari dan memanfaatkan sumber daya.

# Sifat E bisa karena bakat, lingkungan, atau profil psikologis. Untuk mempertajam E salah satu cara cara yang bisa dipakai adalah memilih lingkungan E semisal ikut klub2 yang warganya mayoritas E. Berinteraksi dengan upaya2 entrepreneural, baca artikel2 tentang E. Cara lain, mengaktifkan otak kanan, yang akan kita bahas nanti.
 
Saran ini juga berlaku untuk yang condong ke M. Saya dulu rajin membaca buku2 tentang M, kuliah M, ikut klub2 M, dan bergaul dengan sesama eksekutip. Profil saya M akan tetapi karena pada posisi top eksekutip yang harus menjalankan entrepreneural jobs, E saya berkembang. Tetapi, kekuatan saya adalah sebagai M, E bukan kelebihan saya.

> Cuma untuk mempercepat stabilitas perusahaan, alhamdulillah dapat dukungan mitra kerja yang M-nya kuat. Jadi ketika saya pontang panting membuka jalan, begitu jalan kebuka, mitra kerja yang M-nya kuat langsung mengambil alih.
 
# Ini kombinasi yang baik. Lebih baik dua2nya fokus untuk menjadikan organisasinya menjadi M dulu. Gampangnya, menstabilkan, menurunkan tingkat resiko & ketidakpastian serendah mungkin. Nyetipi yang nggrambyang2 jadi lebih terukur. Itulah sosok M, pasti, menghindari resiko, stabil, teramalkan (predictable) dan serba terukur. Analitis, metodis, terstruktur, teratur, terpola, dsb.
 
> Sementara saya tutup mata dulu pada fakta bahwa banyak M yang terjun ke E gagal. Cuek saja. Dalam statistik, selalu ada peluang untuk distorsi. Dari sekian banyak M yang ke E gagal, pasti ada yang berhasil.
Mohon doa restunya agar saya masuk yang golongan terakhir.

# Jangan tutup mata tetapi simak baik2 mengapa kebanyakan gagal agar tak terulang.

Ditunggu terus tulisannya Pakde


Jaman orba terjadi fenomena exodus eksekutip alih profesi jadi E. Yang terkenal antara lain mantan orang2 Astra dan konglomerat2 hitam. Prayogo Pangestu itu dulu eksekutip Jayanti tetapi ia lebih bersifat sebagai E. Bisa melampaui mantan majikannya. Ir. Ciputra juga dulu eksekutip PD Jaya. Ciputra juga eksekutip bersifat E. Peter Gontha mantan eksekutip Bank USA yang seharusnya direkrut sebagai E tetapi melakukan manuver2 E. Yang berhasil antara lain Ir. Subagio mantan eksekutip Astra. Yang gagal banyak sekali dan pernah diulas di Kompas. Kebanyakan yang berhasil adalah eksekutip yang E-nya kuat macam Gontha. Berani taruhan, Rianti Hutapea CEO pasti bikin bisnis sendiri nanti.
 
Rini Suwandi sosok M-nya lebih kuat. Melintas dari M ke birokrasi tak selalu mudah. Ir. Cacuk Sudaryanto gagal sebagai birokrat walau sukses sebagai M. Ir. Kuntoro & Ir. Siswono M yang lumayan bagus berada pada birokrasi.
 
Ada juga yang nyambi, masih duduk sebagai eksekutip, seperti Ir. TP Rahmat, T. Abeng, dll. Kurang berhasil. Dalam skala gurem, banyak staf2 M menengah bawah nyambi semisal jadi maklar, MLM, dll. Saya skeptis dengan modus operandi seperti ini. Lebih baik focus. Kalau mo bisnis sendiri, mending berhenti. Menjadi E lebih berat dari pada M. Jam kerjanya tidak teratur, sasarannya tidak jelas, penuh ketidak pastian, dan resiko2 yang sulit ditebak. Bagi yang memang E-nya kuat, situasi itu mbalah membuat adrenalinnya mendidih.
 
R. Kiyosaki menulis tentang lintas profesi dari karyawan-self employed-bisnis-investor. Ingatkan saya untuk menulis juga lintasan2 ini dari sudut pandang lain. Banyak yang karena berseberangan dengan atasanya, diPHK, punya uang lebih, terpengaruh, dll, meninggalkan pekerjaannya dan mencoba mandiri. Gagal karena tidak menyadari bahwa lintasan2 ini banyak batu sandungannya.



Pertanyaan :
From:   gunto rusyda <gunasp_00@y...>

Al kisah, ada satu perusahaan yg sudah sangat mapan.
saat badai krisis melanda (th 97-98), persh tsb termasuk yg tidak terpengaruh.
Lalu si empunya expansi ke bisnis baru - yang sangat padat modal - by feeling, dengan gaya kurang lebih sama dengan "SIAP-TEMBAK-BIDIK". Belakangan bisnis lama yg sdh mantap di persh tsb sangat2 terancam terpuruk gara2  "kemakan" bisnis baru yang nyusu terus, tidak kunjung bisa di "Sapih".

Artinya E (by feeling - Siap-tembak-bidik) pun kadang2 tidak cukup pas utk memulai bisnis baru ya pak Dhe Broto?

Jawaban :
Yang anda sebut 'feeling' itu adalah entreprenueral judgment yang akan kita bicarakan dalam pembuatan keputusan & otak kiri/kanan. Bisnis yang jalan bagus biasa kita sebut cash cow, atau sapi perah yang dijadikan loko. Kasus seperti yang anda sebutkan itu sering terjadi. Juga banyak terjadi pada skala2 gurem. Kesalahannya terletak pada ketidakmampuan untuk 'berhenti'. Manajemen & Kewirausahaan tergolong 'seni', yang sulit dirumuskan
 
E (yang pekat) selalu diwarnahi sifat expansive, experimental, spekulatip, dan adventorous yang sering kebablasen. M sebaliknya selalu condong ke mapan dan tidak néko2. Kata 'mapan' dalam konotasi negatip bermakna statis atau mandeg. Kata tidak néko2 bermakna tidak kreatip/inovatip. E & M itu walaupun antagonistik, bisa komplementer.
 
Walau sosok kita M, ada bagusnya menyimak karakter E. Ketika anda sudah diatas, E & M makin mirip.

Diposting di Mailing List UGM
Disadur oleh : Dewis Natra

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 12 guests and 17 members online
Generated in 5.22387 Seconds