Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Kaluak paku kacang balimbiang
Buah simantuang penggang-penggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang di petenggangkan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Lebih Assertive dalam Memilih Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Desreza Muslim / Lubuk Lintah   
Minggu, 13 Januari 2008

Semua orang mungkin pernah dihadapkan pada situasi utk harus memilih. Kadang kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama sulitnya; memilih 1 diantara 2 orang utk dijadikan pasangan, untuk berteman atau berpisah, pindah kerja atau tetap bertahan. Dan masih banyak situasi-situasi lain yang relatif sama sulitnya ketika harus memilih. 

Kenapa Memilih Itu Sulit?

Memilih akan menjadi terasa sulit manakala kita selalu menjejali diri dengan berbagai pikiran dan perasaaan untuk selalu mempertimbangakan kondisi ekternal. Pikiran dan perasaan yang berlebihan terhadap kondisi ekternal pada akhirnya tak lain hanya akan melahirkan kekhawatiran akan penerimaan orang-lain terhadap eksitensi pribadi sehingga kita  khawatir akan dinilai tidak etis, merasa orang-lain akan kecewa, timbul perasaan bersalah.Dalam memilih, disatu sisi kita harus mempertimbangkan kondisi di luar diri, namun disisi lain kita juga harus memikirkan kebutuhan internal untuk membangun eksistensi pribadi. Lalu untuk bisa eksis dalam konteks memilih terhindar dari perasaan bersalah haruskah kita mengorbankan kepentingan internal ? atau sebaliknya haruskah kita melupakan kondisi di luar pribadi hanya untuk memenuhi kebutuhan internal agar bisa eksis?. Kalau pilihannya harus mengorbankan kebutuhan internal, lalu apakah kita eksis dan terhindar dari kekecewaan orang lain, dan apakah memang itu yg diinginkan oleh orang lain?. Sebaliknya termasuk egoiskah kita disaat memilih utk memenuhi kebutuhan internal dengan  melupakan perasaan bersalah terhadap orang lain?.

Bagaimana Kita Harus Memilih?

Memilih sama saja dengan bermain distribusi statistika. Dalam dua pilihan tinggal menggeser titik 0  di kuadran yg ada yg akan menentukan posisi kurva. Kalau kita memilih utk mempertimbangakan kondisi ekternal diluar pribadi, maka bisa saja kita terlepas dari perasaan bersalah terhadap orang lain dan lebih merasa eksis di tengah orang lain karena kita merasa bagian dari oranglain sehingga lebih merasa diterima oleh orang lain, dan tentunya dengan konsekwensi kita bisa saja kehilangan kesempatan utk menonjolkan aspek egosentris yg menyangkut kebutuhan internal. Dan bagi yg memilih untuk mendahulukan kebutuhan internal, maka  dengan sendirinya ia telah membangun eksistensinya di tengah2 orang lain dan bisa saja memang ada orang lain yg kecewa akan tetapi itu juga bagian dari konsekwensi yangg sudah harus diterima dalam memilih.Dalam memilih tentu ada sisi plus dan minus dan sebagai individu yg eksis secara pribadi, kadang ego memang dibutuhkan karena justru egolah yg mendorong kita untuk lebih berani menentukan sikap dan memilih apa yang paling kita butuhkan. Lalu egoiskah kita?, tidak berperasaankah kita?. Bukankah itu sebuah konsekwensi dari memilih dua sisi kuadran positif dan negatif?. Selama tidak menyentuh ruang pribadi oranglain, bukankah kita juga berhak menentukan  apa yang paling kita butuhkan?. Mungkin hanya kita yang paling lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk melangkah maju, lalu buat apa kita harus berhenti melangkah hanya demi menutupi perasaan bersalah terhadap aspek-aspek eksternal yg ada di luar pribadi?.

 


Kesimpulan

Mencoba untuk lebih assertive dalam memilih dengan sedikit lebih berani mengkedepankan apa yang kita mau dan butuhkan, karena mungkin hanya kitalah yang paling tahu apa yang paling kita butuhkan untuk bisa eksis dalam melangkah. Dalam pengambilan keputusan tidak ada salahnya mengkedepankan  kepentingan internal  selama tidak keluar dari koridor yang mengusik ruang orang lain .Kalaupun toh ada yang merasa tidak nyaman dengan keputusan yang kita ambil, itu lebih hanya sebagai  konsekwensi yang kita harus ambil dan terima dan itu adalah hal yang biasa dalam pilihan sehingga tidak harus jadi penghalang untuk melangkah.Utk melangkah maju dlm kondisi terburuk sekalipun,   akan lebih baik berjalan dengan keputusan paling realistis yang kita ambil daripada kita tidak menjalankan sesuatu  hanya karena menimbang perasaan, karena menimbang antara realita dan perasaan akan hanya membawa kita pada dua sudut ekstrim untuk menjadi pemenang atau pecundang.

Jadi tinggal pilih mau jadi pemenang atau jadi pecundang sejati. Mau ada perubahan ataukah tetap tertahan pada titik yang sama.

Jakarta, 08 Januari 2008

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Senin, 14 Januari 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Tamu ( 0 ) Tamu 0
  Total  0
 Angoota ( 7,356 ) Angoota  7,356


Statistik
Agg Baru  A2d
Hari Ini 0
Minggu Ini 85
Bulan Ini 401
Tahun ini 3,148
Online Sekarang
    Online Sekarang
    User Terbaru

    penyok

    Terdaftar pada
    2008-07-19 10:28:40

    Pengunjung: 3596905