|
Semua orang mungkin pernah dihadapkan pada situasi utk harus memilih. Kadang kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama sulitnya; memilih 1 diantara 2 orang utk dijadikan pasangan, untuk berteman atau berpisah, pindah kerja atau tetap bertahan. Dan masih banyak situasi-situasi lain yang relatif sama sulitnya ketika harus memilih.
Kenapa Memilih Itu Sulit? Memilih akan menjadi terasa sulit manakala kita selalu menjejali diri dengan berbagai pikiran dan perasaaan untuk selalu mempertimbangakan kondisi ekternal. Pikiran dan perasaan yang berlebihan terhadap kondisi ekternal pada akhirnya tak lain hanya akan melahirkan kekhawatiran akan penerimaan orang-lain terhadap eksitensi pribadi sehingga kita khawatir akan dinilai tidak etis, merasa orang-lain akan kecewa, timbul perasaan bersalah.Dalam memilih, disatu sisi kita harus mempertimbangkan kondisi di luar diri, namun disisi lain kita juga harus memikirkan kebutuhan internal untuk membangun eksistensi pribadi. Lalu untuk bisa eksis dalam konteks memilih terhindar dari perasaan bersalah haruskah kita mengorbankan kepentingan internal ? atau sebaliknya haruskah kita melupakan kondisi di luar pribadi hanya untuk memenuhi kebutuhan internal agar bisa eksis?. Kalau pilihannya harus mengorbankan kebutuhan internal, lalu apakah kita eksis dan terhindar dari kekecewaan orang lain, dan apakah memang itu yg diinginkan oleh orang lain?. Sebaliknya termasuk egoiskah kita disaat memilih utk memenuhi kebutuhan internal dengan melupakan perasaan bersalah terhadap orang lain?.
Bagaimana Kita Harus Memilih? Memilih sama saja dengan bermain distribusi statistika. Dalam dua pilihan tinggal menggeser titik 0 di kuadran yg ada yg akan menentukan posisi kurva. Kalau kita memilih utk mempertimbangakan kondisi ekternal diluar pribadi, maka bisa saja kita terlepas dari perasaan bersalah terhadap orang lain dan lebih merasa eksis di tengah orang lain karena kita merasa bagian dari oranglain sehingga lebih merasa diterima oleh orang lain, dan tentunya dengan konsekwensi kita bisa saja kehilangan kesempatan utk menonjolkan aspek egosentris yg menyangkut kebutuhan internal. Dan bagi yg memilih untuk mendahulukan kebutuhan internal, maka dengan sendirinya ia telah membangun eksistensinya di tengah2 orang lain dan bisa saja memang ada orang lain yg kecewa akan tetapi itu juga bagian dari konsekwensi yangg sudah harus diterima dalam memilih.Dalam memilih tentu ada sisi plus dan minus dan sebagai individu yg eksis secara pribadi, kadang ego memang dibutuhkan karena justru egolah yg mendorong kita untuk lebih berani menentukan sikap dan memilih apa yang paling kita butuhkan. Lalu egoiskah kita?, tidak berperasaankah kita?. Bukankah itu sebuah konsekwensi dari memilih dua sisi kuadran positif dan negatif?. Selama tidak menyentuh ruang pribadi oranglain, bukankah kita juga berhak menentukan apa yang paling kita butuhkan?. Mungkin hanya kita yang paling lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk melangkah maju, lalu buat apa kita harus berhenti melangkah hanya demi menutupi perasaan bersalah terhadap aspek-aspek eksternal yg ada di luar pribadi?. Kesimpulan
Mencoba untuk lebih assertive dalam memilih dengan sedikit lebih berani mengkedepankan apa yang kita mau dan butuhkan, karena mungkin hanya kitalah yang paling tahu apa yang paling kita butuhkan untuk bisa eksis dalam melangkah. Dalam pengambilan keputusan tidak ada salahnya mengkedepankan kepentingan internal selama tidak keluar dari koridor yang mengusik ruang orang lain .Kalaupun toh ada yang merasa tidak nyaman dengan keputusan yang kita ambil, itu lebih hanya sebagai konsekwensi yang kita harus ambil dan terima dan itu adalah hal yang biasa dalam pilihan sehingga tidak harus jadi penghalang untuk melangkah.Utk melangkah maju dlm kondisi terburuk sekalipun, akan lebih baik berjalan dengan keputusan paling realistis yang kita ambil daripada kita tidak menjalankan sesuatu hanya karena menimbang perasaan, karena menimbang antara realita dan perasaan akan hanya membawa kita pada dua sudut ekstrim untuk menjadi pemenang atau pecundang.
Jadi tinggal pilih mau jadi pemenang atau jadi pecundang sejati. Mau ada perubahan ataukah tetap tertahan pada titik yang sama. Jakarta, 08 Januari 2008 Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |