|
Malam ini lampu kota berpijar entah untuk apa ? membuat hati ku galau di dalam rumah kontrakan, yang penuh latah bertumpukan barang yang telah di bungkus. Ku duduk dengan lemas bersandar pada dinding tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa semen, tanpa kayu, tanpa pasir, tanpa batu, tanpa bambu, tanpa besi tuk menatapi tumpukan barang entah untuk apa.
hati ku jadi galau kerena rumah baru tanpa seng, tanpa genteng, tanpa, asbes, tanpa kayu, tanpa daun, tanpa akar, tanpa tali. tanpa bambu telah menunggu ku sebagai tamu agung dari kayangan tanpa istana
ku melangkah kaki ini setapak demi setapak tuk menatap tumpukan harta yang berserakan ini.
ku liat kasur yang empuk,
ku teringat kasur ini dari hasil aku menipu keluarga ku dikampung, entah beribu pelacur yang tidur disini, terlihat banyak ileran bagai peta buta. ???
ku lihat sofa berukiran bunga matahari nan indah bagai gadis-gadis cantik sedang menari,
ku teringat itu hasil curian dari rumah tetangga yang sedang di tinggal mati suaminya hidup bersama 12 anak balita. di sofa ini entah berapa ribu para pejudi mengadu nasipnya, entah berapa ribu remaja sakau entah ????
ku liat permadani berwarna emas berhias intan dengan motif singa lagi mandi bersama gadis dubai impor dari Mesir
ke teringat ini hasil korupsi waktu aku menjabat jadi Ketau RT, entah berapa banyak anggur, tuak, yang tumpah menyiraminya, entah ??
kaki ku gementar entah kenapa namun ku coba melangkah ke sebuah peti tua
ku jengok sebuah peti rapuh yang tlah di makan rayap, ku buka ku lihat tiga ekor anak tikus sedang menangis di balik kuali warisan ibu ku waktu ku sekolah dulu,
ku teringat pesan ibu, anak ku sayang ini kuali ibu beli dari hasil menjual sirih di pasar tadi pagi, bawalah dan masak resep apa aja yang kamu dapatkan, masak dengan tangan mu yang suci, ingat budaya mu.
dengan berlinang air mata ku melihat sebuah kompor yang sudah kropos di telan karatan bekas terbakar entah berapa lama.
ku teringat pesan bapak ku, nak ini kompor bapak dapatkan dari nenek mu dulu, panasilah hati mu, makanan mu dengan resep budaya, adat dari ibu mu
ku buka sebuah bungkusan dari daftar nila ku dulu, ku melihat dua ekor kecoak sedang bersedih entah kenapa? ku tatap sebuah sejadah tua memancar cahaya emas berkilau intang di balik pelangi diatas merapi
ku menganang pesan tentangga, teman, sahabat karib, saudaraku saat mempersembahkan sebuah kado "bung bawalah ini pemberian kami, bersujudlah dengan iklas, dengan keiman, dengan ketaqwaan yakinlah kamu akan menang. aku ?????????
entah berapa abat peti ini tak pernah ku jengok
aku gaduh yang mana akan ku bawa di gang ini tidak mobil tidak ada becak tidak ada ojek, tidak ada tetangga. kontrakan baru ku tlah menunggu????? aku tidak bisa kembali lagi...
dengan kaki teluka, hati bernanah, kepala begelumuran darah ku harus pergi membaya peti tua tampa harta, tuk mengejar impian.....
selamat tahun baru hijjiriyah 1429 semoga kita pindah dari.......
Trackback(0)
|