|
Penting dipahami bahwa membuat keputusan itu esensinya kesanggupan bertanggung jawab. Yang saya amati, banyak diantara peniti karir muda yang sebenarnya opini2nya cemerlang tetapi karena kurang berani, orang lain yang mendapat berkah.
Untuk itu, saya sarankan untuk belajar mau memikul tanggung jawab. Semula memang mencemaskan, lama2 akan terbiasa. Jika anda gemar membuat keputusan, maka di M/E adalah sorga karena anda bisa bum, bum, bum, bak koboi menghamburkan peluru. Makin tinggi posisi makin heboh. Tetapi jika anda terjebak pada posisi non decisive kegemaran anda bisa padam. Birokrasi2 & organisasi2 yang besar, komplex serta mapan, pada jajaran bawah sudah memiliki sistim yang mengambil alih proses pembuatan keputusan. Sudah ada SOP, aturan2, dan segala macam formalitas. Tempat ini adalah sorga bagi mereka yang enggan membuat keputusan. Yang perlu dilakukan adalah 'sesuai prosedur'. Jika ada yang salah, ia bisa menghindari tanggung jawab dengan mengkambing hitamkan sistim. Yang penting dalam situasi seperti ini adalah do things right seperti yang kita bicarakan. Semudah inipun banyak yang gagal. Bukan karena bodoh, justru sifat telaten lebih dibutuhkan. Perbankan pada level entry adalah sistim yang ketat dimana pengambilan keputusan by sistem animously. Justru pada perusahaan2 menengah, peluang mendapat posisi decisive lebih baik. Akirnya, semua terpulang pada yang menjalani. Keputusan2 punya matra2, yaitu matra waktu dan nilai. Ketika kita masih dibawah, keputusan2 kita masih berjangka pendek. Semacam to do tomorrow, sampai keputusan yang berlaku seminggu, sebulan, triwulan, dst. Makin tinggi posisi, matra waktu makin panjang. Seorang pimpro membuat keputusan seumur project itu, misal setahun. Direktur harus membuat keputusan, say 5 tahun. Nilai keputusan semula kecil, makin lama makin besar dengan naiknya jabatan. Seorang eksekutip puncak bisa membuat keputusan bernilai triliunan. Untuk memantau kemajuan karir anda, bisa anda simak matra keputusan2 anda. Keputusan2 seringkali herupakan keputusan individual. Ada juga mutual decision, atau keputusan bersama yang dibuat lebih dari satu orang. Ini namanya membuat kesepakatan atau deal making. Keputusan kroyokan disebut collective decision. Dalam bahasa Asmuni namanya musyowaroh. Kecakapan2 membuat kesepakatan sering berujud negosiasi dan kecakapan ini penting. Tidak hanya nego dengan penjual/pembeli tetapi nego dengan atasan, bawahan, sejawat, pihak ketiga, dll. Semakin tinggi posisi semakin banyak kesepakatan2 dan musyowaroh2 yang harus dijalani. Tetapi, semua itu pondasinya membuat keputusan. Membuat keputusan (bisa) susah. Apalagi membuat kesepakatan karena ada dua atau lebih pihak yang (bisa) berseberangan. Anda akan mengalami berbagai taktik semisal intimidasi, tekanan, provokasi, menyudutkan, persuasi, janji2 gombial, dls dalam mencapai kesepakatan. Kesepakatan yang baik adalah kesepakatan yang menguntungkan ke-dua2nya. Win-win solution atau dalam bahasa Jowo : podojoyonyo. Sama2 menang. Celakanya, tidak selalu seindah itu. Terkadang harus ada yang 'kalah'. Salah satu jadi bothongo (bangkai). Terkadang, kita yang kalah. Ciloko. Musysowaroh tambah2 rumitnya. Sedemikian rupa sehingga anda harus mengembangkan kecakapan interpersonal. Umumnya E piawai dalam deal making karena memiliki sifat interpersonal yang fleksibel. M lebih 'kaku'. Mereka yang pandai dalam deal making hendaknya menyadari bahwa itu aset bernilai tinggi. Donald Trump, Adnan Kasogi, Kohlberg, Onasis adalah contoh2 deal maker kaliber mega. Adam Malik dulu terkenal sebagai politisi yang pandai deal making. Ucapannya yang terkenal adalah, .... itu bisa diatuuuuuur. Omong apapun dengan beliau selalu berujung .... itu bisa diatuuuur. Semakin tinggi semakin dilematis masalah2 yang kita hadapi. Bak buah simalakama. Ini akan beruntun sehingga terkadang anda terhenyak dipuncak. Sendirian kesepian tanpa ada yang bisa membantu. Anda harus membuat keputusan2 yang pahit, yang menyayat hati, yang menggores kalbu. Dalam kegalauan dan keraguan nan mencekam. Tetapi kawan, pemandangan diatas indah. Indah sekali, ..... Masih belon selesai ...... bagaimana caranya kita membuat keputusan yang bagus ? ..... Selamat berakir pekan
Suplement Mangerialship (5b) Sejauh ini telah kita inventariskan karakter2 yang diperlukan sebagai M 1. Mampu memimimpin 2. Pintar dalam arti memiliki ability yang dibutuhkan. 3. Kepastian (definitness), Keteraturan (order), dan Kesinambungan (continuity) 4. Mengerjakan dengan baik dan benar (do things right) sesuai target atau ketentuan. 5. Do right things manakala dibutuhkan 6. Sikap M : Ready - Aim - Fire (Siap - bidik - tembak) 7. Bersifat decisive, tegas, dan konsisten 8. Berani mempertanggung jawabkan keputusan2nya 9. Mampu membuat kesepakatan (deal maker) dan bermusyowaroh
Pertanyaan2 berjawab Ada yang ketinggalan, latar belakang pendidikan saya. - SD sampai SMU prestasi biasa2 saja. Nilai rata2 cuma 6.5an, ada merahnya. Bagus hanya ilmu2 pasti & alam, rata2 7.5-8. Ada satu dua yang nilainya 9. - Teknik Mesin, nilai cuma C-B, ada yang D, ada satu dua yang a. - MM-UI jurusan Internasional. Rangking ke-4 dari ...... bawah. Hihihihi ..... - Psiko-UI tidak jadi maju karena bahan thesis dinilai 'kurang spesifik'. Akirnya mundur. - STF (filsafat) Driyarkara, belum mulai. Masih aras2en Saya tidak pandai walau tidak bisa dibilang bodoh dan anda2 yang prestasi akademiknya èng ing èng tidak perlu berkecil hati.
Kebebasan finansial Ada yang menanyakan apakah saya mencapai kebebasan finansial dalam usia dini dikarenakan aktivitas nyambi, investasi atau punya sumber2 penghasilan lain ? Dengan bercanda ia tanya, korupsi ? Wuah, ini sebenarnya terlalu pribadi tetapi apa boleh buat. Tidak, saya tidak nyambi dan tidak perlu korupsi karena penghasilan saya besar. Penghasilan saya hanya dari gaji + bonus. Pas ketika boom orba. Perusahaan saya 'merajalela'. Penghasilan2 ini sebagian (besar) saya investasikan untuk modal kerja perusahaan dan mendapatkan imbalan bunga atas resiko yang saya pikul. Resiko ? Hehehehe, .... resikonya nyaris nol karena saya yang pegang perusahaan tahu persis bahwa perusahaan pasti laba. Lagi pula, jika terjadi apa2 saya bisa selamatkan harta saya. Saya kreditor istimewa. Ini namanya curang .... hihihi. Investasi2 itu karena tidak pernah saya ambil jadi efek bunga majemuk yang bak bola salju bikin makin montok. Bahkan makin ginuk2 karena saya terus menerus menginjeksikan gaji + bonus kesitu. Plus tambahan gaji sebagai direktur di Malaysia dan Divisi Akustik. Akibatnya aset saya menggelembung cepat. Sebelum krismon saya telah mendollah($) kan aset saya. Makin mblegendu. Pada saat yang tepat dollah2 saya rupiahkan. R. Kiyosaki benar bahwa kekayaan (lebih) berasal dari Investasi tetapi kusus untuk kasus saya, resikonya minimal. Saya sosok M yang risk minimalis, tidak menyukai resiko yang tak terukur. Investasi yang saya lakukan resikonya nyaris nol. Nanti kita bicarakan risk minimalis. Keberuntungan ? Itu adalah hak observer dalam menilai. Bagi saya Luck = preparation + opportunity. Saya sudah mempersiapkan diri untuk luck dan saya jeli 'menciptakan' peluang investasi dengan resiko = 0 dengan imbalan bikin liur menetes. Saya berhasil deal dengan perusahaan induk di Jerman untuk 'nitip' uang saya dengan imbalan bagus, kira2 > 2x deposito atau 1.5 x kredit bank. Padahal saat itu deposito > 18%. Bagi saya, itu bukan luck tetapi hasil jerih payah saya ngglembök (bujuk) si Jerman. Si Jermanpun diuntungkan karena (saat itu) ia sedang membutuhkan dananya untuk subsidiary Singapore yang rugi melulu. Yang membuat saya bahagia, saya juga menginvestasikan uang karyawan2. Ketika saya lengser, dalam upacara kecil saya bagi2kan uang para karyawan yang sudah mblegendu. A happy ending. Artikel managerialship saya postingkan sebagai 'preparation', bagi anda2 yang bersiap keatas. Dengan membuat 'mind-set' anda seperti itu, ketika opportunity datang anda siap menyambar. Yang namanya opportunity itu biangane, datang & pergi sesuka hati tanpa kulonuwön, tanpa pamitan. Tau2 mak bedengus didepan kita. Kalau tidak punya 'preparation', kita kedodoran dan luck disabet orang. Kita kebagian mrongos thok. There is no luck. All you have are preparations and oppotunities. Remember, opportunity never knock, they just mak bedengus. Be prepared
Diposting di Mailing List UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|