|
Dangki/dengki ( hasad ) merupakan penyakit kronis yang hinggap dihati manusia, penyakit akan terus menggerogoti hati dan akan membuat fungsi hati menjadi rusak. Adapun gejala dari penyakit ini dapat kita rasakan pada diri kita masing-masing diantaranya adalah :
1. Badatak hati ( detak hati ) pada tahap ini penderita sudah mulai ada rasa curiga dan rasa kurang percaya terhadap orang lain ( su ul zhan)
2. Patah hati, pada tahap kedua ini bertambah parah, selain curiga dan buruk sangka juga kehilangan semangat untuk bergaul secara baik dengan orang lain pada tahap biasanya sudah mulai mencari kambing hitam.
3. Busuk hati, pada tahap ini adalah tahap yang sudah kritis, karena bukan saja dirasakan oleh sipenderita tapi juga dapat membahayakan kepada orang lain disekitarnya. Pada tahap inilah munculnya sifat dengki ( hasad ) itu. Bagi seorang pendengki tidak ada hal yang menyenangkan, dia bagaikan musuh dalam selimut. Setidaknya ada 4 SMS bagi pendengki : Senang melihat orang susah, senang melihat orang lain sakit, senang melihat orang lain sesat dan senang melihat orang lain sengsara. Sifat ini dalam adat digambarkan " Manuhuak kawan sairiang, mangguntiang dalam lipatan, tunjuak luruih kalingkiang bakaik "
Bagi orang pendengki akan merasa senang jika sikaya itu jatuh miskin, pejabat itu turun dari jabatannya, dan yang dimulyakan ditengah masyarakat mendapat kehinaan, kendatipun apa yang hilang pada orang tersebut tidak dapat berpindah kepadanya.
Mari kita berdo' a agar terhindar dari penyakit dengki, sebagai wujud kasih sayang terhadap diri kita sebelum mengasihi dan menyayangi orang lain. Karena dengki terhdap orang lain sama halnya kita meletakan beban berat secara terus menerus kepada diri kita yang akan mengakibatkan, kegalauan, kegelisahan dan akan menutup diri kita kepada orang lain.
Dr. 'Aidh Al Qarni dalam bukunya La Tahzan mengatakan : Seorang pendengki ibarat orang yang menyalakan pemanggang roti, lalu setelah panas ia menceburkan diri sendiri kedalam pemanggang itu. Keresahan, kecemasan dan kegelisahan merupakan penyakit-penyakit yang dilahirkan oleh sifat dengki untuk mengakhiri ketentraman,kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Bencana besar yang menimpa seorang pendengki adalah dikarenakan ia selalu melawan qadha ( ketentuan Allah ), menuduh Allah tidak adil dalam kebijakanNya, melecehkan syari'at dan selalu menyeleweng dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw.
Disamping kita berdo'a agar terhindar dari penyakit ini, selayaknya kita juga berhati-hati terhadap orang yang memiliki sifat dengki tersebut. Pendengki bagaikan seeokor kucing, kendatipun dia binatang jinak, namun dibalik kaki yang lembut ada kuku yang tajam setiap saat siap mencakar kita, dibalik hidung yang dingin tersimpan taring yang tajam dan berbisa, dan pada setiap mangsanya jarang sekali mengeluarkan darah namun jarang yang lepas dari maut.
Moga kita semua terhindar dari penyakit ini dan jauh dari kejahatan orang yang pendengki amin....
|
1. Tarimo kasih Ditulis oleh ktm pada Kamis, 13 Maret 2008 Dalam beberapa hal saya setuju dengan komentar Danktuanku, memang untuk layaknya sebuah tulisan itu dilengkapi degnan referensi yang lengkap dan jelas. Namun untuk sama diketahui Hadist itu banyak pula tingkatannya, ada shahih, mutawatir, masyhur, Dhaif, dan untuk mengetahui hadist itu sahiah atau tidaknya tidak cukup dengan memegang satu atau dua buah buku saja, harus juga tahu mursalah hadist, dan itupun adalagi hadist kudsi yang tidak ada perawinya. Saya kira 2 buah Hadist yang termuat dalam tulisan Rumput Hijau itu adalah hadist yang telah populer dan boleh dilihat dari berbagai buku pikih tentang fasal munakahat. Kedua Hadist tersebut Asbabunnurudnya adalah jelas dan tegas. Saya cuma berharap jika sesuatu yang tidak/ belum kita ketahui jangan lancang mengatakan tidak ada. Memang diakui Orang yang paling mulya dsisi Allah adalah orang yang taqwa kepadaNya, namun barangkali tidak cukup dengan taqwa saja, tentu ada proses perjalanannya menjelang sampai kederjat taqwa tersebut, dan salah satu dari ciri orang bertaqwa itu adalah orang yang selektif dalam mengambil sikap ( baca buku Mutiara akhlak Ashbi Ashidqi ). Namun tidak ada gading yang tak retak dan tidaklah manusia namanya kalau tidak berkerangan, karena maha sempurna itu adalah pemilik yang sempurna Allah Swt. Menurut saya yang juga masih mengakui sebagai orang minang seharusnyalah kita sama mengingatkan, menjaga, dunsanak kita baik yang ada dirantau mapun yang dikampung : maminteh sabalun hanyuik, malantai sabalun lapuak, ingek sabalun kanai, karena sudah banyak korban dari hubungan lewat kontak jodoh dan chating tersebut. Terakhir saya sudahi dengan sebuah cerita, ado seorang tukang nan baru sajo salasai malepoh/memplaster rumah orang, kebetulan lepohnya bukan hanya semen dan pasir saja tapi juga dicampur dengan kapur. Begitu dia selesai bekerja, dia lansung mencuci tangannya dengan sabun, namun tangan tak kunjung bersih dan tetap kelihatan memutih. Kemudian dia bertanya kepada bosnya dengan apa dicuci tangan ini bos supaya bisa bersih katanya, lantas bos ini menjawab sabun campur dengan asam kapeh, tanpa pikir si tukang ini lansung mengambil sebuah asam dan ia bersihkanlah seperti yang dianjurkan oleh bosnya tadi, namun ia agak menjerit karena ia merasakan tangannya pedih, lantas dia beri tahu lagi kepada bosnya itu, bos kenapa tangan saya menjadi pedih, seketika itu juga bos ini menjawab, itu tandanya tangan kamu luka, jika tangan kamu tidak ada yang terluka pasti tidak akan pedih kata bos tadi, jangan asam pula yang kamu salahkan kata bos ini melanjutkan omongannya. Mohon maaf jika kurang berkenan.
|
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |