|
(Dimuat di Koran Tempo, 2 Desember 2007) LUP dup. Lup dup. Lup dup
Sesuara itu seperti menyembul dari masa lalu.
Ia mendengarnya, seolah tiada suara lain yang ingin bersuara. Suara yang keluar dari sunyi yang kelam, berderam menghantam-hantam gendang telinga dari dalam. Adakah angin basah sanggup meredam, ataukah suara gelincir air bandar? Ia berharap sesuara itu hanyalah membuat tubuhnya sedikit bergetar.
Telah dua pekan, bulan di kampung tidak lagi serupa sampan yang dinaungi panji putih gading dan asin garam peluh nelayan. Purnama telah tiba, di atas pesisir ia menyala menjelma neon raksasa yang membiarkan siluetnya ditawan riak di ufuk laut. Dari pantai Purus, getaran itu mengalun lurus sampai ke dataran tinggi, di mana anak-anak sungai Batang Kuranji pergi menyepi ke jalannya sendiri-sendiri. Di sanalah ia mendengar dunia menjadi sunyi.
Ia ingin menjilat air embun, tetapi ia tak dapat mengetahui gerangan apa yang menunggu di luar sana. Adakah sebuah pagi, sore, siang, ataukah malam? Kenyataan paling buruk adalah jika di luar sana ada sebuah waktu yang cepat, matra yang berlipat-lipat. Dari celah dinding matanya yang sedikit retak, dapat ia dengar suara jangkrik dan ikan-ikan nila yang berkecipak. Tapi ia tak mau membuka mata, seperti ketika membuka jendela biliknya lalu membiarkan ular pohon berbaring di ranjangnya untuk yang kedua kali. Tidak, ia tak pernah ingin membuka jendela, bahkan ketika siang hari sekalipun.
Kini tubuhnya terbekap mendatar. Ia yakin ia tak berdiri, sebab ketika mencoba menggerakkan tubuhnya ke depan tak ia rasakan gaya tarik bumi yang kelak menjatuhkannya. Sebaliknya, ia tak dapat bergerak sama sekali. Tangannya terikat lilitan entah kain apa, yang membalut seluruh tubuhnya. Barangkali seperti mumi, tubuhnya dibalut tanpa dibalsami. Tetap ia tak ingin membuka matanya sebelum ia mendengar sesuara yang dikenalnya selain suara dalam tubuhnya. Lup dup. Suara jangkrik makin mengecil. Ia beranggapan, pasti di hadapannya adalah sebuah malam yang menyediakan tempat untuk serangga-serangga bersenandung. Pasti ada juga kolam dan sungai yang mengalir di dekatnya. Kecipak air keras sekali. Lup dup.
Jari kedua tangannya dapat bergerak. Lilitan kain itu memberi celah bagi ujung tangannya untuk meraba-raba. Pembaringannya berbahan kayu. Tetapi ia dapat mencium bau tanah. Basah. Mungkin di luar lanskap kayu ini adalah tanah. Ia mengetuk dengan jari. Astaga, kuku telunjuknya panjang sekali. Ia dapat mengetuk dengan keras. Adakah yang dapat mendengarnya? Ia tak dapat berbicara karena mulutnya yang tersumpal. Maka ia terus mengetuk.
Ia mengetuk tiga kali dengan cepat, lalu ketukan biasa tiga kali, dan disambung seperti ketukan pertama. Ia mengulangnya berkali-kali. Kode morse. Ia berharap ada yang mengerti tanda yang dipelajarinya dari buku-buku bacaan ayahnya itu. Ia terus mengulang ketukan itu dengan kedua jari tangannya bergantian.
Sesuara dari tubuhnya makin kencang seiring kerasnya ketukan jarinya. Lup dup. Ia mencoba hening, maka suara yang makin cepat itu melambat. Seperti semula. Di luar sana hanyalah sehamparan tanah bekas pesawahan. Sisa-sisa pematang masih terbentuk, ditumbuhi batang talas dan rumput-rumput tak beraturan. Ada sebuah tebat, kolam lama yang tak ada lagi pemiliknya. Ikan-ikan terjebak dan berkembang biak di situ saat hujan besar datang. Tanah yang menguburnya sudah tergerus air bah yang sering turun dari sarasah Limaumanih. Dulu, entah beberapa puluh tahun yang lalu, tanah itu masih sedalam tiga meter. Hujan besar datang, banjir bandang, menghabiskan sebagian tanah dan menghanyutkannya ke sungai Batang Kuranji. Banyak air meresap ke dalam sisa tanah dan melembabkan tubuhnya.
Kini tanah itu hanya sedalam dua jengkal. Maka ia dapat mendengar suara-suara dari luar sana. Suara kicau burung, deras air. Suara gerusan. Ada yang menggerus-gerus tanah di atasnya. Ia juga mendengar dengusan. Dengusan napas manusia atau apa ia tidak tahu, bahkan ia pun sebenarnya tak tahu dunia apa yang menunggunya. Dari suara gerusan tanah, berubah menjadi sedikit keras. Semakin dekat. Gerusan itu mengenai papan kayu di atasnya. Braak! Sesuatu terjeblos dan mengenai tubuhnya. ANJING menyalak.
Ia merasakan tanahnya terguncang dan berjatuhan, posisi tubuhnya menjadi curam. Ada yang menariknya keluar dari tanah. Ia ingin membuka mata, tetapi matanya seolah tidak lagi memiliki bola dan pupil, atau hanya tinggal lubangnya saja? Sungguh tak dapat ia lihat apa yang dihadapinya itu.
"Ada mayat! Ada mayat di sini!" seseorang berteriak. Suara laki-laki.
"Ihh, sudah tinggalkan saja!" seorang lagi menyahut.
Anjing terus menyalak-nyalak. Suaranya makin mengecil, derap langkah, makin menjauh, lantas menghilang.
Mereka hanyalah para pemburu babi. Musim berburu telah tiba. Biasanya mereka mengajak anjing-anjing mereka ke kaki Bukit Nago, ke Sungkai yang merah tanahnya. Di sana rumah masih sedikit, lebih banyak rimba-rimba. Berbondong-bondong para pemburu pergi ke sana naik motor dan mobil.
Seorang pemburu lain menghampiri tubuhnya yang terbaring kaku. Pemburu itu menutup hidung, sementara sebilah belati dikeluarkan dari ikat pinggang. Ia merasakannya, ada langkah-langkah ganjil. Sesuara dari tubuhnya kembali menjadi cepat. Lup dup. Adakah ketakutan yang tiba ketika suara itu makin cepat?
Ia mencoba tidak bergeming, tetapi suara itu jadi mengeras. Sayatan belati merobek kain yang melilitnya. Kedua tangannya yang terbujur kaku menjadi terkulai. Ada yang menendang tubuhnya. Ada yang menaikkan kepalanya. Lalu badannya ditendang sekali lagi. Ia tetap bergeming. Namun orang itu seperti berusaha memastikan apakah ia benar-benar tidak bergerak. Barangkali suara itu. Terlalu keras.
Lup dup.
Ada yang menaikkan kepalanya dengan menjambak rambutnya. Kemudian kepalanya dihempaskan. Ia mencoba menahan sakit. Dari jauh ada lagi yang datang. Suara langkah cepat sekali. Mungkin berlari.
"Ada apa?"
"Ada mayat. Perempuan."
"Ini jenazah."
"Bukan! Jenazah tidak memakai kebaya ketika dikafani."
"Aneh. Kebayanya seperti yang dipakai nenekku. Kain bugis. Tapi perempuan itu masih tampak kemudaannya kecuali kulitnya yang mengkerut. Jangan-jangan makhluk jadi-jadian?"
"Asal bicara saja kau, Sanak! Ini tahun 2000-an, tak ada yang begituan lagi."
Ia mendengar mereka bersicakap. Ketika itu, sadarlah bahwa ia telah menjadi mayat. Akan tetapi ia sangat ingat, sejam yang lalu ia masih berada di atas tempat tidur sambil menyisir rambut. Ia bercermin sambil berderai air mata. Lusanya ia akan menikah dengan seorang Belanda pemilik gudang-gudang di dekat pelabuhan. Ayahnya salah satu pemimpin adat sekaligus agen kolonial Belanda pada saat itu. Ayahnya itu berutang banyak sekali kepada kompeni, sedang dia tak sanggup untuk membayarnya. Maka dipaksalah anaknya kawin.
Malamnya ia mencoba tidur, tapi sulit sekali. Akhirnya menjelang pagi barulah ia dapat terlelap. Sampai siang, ia tak juga bangun. Pintu biliknya didobrak. Ibunya mengguncang-guncang tubuhnya. Tidak juga ia bangun. Ayahnya memanggil mantri keluarga. Diperiksa denyut nadinya, tak ada. Ia dinyatakan mati. Lup dup. Orang-orang tak dapat merasakan suara denyut nadinya, detak jantungnya. Bila saja ada kardiogram saat itu, barangkali suara yang kerap didengar dari tubuhnya dapat menggelombangkan garis lurus mendatar di layar. Tetapi suara itu menjadi tak berarti. Lup dup. Sesuara aneh yang entah datang dari mana. Mereka menghiraukannya.
Betapa Tuan Belanda itu terpukul mengetahui calon istrinya mati. Dia sudah terlanjur terpukau pada perempuan itu. Tak dapat dia rundung kepiluan hatinya, maka dia suruh orang-orang membawa mayatnya ke rumahnya. Dia ingin melihat sekali lagi wajah seseorang yang dicintainya. Dan entah bagaimana jadinya, mayatnya dikuburkan di dataran tinggi, jauh dari kota. Pagar-pagar bambu dipancangkan di sekitar makam yang nisannya berbahan pualam itu.
Sudah lama sekali. Kira-kira 169 tahun yang lalu.
Kini tubuhnya ditemukan dua orang pemburu babi di area bekas pesawahan dekat sungai. Tubuhnya utuh. Masih terbalut kulit walaupun telah lusuh dan keriput dimakan waktu. Begitu pula kuku-kukunya yang memanjang, juga rambutnya, terus tumbuh sampai ke ujung kaki bila saja digeraikan. Hanya matanya yang hilang. Mungkin dimakan belatung. Lalu gerangan apa yang membuatnya hidup kembali? Apakah ia hanya tertidur? Rasanya baru saja ia tertidur, itu yang ia alami, kira-kira tak sampai sejam yang lalu. Apakah kecepatan cahaya yang membawanya? Sungguh tidak ada benda apa pun di alam semesta yang bisa dipercepat mencapai kecepatan cahaya. Benda tersebut bakal hancur, menyemburat menjadi zarah-zarah kecil subatomik. Tetapi ketika itu ia tidaklah benda, bukan pula makhluk hidup. Ia hanya sebuah zarah proton yang tersesat dalam mimpinya sendiri.
"GILA, panjang sekali rambutnya."
"Hei, matanya tak ada, seolah-olah sudah dicungkil."
Para pemburu itu masih di sana mengamati tubuhnya. Mereka membalik-balikkan tubuhnya dengan kaki. Ia teguh untuk tidak bergeming sebelum ia tahu apa yang dihadapinya. Sebuah batang kayu menyentuh sumpalan mulutnya. Mereka membuka sumpalan itu. Sekarang ia dapat berbicara. Tapi suaranya tak mau keluar. Orang-orang itu memasukkan batang kayu ke mulutnya agar dapat terbuka.
"Hei, giginya masih utuh!"
Giginya memang masih utuh, namun saat mereka sentuh menggunakan kayu itu, gigi-giginya langsung rontok seketika. Ia terus mencoba bersuara. Ia berteriak. Keras sekali. Para pemburu itu terkejut, mereka langsung mengambil parang dan belati, lalu menusukkan ke tubuhnya berkali-kali. Ia menggelinjang, ia kesakitan. Darah-darah membasahi kain kebayanya. Teriakannya menjadi parau. Anjing menyalak-nyalak. Orang-orang itu terus menghunjamkan senjata tajam ke tubuhnya, sampai ia tak bergerak, sampai ia mati kembali.
Tubuhnya terkulai. Mulutnya menganga dengan kepala menyamping. Ia sudah tak bergerak lagi. Orang-orang itu menendangnya, ia tetap tak bergerak. Terdengar suara langkah-langkah berlari menghampirinya.
"Sudah mati."
Banyak orang berdatangan. Pertanyaan mereka membuat kebisingan, hingga tak dapat mereka dengar sesuara lain yang datang dari tubuhnya. Lup dup. Lup dup. Lup dup. Lup.
Dup. Lup. Dup. Lup. Dup.
Lup.
Dup.
Lup...
Ilalangsenja, 8 November 2007 Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |