Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Sjech M. Djamil Djambek PDF Print E-mail
Written by Afrinaldi   
Monday, 04 February 2008

ImageSjech M. Djamil Djambek Ulama Inovator

MINANGKABAU memiliki kegemilangan masa lalu, sebagai “mata air” kearifan dan keilmuan, tempat orang ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito , bertanya rumpun ilmu religi, sehingga berbagai etnis dari pelosok nusantara —bahkan mancanegara— ber­bondong-bondong untuk belajar Islam dan berbagai ilmu lainnya ke Ranah Minang.

Memperingati 100 tahun Surau Sjech M. Djamil Djambek (1908-2008) Yayasan Sjech M. Djamil Djambek Jakarta yang dipimpin H. Sudirman Suwin, SE sekaligus cucu inyiak Djambek menggagas kerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berencana menggelar perhelatan spiritual dan pengembangan keilmuan, dengan tujuan melacak jejak dan kirah ulama pelopor pembaharuan Islam dari Sumbar yang dikenal dengan sebutan Inyiak Djambek.
Di awal abad 20, Inyiak Djambek dikenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka, dan mendirikan rumah ibadah yang dikenal dengan Surau Sjech M. Djamil Djambek pada tahun 1908 atau tepatnya seabad yang lalu. Inyiak Djambek memang telah lama meninggalkan kita, sebagai ulama Inyiak Djambek tidak hanya meninggalkan karya-karya besar dalam bentuk manuskrip, tradisi lisan, bahasa dan sastra, kelem­bagaan tradisional, buku dan naskah-naskah kuno dalam bahasa Arab Melayu, tetapi Beliau juga mewariskan Surau sebagai asset lokal alam tamadun kejayaan Islam Minangkabau pada tempo dulu, tentu dengan harapan dihari-hari mendatang akan dikembangkan oleh generasi penerus (keluarga dan masyarakat Islam) sesuai dengan kebutuhan zaman. Untuk menggali khazanah keulamaan dan keintelektualan Inyiak Djambek itu, Panitia Pelaksana mengagendakan tiga kegiatan akhbar selama tiga hari yang dipusatkan di Surau Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kegiatan ini diangkatkan bertepatan dengan tanggal kelahiran Inyiak Djambek pada 2 Februari.
Pada hari pertama akan dilaksanakan Sabtu (2/2), Seminar Nasional Pendidikan menghadirkan empat narasumber Prof. Dr. H. a. Rahman Ritonga, MA (STAIN Bukittinggi), Dr. Yalvema Miaz, MA (kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi), Dr. Suhaimi Nurusman (Univer­sitas Al-Azhar Jakarta) dan Drs. Ridwan, M.Pd (kepala SMA 1 Padang Panjang). Acara ini akan dibuka dan dihantarkan oleh Prof. Dr. Syafe'i Ma'arif sekaligus sebagai keynote speaker. Pada hari kedua Minggu (3/2), akan dilaksanakan bedah buku yang ditulis Dr. Syafe'i Antonio, M.Ec (Pakar Perbankan Syariah) berjudul: Muhammad Super Leader and Super Manager yang akan dibahas oleh Dr. H Ismail Novel, M.Ag (ketua STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi) acara ini akan dibuka secara resmi oleh Menteri Sosial RI dan dihadiri Guberbur Sumbar, Walikota Bukittinggi dan Bupati Agam. Pada hari ketiga, Selasa (5/2), dilaksanakan Tablig Akbar, menghadirkan dua orang penceramah yakni dai kondang dari Jakarta Ustadz Yusuf Mansyur dan Buya Mas'oed Abidin dari Padang. Selama perhelatan ini berlangsung acara akan dipandu oleh bintang sine­tron dan presenter Adrian Maulana dan Zaskia Mecca yang juga berasal dari keturunan Inyiak Djambek.
Menapaki jejak
Ketika berusia 22 tahun, Sjech M. Djamil Djambek dibawa ayahnya berguru kepada Sjech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Awalnya M. Djamil Djambek tertarik untuk mempelajari ilmu sihir. Namun beliau disadarkan dan diinsyafkan oleh gurunya tersebut. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang beliau dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais. Dengan pendalaman tersebut Sjech M. Djamil Djambek menjadi seor­ang ahli tarekat, bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsaban­diyyah-Khalidiyah. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai berubah. Sjech. M. Djamil Djambek tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padangpanjang, Sjech. M. Djamil Djambek berada di pihak yang menentang tarekat. Dia “berhadapan” dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat.
Salah satu penjelasan dalam buku yang berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan segala yang berhubun­gan dengan Dia (Allah SWT), dinyatakan bahasa tarekat Naksyaban­diyyah diciptakan oleh orang Persia dan India. Sjech. M. Djamil Djambek menyebut orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam. Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan pembaruan pemikiran Islam. Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Sjech. M. Djamil Djambek mendirikan organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Mi­nangkabau dengan tujuan untuk memelihara, menghargai, dan mencin­tai adat istiadat setempat. Di samping untuk memelihara dan mengusahakan agar Islam terhindar dari bahaya yang dapat merusaknya. Selain itu, beliau juga turut menghadiri kongres pertama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak kalah pentingnya dalam perjala­nan dakwahnya, pada masa pendudukan Jepang, Sjech. M. Djamil Djambek mendirikan Majelis Islam Tinggi (MIT) berpusat di Bukit­tinggi, dan tetap menjalankan aktifitas dakwah, meskipun mendapat tantangan dari penjajah Jepang.
Pada tahun 1903, beliau kembali ke tanah air dan memilih menga­malkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Sjech. M. Djamil Djambek dihormati sebagai Sjech Tarekat. Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan keaga­maan di Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam , Sjech. M. Djamil Djambek juga dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Melayu. Membaca riwayat Inyiak Djambek mengingatkan kita kepada perjuan­gan dan karya-karya besar yang dilahirkannya. Hasil karya besar ini tentu tidak akan bernilai kalau tidak dikembangkan dalam bentuk penelitian dan pengembangan-pengembangan kegiatan ilmiah oleh para ilmuan dan kaum cendikia.
Harapan kita dengan diangkatkannya seminar, bedah buku dan ta­bligh akhbar dihari peringan 100 tahun surau Inyiak Djambek mengingatkan masyarakat Islam Minangkabau khususnya Pemprov Sumbar dan Pemko Bukittinggi, bahwa perlu penyelamatan asset lokal warisan Inyiak Djambek untuk diwarisi dan dikembangkan dalam bentuk Pusat Studi dan Penelitian serta pustaka Inyiak Djambek. Maka seluruh karya-karya besar Beliau dapat bermanfaat dan menjadi pedoman bagi peradaban dunia Islam di masa-masa mendatang. oPenulis adalah dosen STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Sekretaris Panitia Pelaksana Peringatan 100 Tahun Surau Sjech M Djamil Djambek

 

Trackback(0)
Comments (3)add comment

ong said:

syukurku hanya kepada ALLAH rabbku..
insyaALLah kt berusaha mengembalikan ajaran ISLAM kepada tauhid yang benar menurut rabbku. yang dicontohkan rasulALLAH. aminn
 
report abuse
vote down
vote up
February 15, 2008
Votes: +0

jufri_chan said:

inimau komen bagi yang teliti baca riwayat inyiak jamil jambek. kayaknya ada yang salah pada tahun penulisannya..soalnya kalo di baca lagi kok aneh jadi nya....tahun riwayatnya nggak sama....
mungkin itu aja..kalo ada yagn salahmohon maaf :grin
 
report abuse
vote down
vote up
February 19, 2008
Votes: +0

satriacaniago said:

Karya Gadang injiak M Djamil Djambek , kami generasi thn.2008 sangat mengagumkan kami,kami satuju sakali karya gadang ko diteliti dan dikambangkan ,untuk wawasan generasi mudo nan akan datang dan indak hilang ditalan bumi.Kami manyarankan pihak kantua kabudayaan minang di Sumbar mengkoordinir pertemuan iko dgn mengundang seluruh tokoh2 minang nan ado dirantau untuak bakumpua duduk basamo mambicarokan masalah nan diparalukan untuak panalitian karya gadangko,kami di Jakarta,sangat mandukung dan kalau bisa diundang ,trmokasih wass.karya Gadang :eek :upset
 
report abuse
vote down
vote up
February 20, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Tuesday, 05 February 2008 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 31 guests and 8 members online
Generated in 0.99306 Seconds