Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Nyala Lampion di Pantai Padang Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Iggoy el Fitra   
Rabu, 13 Pebruari 2008

ImageDi langit awan abu-abu. Tidak hujan, tidak pula panas. Siti berjalan menyusuri trotoar di Muara sambil menggendong anak perempuannya yang baru berumur satu setengah tahun. Sudah seminggu ia tinggal di rumah kontrakan temannya di kaki Gunung Padang, tanpa memberitahu keluarganya bahwa ia telah pulang. Ia ingin menyendiri di tempat yang tidak diketahui siapapun, bahkan oleh suaminya. Sungguh ia ingin menyendiri.

      Siti menjenguk wajah anaknya yang tergantung pada ikatan kain di tubuhnya. “Kita naik kapal, Nak?” katanya, sembari menunjuk ke pelabuhan. Anaknya yang lucu, kupluk musim dingin berbentuk boneka Guffy masih terpasang di kepala anaknya itu. Ia ingat suaminya lagi.

      “Cuaca dingin, kancingkanlah jaketmu,” sesuara ia dengar di kepalanya.

      Di Tokyo yang lembab, Siti pergi bersama suaminya ke Disneyland, mengajak serta buah hati mereka yang masih setahun usianya.

      “Kini baru kau sempat membawaku pergi bermain ke tempat seperti ini,” ujar Siti.

      “Ya, agar Akiko lebih cepat mengenal dunia luar.”

      “Kenapa tidak dari dulu kaubawa aku ke sini? Aku tak ingin ke kuil terus.”

      “Dulu kita masih berdua. Perlu banyak-banyak berdoa.”
     
      Siti terpana. Kemudian suaminya mengambil tangannya dan mengajaknya pergi.
     
      “Ayo kita masuk ke sana, pasti menarik,” ajak suaminya.
    
      Siti menepiskan tangan, “Pergilah, gendong Akiko bersamamu.”
    
      “Kenapa kau tak ikut?”
     
      “Aku pusing...”
     
      Dan pergilah mereka berdua tanpa Siti. Suara riuh barangkali dapat menenggelamkan kesepian, menandaskan kerinduan. Pepohonan di taman masih memperlihatkan sisa-sisa musim gugur. Kastil yang menjulang membelakangi langit abu-abu. Siti memasukkan ujung tangannya ke dalam saku jaketnya. Bandana di kepalanya yang berbentuk telinga Minnie Mouse ia lepaskan. Ia tak mau tampak tolol saat kesedihan meliputinya.
     
      Segalanya berubah setelah menikah. Siti pertama kali bertemu dengan suaminya ketika ia menjadi tenaga kerja wanita di perusahaan tissu di Tokyo. Ketika itu, ia benar-benar merasakan kasih sayang dan kerinduan setiap waktu. Maka demikian ia tidak dapat melupakan laki-laki dalam hidupnya itu. Ia coba lupakan, ia coba hempaskan ingatan itu ke nyiur daun kepala di tepi jalan, ke angin laut, ke musim-musim yang kalut, agar tidak lagi membayanginya lalu menjelma rasa takut. Angin pantai Padang serasa menerbangkan segala yang ada dalam dirinya. Terbang, seperti debu yang melayang-layang kemudian menghilang. Tetapi, di kepalanya nyala itu masih begitu terang.

***

      Anaknya tertidur. Gendongannya makin berat hingga Siti harus menaikan ikatannya setiap kali melorot. Ia sudah melewati pelabuhan Muara, melewati jembatan kecil yang di bawahnya mengalir air hitam beraroma amis. Mulai ia temui orang-orang berjualan di tepi trotoar. Selain pedagang kaki lima yang menjual telur penyu, ia berlawanan jalan dengan beberapa turis bercelana pendek. Pandangan-pandangan itu membawanya kembali ke masa lalu.

      Pertama datang ke kuil Kannon di Asakusa, Siti terkesima dengan lampion merah berukuran besar yang tergantung di gerbangnya. Lampion seperti itu juga ditemuinya di gerbang besar Kaminarimon. Keinginan apakah yang membuat orang-orang menciptakan lampion sebesar itu, pikirnya. Sebelum minta diambil fotonya seperti yang dilakukan turis-turis berambut pirang, Siti kembali menatap lampion itu dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Betapa teologi dan tradisi begitu mesra, ia kembali bergumam.

      Sebenarnya bukanlah lampion yang jelas di kepalanya, tetapi suaminya. Di Padang, di depan orangtuanya, suaminya mengucapkan dua kalimat syahadat dan ijab kabul dengan fasih, meskipun perlu waktu lama untuk belajar. Lalu suaminya belajar shalat, belajar berlaku sebagai seorang mualaf yang taat.

      “Agamamu menarik, Siti, omoushiroi (menyenangkan).”

      “Jodanjanaiyo (jangan bercanda), coba lebih dimaknai.” Walaupun sedikit marah, tapi Siti senang melihat suaminya memakai sarung dan kopiah, ”Tadahkan telapak tangan ke atas, begini cara kami meminta kepada Tuhan.”

      Di Tokyo, Siti dan suaminya tinggal di distrik Asakusa. Daerah itu berbau masa lampau, di mana bangunan-bangunan tua banyak ditemui. Di sana, zaman Edo seperti tiada berubah. Maka tidak heran bila Siti sering diajak suaminya berkunjung ke kuil-kuil yang tersebar di penjuru Asakusa.

      Semula suaminya hanya membakar dupa di kuil Sensoji. Tetapi suaminya malah mengajak serta Siti mengambil segenggam dupa dari sebuah guci, membakarnya lalu asapnya dikibas-kibaskan ke seluruh badan. Kemudian Siti diajak ke altar kuil sambil melempar uang logam, menepuk telapak tangan tiga kali, dan mengatupkan tangan. Saat itulah Siti benar-benar tersadar bahwa suaminya mencoba mengajaknya berdoa.

      Siti pergi berlari meninggalkan kuil.

      “Aku tak percaya kau ajak aku berdoa di sana...” sambil menangis Siti berjalan  sepanjang trotoar. Pohon sakura di tepian sedang tidak berdaunan.
 
     “Itu hanya tradisi, Siti. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya.”
 
     “Percuma kau berjanji!”

      Suaminya diam. Lalu dia mencoba mengalihkan perhatian.

      “Marilah kita pulang. Ibuku sudah menyiapkan makan malam. Atau kita pergi berjalan-jalan?”

      Siti menyeka airmatanya. Ia baru merasakan kebahagiaan beberapa saat, namun ia juga merasakan kebahagiaan itu akan cepat sirna. Siti memilih jalan-jalan sebelum pulang. Di tepian sungai Sumida, ia tumpahkan penatnya dengan memandang lelampu jembatan Azumabashi, menikmati waterbus yang mengambang di dermaga, dan lampion-lampion tepi jalan yang merah menyala. Ah, ia teringat rumahnya yang sebenarnya.

      “Aku ingin pulang ke Padang...”

      “Hah, ada apa Siti? Kenapa mau pulang.”

      “Aku hanya ingin pulang.”

      “Kau sudah pulang, ini rumah kita.”

      Siti tak berdaya. Adalah cinta yang membuat ia ada di sana, di sisi suaminya. Namun kala itu cintanya sedang lelap tertidur, atau barangkali tengah mati suri. Hari-hari kembali dijalaninya. Hari-hari di mana waktu berlari begitu deras bersama derap langkah kaki orang-orang yang gila kerja. Ia pernah mengutarakan keinginannya bekerja kembali, tapi suaminya melarang. Suaminya bilang, sebagai istri Siti cukup mengurus rumah dan suami. Siti tahu pekerjaan suaminya telah lebih dari cukup untuk menghidupi mereka berdua.

      Sebagai karyawan, pagi-pagi suaminya berangkat kerja dan pulang larut malam. Tak jarang suaminya pulang dalam keadaan mabuk. Sepulang kerja, setelah mandi air hangat, suaminya langsung tertidur. Dan ketika pagi menjelang, ia berangkat kerja kembali. Begitulah hari-hari yang dilalui Siti di rumah, kecuali hari libur, di mana suaminya akan mengajaknya jalan-jalan dan tamasya. Tetapi itu hanya sekali-sekali. Siti lebih sering menjalani kesendirian di rumah, tanpa suaminya, tanpa kerinduan yang berharga.

      “Kau mabuk lagi?”

      “Kenapa tak kaubukakan sepatuku!”

      “Kau bisa membukanya sendiri.”

      “Apa!” Suaminya terlihat marah dengan melemparkan koper ke lantai. Tetapi suaminya langsung rebah di atas sofa karena terlalu mabuk.

      Siti memijit kepala. Ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatakan kepada suaminya bahwa ia telah hamil.

***

      Padang dilanda mendung. Setelah melewati Lembaga Pemasyarakatan Muara, Siti tiba di depan arena bermain anak-anak. Kosong, tempat itu tidak lagi dioperasikan. Biasanya dulu ia sering melihat kereta bermain yang berhenti di depannya, mengantar anak-anak keliling pantai.
     
      “Aku ingin pulang ke Padang bersama Akiko. Onegaiitai (kumohon)...”

      “Tidak boleh, kau tidak boleh pulang!” suaminya menggenggam tangannya keras dengan mata yang hampir melotot.

      “Kau kasar sekali...”

      Siti pergi ke halaman belakang. Ia menangis. Ia tak tahu kepada siapa ia meminta pertolongan saat itu.

      Di sebuah kuil, ia hanya dapat merasakan ketenangan, kesunyian yang sesungguhnya. Senja itu ia berjalan ke pelosok Asakusa, menikmati angin, menikmati udara yang dingin. Di gerbang Kaminarimon, meskipun masih dipenuhi para pelancong, ia tetap merasakan kesendiriannya yang sunyi.

      Lampion itu masih tergantung kokoh di bawah gerbang, didampingi patung-patung bermotif lampau. Warnanya merah, dan di tengahnya ada tulisan kanji kaminarimon berwarna hitam dengan lapisan putih dan abu-abu. Pilar-pilarnya juga disepuh sewarna dengan lampion. Siti tak dapat menjangkaunya, terlalu tinggi.

      Ia kembali menangis. Kini apakah yang dapat aku capai, gumamnya.
      Siti hanya ingin pulang, itu saja.
      Ia ingin menyendiri di tempat yang tidak diketahui siapapun, bahkan oleh suaminya. Sungguh Siti ingin menyendiri.

      Di Padang belum masuk tahun baru Cina, tetapi Siti merasa bau dupa dan nyala lampion terus meliputinya. Langit yang mendung itu, ternyata tidak akan selalu gelap kelabu. Senja dapat merekah di ufuk laut. Awan bergumpal-gumpal, langit menjadi biru susu. Cahaya senja merah, merangsek masuk ke daerah landai di kota.

      Siti mengikat tali rambutnya yang terlepas. Anaknya menangis, mungkin haus. Di balkon pantai, ia duduk menyusui anaknya. Cahaya senja menyala-nyala serupa lampion Asakusa. Kini ia yang menangis.


Ilalangsenja

Padang, 27 September 2007

 

Komentar
1. ingat pengalaman
Ditulis oleh evarayyan pada Kamis, 14 Pebruari 2008
saat mambaco cerito ko saya punya pengalama beberpa tahun lalu, hampir samo jo carito ko, tapi lai indak jadi,caritonyo cando iko, dulu ambo bakawan jo urang cino, inyo namuah pindah agamo atau jadi muslim kalau ambo jadi istrinyo, tapi seluruh keluarga besar ambo manantang labiah-labiah mama, sampai maancam kok jadi ambo nikah dibuang dan tdk diakui jadi anak lagi, akhirnya cinto ambo ka mama lebih besar dr ka kawan ambo pilih mama dan maninggakan kawan, mungkin kalau ambo pilih kawan nasip ambo samo jo si sisti dalam carito ko, jd untuak awak urang minang jgn pernah menikah dg org beda agama karena suatu saat ia akan kembali ke agamanya, kato mama ambo, malakik dapek namuahnyo malakuan apo sajo beko kok lah dapek awak disuruahnyo manuruikan keceknyo tamasuak pindah ka kayakinannyo, jadi untuak dunsanak jan sampai tajadi carito siti ka diri kito.
2. ingat pengalaman
Ditulis oleh evarayyan pada Kamis, 14 Pebruari 2008
saat mambaco cerito ko saya punya pengalama beberpa tahun lalu, hampir samo jo carito ko, tapi lai indak jadi,caritonyo cando iko, dulu ambo bakawan jo urang cino, inyo namuah pindah agamo atau jadi muslim kalau ambo jadi istrinyo, tapi seluruh keluarga besar ambo manantang labiah-labiah mama, sampai maancam kok jadi ambo nikah dibuang dan tdk diakui jadi anak lagi, akhirnya cinto ambo ka mama lebih besar dr ka kawan ambo pilih mama dan maninggakan kawan, mungkin kalau ambo pilih kawan nasip ambo samo jo si sisti dalam carito ko, jd untuak awak urang minang jgn pernah menikah dg org beda agama karena suatu saat ia akan kembali ke agamanya, kato mama ambo, malakik dapek namuahnyo malakuan apo sajo beko kok lah dapek awak disuruahnyo manuruikan keceknyo tamasuak pindah ka kayakinannyo, jadi untuak dunsanak jan sampai tajadi carito siti ka diri kito.

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Kamis, 14 Pebruari 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 5 dari 50 (5 Unik)
Peak: 31
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Odi Malik - 06 Bungo Ilalang

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 21 ) Anggota 21
 Tamu ( 12 ) Tamu 12
  Total  33
 Angoota ( 6,519 ) Angoota  6,519


Statistik
Agg Baru  ZA.sutanbasa
Hari Ini 19
Minggu Ini 86
Bulan Ini 346
Tahun ini 2,616
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 12 pengunjung dan 21 anggota yang online
User Terbaru

ateroz

Terdaftar pada
2008-05-17 05:01:33

Pengunjung: 3020967