Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Nak Urang koto ilalang
Nak lalu ka pakan Baso
Malu jo sopan kok lah ilang
Habihlah raso jo pareso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Panjago Syara' dalam Sumangaik Kumbali Banagari Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Ardinal   
Sabtu, 23 Pebruari 2008

ImageReformasi yang meluncur di Negeri ini telah membawa angin segar terhadap Masyarakat Minang. Kembali kepada bentuk pemerintahan yang asli yakni Pemerintahan Nagari mengembalikan peran seluruh elemen masyarakat berdasarkan azas "musyawarah jo mupakaik" tanpa adanya tekanan dan kemauan dari golongan tertentu yang memiliki kepentingan yang selama ini telah mencerai beraikan kehidupan banagari. Di sisi lain  dengan derasnya arus perubahan sedikit amat merisaukan kehidupan masyarakat Minang yang dikhawatirkan akan kehilangan jati dirinya. Dengan kembalinya kehidupan banagari akan menumbuhkan ciri kehidupan masyarakat Minang yang sesuai dengan karakteristiknya dalam pembangunan dan membentengi diri dari berbagai efek negatif pengaruh global yang terus mengancam.

"Sakali aia gadang, sakali tapian barubah" ungkapan yang sangat dipahami oleh orang Minang. Dengan diakuinya sistem Pemerintahan Nagari ini adalah sebuah momentum perubahan yang seharusnya ditangkap dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat Minang untuk menumbuh kembangkan kehidupan banagari. Bagi generasi yang lahir ditahun 70-an tidak lagi pernah mengalami indahnya sistem pemerintahan nagari. Rezim Orde Baru dengan corak pemerintahannya yang sentralistik telah menyeragamkan bentuk pemerintahan yang terendah dengan sistem pemerintahan desa yang usalinya berasal dari daerah Jawa. Bila pada saat ini kita hanya terhanyut pada eforia banagari tanpa kembali membangun ruh banagari maka yang dikhawatirkan muncul pada saat ini adalah desa yang diperluas yang kita sepakati dengan nama Nagari dan apa yang dikhawatirkan "jalan diasak dek urang lalu, cupak diasak dek urang panggaleh" sesuatu yang sulit untuk dibendung.
 
Salah satu hal yang terpenting dilakukan pada saat ini adalah kembali untuk mengokohkan tiga pilar dalam banagari yaitu "tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan". Masyarakat Minang telah sepakat bahwa "adaik Minang basandikan syara', sayara' basandikan kitabullah". Pilar adat merupakan tanggung jawab Ninik Mamak untuk menjaganya, pilar syara' adalah tangggung jawab dari Ulama (Imam, Khatib, Qadhi dan Bilal), sedangkan kemasyarakatan tanggung jawabnya urang cadiak pandai. Ketiganya ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun Nagari.
 
Dari ketiga pilar tersebut ada yang seharusnya menjadi perhatian penuh dari urang Minang yaitu tentang penjaga syara'. Pada umumnya hampir rata-rata di Nagari orang yang memiliki kompetensi untuk ini telah mengalami krisis. Banyak surau, musajik (mesjid), tidak memiliki orang yang mampu menyelenggarakan dan memberikan pertimbangan dalam masalah sara'. Dalam beberapa kasus pernah terjadi beberapa buah mesjid hampir saja gagal untuk dilaksakannya shalat jum'at karena tidak ada orang yang mampu untuk menjadi khatib dan memimpin pelaksanaan shalat jum'at tersebut. Begitu juga dalam bulan Ramadahan, kelangkaan tenaga mubaligh juga sangat dirasakan. Salah satu syarat berdirinya sebuah nagari disebutkan adalah babalai, bamusajik, akan tetapi mesjid yang ada tidak berperan penting dalam membangun kehidupan banagari disebabkan minimnya dan langkanya orang-orang yang memiliki kompetensi untuk itu. Fenomena pada sat ini sumarak mesjid adalah di daerah perkotaan, tapi di daerah yang jauh dari kota ada Mesjid yang hanya buka sekali seminggu dengan kondisi yang sangat menyedihkan.
 
Beberapa tahun yang lalu, Ranah Minang dihebohkan dengan isu kristenisasi. Bahkan kita juga sepakat bahwa bila ada yang berpindah keyakinan mereka tidak dapat lagi diterima di komunitas masyarakat Minang dan dia tidak lagi diakui sebagai urang Minang.  Disis lain kita juga tidak lagi memiliki orang besar dalam penjaga kehidupan syara' ini seperti generasi sebelumnya. Sebutlah misalnya Buya Hamka, inyiak datuak Palimo Kayo, dan para Syekh yang berjasa mendirikan beberapa Perguruan Islam sebelumnya (yang mungkin tidak begitu banyak dikenal generasi muda kini). Kita tidak mengeyampingkan mereka yang punya nama besar di IAIN yang mereka mempunyai kompotensi untuk itu, akan tetapi mereka ini tidak terlibat secara intens untuk membina masyarakat. Fenomena yang ada saat ini adalah semakin banyak Sarjana yang lahir di Institusi itu namun Ulama semakin langka.
 
Pada masa lalu mereka yang menjadi Ulama adalah orang-orang yang kondisi perekonomian mereka pada masanya adalah orang-orang yang mampu.  Realita saat ini tidak banyak orang yang mau menerjunkan dirinya untuk mengabdikan diri di bidang ini karena harus berhadapan dengan kenyataan saat ini. Betapa banyak orang merendahkan karena mereka hidup dari amplop yang diberikan selesai memberikan ceramah sehingga sebagian orang mengaanggabnya rendah. Di sisi lain Perguruan Islam dihadapkan kepada tantang dan perubahan dari sistem pendidikan disamping masalah pembiyaan. Biaya masuk Perguruan  Islam saat ini juga sangat mahal dan segudang permasalahan lainnya yang menyebabkan langkanya para penjaga syara' ini.
 
Tidak ada artinya Mesjid yang megah berdiri dikampuang halaman yang hanya berfungsi untuk tempat shalat semata. Banyak peran yang bisa dimainkan oleh Mesjid dalam membangun Nagari. Selama ini  pada masa lalu Mesjid sangat berperan besar dalam mendidik masyarakat Minang yang mereka diperhitungkan di kancah bumi pertiwi ini bahkan sampai manca negara. Semua akan menjadi sia-sia bila mereka yang akan menghidupkan dan menggerakkannya tidak mendapatkan perhatian dari masyarakatnya sendiri. Untuk itulah sudah saatnya kita tidak hanyut lagi dengan apa yang sudah terjadi dimasa lampau, akan tetapi sudah seharusnya kita melihat tantangan yang akan terjadi ke depan. Sudah seharusnya kondisi ini diakhiri. Sudah seharusnyalah seluruh lapisan masyaraklat di kampuang maupun dirantau, tokoh intelektual, elit-elit Minang tidak mengabaikan kondisi ini. Sehingga kita tidak lagi akan mengalami krisis penjaga syara' di bumi Minang yang kita cintai. Semoga.... 
 
 

Komentar
1. KEGELISAHAN ARDINAL
Ditulis oleh yudi kampai pada Minggu, 24 Pebruari 2008
Kekhawatiran Ardinal banyak juga dirasakan oleh masyarakat minang baik yang berada di kampung halaman maupun di perantuan. Kekhawatiran semakin menipisnya sendi-sendi hidup banagari yang dipilari oleh ulama, niniak mamak dan cadiak pandai karena terkikis oleh zaman. 
Memang bagi putra dan putri minang yang lahir di bawah tahun 70-an, tidak merasakan nikmatnya hidup banagari. Dengan demikian, mereka mungkin juga termasuk saya, tidak memahami betul pola, sistem, fasalfah serta rohnya hidup banagari.  
Kini, sistem pemerintah di Minangkabau (Sumbar) sudah kembali ke nagari. Pertanyaannya adalah sudahkah implementasinya sesuai dengan yang diharapkan? Ini yang perlu pembahasan lebih mendalam dan baik tataran konsep dan implementasi banagari.  
Pada tataran konsep, apakah kita sekedar mengembalikan kehidupan banagari seperti yang dijalankan orang-orang tua minangkabau terdahulu sebelum terpecah menjadi desa? Ini perlu pemikiran yang justru lebih progresif. Persoalannya, tidak menutup kemungkinan konsep dan implementasi banagari terdahulu tidak memiliki kekurangan.  
Tentu kita tidak ingin kekurangan itu dipertahankan. Sesuai dengan pepatah minang, sakali aia gadang sakali tapian barubah. Persoalannya adalah apa kekurangannya itu? Ini yang perlu dirumuskan.  
Pepatah itu mengisyarakatkan masyarakat minang itu sangat dinamis dan selalu terbuka terhadap perubahan-perubahan untuk kemajuan. Kondisi terkini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi, patut menjadi pertimbangan dalam mencapkan roh-roh hiduik banagari. Jika itu terlupakan, masyarakat minang bisa lebih jauh tertinggal.  
SUDAHKAH NINIAK MAMAK DI DALAM NAGARI ITU PUNYA KEMAMPUAN UNTUK ITU. JANGAN-JANGAN ANAK KAMANAKANNYA JUSTRU LEBIH BERPIKIRAN PROGRESIF. SUARA DARI KAUM MUDA JUGA HARUS DIDENGARKAN DALAM MENGONSEP SERTA MENGIMPLEMENTASIKAN HIDUP BANAGARI.  
 
SALAM YURDI YASRI KAMPAU DARI PALEMBANG  

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Senin, 25 Pebruari 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 9 dari 50 (9 Unik)
Peak: 27
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Datak Hati Mambao Karam

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Admin ( 1 ) Admin 1
 Anggota ( 10 ) Anggota 10
 Tamu ( 11 ) Tamu 11
  Total  22
 Angoota ( 7,354 ) Angoota  7,354


Statistik
Agg Baru  AdeLailaF...
Hari Ini 17
Minggu Ini 106
Bulan Ini 427
Tahun ini 3,156
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 11 pengunjung dan 11 anggota yang online
User Terbaru

dd.rj.basa

Terdaftar pada
2008-07-19 00:46:05

Pengunjung: 3589836