|
Pituah |
Dalam awa akhia mambayang Dalam baiak kanalah buruak Dalam galak tangih ka tibo Hati gadang hutang kok tumbuah |
|
|
ABS-SBK, Falsafah Hidup Urang Minang, Benarkah ? |
|
|
|
Ditulis oleh Ardinal
|
|
Selasa, 26 Pebruari 2008 |
 " adaik Basandi Syara', Syara' Basandikan Kitabullah" adalah ungkapan yang telah menjadi kesepakatan dari masyarakat Minang sebagai sebuah Falsafah dalam kehidupan. Ungkapan ini keluar dari beberapa literatur yang pernah ada timbul setelah pergerakan Paderi dengan lahirnya Piagam Bukik Marapalam yang disepakati di Puncak Pato Luhak Tanah Data. Satu-satunya sumber yang tertulis menjelaskan ungkapan ini adalah tulisan yang pernah di buat oleh Syekh Sulaiman Arrasuli pendiri Perguruan Tarbiyah Islamiyah Canduang. Pertanyaannya sekarang benarkah ini menjadi benar mengakar dalam kehidupan masyarakat Minang itu sendiri atau hanya sekedar ungkapan yang dibaca-baca semata atau ini hanya sekedar mendamaikan antara Islam yang menjadi agama yang satu-satunya diakui sebagai agama masyarakat Minang dengan Adat yang telah jauh adanya sebelum kedatangan Islam, sehingga ini mungkin memperkecil jurang pemisah antara Islam dan Adat itu sendiri.
Banyak pertanyaan dikalangan rang mudo nan badarah baru satampuak pinang, baumua baru satahun jaguang terhadap ungkapan ini. Bila dilihat dari implementasinya di lapangan sangat sulit untuk menemukan bukti yang menunjukkan bahwa adat itu benar-benar basandikan kitabullah (kalau boleh disebut berdasarkan syariat Islam). Pendekatan yang sedikit bisa kita terima adalah penjelasan tentang adaik nan sabana adaik, yakni sunatullah. Itupun penjelasannya tergantung pemahaman orang yang menjelaskan akan tetapi substansinya barangkali menunjukkan pemahaman di atas. Salah satu contoh hal yang bertentangan dengan syara' itu adalah undang-undang adat yang menjelaskan tentang harta yang boleh digadaikan. Harato Pusako boeh digadaikan apa bila " rumah gadang katirisan, mayik tabujua ditangah rumah, anak gadih gadang indak balaki dan mambangkik batang randam". Dalam syari'at tidak boleh mengadaikan harta pusaka untuk menyelenggarakan jenazah karena itu adalah tanggung jawab dari orang muslim yang tinggal dilingkungan orang yang meninggal tersebut. Termasuk untuk menjamu atau melaksanakan kenduri dengan berhutang. Begitu juga misalnya untuk mengangkat Pangulu (Penghulu) dikaji asa jo tidak asa, urang datang dan sebagainya. Bukankah dalam Islam setiap Muslim itu bersaudara? Juga dalam persyaratan penghulu ini sampai saat ini penulis belum pernah mendengar kalau salah satu syaratnya adalah pandai membaca Al-Qur'an. Begitu juga sebaliknya juga tidak boleh dalam Islam itu mengangkat pemimpin orang yang tidak beriman bagi orang Muslim itu sendiri. Mohon maaf betapa banyak Ninik Mamak (Pangulu) yang tidak pernah shalat. Juga tidak ada syarat dalam adat yang membatalkan gelar seorang datuak (penghulu) bagi sebuah kaum yang tidak shalat. Belum lagi masalah perkawinan, waris dan sebagainya. Bila kita tuliskan apa yang bertemu dilapangan barangkali akan sangat panjang bukti yang menunjukkan betapa adat itu sebenarnya tak basandikan kepada kitabullah. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kondisi ini akan terus dibiarkan selamanya untuk terus diwariskan kepada anak cucu yang mereka lahir sebagai urang Minang dan ini disampaikan kepadanya? Jawabannya tentu kita sepakat tidak, kita memerlukan kejujuran bahwa ini perlu diperbaiki, namun tentu tidak bisa dilakukan oleh orang perorang atau beberapa orang semata, akan tetapi perlu menjadi perhatian dari semua tokoh dan orang yang memiliki kompetensi untuk ini. Bukankah kita masyarakat Minang masyarakat yang egaliter. Bila kita merisaukan apa yang telah digambarkan jauh dari sebelumnya jalan akan diasak dek urang lalu, cupak diasak dek urang panggaleh sudah perlu kiranya tatanan adat ini kembali di susun sesuai dengan syara' tersebut. Pada saat ini sudah semakin berkurangnya orang tua-tua yang mengerti dengan adat dan saat inipun juga sudah semakin besar pula jumlah generasi muda yang yang tidak memahaminya. Sementara tidak banyak lagi orang yang bisa memberikan pencerahan tentang ini. Mungkin sudah saatnya aturan-aturan tentang ini dirumuskan secara tertulis yang rujukan utamanya adalah syara' dan disepakati berlaku di ranah Minang. Perubahan ini tentu tidak perlu dilakukan se radikal gerakan Paderi pada masa lalu. Perubahan tersebut dapat dilakukan secara perlahan dari tokoh intelektual yang berada dirantau dan dikampung karena ada ketentuan adat yang berlaku di salingka Nagari dan berlaku untuk ranah Minang secara menyeluruh. Untuk melakukan perubahan bukanlah harga mati, bukankah sakali aia gadang sakali tapian barubah, alam takambang dijadikan guru. hiduik baraka mati baiman. |
1. kenapa adan dan syara' Ditulis oleh Inyiak_gata pada Rabu, 27 Pebruari 2008 sesuai dengan contoh nan dusanak buek awan mancubo manpantyokannyo "Harato Pusako boeh digadaikan apa bila "rumah gadang katirisan, mayik tabujua ditangah rumah, anak gadih gadang indak balaki dan mambangkik batang randam". 1. Mayik tabujua Mengadai harato pusako untua apo? kalau untuak manyelengarkan mayat atau ma uruih mayat Tolong ini surat atau hadis " harta yang ditingalkan oleh mayat digunakan untuk menyelengarakan mayat, sisanya baru di bagikan ke ahli waris yang telah ditetapkan" bagai mana dengan mengadaikan bukan menjual ? apakah harta yang ditinggalkan mayat bukan pusako?. kalau ka agamo. (apakah ini sudah terjadi di kampuang? kalau alun ini buktiny para datuak awak dulu lah mamikia ka depan.) 2. masalah pemilihan penghulu apakah penghulu di tentukan adat atau dipilih oleh masyarakat sapa sukuan Kalau awak mamiliah nan indak sumabayang apa kah salah adat atau kita yang mencalon dan ma miliahnyo? kenapa kita blom mempelajari adat sesuai dengan maanfaatnya kok kita menyalahkan adat. semoga dusanak mempelajari adat jo agama kasadonyo jaan sakarek-karek iko menjadi keraguan.
| 2. ABS-SBK Ditulis oleh Pance pada Jumat, 29 Pebruari 2008 Setelah saya membaca tulisan Bpk Ardinal, saya berpendapat bahwa analisa bapak ada benarnya. Tetapi saya sangat bangga dengan budaya dan adat istiadat(minang) yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita. Mereka mempunyai pemikiran yang begitu cemerlang untuk para penerusnya(anak cucu). Memang ada beberapa adat istiadat yang sedikit menyimpang dari Syari'at, tetapi selagi adat istiadat itu tidak merusak dan merugikan kehidupan umat manusia, sah sah saja dipakai. Seperti pembagian harta warisan (pusako tinggi). Laki-laki tidak berhak mendapatkannya. ini sudah tidak mengikuti syari'at. Tetapi pada kenyataannya, ini adalah sebuah hasil pemikiran cemerlang dari pendahulu kita. karena dengan sistem ini, wanita-wanita minang akan terlindungi ekonomi dan harga dirinya. Banyak contoh yang dapat kita lihat, seperti: seorang wanita yang menjadi WTS karena terdesak ekonominya. Dari hasil budaya ini jarang atau sedikit sekali wanita minang yang berprofesi WTS. Sudah banyak kejadian yang kita lihat, adik kakak (laki-laki) saling bunuh-bunuhan karena harta pusaka. Dan semua adat istiadat yang telah dirumuskan oleh pendahulu kita itu, menurut saya bisa terus dipakai selagi tidak merugikan orang lain dan merusak kehidupan. Kalau ada diantara sanak saudara yang masih mempertentangkan ABS-SBK, sanak saudara bisa berdiskusi dengan saya untuk pemahamannya. E=mail :
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya
HP : 08111495087 Maaf dan terima kasih | 3. berbesar hati Ditulis oleh de alfiand pada Sabtu, 01 Maret 2008 mungkin awak harus berbesar hati untuak manarimo apo nan salah. labiah baiak mancubo mampaeloki daripado basitahan mancari panagak banang basah... tarimo kasih dun sanak, karano alah mambukakkan fakta sahinggo tagarak hati dunsanak nan mambaco untuk barubah... wasalam |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Selasa, 26 Pebruari 2008 )
|
|
Pendengar: 4 dari 50 (4 Unik) Peak: 27 Server Status: Online Bitrate: 24 Kbps Sedang Di putar: Boy Sandi & Lolly Asir - Padiah Di seso Bayang |
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Member |
 | Groups |
Online |
 | Anggota |
2 |
 | Tamu |
14 |
 | Angoota |
7,356 |
| Statistik |
| Agg Baru |
A2d |
| Hari Ini |
11 |
| Minggu Ini |
96 |
| Bulan Ini |
410 |
| Tahun ini |
3,151 |
|
|
Online Sekarang |
|
Saat ini ada 14 pengunjung dan 2 anggota yang online |
|
User Terbaru |
penyokTerdaftar pada 2008-07-19 10:28:40
|
|