|
Halaman 1 dari 3 UCAPAN SELAMAT sangat pantas kita sampaikan kepada kedua orang tua ayah jo bundo nan berbahagia, yang telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab ibu-bapak di dalam tatanan adat basandi syarak-syarak basandi Kitabullah, yaitu mengazankan dan memberi nama yang baik di kala si anak lahir, kemudian memberi makanan, pakaian dan pelajaran/pendidikan secara cukup, baik dan halal, kemudian yang terakhir mengantarkan anaknya sampai ketangga pelaminan
Demikian pula kepada Engku-engku, ninik mamak pangulu andiko nan gadang basa batuah, alim ulama cadiak pandai suluah bendang di nagari, bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang, rang mudo parik paga di nagari yang di dalam kehidupan sehari-hari telah menyumbangkan contoh tuladan yang baik sehingga tumbuh dengan itu generasi yang baik dan teguh memegang adatnya .
Alhamdulillah, baru saja kita saksikan pelaksanaan satu acara ibadah, yang disunnahkan Rasulullah SAW, "an- nikahu sunnati, man raghiba 'an sunnati falaisa minni", artinya, " nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, maka tidaklah termasuk umatku",
Dan kita bersama telah menjadi saksi atas aqad nikah dari pasangan anak kemenakan dan menantu kita tercinta, sebagai suatu ibadah mengikuti sunnah sangat sacral di dalam tatanan adat kita - adat nan basandi syarak, syarak nan basandi kitabullah", Syarak nan mangato, adaik nan mamakai ;
Kita simak lafaz Ijab Kabul mereka sepatah demi sepatah dengan khidmat, kiranya mendapatkan berkah dari Allah.
Kita semuanya berharap kiranya rumah tangga mereka menjadi penghimpun yang terserak di antara keduanya, pembuka pintu hikmah dan ilmu, menjadi jembatan rasa mawaddah wa rahmah, yang memberikan rasa aman bagi umat serta kesejahteraan di tengah kampung halaman. Amin Ya Mujibas Sailina.
Mulai detik itu, Anakdaro Putri telah menjadi seorang istri, urang rumah, induak bareh.
Insya Allah tidak lama lagi akan menjadi seorang IBU artinya Ikutan Bagi Umat, menjadi pemayung kasih sayang anak turunan, sesuai pesan Rasulullah SAW,
an nisak 'imadul bilaad, idza shaluhat shaluhal bilaad kulluhu, wa idza fa sadat, fa-sadatil bilaad kulluhu,
artinya kaum ibu itu adalah tiang utama dalam nagari, kalau mereka baik akan baiklah seluruh nagari, dan kalau mereka rusak maka binasalah seluruh nagari.
Tugas seorang ibu rumah tangga tidak sekedar menyiapkan makanan dan minuman. Akan tetapi menjadi sumber dari sakinah yakni bahagia dan ketenangan.
Karena itu sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan dalam rumah tangga.
Ingatlah pesan Nabi SAW, "Innallaha Ta'alaa jamiilun, yuhibbul jamaala", artinya Allah itu indah dan sangat menyenangi keindahan (HR.Muslim dan Turmudzi) Hati-hatilah selalu, karena setiap langkah selalu di intai kerikil-kerikil tajam.
Apabila bertemu yang pahit, jangan cepat-cepat dimuntahkan, dan tidak selamanya pula yang manis mesti segera di telan.
"Barangkali ananda tidak menyukai sesuatu, padahal sebenarnya dibalik itu ada baiknya untukmu. Dan mungkin saja di balik yang ananda sukai ada kerugian untukmu. Allah semata yang tahu, dan kamu tidak mengetahui rahasia sesungguhnya - di sebalik satu kejadian--." Begitu satu kearifan syara' mangato dalam Kitabullah (QS.2, al Baqarah : 216).
Kearifan akan melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.
Dalam awa akie mambayang, Dalam baiak kanalah buruak, Dalam galak tangih kok tibo,
Hati gadang utang kok tumbuah. Artinya, sejak awal harus sudah diperhitungkan apa kiranya akibat akhir dari suatu perbuatan. Dikala melakukan kebaikan perlu dijaga kehati-hatian agar yang baik itu tetap terlaksana dengan baik. Karena hanya kelalaian jua yang akan membawa kepada keburukan.
Di sebalik itu tidak segera berbesar hati tatkala menerima kebaikan dengan tertawa, kalau-kalau nanti di belakang kegembiraan tersebut masih tersimpan kedukaan yang membawa tangis. Sekali-kali jangan pula terlampau memperturutkan hati gadang, karena kesia-siaan seringkali menimbulkan hutang besar.
Yang perlu di ingat, jangan cepat berputus asa. Riak jo galombang adolah permainan lauik. Bagisia sampan jo pandayuang adaik nan alah biaso. Usah rusuah jo putuih aso. Kandalikan kamudi elok-elok, nak ja-an ma-antak karang. Kok itu nan sampai ta jadi, karam sampan karam nakodo, karamlah rumah tanggo ananda baduo.
Maka yang paling baik dilakukan, adalah selalu meminta pertolongan kepada Allah dengan shabar dan shalat.
Sesuai pesan Rasulullah SAW, "Apabila dikau memerlukan sesuatu mintalah kepada Allah. Dan bila engkau memerlukan pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah ".
Jangan meminta kepada segala yang di keramatkan, seumpama kepada kuburan ataupun jimat, apalagi kepada paranormal yang kadangkala banyak pula yang tidak normal. Akibatnya ananda berdua bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujung-ujungnya doamu tidak akan di kabulkan Allah.
Pesan Rasulullah sangatlah jelas, .... yang lima waktu jangan engkau lalaikan apalagi di tinggalkan. Doamu akan di nilai dari sini !!!. Allah tidak akan memperhatikan permintaan seorang hamba jika hamba itu tidak mau memenuhi kehendak tuhannya.
Nabi Muhammad SAW meningatkan perkataan dari Allah SWT, "Aku tidak akan memperhatikan apa yang menjadi hak hamba-Ku, sebelum ia memenuhi kewajibannya kepada Ku". (Hadist Qudsi)
Seorang istri, di dalam adat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, diminta untuk selalu mernjaga diri dan muruah-nya ;
1). Hendaklah pakaianmu menutup aurat bila keluar rumah dan bepergian sesuai adat mamakai raso jo pareso, mampunyai malu dengan sopan. Kitabullah menyebutkan perintah Allah, "Wahai Nabi, sampaikan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu serta istri orang yang beriman, hendaklah bila mereka berpakaian menutupi seluruh tubuh mereka"( QS. Al Ahzab, ayat 59).
2). Jangan berkata keras, apalagi bersikap kasar membangga diri, bagaikan di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan yang di arahkan kepada suami junjungan diri.
3). Apabila ingin menyampaikan sesuatu kepada suami, carilah waktu dan saat yang tepat.
4). Jangan menolak panggilan atau suruhan suami kepada yang baik. Bahkan jangan berpuasa sunat tanpa seizing suami (kecuali puasa yang wajib).
5). Jangan berpergian meninggalkan rumah tanpa seizing suami.
6). Jangan berhias berlebih-lebihan hanya untuk di lihat orang lain, lupa berbenah diri bila suami pulang ke rumah.
7). Jangan menerima tamu laki-laki kalau bukan keluarga sendiri (muhrim) di saat suami tidak di rumah.
8). Simpanlah rahasia rumah tangga ananda berdua dengan baik. Karena menceritakan rahasia rumah tangga, sungguh satu aib besar.
Larangan-larangan ini, pertanda kuatnya budi dan malu.
Fatwa adat kita di Ranah Minang menyebutkan,
Dek ribuik rabahlah padi, di cupak datuak Tumangguang. Hiduik kalau indak ba budi, duduak tagak kumari tangguang.
Rarak kalikih dek mandalu, tumbuah sa rumpun di tapi tabek, Kok hilang raso jo malu, bak umpamo kayu lungga pangabek.
Innama umamul akhlaqu maa baqiyat, Wa inhumuu dzahabat akhlaquhum dzahabuu. Kuaik rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso, Kuaik bangso karano budi, rusak budi hancua-lah bangso.
Seterusnya, budi dan malu itulah pakaian bundo kanduang di ranah bundo. Bundo kanduang adalah,
limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, jikok mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka tanah suci, ka payuang panji ka sarugo.
Alangkah mulia dan besarnya tanggung jawab bundo kanduang itu ?
Maknanya menjadi tiang rumah yang besar, menjadi umbun puro pegangan kunci, menjadi perhiasan kampung dan sumarak nagari, menjadi ikutan yang bertuah, tempat bernazar bagi anak turunan di masa hidup, menjadi tempat berniat di kala mati telah menjemput, menjadi teman ke tanah suci dan pengganti payung ke sorga, al jannatu tahta aqdamil ummahaat, sorga terletak di bawah telapak kaki ibu.
Rasulullah SAW telah bersabda, "Seorang istri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, -- dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pointu mana saja yang dia ingini" Hadist dari Anas bin Malik.
Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang istri, bila ia dapat melakukan empat macam ibadah di tambah dengan ibadah-ibadah lainnya yang cukup banyak. Bila mau mengamalkannya.
|