|
Halaman 3 dari 3 BEBERAPA PETUAH PERLU DIPERPEGANGI
a) "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya". (Hadist).
Firman Allah menyebutkan, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS.28, Al Qashash:77).
Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,
"Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja."
Untuk mencapai semuanya itu amatlah diperlukan kematangan dan kecermatan diri dan keteguhan hati di dalam melaksanakan setiap langkah dan perbuatan,
Di hawai sa habih raso, Di karuak sa habih gauang.
Yakni berpikir sebelum bertindak, karena menurut kata bijak berpikir itu pelita hati.
Di sinilah terletak sesungguhnya kedewassan di dalam memimpin satu keluarga, negeri ataupun negara.
Mancancang ba - landasan, Ma lompek ba - situmpu.
Artinya, setiap langkah mesti mempunyai alasan yang tepat, program yang jelas dan dapat di pertanggung jawabkan.
Seorang kepala rumah tangga tidak boleh bertindak semena-mena, apalagi melangkah tanpa berpikir lebih dahulu baik dan buruknya.
Karena setiap kebijakan yang diambilnya selaku seorang suami kepala rumah tangga adalah untuk kepentingan seluruh anggota keluarganya.
Dalam arti yang lebih luas, berkorong berkampung dan bertaratak bernagari.
Kerukunan adalah modal yang sangat besar, di samping materi yang harus di pelihara dengan menjauhi pemborosan di mana-mana.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi. Jangan di lupakan pesan Nabi SAW, "Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya". (HR. Thabarany dan Abu Nu'aim).
Selanjutnya Rasulullah SAW menasehatkan, "Ar Rahimuuna yarhamuhum ur-Rahmanu, Irhamuu man fil-ardhi yarhamkumullahu man fissama.", artinya "Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu." (HR.Abu Daud)
Ketahuilah, bahwa perempuan itu lebih banyak berbicara dengan perasaannya ketimbang fikirannya.
Kewajiban setiap suami, laki-laki adalah pelindung terhadap perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan kepada kaum lelaki (suami) membelanjakan hartanya untuk membahagiakan perempuan (istrinya).
Umar bin Khattab RA, pernah menceritakan tentang bakti istri beliau itu,
1. Sebagai Pendamping, istriku adalah benteng bagiku dari api neraka, yang setia mendampingi di saat senangdan susah.
2. Sebagai penjaga rumah dan harta, istriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku.
3. Sebagai ibu dari anak-anak ku, saya tahu betul betapa beratnya tugas ibu, mengandung, melahirkan menyusukan dan men-jaga anak.
4. Sebagai tukang cuci dan masak, tanpa mengenal lelah setiap hari mencuci, memasakkan makanan untuk ku dan anak-anak ku.
Karena itu, aku selalu memaafkan kata-katanya, karena mungkin ada hak-haknya yang belum aku penuhi. Begitu sahabat Nabi SAW mempergauli istri dan membina rumah tangga berkualitas "baiti jannati", rumahku adalah sorgaku.
Kiat Umar bin Khattab ini mesti ananda tiru.
KEBAHAGIAAN DATANGNYA DARI ALLAH
Allah telah memberikannya kepada yang dikehendaki-Nya.
Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah, maka hindarilah sifat mau menang sendiri dan memaksakan kehendak.
Bina rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah dengan bersama. Caranya,
Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.
Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya, kullukum raa-'in wa kullukum mas-ulun 'an ra-'yyatihi,
artinya, setiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawab atas pimpinannya.
Hukum Syarak menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani. Sesungguhnya rohani-mu berhak atasmu. Jasmanimu pun berhak atasmu.
Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat kelilingmu mesti di tenggang. Keduanya wajib di jaga.
Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek, Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, ma-lantai mano nan lapuak, mam-baharui mano nan usang.
Inilah keseimbangan hidup berumah tangga dalam masyarakat adat kita.
Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.
BEBERAPA PETUAH PERLU DIPERPEGANGI
a) "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya". (Hadist).
Firman Allah menyebutkan, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS.28, Al Qashash:77).
Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,
"Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja."
Untuk mencapai semuanya itu amatlah diperlukan kematangan dan kecermatan diri dan keteguhan hati di dalam melaksanakan setiap langkah dan perbuatan,
Di hawai sa habih raso, Di karuak sa habih gauang.
Yakni berpikir sebelum bertindak, karena menurut kata bijak berpikir itu pelita hati.
Di sinilah terletak sesungguhnya kedewassan di dalam memimpin satu keluarga, negeri ataupun negara.
Mancancang ba - landasan, Ma lompek ba - situmpu.
Artinya, setiap langkah mesti mempunyai alasan yang tepat, program yang jelas dan dapat di pertanggung jawabkan.
Seorang kepala rumah tangga tidak boleh bertindak semena-mena, apalagi melangkah tanpa berpikir lebih dahulu baik dan buruknya.
Karena setiap kebijakan yang diambilnya selaku seorang suami kepala rumah tangga adalah untuk kepentingan seluruh anggota keluarganya.
Dalam arti yang lebih luas, berkorong berkampung dan bertaratak bernagari.
Kerukunan adalah modal yang sangat besar, di samping materi yang harus di pelihara dengan menjauhi pemborosan di mana-mana.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi. Jangan di lupakan pesan Nabi SAW, "Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya". (HR. Thabarany dan Abu Nu'aim).
Selanjutnya pesan Nabi Muhammad SAW, " Man laa yarhamun-naasa. Laa yarhamuhul-llahu", artinya, "Yang tidak bisa menyangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah".
Tugas seorang suami adalah bekerja sepenuh hati. Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih - putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah.
Artinya bekerja mengerahkan semua potensi yang ada, tidak menyertakan lalai dan enggan, tidak berhenti sebelum benar-benar sampai, bacarai hanyo dek tumbilang.
b) Di sisi lain tidak boleh dilupakan sikap saling menghargai keluarga kedua belah pihak.
Kedua belah pihak mempunyai kedudukan sama. Ketahuilah bahwa ananda berdua ini, sepertinya, ibarat tingga maneteng nasi masak, kana lah dari mano datangnyo padi. Ibarat tingga manimang buah ranum, kanalah ka tampuak tampek bagantuang.
Artinya yang nikah memang ananda berdua, tapi yang kawin adalah seluruh keluarga kedua belah pihak.
Peliharalah selalu, Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang.
Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman untuk mendukung kehidupannya.
c) Pandai-pandai hidup bermasyarakat. Agama maupun adat mengajarkan, hormati nan tuo, sayangi nan
ketek.
Akhirnya, Seumpama sebuah pelayaran, maka kami lepas ananda berdua mengharungi bahtera kehidupan berbekal budi luhur.
Ibarat kata orang,
Kok pai anak marantau, ma-nyauak di hilie-hilie, bakato di bawah-bawah, ba-rundiang sapatah di pikiri, di agak duri nan ka manggaruih, di agak rantiang nan ka manyangkuik,
gapuak usah mambuang lamak, cadiaek usah mambuang kawan, gadang usah malendo, tinggi usah ma himpok.
Artinya, hasibuu anfusakum qabla an tuha sabuu, wa zinuu a'malakum qabl;a an tuuzana 'alaikum , maknanya, hitung-hitunglah diri, ukurlah bayang-bayang sapanjang badan, sebelum di hitung oleh yang lain, dan timbang-timbanglah amal perbuatan - karena kelak Allah akan melakukan timbangan atas dirimu - sebelum engkau mengadakan penilaian terhadap amalan orang-orang lainnya. (Atsar Shahabat).
Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga.
Namun, memelihara prinsip hidup dengan akidah yang benar dan istiqamah (konsisten) menjadi tugas setiap anak nagari di Minangkabau.
Disini terletak 'izzah martabat diri. Namun ....,
kok di anjak urang banda sawah, jikok di aliah urang batu pasupadanan, jikok di ubah urang kato pusako, jikok di anjak urang kato nan bana, Busuangkan dado padek-padek, paliek-kan tando laki-laki, ja-an takuik nyawo malayang, ja-an cameh darah taserak, aso hilang duo tabilang,
Tanamo anak laki-laki, sabalun aja ba pantang mati, baribu saban mandatang, namun mati hanyo sakali,
Namun di dalam kabanaran, bago di pancuang lihie putuih, satapak ja-an namuah suruik, kato bana di anjak jangan.
Disini terpatri muruah kita. Selalu berpegang kepada kebenaran. Jangan terpengaruh primordialisme, jangan pula berperangai penjilat.
Dahulukan kepentingan negeri (negara) di atas dari kepentingan diri. Walau nyawa menjadi tantangannya.
Tanah sa bingkah alah ba punyo, rumpuik sa halai lah ba miliak, malu nan balun di agiah, suku nan tak buliah di anjak.
Kebahagian hidup bermasyarakat itu akan terasa apabila kita ada orang merasa bertambah dan bila kita pergi orang merasa kehilangan, karena itu hiduplah dengan saling mengingatkan kepada hidayah Allah.
Kebenaran (al-haq min rabbika), datangnya dari Tuhanmu, artinya yang di gariskan oleh syari'at agama Islam wajib kita menjalankannya.
Tatanan masyarakat kita di Minangkabau, tetap menghormati kebenaran itu.
Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka Pangulu, Pangulu barajo ka mupakaik, Mupakaik barajo ka nan bana, Nan bana ba-diri sandirinyo.
Di atas segala penghormatan kepada tatanan masyarakat, maka mufakat sangatlah di utamakan.
Mufakat bertujuan hanya untuk menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggalnya adalah hidayah dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, "siapapun yang membawa seseorang kepada petunjuk hidayah Allah - kemudian di ikutinya petunjuk itu --, maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana balasan yang diterima oleh orang yang mengikutnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh" (H.R. Imam Muslim dan Ash-habus-Sunan)
Bismillah, dengan pedoman hidup ini layarkanlah bahtera hidup, hati-hati memegang kemudi, Insya Allah terjejak tanah tepi.
Kami bersama mendoakan, Semoga Allah akan senantiasa melimpahkan berkah yang banyak kepada ananda berdua yang telah mengumpulkan ananada berdua ke dalam kebaikan. Amin Ya Mujibas Sailina.
Wabillahittaufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,
H. Mas'oed Abidin Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar Ketua MUI Sumbar Membidang Dakwah
Padang, 11 Safar 1422 H/ 5 Mei 2001 Diposting : Bundo Hayatun Nismah di palanta Rantaunet Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0!
|