|
Kita masih berada pada bab membuat keputusan karena esensinya LME adalah pembuat keputusan. Job deskriptionnya itu. Kita ulang sejenak supaya nyambung.
Ada orang yang mampu membuat keputusan dan mau bertanggung jawab. Untuk mampu membuat keputusan kita harus menggunakan kepala, bukan hati. Sulit sekali seorang F menjadi M. Contohnya Bung Karno yang F, ia M yang payah. Mengapa orang takut /segan membuat keputusan ? R e s i k o ! Setiap keputusan, betapapun kecilnya senantiasa mengandung resiko. Keengganan orang menghadapi resiko sangat manusiawi. Semua orang ingin selamat dan tidak terancam resiko. Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia terdorong oleh motivasi2 : 1. Kebutuhan fisiologis : makan, tidur, birahi, dll 2. Kebutuhan akan rasa aman 3. Kebutuhan penghargaan 4. Kebutuhan untuk dicintai dan mencintai. HAPPY VALENTINE DAY ! 5. Kebutuhan untuk mewujudkan dirinya. Kebutuhan akan rasa aman bukan sebatas fisik misal takut kesetrum listrik tetapi juga rasa aman finansial, masa depan, gangguan2 huruhara, dan segala macam ancaman. Resiko adalah sebentuk ancaman yang mengusik kebutuhan akan rasa aman. Berikut contoh kasus "Pak, ini proposal tender sudah selesai" "Lho, kok harganya muahal bianget ?" "Tetapi hitungan saya aman, pak. Kita tak bakalan rugi" "Sék, sék, sék ... Apa sih jabatanmu ?" "Quantity Surveyor (QS), menghitung harga pokok tender" "Kok cari aman ?" "Takut rugi, pak. Habis, apa sih tugas saya ?" "Memenangkan tender ! Bukan cari aman" Begitu besarnya kebutuhan mendapatkan rasa aman sehingga si QS menyimpang dari tujuan. Tugasnya memenangkan tender sak banyak2nya. Kok mbalah cari aman ? Kalau sekedar cari aman, ndak usah dihitung njlimet. Cukup awur2an dan harganya di-gede2in habis perkara ! Kalau harganya kegedean, bigimana kita mau menang tender ? Kalau tender kalah2 melulu dari mana gaji diperoleh ?
a ship in port is safe, but that is not what ships are built for.Benazir Bhutto Kapal dipelabuhan pasti aman, tetapi kapal dibuat bukan untuk itu. Begitulah, banyak dari kita yang mencari pekerjaan dengan motivasi gölèk slamet (cari rasa aman). Ini manusiawi tetapi hendaknya kita meluruskan kesalah kaprahan ini. Seyogyanya kita bekerja bukan (sekadar) karena mencari aman tetapi untuk tujuan2 yang lebih baik dan benar, Ada 4 kategori sikap2 manusia terhadap resiko. 1. Penghindar resiko (risk aversive) 2. Pengurang resiko (risk minimalis) 3. Penyangga resiko (risk taker) 4. Penantang resiko (risk chalenger) M berada pada kategori 1-2-3, E pada 2-3. Orang yang berada pada kategori-4 bukan E. Kategori-4 adalah untuk penjudi, petaruh, gambler, spekulator yang benar2 untung2an. Ini tidak kita bicarakan. Ngabis2in pulsa. Untuk memahami resiko kita harus mengenal dulu kata2 'takut', nyali, berani, bondo wani (berbekal berani), dll. Rasa takut bisa positip karena ini bisa menghindarkan petaka. Hanya, rasa takut yang belebihan dampaknya merugikan.
Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something else is more important than fear. Ambrose Redmoon Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi penilaian bahwa ADA YANG LEBIH PENTING dari rasa takut itu.
QS itu manusiawi jika ia takut salah hitung dan menimbulkan kerugian. Tetapi ia keliru, bahwa ada yang lebih penting dari rasa takutna. Apa itu ? Menang tender ! Ini jauh lebih penting dari rasa takut itu. Courage is the mastery of fear, not the absence of fear. Mark Twain Keberanian adalah mengalahkan rasa takut, bukan ketiadaan rasa takut.
Pahamilah bahwa rasa takut itu manusiawi dan sehat tetapi jangan sampai kita terjebak. Gölèk Slamet adalah manusiawi tetapi jangan sampai kita (se-mata2) termotivasi itu. Ada yang jauh lebih bernilai dari sekadar gölèk slamet.
Diposting di mailing list UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|