Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kok diajak urang pasupadan
Kok dialiah urang kato pusako
Kok dirubah urang kato dahulu
Jan cameh nyawo malayang
Jan takuik darah taserak

Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Managerialship (7a) : Resiko PDF Print E-mail
Written by S. Brotosumarto   
Thursday, 26 August 2004
Kita masih berada pada bab membuat keputusan karena esensinya LME adalah pembuat keputusan. Job deskriptionnya itu. Kita ulang sejenak supaya nyambung.

Ada orang yang mampu membuat keputusan dan mau bertanggung jawab. Untuk mampu membuat keputusan kita harus menggunakan kepala, bukan hati. Sulit sekali seorang F menjadi M.
Contohnya Bung Karno yang F, ia M yang payah. Mengapa orang takut /segan membuat keputusan ? R e s i k o ! Setiap keputusan, betapapun kecilnya senantiasa mengandung resiko. Keengganan orang menghadapi resiko sangat manusiawi. Semua orang ingin selamat dan tidak terancam resiko.
 
Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia terdorong oleh motivasi2 :
 
1. Kebutuhan fisiologis : makan, tidur, birahi, dll
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan penghargaan
4. Kebutuhan untuk dicintai dan mencintai. HAPPY VALENTINE DAY !
5. Kebutuhan untuk mewujudkan dirinya.
 
Kebutuhan akan rasa aman bukan sebatas fisik misal takut kesetrum listrik tetapi juga rasa aman finansial, masa depan, gangguan2 huruhara, dan segala macam ancaman. Resiko adalah sebentuk ancaman yang mengusik kebutuhan akan rasa aman. Berikut contoh kasus "Pak, ini proposal tender sudah selesai"
"Lho, kok harganya muahal bianget ?"
"Tetapi hitungan saya aman, pak. Kita tak bakalan rugi"
"Sék, sék, sék ... Apa sih jabatanmu ?"
"Quantity Surveyor (QS), menghitung harga pokok tender"
"Kok cari aman ?"
"Takut rugi, pak. Habis, apa sih tugas saya ?"
"Memenangkan tender ! Bukan cari aman"
 
Begitu besarnya kebutuhan mendapatkan rasa aman sehingga si QS  menyimpang dari tujuan. Tugasnya memenangkan tender sak banyak2nya.
Kok mbalah cari aman ? Kalau sekedar cari aman, ndak usah dihitung  njlimet. Cukup awur2an dan harganya di-gede2in habis perkara ! Kalau harganya kegedean, bigimana kita mau menang tender ? Kalau tender kalah2 melulu dari mana gaji diperoleh ? 

a ship in port is safe, but that is not what ships are built for.Benazir Bhutto
Kapal dipelabuhan pasti aman, tetapi kapal dibuat bukan untuk itu.
 
Begitulah, banyak dari kita yang mencari pekerjaan dengan motivasi gölèk slamet (cari rasa aman). Ini manusiawi tetapi hendaknya kita meluruskan kesalah kaprahan ini. Seyogyanya kita bekerja bukan (sekadar) karena mencari aman tetapi untuk tujuan2 yang lebih baik dan benar, Ada 4 kategori sikap2 manusia terhadap resiko. 
1. Penghindar resiko (risk aversive)
2. Pengurang resiko (risk minimalis)
3. Penyangga resiko (risk taker)
4. Penantang resiko (risk chalenger)
 
M berada pada kategori 1-2-3, E pada 2-3. Orang yang berada pada kategori-4 bukan E. Kategori-4 adalah untuk penjudi, petaruh, gambler, spekulator yang benar2 untung2an. Ini tidak kita bicarakan. Ngabis2in pulsa.
 
Untuk memahami resiko kita harus mengenal dulu kata2 'takut', nyali, berani, bondo wani (berbekal berani), dll. Rasa takut bisa positip karena ini bisa menghindarkan petaka. Hanya, rasa takut yang belebihan dampaknya merugikan. 

Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something else is more important than fear. Ambrose Redmoon
Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi penilaian bahwa ADA YANG LEBIH PENTING dari rasa takut itu. 

QS itu manusiawi jika ia takut salah hitung dan menimbulkan kerugian.
Tetapi ia keliru, bahwa ada yang lebih penting dari rasa takutna. Apa itu ? Menang tender ! Ini jauh lebih penting dari rasa takut itu.
 
Courage is the mastery of fear, not the absence of fear. Mark Twain 
Keberanian adalah mengalahkan rasa takut, bukan ketiadaan rasa takut.

Pahamilah bahwa rasa takut itu manusiawi dan sehat tetapi jangan sampai kita terjebak. Gölèk Slamet adalah manusiawi tetapi jangan sampai kita (se-mata2) termotivasi itu. Ada yang jauh lebih bernilai dari sekadar gölèk slamet.

Diposting di mailing list UGM
Disadur oleh : Dewis Natra

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 14 guests and 12 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.70349 Seconds