Lingkaran manusia itu hampir tak berubah semenjak sehari yang lalu. Dari arah matahari terbit, terlihat Onyik bersila, mengipas-kipaskan kartu remi di depan susu yang hanya berkutang ketat. Di sebelah kirinya, Manjin mencangkung sambil membidik kartu, juga tak berbaju, berharap mendapat joker atau as skop. Di hadapan Manjin, Sokun bersimpuh bertelanjang dada, tangan kiri menggaruk-garuk kepala, sedang tangan kanan menelungkupkan kartu dengan geram.
Sedang dua orang yang membelakang ke arah sang penghasil cahaya utama, Peri dan Ijup, dengan hanya bercelana pendek, hampir memamerkan tingkah yang sama: wajah bersaput harapan, sedang jemari gemetar membidik kartu berpunggung biru. “Kawin!” seru Onyik, setelah semua lawan mainnya melemparkan keluh berbalut kesal. Kemudian dicabutnya dua kartu--satu kartu joker merah dan satu lagi kartu as skop-- dari susunan dua puluh kartu remi di tangan kanan, serta menelentangkannya ke atas hamparan koran yang sudah sobek-sobek. Sedang di seputar arena perjudian, centang-perenang yang cukup akrab: serakan kulit kacang, daun-daun bekas bungkus nasi, botol-botol minuman keras, juga segala sesuatu yang begitu bersahabat dengan kekumuhan. Manjin menyeringai. Mengambil dua lembar lima ribuan dari onggokan uang di depan silanya. Meremas dengan geram. Kemudian melemparkan ke arah onggokan uang Onyik sambil menggerutap. Lemparan Manjin hampir serentak dengan saat seekor anjing hitam mengejar kucing putih, untuk berebut sisa rendang. Sehingga di sudut yang lain dua-tiga, ekor tikus urung mengunyah remah nasi. Peri dan Ijup memperhatikan sebentar. Kemudian melakukan hal yang sama: melemparkan dua lembar lima ribuan ke arah onggokan uang Onyik, sambil menggerami kemenangan sang perempuan sepanjang permainan. Selain sering mendapat joker merah dan as skop secara serentak, kartu Onyik juga sering song: keduapuluh kartu lebih awal habis diturunkan ke tikar koran mengikuti kartu lain secara seri atau senama. Dan, ingat, untuk pemain yang kartunya song, bayarannya bisa lima kali taruhan kawin. Sokun menggeliat. Memandang berkeliling. Mencoba bersitatap dengan mata masing-masing lawan main. Sampai ke mata kelam Onyik, ia tersenyum masam, ”Saya utang Nyik. Modal habis.” “Sudah sejuta dua ratus ribu, Kun. Agunannya harus wa’ang tambah...” “Sertifikat ladang itu...” Sokun coba memintas. Giliran Onyik tersenyum masam. Kemudian mengumbar gelak yang membuat susu montoknya kembali terguncang-guncang, “Sesuai perjanjian kemarin, aden hanya menghargai sertifikat itu. Satu juta.” Sokun menggeleng keras. Mengalihkan lihat pada jelaga abu-abu yang bergelantungan di atas loteng teras belakang bangunan peninggalan Belanda itu. Kemudian berdiri untuk bergerak ke arah sumur. Lalu dengan diam ia menimba air. Dan membasuh muka sambil menulikan telinga dari ejekan lawan sepermainan. “Mandi saja, Kun! Sudah sehari semalam wa’ang tak mandi!” ejek Ijup, tanpa perduli terhadap diri yang juga sudah lebih 24 jam tak membasuh badan. Peri menyela, ”Kalau sudah kalah, segalanya akan terasa panas, Kun!” “Itulah permainan song, Kun! Menang senang, kalah gosong!” Manjin tak mau ketinggalan. Kemudian dimasukkannya telunjuk ke dalam gelas kopi untuk meraup serbuk hitam kental. Membarutkan pada separuh ujung kretek. Mendiang dengan nyala pemantik. Baru membakar ujung rokok hingga menimbulkan bunyi gemeretuk tembakau lembab dimamah api. Sokun menggeram. Mukanya yang masih lembab mendadak memanas, seakan api rokok Sokun ditempelkan pada seluruh jerawat pada wajahnya yang tak rata. Ia berbalik dengan gerutap marah. Kembali menatap lingkaran permainan song yang hanya berjarak lima langkah dari tempatnya berdiri. Rekan-rekan yang ditatap bukannya tergertak, malah serentak menebar bahak. Hingga ia terpaksa melulur berang. Membuka resleting celana. Dan kembali membelakang untuk mengejan kencing sekencang mungkin. “Masih main, atau wa’ang berhenti, Kun?” sorak Onyik. Plung! Seekor cicak terjatuh ke dalam gelas minuman kerasnya yang masih berisi separuh. “Tentu main! Saya masih punya STNK motor!” sungut Sokun sambil memasang resleting celana tanpa bercebok. Kemudian mencabut dompet untuk mengeluarkan selembar surat atas nama istrinya yang pegawai negeri itu. Dan tanpa membasuh kaki yang tak bersendal, dia telah memenuhi lingkaran permainan song kembali. Onyik menenggak minuman kerasnya dengan cicak masih menggeliat-geliat di dalam gelas. Sokun menggerutap lagi. Di hatinya, kini diri seakan cicak yang terkurung dalam gelas itu: mabuk, suntuk, megap-megap. Onyik menerima STNK sambil merogoh dompet besar yang digeletakkannya di bawah paha kirinya, “Tujuh ratus ribu dipotong sepuluh ribu!” ketusnya sambil kembali mengambil dua kartu yang masih telentang di atas tikar koran. Permainan berlanjut. Kalah dan menang saling kejar dengan petang yang semakin merembang. Orang-orang di Pasar Sijunjung sudah mulai mengepak dagangan. Termasuk Sapar, penjual minyak tanah di bagian depan bangunan peninggalan Belanda yang menjorok sejarak lima puluh meter dari jalan besar itu. “Angsuran hutang wa’ang, Par?” Onyik langsung berdiri melihat Sapar akan berlalu begitu saja. Sapar berbalik dengan gegas. Melangkah 20 tindak, “Denai minta tenggang. Anak denai sakit dan istri denai mau melahirkan, sedang jual-beli hari ini hanya cukup untuk setoran...” “Wa’ang seperti tak tau saja siapa aden!” Onyik menggoyang-goyangkan telunjuk di depan mukanya, tanpa peduli akan susunya yang seakan hendak meletup dari dalam kutang. “Tapi...” “Utang wa’ang dua juta. Wa’ang harus bayar tiga juta selama tiga puluh hari!” Onyik berkacak pinggang. “Sebenarnya aden sudah bosan mengulang-ulang aturan...” Sapar memasang wajah memelas, “Sehari saja tak boleh menunggak?” “Boleh! Tapi sertifikat rumah wa’ang akan aden gadaikan!” Sapar terdesak. Akhirnya dikeluarkannya juga lembaran seratus ribu dari saku depan dengan tangan menggigil. Onyik menerima dengan senyum senang, “Dan tolong sampaikan pesan aden pada Upiak penggalas ubi, Marni penggalas pisang, Ma’in penggalas mangga, Cege toke getah, dan Samsul juragan botol. Semalam-malam hari mereka harus mengangsur hutang ke sini!” Sapar hanya sanggup menggangguk. “Juga sampaikan pesan Onyik pada istri Pak Camat, agar jangan lupa mengangsur utang pinjaman untuk penyogok jaksa dalam kasus korupsi rehab pa...” “Hus!” Onyik mengibaskan telapak tangan ke muka Manjin. Ijup tak ingin ketinggalan, “Juga sampaikan pada istri Pak Polantas, jangan mangkir mengangsur utangnya, yang digunakannya untuk meluluskan anaknya menjadi pegawai negeri!” “Juga angsuran utang suami Bu Bidan!” “Angsuran istri Pak Kua...” “Angsuran istri Juragan Kelapa...” “Utang istri Pak Jaksa...” Dan Sapar hanya bisa kembali mengangguk. Jum’at pertama puasa, Pasar Sijunjung gempar. Onyik si pembunga uang tiba-tiba berjilbab! Dan kemudian, hampir setiap waktu berbuka datang, ia mengundang orang-orang pasar untuk berbuka bersama ke rumahnya yang bertingkat itu. Gunjing pun bergaung hampir ke seantero pasar. Mulai dari los beras di utara, sampai ke pertokoan tukang jahit di selatan. Mulai dari lapak becek sayur-mayur di barat, sampai ke lapak ikan yang penuh lumpur di timur. “Onyik sudah tobat!” sorak Colak ke arah Risal sambil menawarkan ikan lele segar pada pembeli yang lalu-lalang menyingsingkan samping sambil menutup hidung. “Betul! Aden malah telah dua kali diundang berbuka!” balas Sisal sambil melayani pembeli tongkol. “Padahal suaminya yang kedelapan baru saja melarikan uangnya tiga puluhan juta!” “Mungkin karena itulah itu dia bertobat?” “Kata Sincun bukan karena itu. Anak satu-satunya yang sekolah di pesantren, tak mau lagi menerima uang sekolah dari pembungaan duit,” umbar Colak. “Oo...” Sisal memonyongkan mulut sambil mengusir puluhan langau hijau yang begitu bernafsu merubungi onggok ikan tongkol yang hampir membangkai. “Padahal tanpa memperanakkan uang, Onyik sudah mapan dengan tiga petak kedai kelontongnya.” Dukungan dan ejekan terhadap tampilan baru Onyik hampir setiap hari mengisi pasar. “Barangkali perubahan Onyik hanya sementara. Bukankah dia sedang mengincar Haji Miun, untuk dijadikan suami ke sembilan,” ejek Upiak penggalas ubi. “Ya, selain mengintai duda itu, khabarnya dia juga sedang melirik ustadz Syarif yang baru saja tamat kuliah di Mesir,” tukuk Marni penggalas pisang. “Tak tahu diuntung! Tak sadar umurnya sudah kepala empat!” Mak Mawi penggalas kuini, berkacak pinggang, “Kalian sama saja. Mengumpat, tapi tetap meminjam uangnya!” “Itu lain soal, Mak,” sergah Upiak. “Meminjam pada Onyik, gampang. Jam dua malam pun kita butuh uang, pasti dia akan menyediakan...” “Tapi bunganya mencekik!” pintas Mak Mawi. “Kalau tak terbayar, dia berani menyita apa saja!” Marni ikut andil, “Itu resiko kita, Mak. Semua syarat sudah kita tandatangani di kertas segel...” Samsul, juragan botol, sengaja berhenti dengan meletakkan pikulan, untuk memintas gunjingan, “Kalian rupanya belum dapat kabar baru...” Ia tak menyelesaikan kalimatnya untuk menunggu tanggapan. “Onyik sudah mendaftar untuk naik haji!” Setelah tiga penggunjing itu hanya bisa mengangakan mulut, Samsul berlalu sambil berteriak, “Botol kosong! Botol! Botol kosong!” Dan semenjak itu, warga pasar mulai memanggil Onyik “Bu Aji.” Dua bulan sesudah lebaran, Pasar Sijunjung berjalan seperti biasa. Cuma di beranda belakang bangunan peninggalan Belanda, ada kegiatan yang berbeda. Kegiatan yang sudah menghilang cukup lama. Tengoklah, lingkaran manusia itu kembali hampir tak berubah semenjak sehari yang lalu. Dari arah matahari terbit, terlihat Bu Aji bersila, mengipas-ngipaskan kartu remi. Di sebelah kirinya, Manjin, juga hanya bercelana pendek, mencangkung sambil membidik kartu, berharap mendapat joker atau as skop. Di hadapan Manjin, Sokun bersimpuh bertelanjang dada, tangan kiri menggaruk-garuk kepala, sedang tangan kanan menelungkupkan kartu dengan geram. Sedang dua orang yang membelakang ke arah sang penghasil cahaya utama, Peri dan Ijup, juga tanpa baju, hampir memamerkan tingkah yang sama: wajah bersaput harapan, sedang jemari gemetar membidik kartu berpunggung biru. “Hanya sanggup dua setengah bulan, Bu Aji...” pancing Manjin, demi melihat Onyik berkerut kening saat membidik kartu. “Hentikan panggilan itu!” Onyik berdiri sambil berkacak pinggang. “Mereka tak mengizinkan aden berangkat!” Onyik terengah, “Jangankan berangkat. Setelah pendaftaran aden diproses dua bulan setengah, akhirnya malah ditolak!” Lalu dihirupnya minuman beralkohol langsung dari botol yang bersegi enam. “Mereka siapa?” hampir serentak Sokun, Peri, dan Ijup melemparkan tanya. “Ya... mereka! Pokoknya mereka! Kata mereka, aden bisa membawa celaka jika berangkat bersama rombongan!” Onyik mengucek-ucek rambutnya yang keriting. Gusar membawa tangan tak terkendali. Kadang menggisar telinga, kadang memencet hidung. “Tapi,” Ijup menyela. “Bukankah Pak Camat, yang katanya juga akan berangkat musim haji sekarang, baru saja menggelapkan uang rehab pasar?” “Juga Pak Polantas yang setiap sebentar mengadakan razia tak resmi...” sambung Peri. “Pak Jaksa yang menerima suap istri Pak Camat!” “Pak Kua yang menikahkan orang tanpa wali?” “Juragan Kelapa yang membeli buah sebelum masak!” “Terus, Bu Bidan yang menjual pil KB yang seharusnya gratis!” “Terus...” Onyik mencangkung dengan gegas. Menyeruput minuman kerasnya, yang entah untuk gelas yang keberapa, dengan ganas. Kemudian berkatalah dia, “Sudah! Sudah!” Dan kembali dia bersila dan menghempaskan sepasang kartu ke atas tikar koran. “Kawin!” serunya sambil menelentangkan joker merah dan as skop. Permainan song pun berlanjut sampai gelap benar-benar menyungkup bumi. Padang, 12 Oktober 2004 Kosakata Minangkabau Wa’ang: kamu untuk laki-laki (kasar). Aden: saya (kasar). Denai: saya (dari yang merasa “orang bawah”). Penggalas: penjual. Samping: kain penutup tubuh perempuan dari pinggang sampai mata kaki. Ode Barta Ananda, lahir di Sijunjung, Sumatra Barat, 8 April 1967. Bekerja sebagai Redaktur Budaya di Harian Padang Ekspres. Bergiat di Komunitas Teater NYA, Padang. Sumber : http://www.korantempo.com/news/2004/12/26/Seni/35.html Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |