Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tentang harato Pusako Tinggi. PDF Print E-mail
Written by Azmi Dt.Bagindo   
Tuesday, 01 April 2008
ImagePerbedaan pandapek tentang harato pusako ko sabananyo telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, malah beliau mengarang sebuah kitab berjudul : Ad Doi' al Masmu' fil Raddi 'ala Tawarisi al 'ikwati wa Awadi al Akawati ma'a Wujud al usuli  wa al Furu'i, yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat  ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam  Dalam Adat Minangkabau  275 ) Namun, beliau beda pandapek dengan murid beliau seperti  Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah. Murid beliau Syekh Rasul ( H.Abdul Karim Amrullah ) ulama yang belakan ini melihat harta pusaka dalam bentuk yang sudah terpisah dari harta pencarian. Beliau berpendapat bahwa harta pusaka itu sama keadaannya dengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlkukan oleh  Umar ibn Kattab atas harta yang didapatnya di Khaybar yang telah dibekukan tasarrufnya dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta  wakaf tersebut walaupun ada  masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan, maka  terindarlah harta tersebut dari kelompok hata yang harus diwarisklan menurut hukum Faraid; artinya tidak salah kalau padanya tidak berlaku hukum Faraid. Pendapat beliau ini di ikuti oleh ulama lain di antaranya Syekh Sulaiman ar Rasuli. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam  Dalam Adat Minangkabau  278)

          Kemudian  Buya Hamka berpendapat tentang harta pusaka  sebagai berikut :
          Yang pertama "Bahwa Islam masuk ke Minangkabau tidak mengganggu susunan adat Minangkabau dengan pusaka tinggi. Begitu hebat perperangan Paderi, hendak merubah daki-daki adat jahiliyah di Minangkabau, namun Haji Miskin, Haji A.Rachman Piobang, Tuanku Lintau, tidaklah menyinggung atau ingin  merombak susunan harta pusaka tinggi itu. Bahkan pahlawan Paderi radikal, Tuanku nan Renceh yang sampai membunuh uncu-nya (adek perempuan ibunya) karena tidak mau mengerjakan sembahyang, tidaklah tersebut, bahwa beliau menyinggung-nyinggung susunan adat Itu, Kuburan Tuanku Nan Renceh di Kamang  terdapat di dalam Tanah Pusako Tinggi". (IDAM hlm 102 )

          Yang kedua : "Tetapi  Ayah saya DR. Syekh Abdulkarim Amrullah Berfatwa bahwa  harta pusaka tinggi adalah sebagai waqaf juga, atau sebagai harta musaballah yang pernah dilakukan Umar bin Khatab pada hartanya sendiri di Khaibar, boleh diambil isinya tetapi tidak boleh di Tasharruf kan tanahnya. Beliau mengemukan kaidah usul yang terkenal yaitu; Al Adatu Muhak Kamatu, wal 'Urfu  Qa-Dhin Artinya Adat adalah diperkokok, dan Uruf ( tradisi) adalah berlaku". (IDAM hlm 103)

           Yang ke tiga : Satu hal yang tidak disinggung-singgung, sebab telah  begitu keadaan yang telah  didapati sejak semula, yaitu harta pusaka yang turun menurut jalan keibuan. Adat dan Syarak di  Minangkabau bukanlah seperti air dengan minyak, melainkan berpadu satu, sebagai air dengan minyak dalam susu. Sebab Islam bukanlah tempel-tempelan dalam  adat Minangkabau, tetapi  satu susunan Islam yang dibuat menurut pandangan hidup orang Minangkabau. (Hamka, Ayahku hlm. 9)

            Yang ke empat : "Pusaka Tinggi" inilah dijual tidak dimakan bali di gadai  tidak dimakan sando (sandra). "Inilah Tiang  Agung Minangkabau" selama ini. Jarang kejadian pusako tinggi menjadi pusako rendah, entah kalau adat tidak berdiri lagi pada suku yang menguasainya (Hamka, dalam Naim, 1968:29)
   
Keputusan Seminar
I.  Keputusan pada Seminar atau Musyawaratan Alim Ulama, Niniak mamak dan    cadiak pandai Minangkabau pada tanggal 4 s/d 5 Mei 1952 di Bukittinggi maka Seminanr menetapkan :
 
1. Terhadap "Harta Pencarian" berlaku hukum Faraidh, sedangkan terhadap "Harta Pusaka" berlaku hukum adat.
2. Berhubung I.K.A.H.I. Sumbar ikut  serta mengambil keputusan dalam seminar ini, maka Seminar menyerukan kepada seluruh Hakim-hakim di Sumbar dan Riau supaya memperhatikan ketetapan Seminar ini ( Naim 1968 : 241)

II. Kemudian pada Seminar Hukum Adat Minangkabau tahun 1968 di Padang, yang di hadiri oleh para cendikiawan dan para ulama Minagkabau,  ditetapkan  bahwa terhadap harta pencaharian berlaku hukum faraidh, dan terhadap harta pusaka  tinggi berlaku hukum adat. Selanjutnya, tentang hukum waris diputuskan sebagai berikut :
                a.      Harta pusaka di Minangkabau merupakan harta badan hukum yang      diurus    dan diwakili oleh Mamak Kepala Waris di luar dan di dalam peradilan.
                b.      Anak kemenakan dan mamak kepala waris yang termasuk ke dalam  badan  hukum itu masing-masingnya bukanlah pemilik dari harta badan hukum tersebut. (Naim, 1968:243)         
 Kemudian Dr.Amir Syarifuddin berpendapat, bahwa pewarisan menurut adat bukanlah berarti peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris, tetapi peralihan peranan atas pengurusan harta pusaka itu. Dengan demikian terlihat adanya perbedaan dalam system. Perbedaan tersebut akan lebih nyata dalam keterangan di bawah ini.

            Pertama: harta pusaka melekat pada rumah tempat keluarga itu tinggal dan merupakan dana tetap bagi kehidupan keluarga yang tinggal di rumah itu. Harta itu dikuasai oleh perempuan tertua di rumah itu dan hasilnya dipergunakan untuk manfaat seisi rumah. Pengawasan penggunaan harta itu berada di tangan mamak rumah. Bila mamak rumah mati, maka peranan pengawasan beralih kepada kemenakan yang laki-laki. Bila perempuan tertua dirumah itu mati, maka peranan penguasaan dan pengurusan beralih kepada perempuan yang lebih muda. Dalam hal ini tidak ada peralihan harta.

            Penerusan peranan dalam system kewarisan adat, adalah ibarat silih bergantinya kepengurusan suatu badan atau yayasan yang mengelola suatu bentuk harta. Kematian pengurus itu tidak membawa pengaruh apa - apa terhadap status harta, karena yang mati hanya sekedar pengurus.

            Hal tersebut di atas berbeda sama sekali dengan bentuk pewarisan dalam hukum Islam. Dalam Hukum Islam pewarisan berarti peralihan hak milik dari yang mati kepada yang masih hidup. Yang beralih adalah harta. Dalam bentuk harta yang bergerak, harta itu berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Sedangkan dalam bentuk harta yang tidak bergerak, yang beralih dalam status pemilikan atas harta tersebut.

            Kedua dan yang merupakan ciri khas dari harta pusaka ialah bahwa harta itu bukan milik perorangan dan bukan milik siapa -siapa secara pasti. Yang memiliki harta itu ialah nenek moyang yang mula-mula memperoleh harta itu secara mencancang melatah. Harta itu ditujukan untuk dana bersama bagi anak cucunya dalam bentuk  yang tidak terbagi-bagi. Setiap anggota dalam kaum dapat memanfaatkannya tetapi tidak dapat memilikinya. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam  Dalam Adat Minangkabau  269-270)

           Maka dengan demikianlah, jelaslah bahwa telah ada kesepakatan para alim ulama, niniak mamak, dan cadiak pandai tentang status harta pusaka itu sebagai warih bajawek, pusako batolong dari niniak turun kemamak dari mamak turun kekemanakan. Dan kemudian diturunkan pula kebawah  menurut jalur Ibu dalam kaum atau suku yang bersangkutan. Indak buliah dihilang dilanyokkan, kok dibubuik layua dianjak mati, dijua indak dimakan bali di gadai indak dimakan sando.

        Kemudian seperti sering saya kemukakan, bahawa harta pusaka itu adalah sebagai bukti, "asal usul" bahwa seseorang  itu dapat dikatakan keturunan Minang ( Etnis Minangkabau) apabila mempunyai harta pusaka tiunggi. Dalam adat dikatokan, "nan ba pandam ba  pakuburan nan ba sasok bajarami, kok dakek dapek di kakok,  kok jauah dapek di antakan". Seseorang nan indak punyo atau indak lai mempunyai harta pusaka, berarti indak lai basasok bajarami, tidak ba pandam ba pukuburan, maka orang atau keluarga yang telah habis harta pusakanya tidakalah lagi  langkap  Minangnyo. Indak lai baurek tunggang, indak bapucuak bulek, atau dengan kato lain kateh indak bapucuak kabawah indak baurek  orang tersebut dapat juga dikatakan "punah"  punah dalam hal harta pusaka menurut aturan adat, jika dia meninggal dia dikatakan mati ayam mati tunggau.  Malah ada pendapat para ahli adat, mangatokan bahwa apabila satu kaum sudah abih harato pusakonya, mako indak paralu lai ma angkek seorang panghulu, karena adat itu berdiri di ates  pusako, cancang balandasan lompek basitumpu.

         Harta pusaka itu adalah sebagai alat permersatu dalam jurai, kaum, dan bagi masyarakat Minang pada umum, sekaligus untuk mengetahui, nan sa asa sakaturunan menurut jalur adat. 
         Harta tersebut juga sebagai harta cadangan, jika ada dunsanak kemanakan  yang kehidupannya agak susah di perantauan boleh  babaliak kakampung uruihlah harata itu. Oleh karenanya dapat kita bayangkan jika harta pusaka di Minangkabau
 di perjual belikan, maka masyarakat Minangkabau akan sama  nasibnya dengan masyarakat daerah-daerah lain, akan tersingkir dari  nagari asalnya sendiri
        Harta itu adalah amanah, yang boleh hanyo diambil asilnya dan tidah untuak dimiliki, maka harta itu jangan sampai ilang atau lenyap ditangan kita. Karena harta itu bukanlah milik pribadi, tetapi adalah milik bersama, maka bersama-sama pula memeliharanya.
Namun, demikian jika ada yang berpendapat dengan mengatakan bahwa harta pusaka itu haram, itu adalah haknya. Tetapi bagaimana dengan pendapat para ulama Minangkabau diatas, apa itu tidak boleh di katakan sebagai "IJMAK"  para ulama Minangkabau?
Dan selanjutnya, jika pendapat tersebut sudah sangat di yakini bahwa harta pusaka tersebut adalah haram menurut Agama. Mulailah terlabih dahulu dari diri sendiri, atas harta pusako nan saparuik, nan sakaum atau sapayung sapasukuan dan nan sanagari. Adat kan salingka nagari, pusako salingka kaum, tidak ada yang akan melarang, jika nan berhak telah sepakat untuk membuat apa saja atas harta pusaka tersebut. Dan kepada yang masih meyakini atas pendapat para uluma Minangkabau tersebut diatas, tentu juga itu merupakan hak, tidak ada pulah yang boleh memeksa kan ke endak. Ini tentu bukan berarti Taklid buta, kerana kita yakin para ulama Minang tersebut tentu telah melalui penelitian atau ITIHAT pula.
Demikianlah nan dapek ambo sampaikan, ambo mohon maaf  jikok ado nan kurang pado tampeknyo.
 
Wasalam,
 
Azmi Dt.Bagindo
Trackback(0)
Comments (5)add comment

yudi kampai said:

Ambo bisa mamahami tulisan mamak datuak bagindo. Memang ada keunggulan dari harto pusako tinggi di minang. Orang luar tidak bisa lalu lalang menjual dan membeli tanah di minang. Ambo sangaik satuju itu dipertahankan.
Persoalannya mak datuak, ambo caliak di sejumlah nagari di ranah minang, praktik mewariskan harato itu banyak nan indak membedakan antaro pusako randah jo pusako tinggi. Mungkin dari siko pulo kalua pandapek harato pusako itu haram.
Seharusnya, pancarian ibu dan ayah diwariskan kapado anak--anak. Aratinyo, itu hak anak-anak menikmati pencarian ayah jo bundonyo itu. kan baitu mak Datuak Bandaro.
Kenyataany0 mak duatuak, itu hanyo balaku kalau seorang ayah da ibu itu punya akan padusi. Kalau satu keluarga itu, tidak punya akan padusi maka dikatakan punah. Lalu harta ayah dan ibu itu tidak bisa dinikmati oleh anak laki-laki itu dan mewariskan kepada anak di masa datang. Banyak nan tajadi harato dari keluarga lari ka pihak keluarga ibu yang kebetulan memiliki anak perempuan. Sementara itu adalah hasil jerih payah dari ayah anak laki-laki itu. Sementara ayak dari anak perempuan saudara seibu itu tidak ada hubungan dari sama sekali dengan laki-laki yang dikatakan punah tadi.
Barangkali mak datuak dari sinilah ada pandapek, harato pusako itu haram. Karena orang menguasai harta itu bukan haknya.
Contoh nyatonya mak datuak di diri ambo? Bapak diwariskan hartao tanah dan sawah dek niniak ambo. Harato itu pancarian niniak ambo balaki bini. Kebatulan bapak ambo indak ado dunsanak padusi dan kanduang. Kini semua harato pancarian kedua niniak ambo diakuasai kamanakan jauh bapak ambo. Tolong jawek dek mak datuak bagindo. Apakah harto niniak ambo tu, indak dapek dikatokan pusako randah?
Dengan demikian mak datuak, paralu bana kironyo kini masosialisasikan tantang pusako randah jo pusako tinggi. Termasuk penegasan cara mewariskan harta hasil pencarian kedua orang tua. Sekian dan terima kasih
 
report abuse
vote down
vote up
April 01, 2008
Votes: +0

melati malam said:

assalamualaikum...
dan maaf seandai barisan2 ayat nanti ada menyinggung hati sesiapa...
begini...
di malaysia..ramai jejaka takuit berkahwin dengan anak negeri sembilan ...
kata mereka takuit harta semua jatuh pada isteri?
bagaimana ?
walaupun melati baca diatas...jawaban bagi soalan yg lama bermain di fikiran masih kabus...
tetapi ramai jejaka yg dari negeri lain berkahwin dengan anak N9..cinta kuasai semua...
kalau soalan terlalu tidak sopan...maaf melati pohonkan...
salam mesra
melati malam
 
report abuse
vote down
vote up
April 01, 2008
Votes: +0

de alfiand said:

salam ka dunsanak sadonyo...
perasaan masalah iko alah pernah dibahas di-thread yang sebelumnya, dan sudah pula mendapat berbagai tanggapan... (cape de, kalau harus menanggapi hal yg sama lagi...)
apakah sebaiknya artikel ini tidak disatukan saja dengan thread sebelumnya yang sudah ada??

terima kasih
 
report abuse
vote down
vote up
April 03, 2008
Votes: +0

167634 said:

kalo manurui ambo yang masih modo2 ko.. indak ado salahnyo ma ulang2 untuk mamacahkan masalah yang sarupo di ateh tu. toh kan sangaek bamamfaat untuk generasi selanjutnyo
apo lai untuk yang modo2 yg jauh dari kampuang.
kalo lah urang minang yang alun tau tantang adat istiadat kampuangnyo dek karano banyak alasan..
baalah kajadinyo kampuang jo nagari kito nanti..
untuk mak datuak jan sampe bosan yo..
tamasuak ambo juo mangalami jo apo yang di alami dek uda yudi di teh tadi..
bedanyo untuak keluarga ambo ndak punyo dunsanak padusi kanduang.
sacaro pasti harta pancarian urang gaek abo akan jatuah ka tangan adek padusi sepupu ambo kali.. :upset
 
report abuse
vote down
vote up
April 03, 2008
Votes: +0

de alfiand said:

numpang menanggapi kembali...
bukan masalah cape atau jangan cape... tapi kalau topik diskusinya sebenarnya sudah dibuka, (dan belum pernah ditutup) tentu thread (benang diskusi) harus tetap satu, dan itu yang seharusnya dilanjutkan. jangan terkesan "membukak galeh surang-surang", sehingga persoalan menjadi mentah kembali.

sekian dulu, wasalam
 
report abuse
vote down
vote up
April 12, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Tuesday, 01 April 2008 )
 
Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 5 guests and 13 members online
Generated in 1.48543 Seconds