|
Suatu hari, belasan tahun yang lalu saya check in kesebuah hotel bersama Frank. Ketika hendak masuk kamar saya heran, Frank tidak langsung masuk kamar tetapi menyusuri gang hotel.
Frank, what the heck are you doin ? Ia mencari escape door (pintu darurat) bila terjadi kebakaran. Sejak saat itu, saya menemukan sebuah modus operandi yang bagus untuk menghadapi hidup. The escape dors ! Dalam hal apapun saya senantiasa mencari escape dor, bila ada hal2 buruk terjadi, kita sudah siap dan tahu bagaimana menyelamatkan diri. Dalam bahasa Indonesia : sedia payung sebelum hujan. Dalam bahasa mbergèdhèl : prepare the worst case scenario. Expect the unexpected. Dalam bahasa M, if plan- a fails, do plan-B. Juga dikenal dengan contingency planning. Dalam segala hal kita senantiasa menggunakan tiga skenario : skenario terbaik, skenario yang paling mungkin, dan skenario terburuk. Kita mempersiapkan skenario terburuk, menargetkan skenario yang paling mungkin, dan melakukan seolah skenario terbaik yang akan terjadi. Ketika saya melintas dari M-E, saya meninggalkan kemapanan. Mobil BMW, poya2 ke euro tiap tahun, gaji yang berlimpah, dan semua fasilitas eksekutip. Tetapi saya tidak cukup KONYOL tanpa the worst case scenario. Dlam situasi terburuk saya dan keluarga akan baik2 saja karena saya memiliki golden parachute. Jika skenario worst case terjadi, saya bisa dengan tenang ndalang sambil singsot2. Binggo ... yang saya peroleh adalah the best case. Salah satu cara mengatasi rasa takut adalah memakai perisai untuk melindungi diri. Bung Komo memakai modus operandi ini dan menamakan dirinya 'jamangah parasutiyah'. Ia konservatip dan penuh ke-hati2an serta perhitungan. Tetapi ia juga bukan type gs (gölèk slamet). Bukan begitu, bung Komo ? Itulah modus operandi yang saya sangat sarankan : 1. Jika bisa, hindari resiko 2. Jika itu sulit, hadapilah dan jinakkan, mandulkan, serta minimalkan resiko. 3. Dalam keadaan tertentu, kita harus dual. Lakukan itu, but do it intellegently. Dengan escape door, dengan parachute emas, sedia payung sebelum hujan, contengency planning, analisa worst case scenario, dll. Ini adalah jalan moderat antara gs yang sama sekali tidak punya keberanian dengan nekat yang konyol. Kita mau dan siap duel dengan resiko dan kita melakukannya dengan cara kita : cara cendekia. Work hard is good but work smart is better. Taking risk too dangerously is konyol, we take the risks intellegently & elegantly. Ada dua tayangan TV yang layak simak yaitu Fear Factor di Transtivi dan Worst Case Scenario di Lativi. Kita simak peraga2 mengatasi rasa takut. Apa yang mereka rasa takut sering tidak menakutkan bagi kita. Misalnya dikerumuni laba2, saya sama sekali tidak takut. Makan kecoa bukanlah menakutkan tetapi menjijikkan. Kecoa hanyalah protein, sama sekali tidak berbahaya bagi kita. Juga cacing & ulat. Tetapi berendam dalam air beku mungkin soal kecil bagi sementara orang tetapi itu menakutkan saya. Saya tidak tahan kedinginan. Itulah yang kita hadapi dalam kehidupan, kadang2 apa yang kita bayangkan menakutkan ternyata tidak begitu buruk. Yang kita hadapi bukan takut itu, tetapi 'rasa' takut. When you face your fear, most of the time you will discover that it was not really such a big threat after all. Les Brown Ketika kita hadapi rasa takut, seringkali ternyata itu bukan benar2 ancaman serius.
You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. Eleanor Roosevelt Kau tingkatkan kekuatan, keberanian dan pédé pada setiap pengalaman manakalau kau benar2 berhenti dirundung rasa takut. Many of our fears are tissuepaper thin, and a single courageous step would carry us through them. Brendan Francis Behan Banyak rasa takut kita bak kelambu kertas tisu yang hanya dengan sekali hentakan keberanian, bisa kita tembus.
Sebagai penutup topik resiko, pahamilah bahwa keberanian adalah sikap utama yang dibutuhkan dalam berkarir. Kita harus meningkatkan itu. Sikit demi sikitpun boleh, no prablem. Pada saatnya kita akan membuat keputusan2 yang 'berani'. Tetapi, jangan lupa untuk melakukan itu dengan cendekia.
Diposting di mailing list UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|