Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Kok indak nan dihati
Nan tajadi
Cubolah sanang jo
Nan tajadi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Semalam Suntuk Menikmati Rabab PDF Print E-mail
Written by Andi Jupardi   
Thursday, 10 April 2008

ImageRebab atau Rabab merupakan salah satu kesenian tradisional Minagkabau  yang dimainkan dengan alat musik biola yang ditegakan bukan seperti biola pada umumnya yang disandang dibahu sambil digesek. Dalam rabab ini diceritakan berbagai kisah umumnya seputar kehidupan yang berlatar belakang adat/kebudayaan minang.


Kehadiran Rabab berkaitan erat masuknya Islam di Miangkabau terutama daerah pesisir pantai sumatera bagian barat. Rabab yang terkenal di Minangkabau tentunya dari Pesisir Selatan biasa disebut Rabab Pasisie, sebuah  seni tradisi lisan atau biasa disebut “bakaba”
 
Seni tradisi rabab pasisie ini biasanya menampilkan seorang tukang rabab (biola), seorang tukang gendang, dan seorang tukang dendang (biasanya perempuan). Tukang rabab merangkap juga sebagai pencerita.
 
Inilah sekulumit kisah hidup saya ketika menikmati rabab semalam suntuk, sekitar tahun 1990  selepas usai Piala Dunia di Itali, saya cuti pulang berlibur ke Padang. Dari muko-muko Bengkulu Utara (daerah perbatasan Sumbar-Bengkulu) tempat saya bekerja kala itu, saya ke Padang melalui jalan darat  sepanjang pesisir pantai barat sumatera . Perjalanan dimulai dari Muko-muko masuk daerah perbatasan Kota Pinang, Lunang, Kambang, Batang Kapas, Painan ibukota kabupaten Pesisir Selatan, Bungus masuk kota Padang dengan waktu tempuh sekitar 10 Jam,  saat itu  kondisi jalan sempit, rata-rata jurang yang terjal disisi garis pantai, beberapa ruas jalan belum beraspal dan dalam pengerjaan.
 
Perjalanan yang cukup melelahkan,  tapi cukup terhibur dengan pemandangan pesisir pantai yang indah dengan lautan biru berkilau diterpa sinar matahari terik tengah hari, pantai-pantai landai dengan nyiur melambai, pulau-pulau kecil yang bertaburan,   “kaki pulau” kecil yang terjal dihembas ombak tiada hentinya, perahu-perahu nelayan dengan aneka layar berwarna warni.
 
Satu hari berada di kota kelaharin saya ini, salah seorang teman lama menawarkan sebuah ajakan :
 
“Ndi..mandanga rabab awak lah..samalam suntuak”
 
Sebuah ajakan yang susah ditolak, dan ini memang saya inginkan sejak lama
 
dima tu Man..", begitu nama teman saya ini
 “beko malam ado tukang rabab nan mangamen di emperen ruko dijalan M Yamin dakek masajik Muhamadiyah”
 
Selepas Isya kami bergerak menuju tempat yang dimaksud oleh teman saya ini, sebelumnya kami sudah janjian makan malam diwarung emperan/tenda yang bertaburan disisi kiri kanan jalan M Yamin, warung ini terkosentrasi di seputar mesjid Muhamadiyah dan mulut jalan menuju pasar raya Kota Padang.
 
Sekitar jam 9.30 kami bergerak ketempat tukang rabab, tidak jauh dari warung tenda, tepatnya diemperan toko menjelang (dulunya) masuk terminal Goan Hoat tempat mangkal oto siti ekpres begitu orang Padang menyebut angkot.
 
Tukang Rabab ini menggelar tikar (lesehan), dengan penerangan  2 buah lampu teplok ukuran besar  (lampu togok berkaca semprong). Kami mengambil posisi duduk dengan penonton lain yang kebanyakan orang tua rata-rata berumur 50 tahunan, mungkin kami saja yang muda belia (25 tahun) diantara penonton yang tua-tua tersebut.
 
Sementara Tukang Rabab dengan biolanya telah mulai pemanasan dengan dendang pantun-pantun dan lagu sebelum masuk inti cerita “bakaba”
 
Salah seorang penonton yang duduk bersila ala pendekar sambil menikmati sebatang rokok dan segelas kopi dihadapannya,  berkata
 
“Lah..lah mulai lai carito tu…tukang rabab, urang lah rami ko duduak bakuliliang…oyak lah lai”
 
Tukang rabab mengambil posisi, sambil menstel senar biolanya agar suaranya tidak lari, segala sesuatu telah siap, mulailah tukang rabab “bakaba”
 
Malam semakin larut dan dingin, teman saya telah mengingatkan saya sebelum berangkat”
“Ndi jaan lupo bawok saruang”
 
Tentunya sarung ini bukan sekedar penahan hawa dingin, lebih dari itu kami ingin menikmati “suasananya”, dengan selembar sarung tentunya kesannya seperti duduk dilapau-lapau kampung/pedesaan dan lebih “natural”
 
Untuk menghangatkan badan kami memesan sekoteng/serbat  yang mangkal disekitar tukang rabab ini, sekoteng plus begitu pesanan kami karena dikasih susu kental manis dan telur ayam kampung (seperti teh telor)
 
Saya begitu larut dengan alunan dendang tukang rabab ini yang bercerita tentang sebuah kisah. Pada intinya sebuah kisah hidup dengan latar belakang budaya minangkabau, tentang nasib “parasaian seseorang.
 
Ada konflik cinta, kasih tak sampai, pertikaian anak, kamanakan dan ibu, mengadu nasib dirantau orang, hidup terlunta-lunta diperantauan. Dengan gesekan biola yang melengking tinggi dan rendah yang sendu membuat pendengar tersayat pilu dengan kisah yang “mengharu birukan”
 
Ketika tukang rabab rehat sejenak, pak tua tiba-tiba dengan tatapan sendu berkata pada tukang rabab tersebut..
 
“Onde Yuang yo sadiah waden..kisah hiduik waden bana nan waang caritokan”….taruih lah.. jaan lamo bana istirahat tu.
 
Tukang Rabab meminum seteguk kopi dihadapannya dan menyulut sebatang rokok serta menghisapnya dalam-dalam, sementara saya dan teman saya sejenak menikmati sekoteng plus yang mulai dingin. Sarung semakin kami “pulun” dari leher menutupi sampai kaki sambil duduk bersila.
 
Tukang rabab sebelum melanjutkan ceritanya yang “haru biru”  diselingi terlebih dahulu dengan dendang-dendang atau lagu pantun yang kadang-kadang liriknya jenaka yang dibawakan asistennya seorang wanita (mungkin istrinya)
 
Cerita inti “bakaba” dilanjutkan oleh tukang rabab ini, jam menunjukan pukul 01.00 dini hari, semakin larut cerita semakin memilukan dengan perasaian anak manusia dalam menempuh hidup.
 
Saya begitu terpesona dengan tukang rabab ini, begitu detailnya dia menceritakan setiap kejadian seolah-olah kita berada dalam kisah tersebut sebagai contoh, ketika tokoh utama ini pergi merantau ketanah jawa dari kampung naik oto bus.
 
Tukang Rabab ini sangat-sangat detail menceritakan bagaimana perjalanan oto tersebut, mulai dari sopir injak rem, masuk perseneling, memutar stir, menempuh jalan yang berlobang terombang ambing. Roda mobil yang Slip (jika sedikit saya bawa-bawa ilmu Fisika slip ini artinya putaran/rotasi ban mobil tidak sebanding dengan jarak tempuh…ya ngegasing geto lo)
 
Ketika ban mobil tersebut “ngegasing” tukang rababpun  menceritakan.. berdesir-desir.. kerikil.. terpelanting.. kira-kira begitu, lebih halusnya tentu tukang rabab ini dengan “goyangan” kata-katanya.
 
Dan lebih hebat lagi tukang rabab yang berkisah begitu panjang tanpa contekan didepannya atau sebuah buku tebal yang dibolak-balik setiap halamannya untuk menyampaikan kaba ini.
 
Luar biasa saya pikir tukang rabab ini adalah seorang jenius didunianya. Mengalir lancar dimulutnya setiap bagian kisah tanpa kehilangan alur cerita ditambah lagi beban kosentrasi terbagi untuk menggesek biola..apa ini tidak luar biasa.
 
Kisahnya memang penuh haru, jalan panjang yang berliku untuk menempuh hidup yang kadang-kadang terlalu sulit diraih, seperti sebuah lagu The Beatles yang sendu “ The Long and Winding Road”
 
“Many times I ‘ve been alone and many times  I ‘ve cried”
“Anyway you ‘ll never know the many ways I ‘ve tried
“But still they lead me back to the long and winding road
“You left me standing here a long…long time ago”
Don’t leave mewaiting here, lead me to your door”

 
Begitulah kira-kira lagu the Beatles  ini dengan kaba si tukang rabab…yang menyayat hati.
 
Jam menunjukan sekitar pukul 3 menjelang subuh, tukang rabab memohon diri, ini mungkin “stretegi komersilnya”  kaba masih berlanjut besoknya, dia memohon maaf, tentunya dengan harapan penonton yang berada disekitarnya kembali lagi besok malamnya untuk melanjutkan kisahnya. Kami mulai beranjak dari tempat duduk dengan mata menahan kantuk, lalu kami isi piring lebar yang telah disediakan tukang rabab dengan sejumlah uang yang cukup lumayanlah…
 
Bapak tua yang larut dengan kisah tadi sedikit penasaran
 
Tukang Rabab..angku gantuang lo yo caritonyo
Kok bantuak itu..datang lah waden baliak bisuak malam

 
Secara diplomatis tukang rabab menjawab
 
"Mooh Pak.. hari lah manjalang azan subuah”
 
"Iyolah" kata Pak Tua ini sambil melemparkan uang dipiring tukang rabab.
 
Besok malamnya kami tidak melanjutkan lagi untuk mendengar lanjutan kisah si tukang rabab ba kaba, cukup…..ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan menonton rabab semalam suntuk di emperen toko.
 
Sekarang kesenian Rabab semakin tertekan dengan kemajuan zaman, kondisinya semakin kritis karena generasi sekarang boleh dikatakan tidak banyak meneruskan tradisi Rabab ini. Sementara perabab handal semakin tua dan uzur pada akhirnya kisah tersebut terkubur bersama jasadnya.
 
Walaupun ada “catatan” kisah yang menyayat itu dalam bentuk kaset, tapi seni ber kaba ini yang indah ini tidak dipelajari dan diteruskan oleh generasi muda sekarang.
 
Salam-Jepe/Pku 8 April 2008
 
Catatan :
 
Tulisan ini saya buat ketika menunggu laga penting
antara Liverpool vs Arsenal di UCL 8 besar
mata susah di ajak tidur
ya menulis saja..topik kita kesenian minang..
untuk kali ini...ibarat menu tentu harus bervariasi
layaknya hutan tropis lebih heterogen..lebih indah

 

Trackback(0)
Comments (4)add comment

Rambun Pamenan2008 said:

Batuah bana tulisan ko mah, biasonyo di tampek baralek, sanjo diagiah jo raun sabalik, pantun rang mudo mudo. Diikuik pulo jo dendang untuak manyapo gadih gadih nan kamek di alek tuh, sahinggo mambuek si gadih tasipu malu malu. Ndak jarang pulo situasi nan tun batamu jodoh nan mudo mudo.....Ndeh sabana tadagak mancaliak ranah pasisie, kampuang ambo nan dicinto, jauah dimato, trasaok dakek di hati nanko....
 
report abuse
vote down
vote up
April 10, 2008
Votes: +0

endarma said:

Rancak bana caro uda andi ko bacarito... sampai ambo mambayangan tongkrongan uda andi dan kawan nyo tuh.. sarato pak tuo nan panasaran jo kalanjutan carito, dan tantu sajo suasana malam sekitar musajik muhammadiyah nan lah 10 taun indak ambo cigok, tantu lah beda bana kini..

caro detail uda ko bacarito..indak kalah pulo jo tukang rabab smilies/smiley.gif rancak bana..

taragak mandaga rabab jo salawek talam/dulang.. dikampuang ambo kini kesenian tradisi awak tuh, lah basaing bana jo organ tunggal dan panyanyi sexi.. ibo hati dek inyo

mari kito cintoi seni tradisi kito..
 
report abuse
vote down
vote up
April 11, 2008
Votes: +0

Datuk Bagindo said:

ondeh diek.. mandanga rabab iyo sabana hanyuik hati wakden komah..... lah hanyuik pulo diri diparantauan indak parnah ambo mandanga rabab. walau lai ado di lagu-lagu minang awak. Namun kini lagu-lagu awak tuh... banyak nan ndak tantu arahnyo. basidencak sen.. indak ado seni sastranyo.
dangalah sanak, lagu jaman saisuak nan di gandang dek orkes gumarang.. hanyuik hati urang rantau mandanga nyo...
masih bisakah rabab nan sabana rabab ko dipertahankan. Rabab sebagai bagian dari kesenian Minang tantu urang diranah awak nan ka mamaliharo...
Hidup rabab.. dendangkanlah bia nak takana juo awak dirantau...

Wasaalam smilies/smiley.gif
 
report abuse
vote down
vote up
April 14, 2008
Votes: +0

jepe said:

Tarimo kasih ateh komen dan apresiasinyo jo tulisan ambo, semoga sanak tetap cinto jo kesenian nagari awak ko salam-andi jepe
 
report abuse
vote down
vote up
May 06, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 1 guest and 4 members online
Generated in 1.20284 Seconds