|
Kita baca lagi penggalan riset itu :
The structure and values of most organizations favor logical and decisive behaviors.
Dimanapun, organisasi apapun, selalu menempatkan prilaku logika dan desisive sebagai keutamaan.
Saya sampai ber-panjang2 dalam menguraikan pembuatan keputusan. Dalam bab intuisi saya ber-ulang2 selalu menekankan 'by logic we prove'. Dalam bab T_F saya jelaskan bahwa hanya mereka yang logis bisa keatas.
Walau dalam keseharian kita T, karena emosi kita bisa memunculkan sisi F. Contoh jelas adalah yang barusan bung RDP posting. Katanya, apa yang saya capai adalah 'langkah kecil, achievable dan just a step'. Yang bikin kita heran, mengapa bung RDP tidak bisa tiap hari bangun siang ? Bukankah itu 'langkah kecil, achievable dan just a step ?' Apa susahnya bangun siang tiap hari ? Apa beliau takut singgasananya diminta majikannya. Apa beliau takut tidak mendapatkan pesangon ? Bukankah itu 'just a step' ?
Doktrin RDP adalah emosional, dan jadi logika yang konyol. Terdorong emosi ngécé, mbalah dia yang jadi bahan tertawaan. Jadi, jangan sampai the heart rules the head. Hanya dalam keadaan sangat kusus kita gunakan F. Pada jabatan2 yang makin tinggi, terutama dipolitik, selalu ada upaya2 'menjatuhkan' seperti yang saya alami. Saya sama sekali tidak menggunakan F. Saya gunakan T. Saya buktikan bahwa logikanya dungu dan quod erat demonstrandum, doktrin RDP kelihatan konyolnya. Karena ia membiarkan emosinya menguasai pikirannya. Logikanya jadi memble.
Bung RDP bisa saja menyampaikan dengan cara cendekia. Artinya, menggunakan T. Jika ia melakukan dengan santun, ia benar. Apa yang saya peroleh walau masih diatas rata2, belum masuk kategori istimewa. Celakanya, karena niatnya buruk mau ngécé, ia mbalah membubuhi 'just a step' yang dungu itu. Walau tak masuk istimewa, apa yang saya peroleh merupakan jutaan step2. Bukan 'just a step'. Kalau 'steps', itu benar.
Pembaca suatu saat akan ketemu orang2 iseng macam bung Rusdi & RDP yang tak jelas motivasinya. Hadapi dengan T, never F. Saya telah peragakan dengan cukup baik bagaimana menghadapi orang2 iseng itu dengan 'dingin' dan 'cendekia'. Ini tak selalu mudah. Kadang kita dirundung 'gusar'. Ini yang menyebabkan logika kita jadi kacau. Akibatnya argumentasi2 kita lemah dan debat menjadi berkepanjangan dan melelahkan. Lebih baik kita dengar taktik samurai Myamoto Mushashi.
Dalam menghadapi orang2 iseng, upayakan menebang dengan sekali sabetan. Sebab, jika kita gagal, urusan jadi panjang dan melelahkan. Bagaimana caranya sekali tebang roboh ? LOGIKA ! Biasanya iseng sifatnya mencari2 dan akibatnya logikanya 'gegabah'. Omongannya ndak nyambung. Dengan T mudah kita menyimak bahwa penggalan 'langkah kecil, achievable dan just a step ?' tidak logis. Ini mah, omongan orang RSJ. Penggalan ini kita pakai sebagai serangan balik, langsung disambitkan kemukanya, .... betttt ! Sekali sabet si iseng akan tersungkur. Seketika ! Ndak bisa ihik ihik ihik lagi. End of the story.
Akan tetapi, dalam keadaan marah, bisa2 F mengkudeta pikiran kita dan penggalan kata konyol tadi tak terlihat konyol karena logika kitapun jadi gegabah. Perbedaanya tipis, antara 'a step' dengan 'steps'. Jika kita dalam emosi, mata kita picek tidak bisa lihat perbedaan itu.
Begitupun jika anda yang dalam posisi menyerang atau mengintimidasi. Pertama, jangan lakukan itu karena dorongan emosi. Logika anda akan jadi sinting. Jika anda melakukan karena suatu tujuan, gunakan T. Ketiga, simaklah target serangan anda. Jika ia T dan emosinya 'cool', ia BERBAHAYA. Anda bisa kedodoran. Ati2,
Kekonyolan inilah yang dilakukan bung RDP. Ia gegabah meremehkan orang yang mau diisengi. Lebih konyol lagi, ia ngisengi dengan emosi. Mata bung RDP picek karena emosi iseng. Jadilah logika yang dungu. Sekali sabet bung RDP tak bisa bangun lagi. Maunya iseng mbalah menampar mukanya sendiri. Ihik ihik ihiknya ilang. Ora biso ngguyu. Baca lagi hasil riset pada > 26,000 eksekutip. The structure and values of most organizations favor logical and decisive behaviors.
Dalam bahasa kita, tiada tempat bagi emosi di bisnis & M. Nope.
Diposting pada milis UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|