Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bajalan ba nan tuo
Balatia ba nakhodo
Bakato ba nan pandai
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Managerialship (8c) : Sun Tzu PDF Print E-mail
Written by S. Brotosumarto   
Thursday, 26 August 2004
The structure and values of most organizations favor logical and decisive behaviors.
 
Telah kita peragakan bagaimana emosi membuat logika kacau. Misal, ada seseorang yang sikapnya kampungan dan ketika menerima kata2 kampungan ia protes. Ini tidak logis.

Dengan bersikap kampungan, misal unjuk muka kuda nyengir sembari meringkik hik2, ia memicu pihak lain untuk memperlakukan secara kampungan. Semakin logikanya dungu semakin ia terpuruk.
 
Kita manusia layak dan berhak mendapatkan perlakuan penuh penghargaan. Cara paling sahih adalah memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan. Namun, dunia kenyataan tak selalu seindah teori. Ada2 saja yang mentertawakan, melecehkan, merendahkan, meremehkan dll. Itu bisa terjadi ketika kita mengutarakan ide, solusi, proposal, konsep, promosi, dll. Bisa datang dari atasan, bawahan, kawan, dll. Reaksi tiap orang ber-beda. Ada yang diam, ada yang unjuk rasa, unjuk pikir, dan ada yang melakukan tindakan. Apapun reaksi kita, jangan sampai kehilangan logika. Jika logika kita hilang, makin celaka kita.
 
Pelecehan adalah fakta kehidupan. Se-bisa2 kita hindari. Tetapi jika perlu, ada yang JUAL, apa boleh buat, kita terkadang harus BELI. Tetapi jangan gegabah harus lihat2. tidak semua yang dijual kita bisa beli. Yang paling sering adalah pelecehan oleh anak buah. Banyak yang mengeluh anak buahnya bandel2, sulit diatur, membantah, mengabaikan perintah, dll. Ini kasus pelecehan terhadap atasan. Ada yang mudah menghadapi situasi seperti ini, ada yang kesulitan dalam memimpin anak buah. Dalam bahasa sederhana, si pemimpin kurang berwibawa.
 
Sebabnya banyak, bisa karena si pemimpin kurang kompeten, peragu, dll. Salah satu diantaranya ia kurang mampu 'jual-beli'. Artinya, kalau dilecehkan anak buah ia tak mengambil 'tindakan tegas'. Ketidak mampuan ini bisa sebab karena F yang sungkan menyakiti pihak lain. Untuk mereka yang punya situasi seperti ini saya berikan konsep KEADILAN. Menghargai yang berprestasi dan MENGHUKUM yang salah. Jika kita tidak mau bertindak 'tegas', berarti tak bersikap adil terhadap mereka yang bekerja baik. Misalnya, dengan mentolelir mereka yang malas, ia tidak menghargai yang rajin. Ia harus mengibaskan pedang keadilan. Yang salah dihukum. Bisa berupa teguran lembut, bentakan, sampai phk.
 
Ingat lagi, sebagai pemimpin anda BERKEWAJIBAN menjaga keadilan. Jika anda tidak melakukan tindakan terhadap yang mengabaikan pimpinan, anda tidak menghargai mereka yang mematuhi. Anak buah yang melecehkan pimpinan berarti ia telah memberikan AMANAT untuk 'menindak lanjuti'. Paradigma ini akan mengurangi mereka yang, terutama F, terbebani rasa bersalah karena melakukan tindakan 'yang perlu'. Jika anda tak melakukan, anda bersalah karena tidak memperlakukan mereka yang baik dengan adil.
 
Bacalah sebagian kisah Sun Tzu, ahli perang.
Sang Kaisar pening karena selir2nya sulit diatur dan memerintahkan jendralnya untuk mendisiplinkan. Sang jendral mengajukan syarat untuk diijinkan mengambil tindakan 'yang perlu' dan diijinkan sang Kaisar. Untuk mendisiplinkan para selir diajari baris berbaris. Dengan malas2an para selir sembari me-ringkik2 ihik2 latihan baris berbaris. Disuruh belok kanan mbalah kekiri sambil nyengir kuda. Tiba2 sang jendral menghunus pedangnya dan ..... bettttt. Salah satu kepala selir menggelinding ditanah. Sang Kaisar sampai pingsan saking kagetnya. Tetapi, sejak saat itu selir2 mudah diarahkan.
 
Tentu, itu kekejaman jaman baheula yang tak lagi bisa dilakukan pada jaman kini. Intinya adalah 'ketegasan dan kelugasan' dalam berindak adil. Yang baik & benar dihargai yang salah 'ditindak lanjuti'. Tindakan itu tak harus 'garang' seperti diperagakan oleh si jendral. Bisa juga lembut, santun, dll. Yang penting efektip. Sistim kepemimpinan APDN adalah contoh 'telalu tegas' yang kebablasen.
 
Yang sering terjadi adalah ketidak beranian bersikap 'tegas & lugas'. Kedua, tidak sampai hati. Ketidak beranian bisa dilatih, ini bakal butuh waktu untuk berani bersikap tegas. Rasa segan bisa ditutup dengan paradigma keadilan. Kita BERKEWAJIBAN menghargai yang baik2 dan benar. Mau tidak mau suka tidak suka kita sering harus mengambil tindakan 'yang perlu'.
 
Itu hanya sebagian dari beberapa hal lagi yang akan kita bicarakan dalam kepemimpinan.

Diposting pada mailing list UGM
Disadur oleh : Dewis Natra

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 10 guests and 8 members online
Generated in 0.66665 Seconds