|
![]()
Puti bungsu
said:
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
sebagai seorang ilmuwan yang telah berkiprah dikancah nasional dan internasional adalah wajar nama suami akan terbawa dibelakang namanya. Itulah kehidupan wanita masa kini. lebih-lebih sebagai padusi minang yang melakukan kawin campuran sudah banyak. Logis saja itu terjadi. Namun demikian ia tetaplah padusi minang yang mencintai kampung halamannya. Urang sumando kita yang berasa dari non minang banyak sekali, sehingga sang isternyapun i akan menyandang nama suaminya. Contoh ; anggota cimbuak yang bernama Tanty Blaatind |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
| Ibu Safrida ambo kagum dengan potensi ibu ini, sungguh jarang ambo mandanga potensi wanita minang yang seperti ibu. Sungguh pantuiklah kito bersyukur dan berbangga bahwa gadis minang pun mampu berkiprah diranah internasional , namun demikian tak lupo jo akr rumput, Inilah hendak menjadi contoh untuk gadih2 minang . Melalui Cimbuak iko ambo mengharapkan tokoh seperti Ibu Syafrida iko dapat hendaknyo dipertemukan dengan warga cimbuak disuatu tempat yg layak dan untuk memotivasi gadis2 minang yang potensial. | |
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Tanpa mengurangi raso hormat ambo ka Ibuk Syafrida. Ambo mintak maaf banyak-banyak...! Ambo raso tapanggia lo untuak manjawab kecek puti bungsu nan manyatokan "Itulah kehidupan wanita masa kini...!" Kehidupan seperti ini sebenarnya adalah budaya Barat, nan kabanyakan mereka padusi indak baayah. Jadi untuak malindungi identitasnyo nan indak baayah tu, mako ditempelkan namo lakinyo dihujuang namonyo. Dalam Islam budaya ko indak ado. Jadi walaupun kito berpendidiikan tinggi dan hidup di zaman moderen, kawin jo urang bukan Minang, bukan bermakna itu sabagai surek izin bagi kito untuak mancampakkan namo ayah di hujuang namo. Jaso ayah indak tabaleh doh, puti...! Ayah akan bangga bilo namonyo indak ditinggakan dek anaknyo. Namo ayah di hujuang namo indak ka namuah lakang doh, tapi namo laki namuah tangga tu mah, bilo batuka laki batuka lo namo nan manempe di hujuang namo. Maafkan ambo. Ambo mangecek dari suduik agamo. Bukan dari perspektif komoderenan dan sebagainyo. Assalamu 'Alaikum. |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
tanpa mangurangi raso hormat ambo kapado urang tuo ambo ko,ambo salut.....bravo... ambo satuju jo pandapek da muallif...sajauah_jauahnyo tabang bangau pulang ka kubangan juo....jan pernah di lupokan kampuang kito nan buruak...karano kito urang minang.... dalam kehidupan memang lah hebat,tapi baa jo katurunan awak...lai lah kenalnyo jo kampuang...maaf kalo ambo lancang.... sebagian pahlawan pembangunan dan modernisasi nan berjasa di indonesia ko yo urang awak...terlalu banyak untuk di sabuik.. tapi apo ka dayo,urang hebat tu mandidik anaknyo lah caro urang kota/barat... ndak sarupo jo urang tuo beliau caro mendidiknyo... akibatnyo anaknyo ndak kenal jok kampuang dan ndak manuruni kehebatan urang tuonyo sendiri...contoh.... 1.agus salim,mano keturunan nyo nan dapek awak kenal dan awak kato kan ka urang,oii..apak tu urang kampuang ambo tu.. 2.M.natsir,anak2 nyo apo ado urang kampuang nan tau 3.M.yamin,sayang bana urang awak ko,anak2nyo ndak ado yang manuruni kehebatan abak nyo 4.rasuna said 5.DLL..kalo ambo sabuik kan,sampai bisuak ndak habih doh... itu karano apo??? tapi lapeh dari itu awak khusus nyo urang kampuang harus manciptakan Agus salim,M.natsir,M.yamin,hatta,hamka,yg lain... |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Saya perhatikan bapak Muallif ini bisanya hanya menghujat dan men-judge orang. Darimana anda bisa memastikan bahwa kebanyakan anak padusi tidak berayah itu adanya di negara barat. Bisa tolong diperlihatkan sumber data statistik mengenai hal itu? Di Indonesia pun tidak kurang banyaknya. Sering sekali ada berita di koran tentang bayi yang dibunuh atau dibuang ke tempat sampah atau diletakkan di depan pintu panti asuhan atau rumah yatim piatu tanpa diketahui siapa orang tua bayi tersebut. Menurut saya, semua bayi yang lahir ke dunia ini mempunyai ayah dan ibu. Hanya saja banyak anak yang tidak diakui oleh ayahnya atau tidak ketahuan siapa ayahnya. Misalnya, anak yang lahir diluar nikah atau anak yang lahir karena korban perkosaan. Mengenai nama. Dalam keluarga saya nama ayah tidak dicantumkan di belakang nama anak-anaknya. Begitu juga ayah dan ibu saya serta saudara-saudara mereka juga tidak mencantumkan nama ayah mereka di belakang nama mereka. Dan keluarga saya adalah pemeluk Islam sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap budaya memiliki kebiasaan yang berbeda dalam memberikan sebuah nama. Di Iceland, adalah biasa untuk menggunakan “anak perempuan dari (Margitdottir)†dan “anak laki-laki dari (Olafson)†sebagai nama keluarga, hampir sama dengan budaya Arab. Di dunia barat, mereka menggunakan nama keluarga dari sang ayah dan menggunakan nama keluarga sang suami setelah menikah. Ini menerangkan bahwa wanita itu, anak-anaknya dan suaminya memiliki nama yang sama, yang memperlihatkan bahwa mereka adalah satu keluarga. Apakah ini un-Islamic? Dalam Al Qur’an, hanya ada 1 ayat yang bicara mengenai nama keluarga yaitu Surah 33:5. Itupun dalam ayat ini bicara mengenai anak adopsi, yang menerangkan bahwa mereka harus memanggil anak-anak itu dengan memakai nama ayah mereka dan bukan nama dari orang yang mengadopsi mereka. Maksudnya adalah agar orang-orang tahu darah keturunan mereka dan tidak bingung siapa ayah dan ibu mereka. Jadi apakah dosa bagi wanita yang menggunakan nama keluarga suaminya agar dia dan anak-anaknya memiliki nama keluarga yang sama? Saya rasa tidak! Ada banyak cara untuk mengingat jasa seorang ayah, tidak hanya dengan meletakkan namanya di belakang nama. For those that see it differently, well this is your belief. Allah knows best. |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Ya... beginilah urang awak. kadang kala mengomentari sesuatu bukan pada substansinya yang diawali oleh sanak kita Muallif. Bagi saya komentar yang positif pada pada saka kita Datuk Ms. Sebagai generasi padusi minang itulah yang perlu kita ketahui pengalaman ibu Syafrida ini. Ibu Syafrida tetap menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan kampung halaman, sebagaimana yang ditunjukkan dalam suatu seminar dengan menyampaikan pemikirannya mengenai ; * Profesionalisme Pelaku Ekonomi Minang dan Kesiapan Menghadapi Kompetisi Ekonomi Global, Bogor 26 Mei 2001. * Upaya Peningkatan Relevansi Upaya Tridharma Perguruan Tinggi (PT) dengan Kegiatan Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Disampaikan dalam Round Table Discussion, Lembaga Gebu Minang, Bogor. Bogor, 6 Mei 2000. Ambo setuju dengan saran Datuk Ms, yakni melalui Cimbuak iko dia mengharapkan tokoh seperti Ibu Syafrida iko dapat hendaknyo dipertemukan dengan warga cimbuak disuatu tempat yg layak dan untuk memotivasi gadis2 minang yang potensial.Suatu saat mari kita wujudkan dengan menampilkan padusi minang yang lain. Wassalam, http://bundokanduang.wordpress.com |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Saudari Tanty mengatakan, "di Indonesia pun tidak kurang banyaknya". Nah bolehjadi itulah sebabnya sebahagian besar orang kita tidak dapat meletakkan nama ayah di hujung namanya. Anak yang lahir tanpa nikah yang sah, dianggap tidak berayah. Dalam masalah keluarga anda itu tidak dapat dijadikan ukuran, walaupun telah ratusan tahun memeluk Islam, apa lagi di Iceland, itu bukan ukuran untuk kita. Sebab ini bukan persoalan budaya, tetapi persoalan pertalian darah dengan ayah kandung. Budaya adalah hasil percikan pemikiran manusia, sedangkan masalah ini ada kaitan dengan ajaran agama Islam. Adapun mengenai hujat saudari berkenaan dengan surah al-Ahzab ayat 5, yang berbunyi: "Ud'uhum Li Aba ihim, Huwa Aqsathu Min 'Indillah." dengan jelas mengatakan bahawa Allah menyuruh memanggil seseorang itu dengan nama ayahnya, dan itulah yang terlebih adil di sisi Allah. Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkenaan dengan anak angkat beliau Zaid, yang pada awalnya dipanggil dengan Zaid bin Muhammad, kemudian Allah SWT melarangnya dan menyuruh agar Zaid itu dipanggil dengan menyebutkan nama ayahnya yang sebenarnya, yaitu Tsabit. Dengan demikian jelas sekali, bahawa Allah SWT menyuruh kita memanggil seseorang dengan menyebutkan nama ayahnya, bukan dengan nama bapa angkat, apa lagi dengan nama suaminya. Hifni...! Saya tidak mempersoalkan mengenai ketokohan Ibu Syafrida, sebagai urang Minang, saya benar-benar kagum dengan pencapaian beliau, yang saya ulas di atas hanyalah mengenai nama beliau yang asli Minang itu mengapa ditempeli dengan nama suaminya...? Alangkah kecewanya seorang ayah, bila anaknya sudah sampai ke menara gading, sudah tenar dan ternama, bahkan sudah kita pandang pula sebagai tokoh urang Minang, namanya terbuang entah ke mana dan diganti dengan nama suaminya, yang dalam istilah urang awak "mandapeki lah gadang sajo." Sedangkan Allah memerintahkan agar nama seseorang itu dipanggil dengan menyebutkan nama ayahnya. Saya sangat setuju dengan ulasan saudara Datuk MS, agar generasi baru Minang dapat mengikuti jejak langkah kegigihan beliau dalam menggapai cita-cita, sehingga beliau mencuat ke permukaan. namun saya tambahkan di sini, agar rang padusi Minang tidak mencontohi beliau dalam membuang nama ayahnya. |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Dunsanak, cukup sampai disini Polemik nya, silahkan mamfaatkan Forum diskusi untuk membahas ini. Dengan demikian akan terarah dan tidak berkepanjangan. Untuk berpolemik yang tidak berkesudahan, akan memberatkan server yang akhirnya berdampak ke semua user. Dengan ini polemik masalah ini saya sudahi, dan silahkan dilanjutkan secara pribadi atau di Forum Diskusi. Mohon maaf, Salam Admin |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
| < Prev | Next > |
|---|
| Member Area |
|---|
| Yayasan Palanta Cimbuak |
|---|
![]() Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
| Cimbuak Features |
|---|
|
|
| Online Sekarang |
|---|
| We have 3 guests and 6 members online |
© Copyright 2006 - Cimbuak.net Powered By Kanvasdigital.net All Right Reserved |