Menjelang memasuki usia pensiun yang tidak berapa lama lagi, ada baiknya kita memperkenalkan padusi Minang yang bergelut didunia ilmu pertanian khususnya dibidang Ilmu Hama Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, IPB ini. Beliau adalah Professor Dr. Ir. Syafrida Manuwoto M.Sc, dilahirkan di kota Medan pada tanggal 15 Mei tahun 1944. Ia adalah putri ke 2 dari 7 bersaudara pasangan alm Nukman pensiunan perwira POLRI berpangkat Komisaris Besar Polisi, yang berasal dari kota Padang dengan almh Syamsiah, yang berasal dari kota Padangpanjang.
Dengan pengalamannya yang sedemikian banyaknya, dapatlah membuktikan kiprah padusi minang yang satu ini didunia ilmu pertanian dan pendidikan. Dua kali menjabat sebagai Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB 1998 – 2006), dan sebelum itu Ibu Syafrida menjabat pula selaku Kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB (1996 – 2002), ketika setelah ia mengakhiri dua kali masa jabatannya selaku Dekan Fakultas Pertanian IPB ( 1990 – 1997). Sebelum dipercaya untuk menjadi Dekan Fakultas Pertanian dan Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB, Ibu Syafrida Manuwoto ini memulai karirnya sebagai Dosen pada Fakultas Pertanian IPB semenjak tahun 1971 yang lalu. Kemudian secara berturut-turut ia menduduki posisi sebagai seorang ilmuan dan pendidik di lingkungan Fakultas tempat ia mengajar, yaitu ; Kepala Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian IPB (1987 – 1993), Pembantu Dekan Bidang Akademik, Fakultas Pertanian IPB (1987 – 1990). Ibu Syafrida Manuwoto meraih gelar Doctor dibidang Entomology dari University of Wisconsin-Madison, USA pada tahun 1984, setelah sebelumnya ia meraih gelar Master of Science di bidang dan Universitas yang sama pada tahun 1979. Tidak kurang pula pelatihan/penataran serta studi banding yang diikutinya demi memajukan Fakultas Pertanian – IPB, antara lain : * Balanced Score Card for Higher Education Institution oleh Strategic for Higher Education Development, Jakarta. 31 Oktober – 1 November 2002 * Workshop Proactive and Strategic Higher Education Management for Managing and Developing Academic Department and Program of Study oleh Strategic for Higher Education Development, Jakarta 29-31 Agustus 2002 * Studi Banding Penyelenggaraan Good Governance dan Academic Excellence di Singapura (UNS dan Nanyang University) dan Malaysia (UPM dan UM). Agustus 2000 * Pelatihan Penerapan ISO 9000, Kerjasama UBINUS – IPB. Bogor 10-13 Agustus 1999. * Studi Banding Desentralisasi Pendidikan dan Otonomi Pendidikan Tinggi di Australia 23 Mei-3 Juni 1999. * Studi Banding Penyelenggaraan Link and Match dan Pelaksanaan Otonomi Perguruan Tinggi di Beberapa Perguruan Tinggi di Inggris. 1997. * Manajemen Mutu Terpadu, IPB 16-20 Desember 1996.
Sebagai seorang ilmuwan dan pendidik, pengabdiannya bagi kepentingan nasional, antara lain : 2003–2007 : Anggota Komisi Khusus Dewan Pendidikan Tinggi untuk Evaluasi dan Monitoring Pelaksanaan serta Penrtapan perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum Milik Negara 2002 – 2004 : Sekretaris Majelis Wali Amanat IPB 2002 – 2006 : Anggota Senat Akademik IPB 2005 – 2008 : Anggota Dewan Riset Nasional 1999 – 2004 : Anggota Dewan Riset Nasional dan Anggota Inti DRN 1999 – 2000 : Ketua Tim Nasional “Land Grant” DIKTI 1998 – 2006 : - Koordinator The Core University Perogram IPB – The University of Tokyo, Kerjasama DIKTI – JSPS
Mewakili IPB dalam berbabagai kerjasama dengan Institut dan Universitas di luar negeri, antara lain : - Anggota Komite Program Master pada University of Gottingen, German - Anggota Eksekutif Officer pada lima Universitas di Asia Tenggara, - Koordinator Riset Untuk program cor Universitas dibidang Bosience - Ketua tim persiapan IPB menjadi sebuah autonomous University dengan bekerjasama secara intensif dengan Harvard University.
Sungguhpun lahir dan dibesarkan dirantau, namun kecintaannya terhadap asal kampung halaman tidak dapat ia abaikan begitu saja. Oleh karena itu, Ibu Syafrida tetap menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan kampung halaman, sebagaimana yang ditunjukkan dalam suatu seminar dengan menyampaikan pemikirannya mengenai ; · Profesionalisme Pelaku Ekonomi Minang dan Kesiapan Menghadapi Kompetisi Ekonomi Global, Bogor 26 Mei 2001. · Upaya Peningkatan Relevansi Upaya Tridharma Perguruan Tinggi (PT) dengan Kegiatan Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Disampaikan dalam Round Table Discussion, Lembaga Gebu Minang, Bogor. Bogor, 6 Mei 2000.
Bagi mahasiswa dilingkungan IPB, khsusnya Fakultas Pertanian, pasti mengenal ibu Syafrida Manuwoto ini. Wanita yang kecil dan mungil, ramah tamah, namun tegas dalam menetapkan keputusan dan kebijakan. Sebagai seorang pendidik ia menginginkan anak didiknya benar-benar menguasai ilmunya. Suatu ilmu yang melakukan penyelidikan terhadap hama tumbuhan dan perlindungan tanaman. Oleh karena itu dalam kapasitasnya sebagai Dosen, Ibu Syafrida mempunyai pengalaman mengasuh mata kuliah: - Resistensi Tanaman Terhadap Serangga (S2, S3) - Masalah Khusus: Biokimia Tanaman dan Hubungannya dengan Serangga (S2, S3) - Entomologi Pertanian (S1) - Entomologi Umum (S1) - Teknik Penulisan Ilmiah (S1) - Hama Penting Tanaman Setahun (S0/D1) - Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (S0/D1)
Disela kegiatan formal dalam jabatan tertentu yang diembannya, Ibu Syafrida saat ini mengasuh mata kuliah: - Interaksi Tanaman Serangga (S3), Biokimia Serangga (S3), Fisiologi Serangga (S2), Peraturan Perundang-undangan Sistem Karantina (S2) Secara keseluruhan beliau menjadi Dosen Pembimbing S3, S2 dan S1
Sebagai seorang Guru Besar dibidang Ilmu Hama Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, IPB, beliau telah mempublikasi 10 (sepuluh) tahun terakhir, karya dan penulisan, yaitu : 1. Keanekaragaman Hymenoptera Parasitoid pada Struktur Lanskap Pertanian Berbeda Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cianjur, Jawa Barat. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 7 (1): 10-20 (2007). Anggota Penulis. 2. Analisis Spasial Lanskap Pertanian dan Keanekaragaman Hymenoptera di Daerah Aliran Sungai Cianjur. Hayati 13 (4): 137-144 (2006). Anggota Penulis. 3. Fitotoksisitas Rokaglamida dan Ekstrak Ranting Aglaia odorata (Meliacease) terhadap Tanaman Brokoli dan Kedelai. Agrikultura 17 (1): 7-14 (2006). Anggota Penulis. 4. Penghambatan Enkapsulasi Pradewasa Parasitoid Eriborus argentopilosus (Cameron) oleh Larva Crocidalomia pavonania (F) Menggunakan Rokaglamida. Bionatura 8 (1): 24-38 (2006). Anggota Penulis. 5. Respon Fisiologi Crocidolomia pavonana terhadap Fraksi Aktif Callophylum soulattri. Hayati 13 (1): 7-12 (2006). Anggota Penulis. 6. Bioaktivitas Ekstrak Biji Aglaia harmsiana Terhadap Ulat Krop Kubis, Crocidolomia binotalis. Wiyantono, Djoko Prijono dan Syafrida Manuwoto, Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 10(1) 2001. 7. Pengendalian Hama Ramah Lingkungan dan Ekonomis. Seminar Peranan Entomologi Dalam Pengendalian Hama Ramah Lingkungan dan Ekonomi Perhimpunan Entomologi Indonesia 16 Februari 1999. 8. Kajian Lini Dasar Usahatani Sayuran di Desa Sukatani dan Sindanglaya, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Sebagai Dasar Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. Bul HPT 10 (2):0-00(199 8) 9. Pengaruh Ekstrak Biji Aglaia harmsiana Perkins Terhadap Interaksi antara Larva Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoftera:Pyralidae) dan Parasitoidnya, Eriborus argenteopilosus (Hyminoptera) – anggota penulis Bul HPT 10(1):38-97 (1998).
Lain-lain Sungguh banyak aktivitas akademis yang dilakukannya baik sebagai pembawa makalah Dalam Berbagai Kegiatan Ilmiah, maupun sebagai penyelenggara didalam dan diluar negeri yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu, mengingat keterbatasan halaman ini. Namun bagi kita dapatlah mengetahui bahwa apa yang tidak pernah kita kitahui selama ini sungguh luar biasa.:
Keanggotaan Dalam Organisasi * Ilmiah · Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) · Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) · Perhitungan Hortikultura Indonesia (Perhorti) · EntomologicalSociety of America (ESA) · American Association for the Advancement of Science (AAAS) · International Food and Agribusiness Management Association (IAMA)
* Masyarakat · Anggota HMI 1963 – 1969 · Anggota KAHMI Cabang Bogor · Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Bogor · CITRA KARTINI dari Yayasan Citra Prestasi Indonesia. Jakarta 1996.
Ibu Syafrida menikah pada tahun 1971 dengan DR. Ir Manuwoto, M.Sc, dengan jabatan terakhir sebagai Asisten Menteri Koordinator Bidang Ekuin. Bagaikan Asam digunung garam dilaut bertemu di belanga, telah mempertemukan keduanya pasangan ini di kota Bogor. Dari hasil perkawinannya ini, keduanya telah memiliki dua orang anak dan keduanya telah berkeluarga, yaitu ; Nino Manuwoto dan Andri Manuwoto.
Disaat-saat berakhirnya pengabdian yang panjang sebagai seorang dosen hingga sebagai Guru Besar serta jabatan formal yang diemban sebelumnya nya, ternyata statusnya sebagai nenek dan suaminya sebagai kakek saat ini, lebih mengasyikkan baginya, karena dua orang cucunya yang bernama ; Sandy, usia 6 tahun dan Balqis, usia 4 tahun sungguh memberi kebahagian yang luar biasa bagi pasangan ini, setelah pengabdiannya yang panjang serta hari-harinya yang terfokus pada peningkatan kualitas pertanian yang tahan hama melalui Institut Pertanian Bogor. Dirumahnya yang asri yang terletak di : Jalan Cendana 2, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680, sangat nyaman dan damai mereka menikmati kebahagian itu bersama keluarga besarnya. Tlp : 0251-421786 Sumber : http://bundokanduang.wordpress.com |
1. Baa Mako Namo Lakinyo...? Ditulis oleh muallif pada Kamis, 08 Mei 2008 Sebagai orang Minang ambo turut angkat topi dengan kejayaan demi kejayaan yang dicapai oleh Ibu Syafrida. Jarang bvana induak-induak Minang nan ka sampai ka tahap pencapaian baliau ko. Tetapi sangat sayang sekali, saratuih ribu kali sayang, walaupun baliau urang Minang, baliau indak lai mamakai budaya Minang dari segi penempelan namo lakinyo di hujuang namonyo. Dalam Islam, namo nan ado di hujuang namo kito adolah namo ayah. Jadi sapatuiknyo Ibuk ko kito tulihkan namo ayahnyo d hujuang namonyo, indak namo lakinyo doh. Sangat janggal bana bunyinyo kalau dikatokan urang Minang tapi diujuang namonyo MANUWOTO, namo lakinyo. | 2. ndak masalahkan....??? Ditulis oleh Puti bungsu pada Kamis, 08 Mei 2008 sebagai seorang ilmuwan yang telah berkiprah dikancah nasional dan internasional adalah wajar nama suami akan terbawa dibelakang namanya. Itulah kehidupan wanita masa kini. lebih-lebih sebagai padusi minang yang melakukan kawin campuran sudah banyak. Logis saja itu terjadi. Namun demikian ia tetaplah padusi minang yang mencintai kampung halamannya. Urang sumando kita yang berasa dari non minang banyak sekali, sehingga sang isternyapun i akan menyandang nama suaminya. Contoh ; anggota cimbuak yang bernama Tanty Blaatind
| 3. SUNGGUH MENGAGUMKAN PRESTASI PUTRI MINAN Ditulis oleh datuak.ms pada Kamis, 08 Mei 2008 Ibu Safrida ambo kagum dengan potensi ibu ini, sungguh jarang ambo mandanga potensi wanita minang yang seperti ibu. Sungguh pantuiklah kito bersyukur dan berbangga bahwa gadis minang pun mampu berkiprah diranah internasional , namun demikian tak lupo jo akr rumput, Inilah hendak menjadi contoh untuk gadih2 minang . Melalui Cimbuak iko ambo mengharapkan tokoh seperti Ibu Syafrida iko dapat hendaknyo dipertemukan dengan warga cimbuak disuatu tempat yg layak dan untuk memotivasi gadis2 minang yang potensial. | 4. Modernisasi Yang Salah Ditulis oleh muallif pada Kamis, 08 Mei 2008 Tanpa mengurangi raso hormat ambo ka Ibuk Syafrida. Ambo mintak maaf banyak-banyak...! Ambo raso tapanggia lo untuak manjawab kecek puti bungsu nan manyatokan "Itulah kehidupan wanita masa kini...!" Kehidupan seperti ini sebenarnya adalah budaya Barat, nan kabanyakan mereka padusi indak baayah. Jadi untuak malindungi identitasnyo nan indak baayah tu, mako ditempelkan namo lakinyo dihujuang namonyo. Dalam Islam budaya ko indak ado. Jadi walaupun kito berpendidiikan tinggi dan hidup di zaman moderen, kawin jo urang bukan Minang, bukan bermakna itu sabagai surek izin bagi kito untuak mancampakkan namo ayah di hujuang namo. Jaso ayah indak tabaleh doh, puti...! Ayah akan bangga bilo namonyo indak ditinggakan dek anaknyo. Namo ayah di hujuang namo indak ka namuah lakang doh, tapi namo laki namuah tangga tu mah, bilo batuka laki batuka lo namo nan manempe di hujuang namo. Maafkan ambo. Ambo mangecek dari suduik agamo. Bukan dari perspektif komoderenan dan sebagainyo. Assalamu 'Alaikum. | 5. satuju wak tu da muallif Ditulis oleh JONLEE RAHMAD pada Kamis, 08 Mei 2008 tanpa mangurangi raso hormat ambo kapado urang tuo ambo ko,ambo salut.....bravo... ambo satuju jo pandapek da muallif...sajauah_jauahnyo tabang bangau pulang ka kubangan juo....jan pernah di lupokan kampuang kito nan buruak...karano kito urang minang.... dalam kehidupan memang lah hebat,tapi baa jo katurunan awak...lai lah kenalnyo jo kampuang...maaf kalo ambo lancang.... sebagian pahlawan pembangunan dan modernisasi nan berjasa di indonesia ko yo urang awak...terlalu banyak untuk di sabuik.. tapi apo ka dayo,urang hebat tu mandidik anaknyo lah caro urang kota/barat... ndak sarupo jo urang tuo beliau caro mendidiknyo... akibatnyo anaknyo ndak kenal jok kampuang dan ndak manuruni kehebatan urang tuonyo sendiri...contoh.... 1.agus salim,mano keturunan nyo nan dapek awak kenal dan awak kato kan ka urang,oii..apak tu urang kampuang ambo tu.. 2.M.natsir,anak2 nyo apo ado urang kampuang nan tau 3.M.yamin,sayang bana urang awak ko,anak2nyo ndak ado yang manuruni kehebatan abak nyo 4.rasuna said 5.DLL..kalo ambo sabuik kan,sampai bisuak ndak habih doh... itu karano apo??? tapi lapeh dari itu awak khusus nyo urang kampuang harus manciptakan Agus salim,M.natsir,M.yamin,hatta,hamka,yg lain... | 6. Nama Keluarga Ditulis oleh ~tanty~ pada Jumat, 09 Mei 2008 Saya perhatikan bapak Muallif ini bisanya hanya menghujat dan men-judge orang. Darimana anda bisa memastikan bahwa kebanyakan anak padusi tidak berayah itu adanya di negara barat. Bisa tolong diperlihatkan sumber data statistik mengenai hal itu? Di Indonesia pun tidak kurang banyaknya. Sering sekali ada berita di koran tentang bayi yang dibunuh atau dibuang ke tempat sampah atau diletakkan di depan pintu panti asuhan atau rumah yatim piatu tanpa diketahui siapa orang tua bayi tersebut. Menurut saya, semua bayi yang lahir ke dunia ini mempunyai ayah dan ibu. Hanya saja banyak anak yang tidak diakui oleh ayahnya atau tidak ketahuan siapa ayahnya. Misalnya, anak yang lahir diluar nikah atau anak yang lahir karena korban perkosaan. Mengenai nama. Dalam keluarga saya nama ayah tidak dicantumkan di belakang nama anak-anaknya. Begitu juga ayah dan ibu saya serta saudara-saudara mereka juga tidak mencantumkan nama ayah mereka di belakang nama mereka. Dan keluarga saya adalah pemeluk Islam sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap budaya memiliki kebiasaan yang berbeda dalam memberikan sebuah nama. Di Iceland, adalah biasa untuk menggunakan “anak perempuan dari (Margitdottir)” dan “anak laki-laki dari (Olafson)” sebagai nama keluarga, hampir sama dengan budaya Arab. Di dunia barat, mereka menggunakan nama keluarga dari sang ayah dan menggunakan nama keluarga sang suami setelah menikah. Ini menerangkan bahwa wanita itu, anak-anaknya dan suaminya memiliki nama yang sama, yang memperlihatkan bahwa mereka adalah satu keluarga. Apakah ini un-Islamic? Dalam Al Qur’an, hanya ada 1 ayat yang bicara mengenai nama keluarga yaitu Surah 33:5. Itupun dalam ayat ini bicara mengenai anak adopsi, yang menerangkan bahwa mereka harus memanggil anak-anak itu dengan memakai nama ayah mereka dan bukan nama dari orang yang mengadopsi mereka. Maksudnya adalah agar orang-orang tahu darah keturunan mereka dan tidak bingung siapa ayah dan ibu mereka. Jadi apakah dosa bagi wanita yang menggunakan nama keluarga suaminya agar dia dan anak-anaknya memiliki nama keluarga yang sama? Saya rasa tidak! Ada banyak cara untuk mengingat jasa seorang ayah, tidak hanya dengan meletakkan namanya di belakang nama. For those that see it differently, well this is your belief. Allah knows best.
| 7. ya... beginilah orang kita Ditulis oleh hifni pada Jumat, 09 Mei 2008 Ya... beginilah urang awak. kadang kala mengomentari sesuatu bukan pada substansinya yang diawali oleh sanak kita Muallif. Bagi saya komentar yang positif pada pada saka kita Datuk Ms. Sebagai generasi padusi minang itulah yang perlu kita ketahui pengalaman ibu Syafrida ini. Ibu Syafrida tetap menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan kampung halaman, sebagaimana yang ditunjukkan dalam suatu seminar dengan menyampaikan pemikirannya mengenai ; * Profesionalisme Pelaku Ekonomi Minang dan Kesiapan Menghadapi Kompetisi Ekonomi Global, Bogor 26 Mei 2001. * Upaya Peningkatan Relevansi Upaya Tridharma Perguruan Tinggi (PT) dengan Kegiatan Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Disampaikan dalam Round Table Discussion, Lembaga Gebu Minang, Bogor. Bogor, 6 Mei 2000. Ambo setuju dengan saran Datuk Ms, yakni melalui Cimbuak iko dia mengharapkan tokoh seperti Ibu Syafrida iko dapat hendaknyo dipertemukan dengan warga cimbuak disuatu tempat yg layak dan untuk memotivasi gadis2 minang yang potensial.Suatu saat mari kita wujudkan dengan menampilkan padusi minang yang lain. Wassalam, http://bundokanduang.wordpress.com
| 8. Bolehjadi Itu Sebabnya. Ditulis oleh muallif pada Jumat, 09 Mei 2008 Saudari Tanty mengatakan, "di Indonesia pun tidak kurang banyaknya". Nah bolehjadi itulah sebabnya sebahagian besar orang kita tidak dapat meletakkan nama ayah di hujung namanya. Anak yang lahir tanpa nikah yang sah, dianggap tidak berayah. Dalam masalah keluarga anda itu tidak dapat dijadikan ukuran, walaupun telah ratusan tahun memeluk Islam, apa lagi di Iceland, itu bukan ukuran untuk kita. Sebab ini bukan persoalan budaya, tetapi persoalan pertalian darah dengan ayah kandung. Budaya adalah hasil percikan pemikiran manusia, sedangkan masalah ini ada kaitan dengan ajaran agama Islam. Adapun mengenai hujat saudari berkenaan dengan surah al-Ahzab ayat 5, yang berbunyi: "Ud'uhum Li Aba ihim, Huwa Aqsathu Min 'Indillah." dengan jelas mengatakan bahawa Allah menyuruh memanggil seseorang itu dengan nama ayahnya, dan itulah yang terlebih adil di sisi Allah. Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkenaan dengan anak angkat beliau Zaid, yang pada awalnya dipanggil dengan Zaid bin Muhammad, kemudian Allah SWT melarangnya dan menyuruh agar Zaid itu dipanggil dengan menyebutkan nama ayahnya yang sebenarnya, yaitu Tsabit. Dengan demikian jelas sekali, bahawa Allah SWT menyuruh kita memanggil seseorang dengan menyebutkan nama ayahnya, bukan dengan nama bapa angkat, apa lagi dengan nama suaminya. Hifni...! Saya tidak mempersoalkan mengenai ketokohan Ibu Syafrida, sebagai urang Minang, saya benar-benar kagum dengan pencapaian beliau, yang saya ulas di atas hanyalah mengenai nama beliau yang asli Minang itu mengapa ditempeli dengan nama suaminya...? Alangkah kecewanya seorang ayah, bila anaknya sudah sampai ke menara gading, sudah tenar dan ternama, bahkan sudah kita pandang pula sebagai tokoh urang Minang, namanya terbuang entah ke mana dan diganti dengan nama suaminya, yang dalam istilah urang awak "mandapeki lah gadang sajo." Sedangkan Allah memerintahkan agar nama seseorang itu dipanggil dengan menyebutkan nama ayahnya. Saya sangat setuju dengan ulasan saudara Datuk MS, agar generasi baru Minang dapat mengikuti jejak langkah kegigihan beliau dalam menggapai cita-cita, sehingga beliau mencuat ke permukaan. namun saya tambahkan di sini, agar rang padusi Minang tidak mencontohi beliau dalam membuang nama ayahnya. | 9. Cukup sampai disini .. Ditulis oleh erwin pada Jumat, 09 Mei 2008 Dunsanak, cukup sampai disini Polemik nya, silahkan mamfaatkan Forum diskusi untuk membahas ini. Dengan demikian akan terarah dan tidak berkepanjangan. Untuk berpolemik yang tidak berkesudahan, akan memberatkan server yang akhirnya berdampak ke semua user. Dengan ini polemik masalah ini saya sudahi, dan silahkan dilanjutkan secara pribadi atau di Forum Diskusi. Mohon maaf, Salam Admin |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |