|
Wujud ketegasan tak selalu harus garang. BK menunjukkan dengan sikap ber-api2, me-ledak2 dan bergelora semisal : Go to hell with your aid ! Juga Mahatir yang suka menghujat bangsa barat. Atau, Lee Kuan Yew yang tampak nyinyir cerewet bukan main.
Bisa pula ketegasan wujud dalam penampilan yang 'menyesatkan' seperti yang diperagakan the Smilling General. Dibalik sikapnya yang santun, lembut dan murah senyum, anak desa Kemusu itu super tegas-teguh-tangguh. Demikian teguhnya sehingga HB-IX pernah jengkel dan menjulukinya dengan satu kata : koppig (ndhableg=stuborn). Keteguhan & ketangguhannya tampak dalam panjangnya masa berkuasa > 30 tahun. Si Koppig dengan senyum lembut bisa memerintahkan pembantaian PKI. Jika yang memerintahkan BK, barangkali : Tumpas PKIIIIIIIIII ! Abu Bakar as sama sekali tidak punya potongan memimpin. Ia sosok pendeta yang saleh tetapi mengherankan, ketika beliau tiba2 tertimpa posisi sebagai Khalifah, tiba2 ia menjadi pemimpin efektip. Ia dengan tegas-teguh-tangguh menitahkan menjalankan Al Qur'an, sunnah, dan amanat2 Nabi yang belum selesai. Masa kepemimpinannya sangat pendek, cuma dua tahunan tetapi dampaknya besar. Penggantinya sangat kontras, Khalifah Rasyidin Umar bin Khatab as adalah sosok pemberang dan ketegasannya muncul seketika. Ketegasan bisa situasional. Misal karena saya hanya tahu lagu tetapi kurang memperhatikan nama lagu, penyanyi, dll, jika masuk ketoko cd jadi thingak thinguk. Sebaliknya, bini yang dalam keseharian bukan desisif, bisa menjadi desisif dalam memilih lagu. Dengan tegas beliau memilih : yang ini, yang itu, yang sana jelek, itu bagus. Ia otomatis menjadi pemimpin dan saya pengikut sukarela. Tetapi, jika ia melakukan supervisi, hasilnya mengecewakan karena kapasitas kepemimpinannya kecil. Artinya, sikap tegas thok tak cukup. Tegas-teguh-tangguh adalah kesatuan, modal yang diperlukan dalam kepemimpinan. Namun demikian, kompetensi mendongkrak kewibawaan cukup signifikan. Jika kita mumpuni dalam satu bidang, proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah dan ini melahirkan sikap tegas. Namun, jangan dibalik. Seseorang yang mumpuni tetapi kurang memiliki sikap tegas, efektifitas kepemimpinan berkurang. Contoh, kawan adik saya dokter spesialis yang sangat pandai. Diagnosa2nya tajam dan jarang keliru tetapi ia peragu dan tidak desisif. Jadilah ia peran informatif. Sejawatnya yang lain, yang kurang cerdas tetapi lebih tegas suka mangambil alih posisi pimpinan. Tetap saya sikap tegas merupakan syarat awal, MENDAHULUI kompetensi. Bisa saja bung IBK lebih kompeten dalam memilih saham2 tetapi jika bung Nugix lebih decisif, kemungkinan bung Nugix yang didaulat sebagai pemimpin. Bung Nugix mengambil keputusan berdasar masukan2 dari bung IBK. Bukannya bung Nugix tak dilanda keraguan karena kurangnya pemahaman akan saham tetapi bung Nugix menerapkan doktrin Roosvelt : walau keputusan salah, itu THE NEXT BEST THING sesudah kondisi ideal : membuat keputusan dengan tepat. In any moment of decision the best thing you can do is the right thing, the NEXT BEST THING is the wrong thing, and the worst thing you can do is nothing. Theodore Roosevelt Ini yang sering kurang dipahami peniti karir muda. Pelajaran berharga ini tak diajarkan dikampus. Biarpun salah, kita harus membuat keputusan. Itu langkah awal menuju the best thing : membuat keputusan yang tepat. Yang sering dilakukan mbalah the worst thing, yaitu thingak thinguk mrongos thok. Siapa bilang membuat keputusan salah tanpa resiko ? Kita bisa di-maki2, dipisuhi, ditertawakan, bahkan dipecat karena keputusan yang keliru. Atau menderita kerugian. Tetapi, itu harus kita lakukan. Setelah membuat keputusan yang salah2 melulu, kita jadi terluka tetapi jangan sampai menjadi jerih. Jika kita membuat keputusan dengan resiko menyakitkan, kita menjadi extra hati2 dan bersikap 'siaga satu'. Dengan sikap waspada, daya belajar kita meningkat dan dengan meningkatnya daya belajar kita makin saksama. Ndak mau gegabah sebab resikonya bisa melukai harga diri. Ndak enak, ah. Ujung2nya, keputusan2 makin baik dan tepat. Bandingkan jika kita hanya thingak thinguk. Karena ia tak menghadapi resiko, ia santai2 dan daya belajarnya rendah. Demikian ber-gulung2 mangkin lama yang berani salah mangkin tajam keputusannya, mangkin tegas, mangkin teguh menjalanken, dan mangkin tangguh mempertahanken keputusannya*. Sebaliknya, yang thingak thinguk makin sulit membuat keputusan dan ia akan terpuruk dalam keraguan, makin sulit membuat keputusan. Ketegasan menyuburkan kepemimpinan dan ketegasan bisa diakuisisi dengan doktrin Roosvelt : THE NEXT BEST THING ADALAH MEMBUAT KEPUTUSAN, WALAU ITU SALAH.
*) Sengaja saya tirukan gaya bahasa anak dari desa Kemusu sebab ia telah kita daulat sebagai ikon tegas-teguh-tangguh. Hebatnya, ia melakukan itu dengan sikap santun, bersahaja, dan tak meninggalkan senyumnya
Diposting pada mailing list UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|