Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nan indah iyolah baso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Padi dan Ilalang PDF Print E-mail
Written by Dr. H. K. Suheimi   
Friday, 06 June 2008

ImageDalam satu  kesempatan,  saya  sempat  berbincang-bincang dengan kakanda Basri Segeh. Ilmunya dalam dan filsafahnya tinggi.  Beliau berceritra tentang padi dan ilalang. Lalu saya pun teringat  akan  sebuah syair dalam sebuah lagu:  "Lah  jauah  urek malato,  padi  nan  indak manjadi lalang,  sungguah  jauah  adiak di mato, namun di hati indak ka hilang".
Orang sering membandingkan antara padi dan ilalang,  bentuknya serupa tetapi tidak sama.

Satu  hari terjadi dialog antara padi dan  ilalang.  Ilalang bertanya  kepada  padi: "Setelah  saya  amat-amati,"  kata  ilalang, "bentuk  kita serupa tetapi kenapa tidak sama? Lihatlah daunku  dan daunmu,  lihatlah  tinggimu dan tinggiku,  lihatlah  warnamu  dan warnaku.  Kita  mempunyai  daun yang sama,  sama-sama  hijau  dan sama-sama kuningnya, besar dan tinggi kita pun sama. Tetapi kenapa manusia tidak memperlakukan hal yang sama antara aku dan engkau? Engkau  dimanja oleh manusia sedang aku?  Engkau  dipupuknya, bila ada  rumput yang tumbuh di dekatmu, rumput itu pun dibabatnya. Tanahmu  digemburkan, engkau disiangi, sedangkan  aku?  Baru akan bertunas, tunasku pun dipatahkan, akarku dicabut dan  dibongkar, bukan itu saja, aku dijemur kemudian dibakar. Kenapa manusia demikian kejam padaku? Mereka tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bisa hidup bebas."

"Wahai  ilalang," kata padi, "jangan ratapi nasibmu,  mungkin yang  terjadi  pada dirimu itu adalah karena ulah  dan  tingkahmu sendiri,  engkau  kalau  dibiarkan hidup,  akan  menjalar  ke sana ke mari, sehingga tanaman yang lain yang berada  di sekitarmu engkau  bikin mati dan merana. Dan walaupun engkau  telah  tumbuh dengan rimbunnya, tetapi apakah gunanya, apakah manfaat kehadiranmu bagi  manusia,  daunmu tajam melukai, orang akan  tergores  kalau menempuh  daerahmu.  Engkau  hidup  berkepanjangan,  tetapi  selama hidupmu pernahkah engkau berbuah? Dan bermanfaatkah buahmu  itu? Dan  apa yang telah engkau pernah hasilkan, bukankah  kehadiranmu  banyak menyusahkan orang saja?"

Agaknya  padi itu disayang, dimanja dan dipupuk serta  diharapkan  hidup oleh manusia, adalah karena sang padi  itu  bermanfaat. Buahnya sumber kehidupan. Dia dicari dan dia diperebutkan, tetapi dia tidak sombong. Semakin berbuah dia semakin runduk. Selalu  orang  tua menasehati anaknya:  hiduplah  bagaikan padi, semakin berbuah semakin runduk. Hidup  ini  bagaikan padi dan ilalang, ada  yang  bermanfaat untuk diri dan lingkungannya, tetapi banyak pula yang merusak  diri serta lingkungannya. Yang bermanfaat adalah mereka yang senantiasa  berusaha  membentuk dirinya menjadi orang yang  berguna,  dia produktif, dia selalu menghasilkan yang terbaik. Setiap detik dan saat  diisinya dengan kebaikan. Hari-harinya berlalu dengan  hal-hal yang berguna. Tiada hari baginya tanpa kebaikan. Baginya hari ini  lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih  baik  dari hari ini. Semakin hari semakin meningkat dan semakin hari semakin maju, namun semua itu tidak menyebabkan hidungnya bertambah besar dan tidak menyebabkan hatinya menjadi sombong dan pongah, semakin berisi semakin runduk.

Dan Nabi Muhammad pun bersabda: "Bahwa yang berkualitas  di antaramu adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamamu." Di sisi  Tuhan pun demikian adanya, sebagaimana  dalam  sebuah firman  suci-Nya: "Allah  akan berikan keunggulan kepada mereka yang beriman dan berilmu." (Surat Al Mujaadilah ayat 11). Untuk  menjadi  orang yang berkualitas dan  bermanfaat  bagi orang lain, kita dituntut untuk beriman dan berilmu. 

Trackback(0)
Comments (2)add comment

kampia said:

yth. Bapak Dr.H.K Suheimi,
terima kasih tulisan Bapak soal padi dan hilalang, sangat bagus sekali, cermin untuk menjalankan kehidupan, apa lagi di kuatkan oleh hadis nabi dan Firman Allah.

di nanti tulisan barikuik nyo pak
 
report abuse
vote down
vote up
June 06, 2008
Votes: +0

alhakim said:

Memang batua pagi jo hilalang bantuak ampia samo tapi sifat jauah babedo. Hilalang perlambang nan buruak sadangkan padi perlambang nan elok. Dan ciek lai nan indak kalah pantiang nyo nan patuik dikatahui adolah ; "Bilo kito mananam padi hilalang ikuit pulo tumbuah, tapi kalau mananam hilalang tak mungkin padi tumbuah". Maknanyo tapulang kapado nan cadiak...
 
report abuse
vote down
vote up
June 23, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 2 guests and 5 members online
Generated in 1.14827 Seconds