|
Dalam satu kesempatan, saya sempat berbincang-bincang dengan kakanda Basri Segeh. Ilmunya dalam dan filsafahnya tinggi. Beliau berceritra tentang padi dan ilalang. Lalu saya pun teringat akan sebuah syair dalam sebuah lagu: "Lah jauah urek malato, padi nan indak manjadi lalang, sungguah jauah adiak di mato, namun di hati indak ka hilang". Orang sering membandingkan antara padi dan ilalang, bentuknya serupa tetapi tidak sama.
Satu hari terjadi dialog antara padi dan ilalang. Ilalang bertanya kepada padi: "Setelah saya amat-amati," kata ilalang, "bentuk kita serupa tetapi kenapa tidak sama? Lihatlah daunku dan daunmu, lihatlah tinggimu dan tinggiku, lihatlah warnamu dan warnaku. Kita mempunyai daun yang sama, sama-sama hijau dan sama-sama kuningnya, besar dan tinggi kita pun sama. Tetapi kenapa manusia tidak memperlakukan hal yang sama antara aku dan engkau? Engkau dimanja oleh manusia sedang aku? Engkau dipupuknya, bila ada rumput yang tumbuh di dekatmu, rumput itu pun dibabatnya. Tanahmu digemburkan, engkau disiangi, sedangkan aku? Baru akan bertunas, tunasku pun dipatahkan, akarku dicabut dan dibongkar, bukan itu saja, aku dijemur kemudian dibakar. Kenapa manusia demikian kejam padaku? Mereka tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bisa hidup bebas."
"Wahai ilalang," kata padi, "jangan ratapi nasibmu, mungkin yang terjadi pada dirimu itu adalah karena ulah dan tingkahmu sendiri, engkau kalau dibiarkan hidup, akan menjalar ke sana ke mari, sehingga tanaman yang lain yang berada di sekitarmu engkau bikin mati dan merana. Dan walaupun engkau telah tumbuh dengan rimbunnya, tetapi apakah gunanya, apakah manfaat kehadiranmu bagi manusia, daunmu tajam melukai, orang akan tergores kalau menempuh daerahmu. Engkau hidup berkepanjangan, tetapi selama hidupmu pernahkah engkau berbuah? Dan bermanfaatkah buahmu itu? Dan apa yang telah engkau pernah hasilkan, bukankah kehadiranmu banyak menyusahkan orang saja?"
Agaknya padi itu disayang, dimanja dan dipupuk serta diharapkan hidup oleh manusia, adalah karena sang padi itu bermanfaat. Buahnya sumber kehidupan. Dia dicari dan dia diperebutkan, tetapi dia tidak sombong. Semakin berbuah dia semakin runduk. Selalu orang tua menasehati anaknya: hiduplah bagaikan padi, semakin berbuah semakin runduk. Hidup ini bagaikan padi dan ilalang, ada yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya, tetapi banyak pula yang merusak diri serta lingkungannya. Yang bermanfaat adalah mereka yang senantiasa berusaha membentuk dirinya menjadi orang yang berguna, dia produktif, dia selalu menghasilkan yang terbaik. Setiap detik dan saat diisinya dengan kebaikan. Hari-harinya berlalu dengan hal-hal yang berguna. Tiada hari baginya tanpa kebaikan. Baginya hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Semakin hari semakin meningkat dan semakin hari semakin maju, namun semua itu tidak menyebabkan hidungnya bertambah besar dan tidak menyebabkan hatinya menjadi sombong dan pongah, semakin berisi semakin runduk.
Dan Nabi Muhammad pun bersabda: "Bahwa yang berkualitas di antaramu adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamamu." Di sisi Tuhan pun demikian adanya, sebagaimana dalam sebuah firman suci-Nya: "Allah akan berikan keunggulan kepada mereka yang beriman dan berilmu." (Surat Al Mujaadilah ayat 11). Untuk menjadi orang yang berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain, kita dituntut untuk beriman dan berilmu.
Trackback(0)
|