|
Bertemu orang satu bangsa di Negara lain rasanya seperti bertemu dengan tetangga. Apalagi bertemu dengan orang satu kampung? Itulah saya rasakan di Berlin, ibukota Negara Jerman. Dari dua bulan pengalaman mengikuti program fellowship selama dua bulan di Jerman, inilah pengalaman paling menyenangkan.
Di Berlin ternyata tinggal sekitar 30 keluarga Minang. Jadi mungkin lai saratuih urang Minang tinggal di Berlin. Mereka membentuk perkumpulan Ikatan Keluarga Minang Berlin yang selama dua bulan sekali bertemu, kumpul bersama untuk melepas rindu dengan kampung dan juga meningkatkan silahturahmi.
Sebenarnya jumlah orang Minang yang tinggal di Berlin bisa jadi lebih banyak karena ternyata tidak semua orang Minang tahu ada perkumpulan ini. Hal ini disebabkan kesibukan dan kebiasaan orang di sini yang serba individual. Biasanya yang belum tahu adalah para mahasiswa yang waktunya habis untuk kuliah. Oleh karena itu setiap bertemu orang Minang pasti mereka diberitahu acara ini.
Saya tahu perkumpulan ini dari pak Zaenal Syamsi ketika sholat Jumat di pusat kebudayaan dan pengetahuan Indonesia yang juga berfungsi sebagai mesjid di Berlin. Pak Zaenal ini sudah sejak SMP ikut Omnya tinggal di Jerman. Tapi meski sudah berpuluh tahun tinggal di Jerman, bahasa Minangnya tidak luntur sama sekali.
Pak Zaenal yang kebetulan satu suku dengan saya, Chaniago memberitahu tentang rencana pertemuan keluarga Minang berikutnya yang kebetulan berlangsung di rumahnya. Awalnya pertemuan mau diadakan di Tiergarten, sebuah taman luas di tengah kota Berlin. Taman yang sangat indah oleh kombinasi alam dan penataan yang terjaga dengan baik. Namun sayang, karena cuaca belakangan ini di Berlin suka mendung dan kadang hujan, akhirnya acara kumpul2 ini diadakan di rumah saja.
Tapi itu tidak mengurangi nilai silahturahmi acara ini. Acara dimulai dengan bakar daging sate. Sementara para perempuan menyiapkan makanan lain. Dari sini sudah tercium aroma makanan khas yang sejak saya menjejakkan kaki di Berlin saya rindukan. Indak sabar rasonyo untuk segera makan ...
Selain sate Padang dan lontongnya, di meja makan juga terhidang nasi dan ayam balado, es cendol, kue-kue dan buah-buahan. Sayang tidak ada rendang, tapi tidak mengapa. Sate Padang sudah lebih dari cukup. Lantunan lagu-lagu Minang dari VCD membuat suasana acara makan siang ini seperti di rumah sendiri, padahal kita berada ratusan mil dari kampuang.
Indak beda jo acara pertemuan keluarga Minang di Indonesia, setelah makan acara dilanjutkan dengan petuah dari urang tuo. Tidak lupa juga acara perkenalan. Meski ini bukan acara kumpul-kumpul yang pertama, tapi acara perkenalan selalu ada karena selalu ada orang Minang yang baru datang, atau yang sekedar berkunjung ke Berlin untuk waktu singkat seperti saya.
Dari acara perkenalan ini kita juga bisa tahu dari mana asal kita. Saya malah bertemu dengan saudara Bapak saya yang sukar sekali saya jelaskan bagaimana hubungannya, tapi yang jelas beliau kenal baik dengan Bapak saya, begitu juga dengan Bapak saya ketika saya kasih tahu yang langsung bilang itu saudara Bapak.
Sebenarnya yang datang ke acara ini bukan hanya orang Minang, tapi orang dari suku lain yang nikah dengan orang Minang, termasuk orang Jerman asli yang nikah dengan orang Minang. Juga ada orang Malaysia yang neneknya orang Minang.
Dari acara perkenalan ini saya tahu ternyata banyak sekali orang Minang di Jerman yang bekerja sebagai peneliti di perusahaan-perusahaan Jerman. Hebat, indak disangko. Dibalik penampilan mereka yang sederhana dan sangat membumi ternyata tersimpan otak-otak yang sangat cerdas. Mereka punya pekerjaan yang sangat terhormat di mata orang asing tapi itu tidak membuat mereka sombong. Bangganyo awak jo urang awak.
Bilo batandang ka Berlin, jaan lupo datang ke pertemuan Keluarga Minang Berlin yo
Sarana buek bertemu biasonya di mesjid Indonesia di Berlin di Perleberger strasse 61, 10557 Berlin, dengan alamat website sbb : www.iwkz.de
Jumat, 20 Juni 2008
Trackback(0)
|