|
Menggugugat Peran Madrasah |
|
|
|
|
Written by Ardinal
|
|
Thursday, 17 July 2008 |
Madrasah dalam perjalananannya di Ranah Minang pada masa lalu telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perjalanan sejarah negeri ini dalam mengokohkan kehidupan "adat basandi syara', syara' bersandikan kitabullah". Sejarah telah mencatat bahwa revolusi yang terjadi di Ranah Minang yang dipelopori oleh Paderi pada masa lalu telah memberikan identitas yang kokoh terhadap urang Minang sebagai anak bangsa yang kental dalam ke Islamannya. Dari cerita orang-orang tua yang pernah disampaikan saperwa- parewa urang awak dulunyo pasti pandai mangaji. Begitu juga ketika anak bujang pai marantau mereka dibekali dengan kain saruang dan dipesankan untuk pertama kali yang di cari adalah surau (mesjid). Kesemuanya itu adalah buah dari perjuangan Paderi dalam mengokohkan Islam di Ranah Minang. Semangat Paderi ini dalam perjalanannya dilanjutkan dalam bentuk pendidikan formal yang dikenal dengan Madrasah yang tersebar di seluruh Tanah Minangkabau, sebutlah misalnya Madarasah Sumatera Thawalib Parabek, Perguruan Thawalib Padang Panjang, Diniyah Puteri, Thawalib Padang Japang, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang, Madarasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, PGAI Padang dan banyak lagi. Produk pendidikan di Madrasah ini telah memberikan warna terhadap perjalanan Ranah Minang dalam melewati zaman yang dilaluinya.
Kini peran Madrasah yang pada masa lalu telah menoreh tinta emasnya seakan-akan tenggelam. Madrasah tidak lagi tampil sebagai institusi terdepan dalam urusan keumatan di Ranah Minang. Sejak era tahun 70 an sampai sekarang peran dari Madrasah sebagai pelopor gerakan pembangunan ummat telah mengecil sebatas mengajarkan ilmu-ilmu agama semata. Kita tidak pernah lagi mendapatkan pemimpin Madrasah yang mempunyai kualitas seperti pendirinya sebutlah misalnya, Syekh Ibrahim Musa Parabek, DR. Abdul Karim Amarullah, Syekh Abdullah Ahmad, Zainuddin Labay El Yunusy, Syekh Jamil Jaho, inyiak Canduang dan lain sebagainya yang mereka tidak hanya konsen kepada pengajaran ilmu agama semata. Peran mereka sangat besar di seluruh kehidupan ummat. Ide-ide kreatif mereka dituangkan dan disebarkan melalui dunia intitusi pendidikan yang ada. Peran Madarasah pada masa founding fathernya bukannya hanya sekedar mengajarkan ilmu agama, akan tetapi juga membentuk kader-kader untuk meneruskan perjuangan dalam membela ummat dalam segala persoalan yang dihadapinya. Semakin majunya zaman ini semakin besar tantangan yang dihadapi oleh Ummat. Peran Madarsah seperti pada masa lalu perlu dikembalikan. Kita membutuhkan Madarasah untuk kembali berperan untuk membina ummat dan bukan peran madarasah yang hanya berkutat dalam masalah-masalah tetek bengek pengajaran yang dihadapi pada saat ini. Madarasah seakan tidak berdaya lagi pola pendidikan Nasiaonal. Madarasah terjebak dengan Ujian Negara dan lain-lain. Barangkali peran itu hanya satu bahagian kecil yang harus dilakukan oleh Madarasah. Banyak peran besar lainnya yang tidak pernah lagi dilakukan. Salah satu hal yang sangat hangat jadi pembicaraan pada saat ini adalah berkembangnya ajaran sempalan Ahmadiyah. Pada masa lalu ketika ajaran ini sampai di Ranah Minang Madarasah yang dipelopori oleh Thawalib Padang Panjang telah mengambil peran besar dengan melakukan debat dan menghadang berkembangnya ajaran ini (Baca : Ayahku, Hamka). Begitu juga dengan peran dalam dunia politik dan perjuangan melawan penjajahan. Madrasah juga sangat ngotot untuk menentang guru ordonansi yang diluncurkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada waktu itu. Itulah mungkin catatan kecil yang ditinggalkan tentang peran Madrasah di masa lalu. Tapi kini suara lantang dari madrasah tidak terdengar lagi bahkan mungkin tidak ada lagi. Tentu saja banyak persoalan yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Kalau kita ungkap berbagai permasalahannya tentu sangat panjang untuk di bicarakan dan berbagai argumentasi pasti bermunculan, namun yang penting adalah kita mengharapkan bagaimana madarasah dengan kembali mampu berbicara tentang masalah keumatan dengan mewariskan kepada anak didiknya semangat yang telah diwariskan oleh para founding father Madrasah tersebut. Kita tidak rela bila Madrasah yang telah menorehkan tinta emas sejarahnya hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang berjwa kerdil mengatas namakan pendidikkan agama untuk kepentingan pribadi . Tempat menyandarkan hidup, menjadikannya sebagai sumber mata pencarian semata. Tentu juga peran Madrasah sebagai mana awalnya akan dapat hidup kembali bila kita masyarakat Minang peduli kepadanya. Wallahu 'alam.
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Friday, 18 July 2008 )
|