Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka panghulu
Panghulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Managerialships (12) : Internal vs External Locus of Controll PDF Print E-mail
Written by S. Brotosumarto   
Friday, 27 August 2004
Salah satu definisi manajemen yang sederhana adalah : (1) planning - (2) directing - (3) excecuting - (4) controll. Atau merencanakan - mengarahkan - melaksanakan - mengendalikan. 
 

 
Butir (2) yaitu directing sudah kita singgung dalam bentuk komponen penting kepemimpinan yaitu desisif. Sekarang kita membicarakan butir (3) mengendalikan. Secara gampang kita bisa menyimpulkan bahwa orang2 dengan kecenderungan mengendalikan akan lebih berpeluang dititian M sebab itu satu bagian pokok dari M.
 
Dalam Manajemen wujud pengendalian bisa berupa Quality Controll / Assurance, Badan pemeriksa keuangan, Inspektur jendral anu, gugus kendali mutu, cek & ricek, feed back system, controll system, team verifikasi, sampai kemesin absensi.
 
Untuk bisa mengendalikan tentunya orang itu harus mampu mengendalikan dirinya dulu. Ada orang2 yang merasa bahwa peristiwa2, nasib, kesialan, musibah, berkah, keberuntungan, dll, yang menimpa dirinya lebih banyak disebabkan faktor external. Ia percaya ia menjadi begini karena faktor2 luar, entah itu ekonomi, politik, keturunan, dll. Orang yang demikian disebut memiliki external locus of controll atau ELC. Sebaliknya, orang2 yang yakin bahwa dirinya begitu lebih banyak disebabkan karena dirinya disebut internal locus of controll atau ILC. Tentang ILC & ELC bisa dilihat lebih dalam di karirc.doc.
 
Seorang yang extrim ELC adalah orang2 yang fatalistik. Orang yang dalam ketidak berdayaan. Ia betul2 pasrah pada 'takdir'. Apapun ia jalani. Sebaliknya, yang ELC adalah orang yang terlalu bengis pada dirinya manakala ia menderita saat2 buruk. Ia menyalahkan dirinya dan ini juga bisa berakibat fatal. Umumnya kita berada pada suatu skala ILC_ELC tertentu, misal 60% ILC.
 
Penelitian membuktikan bahwa jajaran M menengah keatas didominasi ILC dengan score kira2 75-85%. Artinya, orang2 memahami bahwa ada hal2 yang benar2 diluar kendali kita. Pada saat yang bersamaan, mereka punya determinasi mengendalikan hidupnya, nasibnya, dll. Mereka yang ILC tak bakalan kesulitan menghadapi pekerjaan mengendalikan karena secara alamiah mereka sudah begitu terhadap dirinya. Mereka yang score ILCnya rendah bakal kesulitan mengendalikan. Apakah itu mengendalikan anak buah, jadwal, kualitas, dll.
 
Yang ingin mengetahui score ILCnya, silahkan ketik locus of controll di gugel, ada banyak self test disana. Jika ILC anda kelewat rendah, jangan kuatir. Angka ini bisa diperbaiki. Baca lagi karirc.doc. Saya yaqin bahwa mayoritas pembaca scorenya > 51%. Ini sudah modal lumayan walau tak cukup.
 
Ada orang2 yang berprinsip 'let life happen' atau biarkan kehidupan mengalir seperti jalannya air. Orang ini kurang memiliki sifat mengendalikan. Ia mudah terseret dalam kehidupan. Ia bisa melenceng dari tujuan. Tetapi, bukan mustahil ia terdampar ke tambang emas. Bisa saja, kenapa tidak ? Akan tetapi, falsafah yang demikian tak cocok dalam titian M. M adalah pengendali. Ia mengendalikan apa yang jadi perhatiannya. Ia tak banyak mengalami kesulitan dalam peranan sebagai pemimpin atau directing. Ia mampu mendisiplinkan anak buahnya. Ia terbiasa mengendalikan faktor2 external, termasuk anak buah.
 
Jadi, dalam perjalanan merekonstruksi sosok M, kita menghasilkan dua temuan dalam memimpin. Memimpin dalam arti paling sederhana, memimpin anak buah. Yaitu desisif dan ILC. Banyak pembicaraan2 tentang pemimpin yang bermoral, yang Pancasilais, yang ini, yang itu, dll. Itu adalah 'muatan'. Yang saya bicarakan adalah 'elemen' kepemimpinan. Seseorang akan sulit melakukan kepemimpinan yang 'bermuatan' jika ia tak memiliki elemen2 psikologis kepemimpinan.
 
Secara bertahap soso M samar2 mulai kelihatan. Lihatlah :
 
Objektip (T) - Logis - Desisif - well done - task & result oriented - mengendalikan - dst.
 
Ini belum selesai dan anda bisa memvalidasi konstruksi ini dengan menyimak atasan2, boss2, pesohor2 bisnis & M, dll. Itu mudah dicerna tetapi dalam pelaksanaan kita sering tidak menyadari bila terkadang kita sedang tidak logis, ragu, dsb. Semua orang melakukan kesalahan ini. Semua, tanpa kecuali. Hanya ada yang salahnya terus2an, ada yang begin more intellegentlly



Suplemem tanya jawab M 12

 

> Untungnya, masih ada secuil kesadaran bahwa kekuatan seorang bank al masih ada limit-nya. Secuil kesadaran ini membuat seorang bank al menyadari bahwa sebuah limit harus ditetapkan untuk mengukur apakah sudah saatnya untuk mundur dan mencari jalan lain menuju Roma. :)

Btw, Pak Dhe bilang kalau orang yg ILC-nya rendah perlu ditingkatkan. Bagaimana dengan yg ILC-nya tinggi ? Dan apa ukurannya ILC seorang terlalu tinggi atau tidak ?
Jangan2 ILC-ku terlalu tinggi dan perlu diturunkan ?
 
# Kuestioner dalam Locus of Controll ada yang semacam ini :
 
Ketika rupiah amblas dari 2,500 menjadi 8,500 per dóllah, maka
a. Anda tak berbuat apapun untuk memperbaiki nilai rupiah
b. Anda berbuat sesuatu untuk memperbaiki nilai rupiah
 
Pertanyaan itu membuat 99% responden memilih jawaban a. Jika ada yang menjawab b, maka ia bisa jadi George Soros, direksi otoritas moneter, asal2an njawab, atau seorang yang 'nyentrik'. Akibat pertanyaan seperti itu, jarang sekali ada yang scorenya > 85%. Atau, jika scorenya benar2 > 85%, itu termasuk kategori 'nyentrik', alias tidak normal.
 
Apapun, suatu aset (kelebihan) yang dimaksimumkan mbalah akan jadi liability (kelemahan). Seorang yang kelewat desisif akan menjadikannya membuat keputusan2 yang prematur, gegabah, kepala batu, kaku, ndak luwes, terlalu keras, dlsb. 
 
Seorang yang T terlalu tinggi akan membuatnya pedas, ketus, nylekit, kurang tenggang rasa, dll. Ini saya alami karena T saya tidak normal, kelewat tinggi. Jadi kering, ndak romantis, wagu, dll. Dampak positipnya, ia menjadi obyektip, tajam logikanya, dll.
 
Seorang kawan terlalu F sehingga karirnya thulalit dan ia jadi 'nobody' dikarir. Diluar itu, ia 'somebody' karena sifatnya yang alamiah untuk berbela rasa, simpatik, condong menolong orang. Ini kelihatan waktu ia sakit keras. Yang berkunjung, duilah banyaknya. Walau ia tak sukses, ia berbahagia. Banyak yang menyukainya. Jadi, suatu liability bisa pula jadi aset. Tergantung kecakapan ybs mengepaskan.
 
Menurut saya, bung Al ILCnya tinggi tetapi belum masuk kategori 'nyentrik'. Jika benar ia ILC tidak normal maka ia mudah dilanda stress jika faktor external sedang tak ramah. ILCnya bisa secara alamiah turun, bisa pula dengan sukarela diturunkan sendiri. Terutama sesudah beliau memahami konsep,
 
MAKSIMISASI ASET MENGHASILKAN LIABILITY.
 
Simaklah kasus Prof. John Nash yang diabadikan dalam film 'Beautifull mind'. Sang prof adalah jamangah fantasiah dan ini menjadikannya aset sehingga menyabet Nobel. Tetapi fantasinya yang berlebihan membuatnya jadi gila. Ia berfantasi di-kejar2 agen KGB. Demikian hidupnya fantasinya sehingga ia harus masuk RSJ. Ingat :
 
MAKSIMISASI ASET MENGHASILKAN LIABILITY

Diposting pada mailing list UGM
Disadur oleh : Dewis Natra

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 7 guests and 4 members online
Generated in 0.99305 Seconds