Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Dalam awa akhia mambayang
Dalam baiak kanalah buruak
Dalam galak tangih ka tibo
Hati gadang hutang kok tumbuah
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Beberapa Ringkasan Seputar Ibadah Puasa (Shaum) PDF Print E-mail
Written by Syafrizal Katik Batuah   
Friday, 29 August 2008

 Berikut ini adalah beberapa ringkasan seputar ibadah Puasa


 

BEBERAPA RINGKASAN SEPUTAR IBADAH PUASA (SHAUM)
(ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ ﻡﺎﻜﺣﺃ ﺮﺼﺘﺨﻣ)


Keutamaan-Keutamaan Puasa

Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya) :

إِنّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصّادِقِينَ وَالصّادِقَاتِ وَالصّابِرِينَ وَالصّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدّقِينَ وَالْمُتَصَدّقَاتِ والصّائِمِينَ والصّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِـظَاتِ وَالذّاكِـرِينَ اللّهَ كَثِيراً وَالذّاكِرَاتِ أَعَدّ اللّهُ لَهُم مّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً


“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab : 35).

Dalam ayat lain Allah juga telah berfirman :

وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لّكُمْ إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 184).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dalam sunnahnya bahwasannya puasa merupakan benteng dari hawa nafsu syahwat, penangkal dari sambaran api neraka, dan Allah ta’ala telah mengkhususkannya sebagai nama salah satu pintu surga.  Dan beberapa keutamaan tersebut, dapat dilihat sebagai berikut :

1.  Puasa Sebagai Perisai

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang diliputi nafsu birahi untuk menikah.  Jika dia tidak mampu untuk melaksanakannya, maka ia diperintahkan untuk berpuasa untuk mengekang nafsu syahwatnya.  Sebab puasa bisa menahan gejolak anggota tubuh dengan kelemahannya sehingga dapat mengekangnya dari tindakan yang menyimpang.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu (ba’ah), maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan memelihara kemaluan.  Dan barangsiapa yang tidak mampu untuk menikah, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1400 dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan nereka dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat.  Oleh sebab itu, jelaslah kiranya bagi kita bahwa puasa itu dapat memetahkan syahwat dan menumpulkan ketajamannya yang bisa mendekatkan kepada api neraka, dan puasa itu bisa menjadi penyekat antara orang yang berpuasa dengan neraka.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﺪﺒﻌﻟﺍ ﺎﻬﺑ ﻦﺠﺘﺴﻳ ﺔﻨﺟ ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ

“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka” (HR. Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir; dan 4/22 dari ‘Utsman bin Abi ‘Ash dengan sanad shahih).

Dan tentunya, hanya puasa yang ikhlash dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sajalah yang dapat menjadi perisai dari api neraka.

2.  Puasa Dapat memasukkan Seseorang ke dalam Surga

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis mendekatkan dapat pelakunya kepada surga, bi-idznillaah. 

Diriwayatkan dari Abu Umamah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga”.  Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya” (HR. Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 232, dan Al-Hakim 1/421 dengan sanad shahih).

3.  Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala Tak Terhitung Nilainya.

4. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan.

5.  Bau Mulut Orang yang Berpuasa Lebih Harum di Hadapan Allah Ta’ala daripada Bau Misk (Kesturi).


Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam : Telah berfirman Allah ta’ala (merupakan hadits qudsi) :

كل عمل بن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به والصيام جنة وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك للصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر فرح وإذا لقي ربه فرح بصومه

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala atasnya.  Puasa itu adalah perisai, maka pada saat berpuasa hendaknya seseorang diantara kamu tidak melakukan rafats (berjima’ dan berbicara keji) dan tidak juga membuat kegaduhan.  Jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan,”Sesungguhnya aku berpuasa”.  Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.  Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya” (HR. Bukhari 4/88 dan Muslim 1151).

 6.  Puasa dan Al-Qur’an akan Memberi Syafa’at Bagi Orang Yang  

      Menjalankannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

: ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ ﻝﻮﻘﻳ  ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ﻡﻮﻳ ﺪﺒﻌﻠﻟ ﻥﺎﻌﻔﺸﻳ ﻥﺁﺮﻘﻟﺍﻭ ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ
: ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻝﻮﻘﻳﻭ ﻪﻴﻓ ﻲﻨﻌﻔﺸﻓ ﺓﻮﻬﺸﻟﺍﻭ ﻡﺎﻌﻂﻟﺍ ﻪﺘﻌﻨﻣ ﺏﺭ ﻱﺃ
ﻥﺎﻌﻔﺸﻴﻓ : ﻝﺎﻗ  ﻪﻴﻓ ﻲﻨﻌﻔﺸﻓ ﻞﻴﻠﻟﺎﺑ ﻡﻮﻨﻟﺍ ﻪﺘﻌﻨﻣ

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti.  Puasa akan berkata : “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”.  Dan Al-Qur’an berkata : “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”.  Beliau bersabda,”Maka syafa’at keduanya diperkenankan” (HR. Ahmad 6626, Al-Hakim 1/554, dan Abu Nu’aim 8/161 dari Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma; dengan sanad hasan).

7.  Puasa Sebagai Kaffarat (Penebus Dosa)

Diantara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa adalah bahwa Allah ta’ala telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala (lihat QS. Al-Baqarah : 196).  Dan puasa juga dapat menjadi kaffarat karena tidak mampu memotong hewan kurban (Qs. Al-Baqarah : 196), membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja (QS. An-Nisaa’ : 92), melanggar sumpah (QS. Al-Maaidah : 89), membunuh binatang buruan pada saat ihram (QS. Al-Maaidah : 95), dan zhihar (QS. Al-Mujaadilah : 3-4).

Demikian halnya dengan puasa dan sedekah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga.  Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

فتنة الرجل في أهله وماله وجاره تكفرها الصلاة والصيام والصدقة

“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga, harta, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan shadaqah” (HR. Bukhari 2/7 dan Muslim 144).

8.  Ar-Rayyan Disediakan Bagi Orang-Orang yang Berpuasa

ﺪﺣﺃ ﻪﻨﻣ ﻞﺧﺪﻳ ﻻ ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ﻡﻮﻳ ﻥﻮﻤﺋﺎﺼﻟﺍ ﻪﻨﻣ ﻞﺧﺪﻳ ﻥﺎﻳﺮﻟﺍ ﻪﻟ ﻝﺎﻘﻳ ﺎﺑﺎﺑ ﺔﻨﺠﻟﺍ ﻲﻓ ﻥﺇ
ﻞﺧﺩ ﻦﻣﻭ ﻖﻠﻏﺃ ﻢﻫﺮﺧﺁ ﻞﺧﺩ ﺍﺫﺈﻓ) ﺪﺣﺃ ﻪﻨﻣ ﻞﺧﺪﻳ ﻢﻠﻓ ﻖﻠﻏﺃ ﺍﻮﻠﺧﺩ ﺍﺫﺈﻓ ﻢﻫﺮﻴﻏ
(ﺍﺪﺑﺃ ﺄﻤﻆﻳ ﻢﻟ ﺏﺮﺷ ﻦﻣﻭ ﺏﺮﺷ

“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyaan.  Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa.  Dan apabila mereka masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut. (Apabila orang yang terakhir di antara mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup.  Dan barangsiapa sudah masuk, dia akan minum.  Dan barangsiapa yang sudah minum, maka dia tidak akan pernauh haus selamanya)” (HR. Bukhari 4/95 dan Muslim 1152, dan tambahan terkahir – di dalam kurung – adalah riwayat dari Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 1903).

 

Keutamaan-Keutamaan Bulan Ramadlan

1.  Bulan Al-Qur’an

Allah ta’ala telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi ummat manusia sekaligus sebagai obat penyembuh bagi orang-orang yang beriman, petunjuk kepada jalan yang lurus, penunjuk kepada jalan kebajikan, dan pada malam Lailatul-Qadar di bulan Ramadlan itu penuh dengan kebaikan.  Allah ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ وَبَيّنَاتٍ مّنَ الْهُدَىَ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).  Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah : 185).

2.  Setan-Setan Dibelenggu, Pintu-Pintu Neraka Ditutup, dan Pintu-Pintu Surga Dibuka

Pada bulan yang penuh berkah ini, kejahatan di muka bumi ini menjadi sedikit, karena jin-jin jahat dibelenggu dengan rantai dan diborgol, sehingga mereka tidak bisa melakukan pengrusakan terhadap ummat manusia sebagaimana mereka bisa melakukannya pada bulan-bulan lain selain Ramadlan.  Karenanya kaum muslimin menjadi lebih berkonsentrasi menjalankan puasa yang merupakan pengekang hawa nafsu, dan juga mereka sibuk membaca Al-Qur’an dan berbagai macam ibadah lainnya yang mampu mendidik sekaligus menyucikan jiwa.  Oleh karena itulah ditutup pintu Jahannam, dan dibuka pintu-pintu surga, karena banyak amal shalih, serta banyaknya ucapan dan perkataan yang bagus.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﻦﻴﻁﺎﻴﺸﻟﺍ ﺕﺪﻔﺻﻭ ﻥﺍﺮﻴﻨﻟﺍ ﺏﺍﻮﺑﺃ ﺖﻘﻠﻏﻭ ﺔﻨﺠﻟﺍ ﺏﺍﻮﺑﺃ ﺖﺤﺘﻓ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﺀﺎﺟ ﺍﺫﺇ

“Jika bulan Ramadlan tiba, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setanpun dibelenggu” (HR. Bukhari 4/97 dan Muslim 1079).

3.  Lailatul-Qadr

Allah ta’ala telah memilih bulan Ramadlan dikarenakan pada bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan.  Pada bulan tersebut terdapat Lailatul-Qadar, malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan. 

 

Dorongan Mengerjakan Puasa Ramadlan

1.  Pengampunan Dosa

Pembuat Syari’at yang Maha Bijaksana telah memotivasi untuk berpuasa di bulan Ramadlan seraya menjelaskan keutamaan dan ketinggian kedudukannya.  Sekalipun orang yang menjalankan puasa itu memiliki tumpukan dosa bak buih di lautan, niscaya dosa-dosa itu akan diampuni dengan melaksanakan ibadah yang penuh berkah ini, yaitu ibadah puasa.  Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﻪﺒﻧﺫ ﻦﻣ ﻡﺪﻘﺗ ﺎﻣ ﻪﻟ ﺮﻔﻏ ﺎﺑﺎﺴﺘﺣﺍﻭ ﺎﻧﺎﻤﻳﺇ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﻡﺎﺻ ﻦﻣ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala (ihtisaaban) , niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari 4/99 dan Muslim 759).

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﺮﺋﺎﺒﻜﻟﺍ ﺖﺒﻨﺘﺟﺍ ﺍﺫﺇ ﻦﻬﻨﻴﺑ ﺎﻤﻟ ﺕﺍﺮﻔﻜﻣ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﻰﻟﺇ ﻥﺎﻀﻣﺭﻭ ﺔﻌﻤﺠﻟﺍ ﻰﻟﺇ ﺔﻌﻤﺠﻟﺍﻭ ﺲﻤﺨﻟﺍﺕﺍﻮﻠﺼﻟﺍ

“Shalat yang lima waktu, antara Jum’at ke Jum’at berikutnya, antara Ramadlan ke Ramadlan berikutnya; bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi diantaranya, jika dosa-dosa besar dihindari”   (HR. Muslim 233).

2.  Dikabulkannya Doa dan Pembebasan dari Api Neraka

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﻞﻜﻟ ﻥﺇﻭ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﺮﻬﺷ ﻲﻓ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﺀﺎﻘﺘﻋ ﺔﻠﻴﻟﻭ ﻡﻮﻳ ﻞﻛ ﻲﻓ ﷲ ﻥﺇ
ﻪﻟ ﺏﺎﺠﺘﺴﻴﻓ ﺎﻬﺑﻮﻋﺪﻳ ﺓﻮﻋﺩ ﻢﻠﺴﻣ

“Sesungguhnya setiap hari Allah ta’ala membebaskan beberapa orang dari api neraka yaitu pada bulan Ramadlan, dan sesungguhnya bagi setiap orang muslim apabila memanjatkan doa, maka pasti dikabulkan” (HR. Bazzar 3142, Ahmad 2/254, dan Ibnu Majah 1643 dengan sanad shahih).

3.  Termasuk dalam Golongan Para Shiddiqiin dan Syuhadaa’

Dari Amar bin Murrah Al-Juhhani bercerita : Ada seseorang yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang haq untuk disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, (dan aku) mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadlan; termasuk golongan siapakah aku ini?”.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Termasuk golongan para shiddiqiin dan syuhadaa’ “ (HR. Ibnu Hibban no. 19 dalam Kitab Zawaaid; dengan sanad shahih).

 

Larangan Berbuka dengan Sengaja pada Bulan Ramadlan

Dari Abu Umamah Al-Bahili radliyallaahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :
“Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal seraya berkata : “Naiklah”. Lalu kukatakan : “Sesungguhnya aku tidak sanggup melakukannya, kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkan untukmu”.  Maka aku pun menaikinya, sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang keras sekali.  Maka aku tanyakan,”Suara apakah itu?”.  Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka”.  Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan ternyata aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka.  Mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalir darah.  Kemudian aku bertanya,”Siapakah mereka itu?”. Mereka menjawab, ”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (dengan sengaja) sebelum tiba waktunya” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad shahih).

 Cara Penentuan Bulan Ramadlan

1.  Menghitung Bilangan Hari di Bulan Sya’ban

Islam adalah agama yang mudah.  Dalam hal penentuan awal Ramadlan, hendaknya ummat Islam membiasakan diri untuk menghitung bilangan hari pada bulan Sya’ban.  Dalam kalender Qamariyyah (kalender Islam), jumlah hari dalam satu bulan adalah 29 hari atau 30 hari.  Kita diwajibkan berpuasa
jika telah melihat bulan
. Dan jika tertutup oleh awan (bulan tidak terlihat), maka bulan Sya’ban kita genapkan menjadi 30 hari.  Hal itu sangat sesuai dengan amalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dalam dalil-dalil sebagai berikut :

Dari Abu Haurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﻦﻴﺛﻼﺛ ﻥﺎﺒﻌﺷ ﺍﻮﻠﻤﻛﺄﻓ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﻢﻏ ﻥﺈﻓ ﻪﺘﻳﺅﺮﻟ ﺍﻭﺮﻂﻓﺃﻭ ﻪﺘﻳﺅﺮﻟ ﺍﻮﻣﻮﺻ

“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula.  Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081).

Dari Adi bin Hatim radliyallaahu anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﻚﻟﺫ ﻞﺒﻗ ﻝﻼﻬﻟﺍ ﺍﻭﺮﺗ ﻥﺃ ﻻﺇ ﻦﻴﺛﻼﺛ ﺍﻮﻣﻮﺼﻓ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﺀﺎﺟ ﺍﺫﺇ

“Jika bulan ramadlan tiba, maka puasalah tiga puluh hari, kecuali jika kalian melihat bulan sebelumnya” (HR. Thahawi dalama Musykiilul-Aatsaar no. 501, Ahmad 4/377, dan Thabrani dalam Al-Kabiir 17/171 dengan shahih).

2.  Barangsiapa yang Berpuasa di Hari Syak (Meragukan), Maka Dia Telah Bermaksiat kepada Abul-Qasim (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam).

Dengan demikian, tidak sepatutnya bagi seorang muslim untuk mendahului untuk berpuasa sebelum bulan Ramadlan, sehari atau dua hari – dengan alasan untuk berhati-hati.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

ﻪﻤﺼﻴﻠﻓ ﺎﻣﻮﺻ ﻡﻮﺼﻳ ﻼﺟﺭ ﻻﺇ  ﻦﻴﻣﻮﻳ ﻻﻭ ﻡﻮﻳ ﻡﻮﺼﺑ ﻥﺎﻀﻣﺭ ﺍﻮﻣﺪﻘﺗ ﻻ

“Janganlah kalian mendahului Ramadlan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang sedang mengerjakan puasa (dari puasa-puasa sunnah yang biasa ia lakukan), maka hendaklah ia melanjutkan puasanya” (HR. Muslim dalam kitab Al-Mukhtashar no. 573).

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya orang yang berpuasa pada hari yang meragukan (syak), berarti dia telah durhaka kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. 

Shilah bin Zufar dari Ammar berkata :

ﻢﺳﺎﻘﻟﺍ ﺎﺑﺃ ﻰﺼﻋ ﺪﻘﻓ ﻪﻴﻓ ﻚﺸﻳ ﻱﺬﻟﺍ ﻡﻮﻴﻟﺍ ﻡﺎﺻ ﻦﻣ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan (syak), berarti dia telah mendurhakai Abul-Qasim (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam)” (HR. Bukhari 4/119, Abu Dawud 3334, Tirmidzi 686, Ibnu Majah 3334, dan Nasa’i 2188 dengan sanad hasan).

3.  Jika Ada Orang yang Telah Melihat Bulan, Maka Berpuasalah atau Berbukalah

Melihat bulan (hilal) awal Ramadlan ditentukan dengan kesaksian dua orang saksi yang adil.  Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﻥﺎﺒﻌﺷ ﺍﻮﻠﻤﻛﺄﻓ ﻢﻜﻴﻠﻋ ﻢﻏ ﻥﺈﻓ ﺎﻬﻟﺍﻮﻜﺴﻧﺍﻭ ﻪﺘﻳﺅﺮﻟ ﺍﻭﺮﻂﻓﺃﻭ ﻪﺘﻳﺅﺮﻟ ﺍﻮﻣﻮﺻ
ﺍﻭﺮﻂﻓﺃﻭ ﺍﻮﻣﻮﺼﻓ ﻥﺍﺪﻫﺎﺷ ﺪﻬﺷ ﻥﺈﻓ ﻦﻴﺛﻼﺛ

“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya.  Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka genapkanlah menjadi tigapuluh hari.  Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i 4/132, Ahmad 4/321, dan Daruquthni 2/167 dengan sanad hasan).

Catatan penting : Dalam penentuan awal bulan Ramadlan dan awal bulan Syawal, maka dalam Islam hanya mengenal metode Ru’yatul-Hilal (melihat bulan) pada malam hari tanggal 29.  Bila ternyata bulan tidak terlihat, maka hitungan bulan digenapkan menjadi 30 hari.  Adapun metode hisab adalah metode baru (bid’ah) dan selayaknya untuk dihindari oleh ummat Islam.  Dan inilah yang membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mudah. 

Menetapkan Niat Puasa

Wajib menetapkan niat untuk puasa fardlu (Ramadlan) pada malam harinya, yaitu sebelum terbit fajar shadiq.  Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ﻪﻟﻡﺎﻴﺻ ﻼﻓ ﺮﺠﻔﻟﺍ ﻞﺒﻗ ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ ﻊﻤﺠﻳ ﻢﻟ ﻦﻣ

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Abu Dawud 2454, Ibnu Khuzaimah 1933, Baihaqi 4/202 Nasa’i 4/196, dan Tirmidzi 730).

ﻪﻟﻡﺎﻴﺻ ﻼﻓ ﻞﻴﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﻡﺎﻴﺼﻟﺍ ﺖﻴﺒﻳ ﻢﻟ ﻦﻣ

“Barangsiapa tidak berniat atas puasanya di malam hari, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Nasa’i 4/196, Baihaqi 4/202, dan Ibnu Hazm 6/162) dengan sanad shahih).

Niat itu tempatnya di dalam hati
.  Melafadhkan niat adalah tidak ada contohnya, dan hal ini merupakan bid’ah dan jauh dari sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.  Melafadhkan niat tidak pernah diperbuat oleh Nabi, para shahabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, dan para imam kaum muslimin lainnya.  Hendaklah kaum muslimin memperhatikannya.

Kewajiban niat di malam hari/sebelum fajar hanya berlaku pada puasa wajib.  Adapun untuk puasa sunnah, niat dapat dilakukan pada siang harinya.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi ‘Aisyah di luar bulan Ramadlan seraya bertanya :

ﻢﺋﺎﺻ ﻥﺫﺇ ﻲﻧﺈﻓ : ﻝﺎﻗ  ﻻ : ﺎﻨﻠﻘﻓ  ﺀﻲﺷﻢﻛﺪﻨﻋﻞﻫ

“Apakah kamu punya persediaan makanan? Aisyah menjawab : Tidak ada.  Maka beliau berkata : “Maka aku akan berpuasa” (HR. Muslim 1154).

 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Friday, 29 August 2008 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 5 members online
Generated in 5.20502 Seconds