Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nan indah iyolah baso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Apa Kata Dunia PDF Print E-mail
Written by Andi Jupardi   
Monday, 01 September 2008

ImageSabtu sore  ketika saya mengajak anak-anak kesebuah pusat perbelanjaan modern di Kota Pekanbaru, laju mobil saya terhenti pada detik pertama lampu merah dipersimpangan jalan. Mendadak seorang pemuda  dengan tampang awut-awutan, dekil dengan kaos oblong dan celana pendek kumal dan kotor mengetok kaca bagian depan mobil saya. Pemuda ini ketawa cengengesan sambil memberikan bahasa isyarat dengan menempelkan dua jarinya kemulut.” Bang minta rokoknya” begitu arti bahasa tubuhnya sambil menunjuk sebungkus rokok yang terletak di dash board mobil saya.

Saya turunkan kaca mobil dan memberikan sebatang rokok pada pemuda ini, tapi tampaknya satu kurang,  maunya dua batang begitu harapannya, ya sudah saya sodorkan sebatang rokok lagi sambil mendapat tugas tambahan yaitu membakarkan sebatang rokok pertama yang telah  menempel di bibirnya. Pemuda ini kembali melangkahkan kakinya di trotoar pemisah jalan dua jalur,  sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada kami di mobil pemuda ini bergoyang dengan gerakan yang monoton tapi asyik juga untuk ditonton yaitu seperti tentara sedang melakukan gerak jalan ditempat, . satu..dua…satu..dua meangkat kedua kaki silih berganti

Anak saya yang masih berumur 7 tahun sambil tersenyum menikmati gerakan mononton pemuda ini lalu bertanya pada saya “Pa..kok bisa orang itu gila?. Pertanyaan yang sederhana tapi sulit bagi saya menjelaskan kepada anak yang berumur 7 tahun dari sudut mana saya harus menjelaskan, akhirnya saya coba mengelak “Nanti saja ya di rumah papa jelaskan  ntar lagi lampu mau hijau dan mol sudah didepan kita”. Anak saya tidak banyak protes lagi dia terus mengamati tingkah Pemuda ini dengan goyang jalan  ditempatnya.

Sambil menunggu detik terakhir lampu merah,  di mobil saya sebuah radio FM kota Pekanbaru sedang mengalunkan lagu “Apa Kata Dunia” Melly Goelaw dengan Dedi Mizwar, mmm..sebuah lagu dengan irama yang asyik dan lirik yang menggelitik. Volume radio tersebut saya naikan kaca mobil  depan samping kanan dimana posisi saya menyetir masih terbuka, lalu pandangan saya arahkan pada pemuda yang terganggu jalan pikirannya itu.

“Ayo..ayo..joget lagi…goyang lagi” saya berseru sama pemuda ini sambil memberikan bahasa isyarat mengangkat telapak tangan kanan naik turun. Tampaknya pemuda ini cukup senang apalagi lagu “Apa Kata  Dunia”  musiknya mempunyai hentakan yang membuat si Pemuda ini untuk lebih aktratif lagi bergoyang  ala tentara jalan ditempat.

Lampu hijau menyala, kami meninggalkan pemuda ini dan saya memberikan lambaian tangan sambil tersenyum, pemuda yang cukup gagah  dengan tatapan mata yang tajam ini (seandainya normal dan bersih) membalas lambaian saya dengan tersenyum masih dalam posisi jalan ditempat. Sementara alunan lagu dan musik “Apa Kata Dunia”  yang cukup menggelitik dengan suara berat Dedi Miswar berduet dengan Melly Goeslaw  akan berakhir.

Satu belokan menuju mol anak saya masih bertanya penasaran “Pa..kenapa orang itu kok gila”  saya menjawab sekenanya saja “Mungkin dia hidupnya lagi susah”, nampaknya anak saya kurang puas juga dengan jawaban saya. “Ada juga orang yang susah tapi kok nggak gila Pa”  Saya kembali mengalihkan pembicaraan “Nah nanti di mol Regi mau makan apa, nasi goreng ya sama minum teh botol dingin”. Anak saya lansung setuju atas  tawaran saya ini yang merupakan makanan favoritnya.

Di Mol saya berjumpa dengan salah satu alumni SMA yaitu Adrian, Wan begitu panggilan sehari-harinya. Apa kata dunia jika kami tidak saling melempar senyum dan tegur sapa serta bersalaman.Apa kata dunia untuk berbagi senyum saja kita tidak mau walau kepada orang seperti Pemuda dilampu merah tadi Terakhir  Apa juga  kata dunia jika  saya (kita) tidak punya cinta.


Salam-Jepe/Pku, 22 Juni 2008

 

Trackback(0)
Comments (1)add comment

hifni hfd said:

tidak perlu diragukan lagi tulisan sanak Jepe...
bagi yang berminat membaca artikel-artikelnya. Silahkan kunjungi blognya di http://jupardi.multiply.com
Anda akan menemukan the strory telling style.
Selamat berselancar.....

wassalam,
http://bundokanduang.worpress.com
 
report abuse
vote down
vote up
September 01, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 5 members online
Generated in 0.71190 Seconds