|
Written by Andi Jupardi
|
|
Monday, 01 September 2008 |
|
Sabtu sore ketika saya mengajak anak-anak kesebuah pusat perbelanjaan modern di Kota Pekanbaru, laju mobil saya terhenti pada detik pertama lampu merah dipersimpangan jalan. Mendadak seorang pemuda dengan tampang awut-awutan, dekil dengan kaos oblong dan celana pendek kumal dan kotor mengetok kaca bagian depan mobil saya. Pemuda ini ketawa cengengesan sambil memberikan bahasa isyarat dengan menempelkan dua jarinya kemulut.” Bang minta rokoknya” begitu arti bahasa tubuhnya sambil menunjuk sebungkus rokok yang terletak di dash board mobil saya.
Saya turunkan kaca mobil dan memberikan sebatang rokok pada pemuda ini, tapi tampaknya satu kurang, maunya dua batang begitu harapannya, ya sudah saya sodorkan sebatang rokok lagi sambil mendapat tugas tambahan yaitu membakarkan sebatang rokok pertama yang telah menempel di bibirnya. Pemuda ini kembali melangkahkan kakinya di trotoar pemisah jalan dua jalur, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada kami di mobil pemuda ini bergoyang dengan gerakan yang monoton tapi asyik juga untuk ditonton yaitu seperti tentara sedang melakukan gerak jalan ditempat, . satu..dua…satu..dua meangkat kedua kaki silih berganti
Anak saya yang masih berumur 7 tahun sambil tersenyum menikmati gerakan mononton pemuda ini lalu bertanya pada saya “Pa..kok bisa orang itu gila?. Pertanyaan yang sederhana tapi sulit bagi saya menjelaskan kepada anak yang berumur 7 tahun dari sudut mana saya harus menjelaskan, akhirnya saya coba mengelak “Nanti saja ya di rumah papa jelaskan ntar lagi lampu mau hijau dan mol sudah didepan kita”. Anak saya tidak banyak protes lagi dia terus mengamati tingkah Pemuda ini dengan goyang jalan ditempatnya.
Sambil menunggu detik terakhir lampu merah, di mobil saya sebuah radio FM kota Pekanbaru sedang mengalunkan lagu “Apa Kata Dunia” Melly Goelaw dengan Dedi Mizwar, mmm..sebuah lagu dengan irama yang asyik dan lirik yang menggelitik. Volume radio tersebut saya naikan kaca mobil depan samping kanan dimana posisi saya menyetir masih terbuka, lalu pandangan saya arahkan pada pemuda yang terganggu jalan pikirannya itu.
“Ayo..ayo..joget lagi…goyang lagi” saya berseru sama pemuda ini sambil memberikan bahasa isyarat mengangkat telapak tangan kanan naik turun. Tampaknya pemuda ini cukup senang apalagi lagu “Apa Kata Dunia” musiknya mempunyai hentakan yang membuat si Pemuda ini untuk lebih aktratif lagi bergoyang ala tentara jalan ditempat.
Lampu hijau menyala, kami meninggalkan pemuda ini dan saya memberikan lambaian tangan sambil tersenyum, pemuda yang cukup gagah dengan tatapan mata yang tajam ini (seandainya normal dan bersih) membalas lambaian saya dengan tersenyum masih dalam posisi jalan ditempat. Sementara alunan lagu dan musik “Apa Kata Dunia” yang cukup menggelitik dengan suara berat Dedi Miswar berduet dengan Melly Goeslaw akan berakhir.
Satu belokan menuju mol anak saya masih bertanya penasaran “Pa..kenapa orang itu kok gila” saya menjawab sekenanya saja “Mungkin dia hidupnya lagi susah”, nampaknya anak saya kurang puas juga dengan jawaban saya. “Ada juga orang yang susah tapi kok nggak gila Pa” Saya kembali mengalihkan pembicaraan “Nah nanti di mol Regi mau makan apa, nasi goreng ya sama minum teh botol dingin”. Anak saya lansung setuju atas tawaran saya ini yang merupakan makanan favoritnya.
Di Mol saya berjumpa dengan salah satu alumni SMA yaitu Adrian, Wan begitu panggilan sehari-harinya. Apa kata dunia jika kami tidak saling melempar senyum dan tegur sapa serta bersalaman.Apa kata dunia untuk berbagi senyum saja kita tidak mau walau kepada orang seperti Pemuda dilampu merah tadi Terakhir Apa juga kata dunia jika saya (kita) tidak punya cinta.
Salam-Jepe/Pku, 22 Juni 2008
Trackback(0)
|