Kebetulan ada postingan dari @ katgama sebagai ilustrasi M [14] Karin, 29 tahun, membagi kisahnya. "Selama dua tahun saya bekerja sebagai konsultan manajemen. Sampai suatu saat, klien saya memberi masukan. Katanya, saya lebih cocok bekerja sebagai marketing manager.
Saya coba bertanya sedikit tentang pekerjaan ini pada firma marketing yang paling terkenal. Mereka malah meminta saya mengirimkan CV. Surprise sekali rasanya saat saya diundang untuk interview. Dan gaji yang ditawarkan itu lho, jumlahnya sangat menggiurkan."
Tapi dua tahun berikutnya, hidup Karin seperti dalam neraka. Stres tinggi, target dan deadline membuat ketegangan terus menghantui hidupnya. "Boro-boro meluangkan waktu dengan teman, waktu untuk santai sendiri saja, sudah tidak ada. Rasanya percuma juga punya gaji besar kalau tak bisa menikmatinya," katanya lagi. "Hidup saya betul-betul dijerat oleh pekerjaan. Setiap hari hanya mencari uang, dan uang lagi. Lingkup kerja yang kompetitif sangat tidak nyaman. Sampai satu saat, ditengah meeting,saya sadar semua ini sudah terlalu jauh. Saya putuskan uhtuk berhenti dan kembali ke dunia yang saya cintai, yaitu konsultan." Ternyata kepuasan dalam bekerja tidak bisa dibayar hanya dengan jumlah rupiah yang besar. Posisi Marketing Manager adalah posisi direktif, desisif, memimpin dan eksekutif sedangkan konsultan adalah 'penasehat' atau informatif. Konsultan tidak membuat keputusan, sekedar menyajikan alternatip2, tidak pada posisi leading, tidak menghasilkan hasil2 'tangible'. Posisi Marketing Mgr adalah posisi think + do + bet dengan kadar 'do' tinggi yang menghasilkan tangible. Konsultan lebih berat ke 'think'. Dalam pandangan saya, bukan uang yang jadi masalah tetapi M bukan habitat yang tepat. Yang menimbulkan stress. Ini kisah mirip si Badu yang silau dengan gebyar Eksekutip. Ia tak menyadari bahwa ia lebih thinker dari pada do-er. M adalah jabatan eksekusi, yang mayoritas doing. Tidak semua orang pas dengan habitat ini. Ibaratnya Katrin & Badu adalah Macan dan Singa yang terjebak di-rawa2 sedangkan Zainal ibarat buaya. Siapa yang bakal meraih peluang lebih baik ? Zainal ! Diatas kertas Katrin & Badu kemungkinan lebih cerdas dari Zainal. Kisah Katrin adalah kisah yang ideal, Katrin bisa menemukan habitatnya. Dalam dunia kenyataan, itu tak selalu mudah. Banyak yang 'terjebak' ke M walau bukan habitatnya. Ia harus melakukan adaptasi. Pertanyaannya, adaptasi yang bagaimana ? Apa yang harus disesuaikan ? Artikel manjerialship antara lain untuk ini. Memberi gambaran bagaimana seseorang yang berada di M bisa optimal, walau itu bukan habitatnya. Seseorang, sebut saja namanya Edi merasa sudah ada di atmosfir yang sesuai dengan idealismenya, celakanya ia harus mengerjakan pekerjaan2 yang tidak disukainya, pekerjaan M. Ini petikan suratnya : ... karena saya cenderung ahli dan senang bikin konsep dan menterjemahkan konsep itu ke suatu program.. tapi jangan suruh saya teknis banget ngerjainnya... karena saya tidak tertarik dan tidak mampu... justru saya akan lebih senang dan cenderung melompat ke ide lain dan mulai lagi yang baru... ... saya pasti akan senang sekali dan berkembang pesat saat saya dapat ngembangin macem2 dan terus melompat ke sana ke mari dengan ide2 di bidang saya ini sekarang.... saya lebih cenderung senang dan enjoy jadi thinker... Edi mirip Badu, Katrin, dan Einstein. Mereka kesulitan menterjemahkan gagasan2 menjadi substansi. Edi bukan type 'do' tetapi lebih condong ke 'think'. Dalam skala think-do-bet. Kepada Edi saya sarankan mencari habitat yang lebih pas. Ia bisa jadi konsultan, dosen, pengkaji makalah, perencana, arkitek, dlsb yang lebih berat ke think dan less do. Yang jauh dari peran membuat keputusan, memimpin dan doing.
Diposting pada mailing list UGM Disadur oleh : Dewis Natra
Trackback(0)
|