|
"Man must be equipped with the capacity to listen to and obey the ten thousand demands in the ten thousand situations with which life is confronting him." (1975, p. 120), Viktor Frankl’s theory.
Dalam perjalan hidup ini kita sering mengatakan, "Pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Ungkapan tersebut tidak sekedar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kehidupan sehari-hari .
Dipinggiran danau yang tercipta dari kaldera runtuhan yang terbentuk dari letusan besar jauh sebelum terjadinya super vulcano Toba yang menjadi ukuran besarnya letusan gunung berapi didunia ini. Tanggal 15 September 1958 lahirlah seorang anak laki laki di-iringi siraman mitraliur oleh Tentara Nasional Indonesia dari puncak embun pagi. Cincin yang melekat di jari Pamanku terpaksa lepas untuk membayar jasa Bu bidan yang membantu kelahiranku. Kemenakan pertama dan cucu pertama dirumah kami disambut gembira. Setelah melepas cincinnya sang paman kembali lari kehutan. Itulah sekeping cerita nenekku. Suasana kacau akibat pemberontakan PRRI yang gagal ini tanpa kusadari menjadikan aku seorang single fighter dalam perang yang lain yang bernama kehidupan. PRRI boleh kalah karana salah memilih perang but I don’t.
Di sebuah sekolah dasar perguruan Tjahaya milik masyarakat Tionghua di Meral Tanjung Balai Karimun aku mulai membaca dan berhitung dan berlanjut di Sekolah Dasar Negeri disebuah kota tambang bouksit Kijang di pulau Bintan. SMP pun selesai disini terus di SMA Negeri Tanjung Pinang dan menempuh garis finish di Bagan Siapi api Riau.
16 Agustus 1968 adalah hari sibuk pertama dalam hidupku, anak anak SD Tjahaya Meral akan ikut tap tu berjalan bawa obor dimalam hari menuju Taman Makam Pahlawan di kotakecamatan Tg, Balai Karimun. Esok adalah Hari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Rombongan kami menaiki Bas (sebutan untuk bis bagi orang orang meral) yang dikemudikan oleh apek apek (cina separuh baya). Ditengah kegembiraan anak anak SD, lagu halo halobandung, maju tak gentar, Dari Sabang sampai Marauke berkumandang sepanjang jalanutama di Tanjung Balai Karimun, membakar jiwa jiwa kecil kami. sepatu yang digosok berkilat baju yang harus pakai kanji biar rapi dan saat bulgur yang jadi makanan sehari hari kami pun sudah seperti nasi. Kami anak Indonesia akan berjuang mengangkat namaIndonesia ini. Suasana tegang konfrontasi dengan Malaysia sudah takterasa lagi.
Lubang lubang persembunyian disekolah yang dibuat untuk bersembunyi kala serine bergaung telah ditutup, rumah rumah yang dicat loreng masih kelihatan. Perang sesama alat negara, yang terjadi didepan rumah kami yang menyisakan banyak selonsong peluru sudah mulai hilang dari ingatan kami.
Halo halo bandung…terus berkumandang…, teriakan merdeka yang keluar dari suara suara kecil itu disambut meriah oleh para penonton disepanjang jalan yang kami lalui…menjadiIndonesia adalah sebuah kebanggaan dan cita cita bagi kami. Bagiku sehari sebelum parayaan 17 Agustus adalah hari dimana saya melihat jauh kedalam diri saya selolah menagih janji si anak SD. Apakah si Indonesian ini lebih baik dari tahun lalu, tentu sudah tidak lagi makan bulgur, baju pun tidak lagi berkanji, mampukah saya sebagai Indonesia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa bangsa lain di dunia ini.
Hari ini saya tidak lagi bernyanyi halo halo bandung, saya menyanyikan lagu keringat saya sendiri dengan merah darahku dan putih tulangku. Saya telah berdiri sama tinggi dengan mereka Indonesia. Terima kasih Sukarno dan Hatta, Suharto, Habibie, Gusdur, Mega dan Susilo sampai saat ini saya masih bisa menyebut diri saya Warga Negara Indonesia.
Masa kanak kanak ku kuhabiskan di Meral. Aku dari kecil dibesarkan dalam pangkuan nenekku karena ayah dan ibuku bekerja. Nenek adalah orang yang paling berkesan di dalam hidupku. Ketegasan, kasih sayangnya, cerita cerita rutinnya menemani hari hari ku mengenal dunia. Nenek ku namanya Nuraini orang dikampung memanggilnya uncu Ani ada pula yang memanggilnya uwaik anduang. Ayah nenek adalah seorang mentri candu di Medan sampai saat ini aku pun tidak tahu apa tugas mentri candu zaman belanda itu. Nenek punya satu adik laki laki dan tak pernah pulang kekampung aku memanggilanya abo Kutar sampai akhir hayatnya di dihabiskannya di Medan. Lorong lorong di simpang limun, gang aman , sukaramai jalan bakti nenek hafal luar kepala.
Kalau ada kesempatan pulang kampung nenek selalu membawaku ketempat sanak saudara dan mengenalkan ku pada mereka dan biasanya akan berakhir dengan kunjungan ke tanah perkuburan keluarga kami. Disini nenek akan bercerita bannyak seperti dosen sejarah, ini pusaro nenek betawi, ini pusaro nenek Aceh. Ini pusaro abo Medan dan itu rantaunyo ka sidempuan dll. Masing-masing orang dikenal dengan kemana dia merantau. Ternyata nenek moyangku adalah keluarga perantau sejak dari sononya, ada yang pulang dihari tua dan banyak pula yang memilih tidak pulang sampai akhir hayatnya.
Sepanjang pengetahuan ku hanya satu Abo yang pulang dihari tuanya Abo Jala namanya Nenek ku sangat mengormati beliau walaupun beliau bukan abang kandung beliau tetapi ibunya Abo Jala bersadara dengan ibunya Nenek. Rasa persaudaraan diantara generasi nenek sangat kuat. Ada lagi adik nenek saudara ibu namanya nenek kasimah beliaupun sangat dekat juga denganku sampai akhir hayatnya aku juga yang mengendongya memasuki liang lahat saat aku masih bekerja di Lhokseumawe Aceh. Beliau meninggal di Medan dirumah anak perempuannya. Mazda capella merahku kupacu dari Lhokseumawe menuju Medan saat dikabari bahwa beliau meninggal pada tahun 1998.
Kami adalah dari keturunan suku Melayu. Nenek hanya punya satu anak perempuan yaitu ibuku dan satu anak laki laki pamanku aku memanggilnya Adang. Ibuku punya dua anak laki laki aku dan adiku. Dan kami adalah the last melayu on board dari keturunan nenekku. Kebesaran suku melayu dari garis keturunan nenek berhenti disini. Nenek hidup mewah diMedan pada saat anak anak. Sayang ayahnya keburu meninggal pada saat dia beranjak remaja. Kemudian beliau menikah dengan seorang Jaksa, setelah punya dua anak yang masih kecil kecil Ibu dan Paman suami beliau meninggal inilah awalnya nenek bersahabat dengan penderitaan panjang.
Awal tahun 1970, Ibuku dipindah tugas kan ke Kijang Tanjung Pinang, Ibu berangkat duluan ke Kijang sedangkan aku belakangan menuggu teman sesama kerja Ibu mengambilkan gaji Ibu dan nanti aku yang akan membawa ke Kijang sekalian menuggu surat pindah dari sekolahku keluar. Nenek kemudian kembali kekampung. Tanpa nenek yang mengawasi hari hariku menjadi liar. Menjelang memasuki kelas Enam di SD Kijang . Ibu dan aku menumpang di rumah seorang Dokter SM, saudara sesama dari Maninjau, beliau adalah Bos dokter di Rumah sakit Umum Tanjung Pinang, rumahnya sangat besar dan berada disebelah RSU tersebut. Aku diberitahu Ibu besok pagi temui om dokter SM itu , untuk melaksanakan sunat rasul. Aku hanya mengangguk. Pagi pagi setelah mandi dan rapi rapi, Ibu berangkat ke kijang yang berjarak 30 km ke kantor tempatnya bekerja sambil mencoba mencari rumah dimana kami akan tinggal berikutnya. Aku jalan kaki menemui om dokter RSU dan mengatakan "Om kata ibu saya mau sunat". Tak ada kain sarung dan orang yang mengantar. om doter SM langsung berdiri dari meja kerjanya dan langsung berkata "ayo" sambil mengajaku berjalan bersama memasuki ruang operasi, tak ada basa basi atau formulir yang mau diisi.
Aku terbaring ditempat tidur operasi dengan melihat lampu besar diatas kepalaku, Om dokter dan beberapa perawatpun beraksi. 15 menit kemudian terdengar suara om dokter " Sudah kamu sekarang resmi menjadi seorang Muslim" katannya. Pakai celana itu lagi dan jangan dibuka perbannya, tiga hari lagi kita buka jahitannya", Aku hanya mengangguk sambil bertanya "Om boleh naik sepeda ndak ya". "Besok boleh jangan hari ini" katanya. Tak ada hadiah, tak ada yang menemani aku kembali ke rumah om dokter tempat kami menumpang. Tahun 2004 sehari sebelum aku berangkat oversea assignment ke Afrika aku sempatkan menemui Om dokter yang sekarang tinggal di jakarta timur menikmati hari hari tuanya kusalami tangannya dan mengucapkan terima kasih.
Di kijang kami tinggal di bekas gudang cina daerah dekat pelabuhan. Daerah tersebut terkenal dengan nama Barek Motor. Di sebelah rumah ada Kantor Jaksa dan pak jaksa bujangan juga tinggal dan berkantor disana. Saya sering jadi kenek Pak Jaksa tersebut dan selalu dikasi duit. Pak Jaksa inilah jadi penyelamat saya karena Ibu tak pernah memberi uang jajan . Dan bukan itu saja Pak jaksa juga punya kekuasaan hebat dia bisa ngambil mercon dan mainan ditoko cina tanpa bayar dan langsung dikasikan saya. Kalau lebaran tiba kantor yang merangkap sebagai rumah pak jaksa penuh kue dan minuman pemberian para warga tionghua donatur setia beliau.
Ibu seorang karyawan rendahan uang gaji beliau walau sudah berhemat masih tak cukup dimakan untuk satu bulan. Saya sudah masuk SMP Negeri Kijang, saya coba mengirim suratkepada presiden Suharto untuk minta bantuan bea siswa, tak berapa lama saya mendapat balasan dengan stempel Kabinet Pembangunan yang berisi tentang penjelasan bea siswa dan tata cara mendapatkannya. Kepala sekolah justru memanggil saya dan marah besar karena saya begitu lancang. Ditambah lagi dengan perkataan sekolah malas mau minta bea siswa pula.
Sebenarnya saat kelas satu SMP saya sudah goyah, melihat kondisi ibu yang diserang penyakit Psoriasis. Gajinya yang sedikit yang tidak cukup dimakan satu bulan harus membeli obat pula. Pulang sekolah saya selalu memetik daun ubi di kebun orang untuk ditumis dan memetik cabe rawit di kebun sekolah dulu. Karena inilah saya mencoba menulis surat pada presiden. Penyakit psoriasis yang menyerang ibu ini adalah penyakit yang berhubungandengan gen sampai saat ini belum ada obatnya. Obatnya mahal dan tidak pula bisa menyebuhkan hanya mengurangi saja, bila obat habis kembali bertambah parah sekujur tubuh terkelupas.
Penyakit ini juga menyerang saya sejak tahun 2000 tapi bedanya dengan ibu yang PNS saya bekerja di Perusahaan minyak terbesar di dunia. Setelah lulus SMP tahun 1973 saya melanjutkan ke SMA Tanjung Pinang yang berjarak 30 km dari Kijang, kami anak kelas satu masuk siang. dari kijang ke pinang kami naik bis persis seperti metro mini (mereka memanggilnya uspen) disediakan oleh PT Aneka Tambang Bouksit buat anak anak karyawan mereka. Saya adalah penumpang gelap kalau uspen penuh muka anak anak kuli tambang yang keren keren tersebut mulai kelihatan tak bersahabat karena saya penumpang haram ataul ilegal. Karena tak pernah bayar uang sekolah masuk sekolah pun mulai tak jelas. Pada saat tiba waktu membawa rapor pulang saya kebingungan, gimana caranya uang sekolah belum dibayar gimana bisa dapat rapor. Dalam kepanikan inilah saya mencuri blanko rapor kosong disekolah dan mengisi sendiri nilai nilainya, memalsukan tanda tangan guru dan mencuri stempel sekolah. Kwartal pertama, kedua dan ketiga selamat pada saat kenaikan karena buru buru cap stempel terbalik capnya diraport saya.
Inilah awal bencana ibu langsung membawa raport menghadap kepala sekolah, dan ibu pula yang bersikeras memaksa pak kepala sekolah untuk melaporkanku kekantor polisi. “Rule must be put in place” yang salah harus dapat hukuman kalau tidak anak saya tidak pernah belajar. Hasilnya saya masuk lokap 21 hari di sel tahanan polisi Tanjung Pinang. Untung lah kasus ini tak berlanjut ke pengadilan polisi setangah hati meneruskan perkara ke pangadilan gara gara penyalahgunaan stempel sekolah. Sebenarnya selama ditahan di kantor polisi saya tidak digabung dengan tahanan dewasa lainnya. Saya menempati kamar sebelahnya yang sebenarnya diperuntukan untuk wanita, walau pintu sel tidak pernah di kunci saya tak bisa keluar karena harus melewati pos jaga didepan. Padahal kalau stempel saya tidak terbalik dan ibu dapat saya kibuli rencana jangka panjang saya adalah pulang kampung tinggal bersama nenek dan akan bersekolah di dimaninjau. Surat pindah sudah saya siapkan lengkap dengan tujuannya SMA Maninjau.
Selama ditahan 21 hari ini saya diberi tugas oleh pak polisi untuk setiap hari mengambil makanan para tahanan ke Penjara di Tanjung pinang. Dari balik jeruji tahanan dewasa polisi itu saya berinteraksi dengan para tahanan yang terdiri dari orang orang cina penyeludup dan maling maling. Bos bos cina tersebut ada yang menyuruh saya membeli rokok dan makanan pada saat saya mengambil makanan ke Penjara. Setelah saya keluar pernah saya temui salah satu toke kapal arang yang menyeludup ke malaysia dan singapura tersebut dan mereka menawarkan saya kerja dikapal mereka yang bolak balik ke malaysia membawa arang dan pulangnya membawa alat alat electronic dan apa saja yang bisa dijual di Indonesia. Tapi saya lebih tertarik menyelesaikan sekolah dulu. Minimal ijazah SMA harus masuk kantong dulu setelah itu baru mau kemana atau berbuat apa nanti saja.
Keingingan besar untuk mengantongi Ijazah SMA inilah yang menjadi driver utamaku untuk melanjutkan pertarungan yang tertunda, 1975, karena tak bisa lagi sekolah si SMA Tanjung pinang tak ada pilihan lagi selain Pulang kampung ketempat nenek. Karena sudah bulan april satu kwartal sudah berlalu saya tak bisa diterima di SMA Maninjau karena sudah berjalan satu kwartal saya baru mau mulai lagi sekolah. Terpaksalah pergi ke lubuk basung diantar Nenek saya. Mungkin karena kasihan Kepala sekolah SMA Filial Lubuk Basung langsung menerima saya beliau menulis remarks dirapor saya “Tidak ana Nilai karena sakit sakitan”. Sungguh bijaksana bapak itu kalau beliau maju jadi caleg pasti akan saya pilih dia. Di Lubuk Basung ini saya habiskan tahun 1975.
Bila tiba hari sabtu saya jalan kaki ke Maninjau untuk pulang ke tempat nenek mengambil bekal untuk satu minggu kedepan, perjalan ini biasanya saya tempuh selama lima jam. Air yang mengalir disepanjang jalan dari antokan ke bawah terasa nikmat sekali mengalir ditengorokan saya. Di Lubuk basung ini untuk cari uang tambahan saya bekerja sebagai kuli panggul menurunkan karung karung berisi jenkol yang berdatangan dari perdesaan sekitar dari truk dan gerobak. Ini biasaya saya lakukan sesudah magrib. Belajar, yang satu ini hanya disekolah saja. Begitu keluar dari sekolah otak saya hanya berfikir “bagaimana mengisi perut”. Setelah naik ke kelas dua IPS, walaupun sebenarnya saya tak bego bego amat di pelajaran aljabar, kimia dan fisika tapi karena blank di kwartal pertama banyak merah di kwartal ke dua dan biru semua dikwartal berikutnya. Sekolah rupanya mau cari selamat dengan menaikan saya ke II IPS walau tidak satupun angka merah dirapor saya. Bersambung...
Trackback(0)
|