|
Saya pindah ke SMA Negeri Maninjau setelah di legalisasi oleh SMA Filial Lubuk Basung.Masa masa indah di maninjau saya jalani dengan nikmatnya rokok SOOR, yang dibeli dari upah panggul menurunkan barang dari pedati bang ujang. Waktu pulang kampung tahun 2006 setelah dua puluh tahun tak pernah mudik sejak tahun 1986 membawa nenek keJakarta, saya jumpai sang pemilik pedati dan bertanya “Mana pedatinya bang?”. “Kini ndak laku padati lai, lah banyak oto”, katanya dengan senyum yang hambar. Dimaninjau ini pula saya jadi petani bertanam kacang tanah, setiap malam harus dijaga sampai bertunas menghidari gangguan babi. Pada saat saya menulis ini terbayang oleh saya saat memanen hasil panen bersama Nenek, kami harus berlomba dengan Kera - kera yang juga berpesta. Kami mencabut didepan kera kera itu mencabut dibelakang kami sedih, tertawa, marah bersatu jadi kenangan indah.
Maninjau pada masa masa itu terkenal dengan cengkeh. Kalau pada musim cengkeh kantong saya tebal dengan rupiah apakah dari hasil mencuri cengkeh saudara atau dari upah memanjat cengkeh yang tak pernah jujur selalu saja ada yang digelapkan. Dunsanak saya itu tahu apa yang saya lakukan tapi beliau pura pura tidak tahu. Kata kata seperti “ inyo kanurang rantau ma lo kapandai inyo mamanjek”. Dalam hati saya jangan under estimate bang. Kenangan kampung bagiku jauh berbeda dengan kawan kawan minang lain yang dibesarkan dari surau ke surau dibawah pengawasan orang tua dan orang orang tua mereka.
Di maninjau aku tinggal di pasar Maninjau tempat berkumpul segala macam tingkah polah pareman pareman. Kalau aku ke Payakumbuh ketempat Ayah juga dipasar dekat terminal bus Nunang namanya. Segala macam tinggkah polah orang pasar yang hidup di kepalaku.Kehidupan manis di maninjau ini berakhir dengan sebuah berita yang disampaikan oleh pak guru SMA Maninjau ada telpon dari Rumah sakit umum Bukit Tinggi. “Ayah saya sakit keras “. Dari cara pak guru menyampaikan berita saya bisa menebak Ayah sudah tiada. Setelah mengemasi buku buku pelajaran saya pulang dan memberitahu nenek, saya mau RSU Bukit Tinggi. Ayah sudah meninggal.
Entah dari mana nenek meminjam uang lalu dia memberi saya ongkos. Berangkatlah saya ke bukit tinggi dan langgsung kerumah sakit umum disana saya temui adik saya sedang termenung. Dia saat itu baru kelas satu SMP kami hanya dua bersaudara, laki laki pula dia juga berjuang sendiri mencari garis tangannya dan tidak kalah kerasnya dari saya karena Ibu hanya mampu menyekolahkan kami berdua sampai SLTA itupun sudah kami syukuri sepanjang hayat kami berdua. Kini adiku satu satunya itu berhasil pula berkarya di sebuah Bank terbesar di Indonesia dan bergelar master pula. Kini Ibu mondar mandir, kalau bosan dirumah adikku beliau kerumahku. Kadang kadang beliau mengomel coba kalau punya anak perempuan Aku pasti betah dengannya. Kami berdua selalu berkata Tuhan itu lebih tahu apa yang terbaik buat Ibu.
Menurut adikku ayah sudah jatuh sakit saat saya pulang kampung saya tak diberitahu mungkin beliau masih menyimpan kemarahan akan keamburadulan saya celana yang menyapu jalan sepatu hak tinggiku rambut kribo membuat gigi beliau selalu sakit. Setelah sakitnya semakin parah ia minta pulang kekampungnya di Nunang Payakumbuh. Agar ada yang menemaninya ikutlah adik dengannya pulang kampung ke Payakumbuh. Sementara Ibu dipindahkan oleh kantornya ke Bagansiapi siapi dari Kijang.
Satu lagi chapter baru dalam kehidupan saya, Setelah ayah meninggal kami berdua berangkat ke Bagansiapi api dan tinggalah kami bertiga bersama ibu. Pertengahan tahun 1976 saya masuk di SMA Negeri Bagan Siapi-api. Disini saya sangat menikmati lari pagi sambil ngambilin buah buahan seperti apel, jeruk dan buah buahan lain, di atas meja sembahyang orang orang cina yang diletakkan di depan rumah mereka. Di depan rumah kontrakan kami di bagan ini tinggal seorang Jaksa. Beliau sangat hobi main catur. Beranda didepan rumahnya selalu ramai dengan anak anak muda yang diajaknya main catur hampir semua dibuatnya tumbang. Setelah beberapa kali mendekat akhirnya saya dapat kesempatan bermain dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak pintar pintar amat saya tak butuh waktu lama untuk menghajarnya tapi tidak saya lakukan bahkan sering saya beritahu “awas pak” kuda itu atau mentri itu bakal melayang” atau saya bilang jangan buru buru pak lihat dulu itu terbuka dan sebagainya, cara saya ini membuat kami kalau main selalu lama dan hampir semua permainan saya biarkan dia yang menang. Gara gara main catur begini perkawanan kami semakin akrab. Saya sering dibawa keluar makan dan dia bilang kalau mau nonton di bioskop dia bisa masukan saya gratis kapan saja saya mau. Jadilah setiap malam saya minta memonya untuk nonton gratis dan kemudian saya jual.
Suatu hari pak jaksa mengajak saya kerumah seorang toke cina, entah apa yang dia bicarakan didalam manalah saya tahu. Karena lama menunggu di ruang tamu sang Toke cina saya lihat ada gitar merek Kapok, lalu saya ambil dan mainkan pelan pelan. Pada saat pak jaksa keluar dia lihat saya main gitar, lalu dia bilang “kau bisa main gitar” dia lalu melirik ke cina pemilik rumah sambil berkata “Untuk dia saja gitar itu ya?” . saya hanya melihat sang pemilik menganggukan kepala dan jadilah gitar itu hak milik saya yang akhirnya saya jual juga karena uang lebih menarik dari barang saat itu. Hebat sekali pak Jaksa kita dalam hati saya. Persahabatan saya dengan pak jaksa ini bukanlah persahabatan saling menguntungkan karena saya yang paling banyak diuntungkan. Dapat pakai motor pak jaksa dengan gratis dll. Sampai suatu hari dia bilang “Kalau kau tamat SMA masuk hukum saja di salah satu universitas di Pekan Baru, nanti saya bantu saya kenal dengan banyak dosen dosen disana katanya, Dekannya pun saya kenal Saya tambah binggung saja dengan pak jaksa ini dia kerja di Bagansiapi api tapi dia punya banyak relasi di pekan baru.
Pertemanan ini berantakan karena saya menolak mengumpulkan teman teman SMA saya untuk ikut kampanye pemilu dibawah bendera partai pemerintah waktu itu dan membagi bagikan uang dan kaus gratis agar barisan kampanye jadi ramai katanya. Dia tahu semua anak SMA yang tukang nogkrong dipasar adalah konco konco saya. Sebenarnya saya tak ada urusan dengan partai tersebut dan uang lebih menarik dari idealisme, tapi dendam saya sama sang peresiden belum mau hilang karena menolak memberi saya beasiswa. Ini membuat saya tidak mau terlibat dan dilibatkan dalam pemilu kalau sekarang lebih populer dengan golput. Sepanjang hidup saya baru satu kali saya nyoblos pemilu th 2004 aneh bin ajaib saya memilih partai yang dulu saya benci alasan saya sederhana sang pendiri sudah tumbang sementara partai yang lain tak jelas juntrungannya.
Kenakalan saya waktu di SMA Bangan sudah kelewatan gara gara menikmati anggur vigor setiap jam istirahat, hampir saya dikeluarkan dari SMA Negeri Bagan siapi api. Sebenarnya ada banyak alasan kepala sekolah dan guru guru untuk mendepak saya keluar. Entah apa yang membuat mereka selalu saja memberikan warning warning dan warning lagi… Hari ini saya bersyukur pak guru Nurdin yang orang minang itu dengan sabar memanggil saya dan menasehati saya berulang ulang “ zul, suatu hari nanti kau akan berterima kasih sama saya”. “Orang minang apalagi pindahan dari SMA Maninjau yang terkenal dengan alumninya yang melenggang masuk keperguruan tinggi negeri di Indonesia ini tak ada yang jadi bandit zul, semua pasti pintar pintar dan berkelakuan baik barangkali kau ini pengecualian” Yup beliau benar hari ini saya berterima kasih yang sebesar besarnya buat walikelas saya Pak Guru Nurdin walaupun saya tidak mampu melenggang ke Universitas seperti ucapan beliau.
Main kartu selama liburan bulan puasa sudah biasa, kalau menang puasa terus, kalau kalah langsung buka. Trik menyelipkan beberapa katru disela kelingking adalah makanan saya kalau saya yang mengocok kartu selesailah uang dimeja saya makan. Ada suatu kali hari itu hari mengambil raport kenaikan ke kelas III, saya sibuk nyari kawan untuk mengambil rapor saya karena rapor harus diambil orang tua. Saya tak pernah bilang sama Ibu masalah rapor ini. Masuklah dia kekelas setelah dia masuk baru saya sadar dia hanya tahu nama panggilan saya “acuh” yang diberikan kawan kawan karena ketidak perdulian saya sama alam sekitar. Saat diumumkan iuara satu “Zulkarnain Kahar”, dia diam saja. Saya mulai panik kemudian saya dari luar berteriak, “ARRR, ambil”, untung dia berdiri dan diberikan pak guru yang membagikan rapor. Setelah itu kami berdua tertawa terbahak diluar…
Saya Lulus SMA juara umum pula mungkin para guru kami tidak mengkorelasikan kenakalan saya dengan nilai ujian. Padahal sehari sebelum ujian begadang sampai pagi bersama abang abang tukang becak. Mengikuti ujian hari pertama dengan mata terkantuk-kantuk. Tiga bulan sebelum ujian saya mendengar ada penerimaan pegawai baru di BNI 46 cabang Bagan Siapi Api. Saya nekat memasukan lamaran dengan modal raport kelas tiga SMA. Sebulan kemudian ada dua puluh orang termasuk saya dipanggil untuk ikut test semua soal saya jawab. Dua hari setalah menerima Ijazah saya dapat panggilan untuk datang ke Kantor BNI. Saya hubungi semua kawan kawan alumni SMA yang ikut test dengan saya kecuali yang ada beberapa yang bukan orang Bagan. Sambil bertanya apa mereka dapat surat dari BNI. Semua kawan menjawab dapat tapi surat maaf anda belum berhasil.
Karena masih anak SMA bloon saya tidak menyadari itu adalah wawancara dengan Pimpinan BNI hari itu adalah hari YES or NO. Karena yang datang untuk wawancara hanya ada dua orang saya dan seorang wanita yang tak pernah saya lihat di Bagan siapi api sebelumnya. Dengan menenteng Ijazah SMA yang masih baru dan wangi saya dipanggil masuk. Setelah mereka meperkenalkan diri salah satu dari tiga orang tersebut bertanya “ Kok kamu berani memasukan lamaran padahal belum tentu kamu lulus”. Saya jawab dengan super yakin “Kalau saya tidak yakin saya lulus saya tidak melamar pak, ini dia Ijazah saya sambil menyodorkan ke hadapan beliau”. Dari atas kebawah berjejer angka delapan satu angka limaberwarna merah untuk bahasa arab angka enam olah raga. Saya jelaskan lima itu karena saya pindahan dari tiga SMA, di SMA pertama dan kedua kami belajar bahasa jerman di Bagan kelas tiga bahasa Arab habislah saya pak. Kalau olah raga dapat enam karena saya tidak suka senam pagi Indonesia itu dan tak pernah ikut, kok rasanya seperti waktu penjajahan jepang padahal kita sudah lama merdeka.
Akhir dari wanwancara saya disuruh menunggu dirumah. Kemudian saya katakan “Pak waktu saya hanya satu minggu, kalau lebih dari itu, saya anggap saya gagal”. Setelah satu minggu tak ada kabar berita saya berkata sama sama kawan kawan saya yang sedang bergembira akan melanjutkan kuliah dan bercerita tentang universitas, akademi dan lajutan berikutnya. Dengan suara keras dan lantang saya berkata " I will beat this damned world my friend", tidak ada yang tahu saya sebenarnya terpukul telak oleh kemiskinan karena tak punay biaya untuk melanjutkan kependidikan lebih tinggi.
30 tahun kemudian saya kembali ke bagan bersama anak anak dan melihat Bagan telah berubah , dari kota ikan jadi kota burung layang layang. Dari kecamatan jadi kabupaten. Dulu tak ada mobil, sekarang jalan-jalan sudah macet. Lelaki itu harus berbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya. Awal tahun 1978 setelah tak ada berita dari BNI dan waktu yang saya berikan terlewati walau belakangan hari saya menyesali kebodohan saya, yang mau kerja itu saya bukan pejabat BNI tapi nasi sudah jadi bubur..
Dengan menumpang kapal kayu pengangkut belacan dan ikan asin yang baunya minta ampun selama dua hari dua malam akhirnya saya memijakan kaki saya di pelabuhan tua sunda kelapa. Tanpa sepeserpun uang disaku yang ada hanya sebuah alamat di dalam kepala "Tanah Abang" aku pun sudah lupa kapan pertama kali mendengar nama Tanah abang ini, mungkin di film barangkali. Tak ada kawan dan saudara. Jalan kaki dari Sunda Kelapa ke Tanah Abang sambil bertanya pada setiap orang. Setiap langkah semakin mantap karena ternyata semua orang tahu Tanah Abang, dan rupanya ia benar benar ada. Yes, I am here, Tanah Abang. Saking kelelahan tertidurlah badan di Mesjid lantai atas tanah abang. Bangun-bangun adzan Magrib dan sepatu kesayangan pun lenyap, saat mencari cari sepatu yang hilang inilah bertemu dengan beberapa orang anak muda minang Buyung dan Syaf yang berjualan "Air Haus" istilah mereka waktu itu. Mereka pun mengajak sama sama mereka. Berjalanlah ke daerah bongkaran daerah kumuh, suara musik melengking yang terasa aneh ditelinga, belakangan saya tahu itu musik daerah jawa barat.
Kamar kontrakan sempit yang sudah dihuni oleh 4 orang, Buyung, Asbar, Arifin, dan Syaf ditambah saya satu bertambahlah sumpeknya. Hanya ada satu lampu. Asbar kerja sama Rifin. Mereka Jualan kaos 3 sepuluh ribu, Buyung join sama si Syaf jualan air haus dan berencana mau buka sendiri. Arifin berasal dari Tiku, buyung asbar dan Syaf berasal dari pariaman mereka berempat semua kelahiran Medan. Arifin sekarang sudah sukses dengan bisnis konveksinya. Asbar kembali ke Medan dan berjualan dari pajak ke pajak dalam kamus hidupku juga masuk kategory berhasil karena mampu mengirim anaknya ke univerwsitas. Aku pernah mengajaknya menikmati hotel Bintang lima Medan saat aku ada dapat training diMedan tahun 1998. setiap aku ke medan aku selalu mampir kerumahnya dan tak pernah tidak. Buyung tetap di Jakarta entah beribu kali pula bertukar profesi sampai terdampar berjualan di Glodok. Ia Juga dalam kamusku masuk kategory sukses karena sudah mampu memiliki rumah sendiri di Kalideres dan tiga Anaknya di pesantren ternama di Jawa Barat. Pada saat kami masih berputar di Tanah Abang kami selalu berkumpul bersama setiap jam 7:30 menjelaang makan malam. Kami sama sama makan diwarung milik orang bukit Tinggi di pinggiran Project tanah Abaang. Beliau memiliki anak gadis cantik yang selalu membantu. Arifin adalah yang adalah yang paling berduit diantara kami tapi dia tidak bisa menulis dan membaca tapi dia pula yang paling tekun dan serius tak banyak bicara bahkan cendrung pemalu. Dia tertarik dengan anak penjual nasi tersebut yang berinitial D. Mulailah ku olah sebuah surat perkenalan seolah olah datang dari si D untuk rifin dan dibacakan oleh Asbar. Kemudian si rifin memintaku membalas, balas membalas surat ini sebenarnya aku seorang yang menulis. Lebih dari tiga bulan kami makan gratis dibayarin rifin, dia pun yang terkenal sampilik mulai berbaik hati pada kami bertiga, sampai kami semua berpisah. Aneh bin ajaib mungkin kebesaran Tuhan lima tahun kemudian Si rifin resmi menyunting so D. sampai hari ini mereka adalah pasangan yang setia. Allah Akbar.
Suatu hari aku bersama si Saf mendorong gerobak haus . Kami mendorong gerobak ke Senayan karena katanya ada bola. Sampai di Senayan tak ada apa apa, karena itu malam minggu didoronglah gerobak menuju Taman Ria monas menyusuri Thamrin yang penuh dengan lampu dan gedung gedung bertingkat. Sambil mendorong gerobak, saya tak henti hentinya melihat gedung gedung mewah itu yang dulu hanya di film-film sekarang jadi nyata di depan mata. Tak pernah terbayang oleh saya bahwa 20 tahun kemudian saya akan sering menginap disana. Hanya dua bulan saya ikut si Saf.
Akhirnya karena terlalu sering berjualan di Taman ria monas, saya berkenalan dengan arek arek dan keluarlah saya dari grup minang. Jadilah saya anak monas yang akrab dengan Taman Ria dan Casino Cendrawasih yang terletak di dalam jakarta fair yang menghirup setiap rupiah yang saya punya. Malakin supir taksi setelah naikin penumpang adalah kerjaan rutin saya kalau untuk makan tinggal comot saja dari pada para pedagang kakilima yang bertebaran disekitar monas, terkadang saya minta duit mereka. Kok tega-teganya saya ,orang cari makan secara halal dikerjaain. Akhir dari semua ini harus saya bayar dengan kepala menerima 12 jaitan dan bukan itu saja saya pun tergeletak terserang typus hampir berlayar jauh.
Sebelum berakhir th 78 saya keluar dari Jakarta. Sepanjang tahun 1979 saya masih mengikuti alur kemanakah gerangan garis tangan akan membawa saya. Bali, Lombok, Sumbawa, Bima saya rambah dengan berbagai jenis pekerjaan saya lakukan untuk bertahan hidup. Mulai dari kuli bangunan, jualan bubur kacang hijau dengan gerobak berkeliling, jualan keliling antar pulau pulau kecil di sekitar NTB sampai pula ke labuhan bajo akhirnya kembali ke bali kerja di Swiss Restoran Bali dan berlanjut jadi guide.
Tak puas sampai disini entah apa yang ada dikepalaku waktu itu tahun 1980 sepasang kaki ini membawaku ke Muaradua Sumatera Selatan, sebuah profesi baru sebagai Guru di SMP Cokroaminito pagi hari dan SMA Muhammadiah sore hari. 27 tahun kemudian, tahun 2007, saya kembali ke Muaradua ada tiga mantan murid saya jadi Camat, satu jadi kepala transmigrasi dan satu lagi bendahara pemda. Mereka pada datang menemui saya sambil bernostalgia akan masa masa lalu mereka. Apa yang kudapat di Muaradua ini?. Adalah sebuah tali persaudaraan dengan keluarga pak Rustam yang juga orang maninjau yang tak pernah pulang kampung yang beristrikan orang dari satu daerah yang bernama Kisam diperdalaman wilayah Muara dua ini. Selama setahun aku tinggal dengan mereka dan tak pernah memberi kabar sejak aku meninggalkan muaradua selama 25 tahun. Tiba tiba aku berdiri didepan pintu rumah mereka. Sebagai balas jasa dan terima kasih atas kebaikan mereka yang kuterima dulu kubawa mereka sekeluarga jalan jalan ke Jakarta selama seminggu berkeliling di semua tempat wisata serta shoping serderhana di Mangga dua. Kulihat airmata mengalir diwajah ayu istri bang rustam. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam fikirannya. Kejemput daru muaradua dan kuantar seminggu kemudian. Melihat orang lain bahagia aku merasa terbang keangkasa.
Berhenti disini sejenak memikirkan tentang kehidupan yang lalu. Semua ingatan akan masa lalu tak berarti apa apa, hanya sebagai perbincangan beberapa menit saja. Apa yang pernah saya pikir penting, atau yang benar-benar saya kejar, atau yang saya coba hindari, kini semuanya adalah bagian dari masa lalu. Apapun yang mengingatkan saya pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu hanyalah kenangan. Aku masih mencari, 1981 kembali ke Jakarta, Monas - Taman Ria dan sekitarnya, kembali tempat uang mudah dicari. Tujuannya hanya satu cari uang bikin passport dan terbanga juah jauh. Dengan menumpang Tampomas yang masih gagah kala itu awal tahun 1982, aku menuju Tanjung Pinang dan terus naik ferry ke negeri tuan Rafles.
Cita cita baru ku ingin keliling dunia dengan cara jadi pelaut. Jadi pelaut tak bertahan lama berakhir dengan 20 hari masuk Sel di Muscat Oman. Tuhan punya rencana lain yang aku tak pernah tahu. Inilah suara takdir "Bila tiba saatnya, kau akan keliling dunia lewat udara denganSingapore Airline dan duduk di muka. Kursimu 1A First Class. Kata orang, the best Airline in the world". yang dulu tak pernah sampai ke telingaku. Aku juga tidak pernah tahu 16 tahun kemudian aku melihat kembali jalan jalan yang dulu pernah kutapaki dari berbagai kamar Hotel 5 Bintang di Singapura ini. Terbayang kembali saat kehausan masuk toilet bayar 10 sen untuk melepas dahaga kalau orang ke toilet buang air, awak minum air.
Capek di Singapura tahun 1983 aku melangkah ke utara “Kuala Lumpur”. Dengan berjualan kue pau dengan becak diberbagai tempat Bas Stand Klang, Hospital, terminal Bus Pudu, ringgitpun mulai ke kantongku. Pada saat itu kebanyakan orang indonesia di KL berjualan buah di chowkit kalau tidak jualan buah ya jual makanan. Tidak sedikit pula orang kita yang berduit dari berdagang itu menghamburkan duitnya di Genting high land atau kalau tidak dengan rutine membeli nomor toto kuda. Hanya sementara saya menikmati manisnya uang malaysia, semua uang yang terkumpul saya kirimkan untuk Nenek saya di maninjau. Belakangan saya tahu dari cerita paman saya beliau sangat senang sekali dan langsung shopping ke Bukit Tinggi. Ini adalah yang pertama dan terakhir saya berbagi nikmat dengan almarhum nenek saya. Setelah itu saya masuk penjara pudu sembilan bulan karena berkelahi memecahkan kepala orang saya dikenai seksen atau pasal 326, masih untung dia tidak mati, kalau mati satu nomor lagi turun 325 berakhirlah hidup didalam penjara kalau berencana pula 324 ini tiang gantungan hadiahnya.
Dibalik setiap peristiwa ada pelajaran. Seakan berulang, kembali lagi disini saya tidak mendengar suara Takdir bahwa 16 tahun kemudian saya akan kembali lagi kemari sebagai turis dan melihat Penjara Pudu ini menjadi Museum. Disini di kamar no 42, saya pertama kali dalam hidup melihat para pencandu heroin tak bisa tidur bermalam malam yang belakangan saya tahu itu namanya sakau. Disini pula bertemu dengan kawan sewaktu SMP Kijang UT dan MN. Ah, reuni kok di penjara pudu. MN masuk karena ilegal. Kawan Untung ditransfer dari klantan setelah menjalani hukuman perompakan 12 tahun dan menunggu dipulangkan ke Indonesia. Di penjara ini saya melihat orang kena cambuk, ini kelihatan dalam antrian ke klinik didalam penjara tersebut. Bermacam macam tingkah polah pelaku kriminal saya lihat disini. Tahun tahun 82,83,84 generasi muda Malaysia dihantui oleh dadah ini. Hampir disetiap sudut pasar, di toilet toilet umum akan kita temui dengan mudah timah rokok untuk membakar dadah tersebut. Orang orang teler berkeliaran. Mungkin karena petaka inilah adanya hukuman mati di tiang gantung untuk kes dadah ini . 15 mg tewas, dibawah itu puluhan tahun dan seumur hidup. Urine test dimana mana. Entah sekarang sudah berobah saya tak tahu. Setiap adanya eksekusi hukuman mati seisi penjara malam itu memukul mukul ember palasik, sebagai ucapan selamat jalan bagi teman mereka.
Setelah sidang berkali kali kawan yang mengadu tidak pernah datang ke pengadilan akhirnya dengan berat hati pak hakim membebaskan saya. Karena saya memegang Red Card nya Malaysia , saya tidak dipulangkan ke Indonesia. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Singapura dan mencoba lagi peruntungan disini, kerja selama enam bulan dipabrik Beer Tiger dengan modal IC malaysia.
Saat itu mudah mendapatkan work permit enam bulanan di Singapura. "Ibu sakit keras " begitu yang tertulis dari telegram yang kuterima yang membuatku berfikir ulang untuk terus berjuang di luar hanya ada satu kata "Pulang". Bersambung ... Silahkan klik Perang Si Padang (1) untuk membacanya artikel sebelumnya
Trackback(0)
|